Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Masa Depan Terindah



Humaira mengangguk. Benar kata Gavin. Mereka bersaudara. Baik Nenek Carroline dan Kakek David menikah atau tidakpun. Ada ikatan darah yang tak bisa dirubah dengan apapun. Allah SWT menakdirkan mereka untuk menjadi saudara bukan pasangan.


"Ternyata Humaira mencintai Gavin, adik Alex Sebastian. Tapi mereka bersaudara," ucap Luki pelan.


"Rumit juga, apa yang sudah terjadi pada orangtua atau kakek nenek mereka?" batin Luki.


"Berarti hati Humaira masih untuk Gavin. Bagaimana caranya untuk mendapatkan hatinya?" batin Luki.


Mungkin tak mudah untuk masuk ke dalam lubuk hati Humaira. Luka hatinya pasti belum sembuh. Luki berjalan meninggalkan mereka. Dia duduk di gajebo yang ada di samping rumah. Menengadah ke langit. Bulan dan bintang pun tahu dia hanya lelaki yang baru mengenal seorang wanita. Merasakan indahnya cinta tapi ternyata tak semudah itu mendapatkannya.


"Apa ini cinta? Kenapa aku tak rela jika Humaira bersama orang lain. Aku ingin memilikinya," batin Luki. Dia mengeluarkan rokok yang ada di sakunya. Biasanya Luki tak pernah merokok, hanya sesekali saat dia stress. Baru mau menghisapnya, tangan Gavin menghentikannya.


"Jangan merokok, gadis seperti Humaira tidak suka lelaki yang merokok," ujar Gavin yang berdiri di samping Luki.


"Kau! Gavinkan?" tanya Luki.


Gavin membuang rokok itu begitu saja. Duduk di samping Luki.


"Iya," jawab Gavin.


Luki membuang nafas gusarnya. Sesak kalau mengingat Gavin adalah orang yang dicintai Humaira.


"Apa kau mencintai Humaira?" tanya Gavin.


Luki terkejut. Melirik ke arah Gavin.


"Kenapa kau tanya seperti itu?" tanya Luki.


"Jika kau hanya bermain-main, tinggalkan Humaira sekarang juga!" titah Gavin.


"Memangnya kenapa kau harus mengaturku?" tanya Luki.


Gavin menarik kerah baju Luki. Menatap mata lelaki di depannya.


"Karena aku mencintainya, bahkan aku rela meninggalkannya untuk kebaikkannya," sahut Gavin.


Luki melepas tangan Gavin yang memegang kerah bajunya.


"Santai Bos," ujar Luki. Menatap dingin Gavin.


"Kalau kau membuatnya sakit hati, aku akan membuat perhituangan denganmu!" ancam Gavin sambil menunjuk ke arah Luki. Dia tak terima jika Humaira yang baik hati disakiti lelaki lain.


"Aku tak perlu menunjukkan keseriusanku padamu, aku pasti akan menikahi Humaira," jawab Luki.


"Heh, kau lelaki pelangikan?" tanya Gavin.


Deg


Luki terkejut saat Gavin mengetahui masa lalunya. Jantungnya berdebar kencang.


"Dari mana kau tahu? Kau menuduhku?" tanya Luki.


"Aku melihatmu kumpul bersama komunitasmu beberapa bulan lalu," jawab Gavin.


Luki langsung terdiam. Tak bisa dipungkiri dia memang memiliki masa lalu yang membuatnya merasa menyesal sampai sekarang.


"Kalau kau berani mempermainkan Humaira, menjadikannya tumbal untuk menutupi siapa dirimu, tanganku sendiri yang akan bertindak!" ancam Gavin mengangkat kepalan di depan wajah Luki. Namun Luki menurunkan kepalan di udara itu.


"Aku takkan menyakiti Humaira, dulu aku memang lelaki pelangi, tapi sekarang aku normal, bahkan aku ingin menyentuh Humairaku," ujar Luki.


Gavin terdiam. Ada rasa sakit saat Luki ingin menyentuh Humaira. Terbayang dalam bayangannya Luki lelaki yang akan menghabiskan malam-malam indah bersama Humaira.


"Kenapa? Kau cemburu?" tanya Luki.


"Aku sangat mencintainya, cintaku kandas karena ternyata ..., kami bersaudara," ujar Gavin menundukkan kepalanya.


Luki terdiam. Dia merasa iba pada lelaki yang begitu mencintai Humaira. Luki menepuk bahu Gavin.


"Kau akan mendapatkan jodoh yang lebih baik," ucap Luki.


"Sakit rasanya melepasnya, aku tidak tahu akan melangkah ke depan dengan baik atau tidak," ujar Gavin.


"Kau pasti bisa, aku akan menjaga Humaira seumur hidupku," kata Luki.


Gavin bangun. Menatap lelaki yang bersedia menjaga Humaira seumur hidupnya.


"Berjanjilah, bahagiakan dia, jaga dia, dan cintai dia setulus hatimu," pinta Gavin.


Luki mengacungkan kepalan tangannya ke depan.


Begitupun Gavin juga melakukan hal yang sama. Mereka menyatukan kepalan itu.


"Janji seorang laki-laki," ujar Luki dan Gavin. Kemudian mereka kembali menurunkan tangannya.


"Bagaimana kau bisa lurus lagi? Minum jamu datang bulan atau minum obat cacingan?" tanya Gavin diselingi candaaan.


"Paling kesambar petir, jadi otakmu kembali ke derajat yang tepat," ujar Gavin.


"Kesetrum mungkin, jadi lurus semua dari rambut sampai kaki," jawab Luki.


Gavin membuang nafas leganya. Paling tidak Luki sudah berjanji padanya.


"Kasihan Humaira, semoga punyamu mantap ya," ledek Gavin.


"Kau meragukan kejantananku?" tanya Luki.


"Ya, siapa tahu kau tak tau cara reproduksi manusia," jawab Gavin.


"Kau benar, aku tidak tahu soal itu," jawab Luki.


"Astaga, kau polos sekali, memalukan kaum adam," ujar Gavin.


"Ada temanku Mamat yang akan mengajariku," sahut Luki.


Gavin tertawa. Lelaki pelangi itu masih polos soal wanita. Sepertinya Humaira harus ekstra sabar menerimanya.


"Mari berteman!" ajak Gavin.


"Oke, tidak buruk berteman dengan sang mantan," ledek Luki.


"Hei, gini-gini aku mantan terindah," ujar Gavin membanggakan dirinya sebagai mantan terindah.


"Kau boleh mantan terindah tapi akulah masa depan terindahnya," sahut Luki.


Gavin dan Luki tertawa bersama. Dua orang yang hadir dan mencintai gadis bercadar itu. Yang satu mantan terindah dan satu lagi masa depan terindah.


Di dalam Tuan Matteo dan Claudya duduk bersama di ruang keluarga biar lebih private mau ngapa-ngapain tapi dimandorin Dodo di tengahnya.


"Sayang berasa ada jin tomang di antara kita, bisakah dihempaskan sejenak?" tanya Tuan Matteo.


"Gak bisa, Kak Alex menyuruhnya sebagai penghalang meresahkan di antara kita," jawab Claudya.


"Om, Tante, Dodo di sini hanya bertugas agar tidak terjadi hal yang diinginkan bersama, seperti kentut bersamaan, maling bersamaan, dan hal-hal yang dilakukan bersamaan," jawab Dodo.


"Gimana mau bersamaan, duduk aja gak kebagian," ujar Tuan Matteo. Merasa kesempitan Duduk di sebelah kiri sofa.


"Aku cuma setengah doang duduknya," sahut Claudya yang duduk di sebelah kanan sofa.


"Dodo malah keringetan duduk di tengah, dari tadi mau kentut di tahan," ujar Dodo.


"Kenapa?" tanya Tuan Matteo dan Claudya.


"Dodo butuh tempat yang luas untuk kentut dengan skala besar," jawab Dodo.


"Sayang cabut, perasaanku gak enak," ujar Tuan Matteo.


"Gak bisa, pilihan kita di ruang tamu atau di ruang keluarga beserta Dodo sebagai penghalang di antara kita," jawab Claudya.


"Astaga, gak bisa berduaan dong," ujar Tuan Matteo sambil menepok jidatnya.


"Kata Om Alex, boleh berduaan tapi sama Dodo, misalnya jajani Dodo bakso, mie ayam, sate, bla ... bla ... bla ...," ujar Dodo bercerita panjang dan lebar.


"Apa dia seperti ini?" tanya Tuan Matteo.


"Batrenya belum abis," jawab Claudya.


"Jangan bilang dia punya batre unlimited?" tanya Tuan Matteo.


"Makannya tadi banyak, berarti masih ngoceh sampai malam," jawab Claudya.


"Tenang Om, Dodo bisa mijetin Om pakai jurus injakan kaki gajah," ujar Dodo.


"Remuk tulangku kalau kau injak," sahut Tuan Matteo.


"Aku bilang apa, mending di ruang tamu tanpa embel-embel Dodo," ujar Claudya.


"Kirain bisa berduaan tanpa badai besar," sahut Tuan Matteo.


"Sabar Om, Tante, nunggu halal dulu, ingat kata Pak Ustad dilarang berduaan yang ketiga Dodo," ujar Dodo.


Tuan Matteo dan Claudya tertawa. Niat mau berduaan tenyata ada satpam gendut yang menjadi penghalang di antara mereka. Harus nunggu halal biar puas berduaan gak ada yang mengganggu apalagi yang meresahkan seperti Dodo.


Acara lamaran itu selesai. Luki dan Humaira pulang bersama Nenek Carroline naik mobilnya. Sampai di rumah, Nenek Carroline masuk ke dalam terlebih dahulu. Sedangkan Luki dan Humaira masih di teras.


"Humaira," ucap Luki.


"Ya," sahut Humaira.


"Kalau aku melamarmu, apa kau mau menerimanya?" tanya Luki. Dia ingin segera ke pelaminan bersama Humaira. Dia ingin Humaira menjawab iya. Tapi tetap saja Luki tak bisa memaksanya.