Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Rekaman Mengejutkan



"Duduk!" perintah Alex pada kedua orang itu.


Kedua orang itu duduk di kursi yang berdekatan dengan Yuda. Berseberangan dengan Pak Ferdi.


Mereka menundukkan kepala tak berani menatap lelaki paruh baya yang berjenggot itu. Dari tatapan matanya, dia murka melihat dua orang di depannya.


Kedua orang itu menelan ludahnya berkali-kali. Kursi yang mereka duduki terasa panas dan berduri serasa duduk di depan pengadilan atas vonis seumur hidup. Jantung berdebar tak karuan. Rasa malu dan takut bercampur. Panas dingin harus duduk di antara semua orang yang jelas pasti akan menyalahkannya.


"Alex siapa lagi mereka? Apa hubungannya dengan masalah ini?" Pak Ferdi marah. Seolah dia tak mengenal kedua orang di depannya. Merasa mereka tak penting ada di ruangan itu.


"Benarkah kau tak mengenal mereka?" tanya Alex. Dia tersenyum melihat Pak Ferdi yang mulai bingung menyikapi ketiga orang saksi.


"Aku tidak kenal mereka!" jawab Pak Ferdi tegas.


"Apa kalian kenal ayahku?" tanya Alex pada dua orang yang menunduk itu. Dia ingin tahu sendiri dari mulut keduanya. Apakah mereka kenal ayahnya atau tidak.


"Kami-kami," jawab keduanya ragu. Mereka takut dengan Pak Ferdi tapi takut juga dengan Alex yang bisa saja menjebloskannya ke penjara. Apa yang mereka lakukan itu fitnah dan menjatuhkan nama baik perusahaan milik Alex. Posisi keduanya bagai buah simala kama. Maju salah mundur pun salah.


"Katakan cepat!" bentak Alex dengan nada keras dan menggebrak meja dengan tangannya.


Semua orang di ruangan sampai terdiam, mereka takut melihat Alex benar-benar marah. Selama ini mereka sudah biasa mendengar Alex marah. Jadi tahu seperti apa sang singa bila mengaung di saat daerah kekuasaannya disambangi musuh.


"Alex kau itu pemimpin apa sikapmu ini benar?" ujar Pak Ferdi. Dia mengalihkan pembicaraan, agar Alex tak berfokus pada pertanyaannya.


"Diam kau ayah!" Alex benar-benar emosi. Dia sudah gregetan dari tadi sudah menahan emosinya. Alex ingin mereka segera mengakui.


Pak Ferdi terkejut melihat Alex marah. Anaknya itu sering berdebat keras dengannya tapi kali ini dia terlihat benar-benar marah. Nyali Pak Ferdi mulai ciut. Alex bukan anak yang mudah ditindas dan dimanfaatkan olehnya.


"Kenal, kami teman satu tongkrongan di rumah judi," jawab Sofyan.


"Iya," tambah Hendri.


"Kau dengar, mereka kenal denganmu, apa kau ingin mengelak lagi?" tanya Alex. Menatap Pak Ferdi dengan mata tajam dan ekspresi dingin sedingin es.


"Kau menuduhku? Kau ingin bilang mereka ini orang suruhankukan?" Pak Ferdi semakin marah bahkan menunjuk ke arah Alex.


"Aku tak bilang seperti itu, kenapa kau malah mengakuinya sendiri?" sahut Alex. Kini Alex sudah mengantungi bukti yang akan mematahkan Pak Ferdi. Tinggal menunggu saat Pak Ferdi tersudut dan mengakuinya sendiri.


Pak Ferdi terdiam. Nafasnya mulai tak teratur. Emosinya meluap-luap. Semua orang bahkan menatapnya sebagai pelaku. Membuat posisi Pak Ferdi semakin tersudut.


"Pak Hendri, Pak Sofyan, katakan semua yang kalian tahu!" perintah Alex.


Kedua orang itu malu. Teringat saat mereka datang kemarin. Mereka seenaknya bicara dan menuduh sesuka hati. Berkomentar seolah mereka pembeli yang akan membeli rumah dengan kualitas terbaik. Namun nyatanya mereka hanya membual.


Keduanya tak berani menatap ke depan. Menunduk ke bawah.


"Kami hanya disuruh Pak Ferdi untuk pura-pura jadi pembeli dan mengkritik apa saja yang sudah disiapkan Pak Ferdi, selebihnya kami tidak tahu apa-apa," ujar Hendri.


"Iya, kami hanya mengkritik saja, kami tidak tahu menahu soal bangunan rubuh itu," tambah Sofyan.


"Tidak, mereka bohong. Aku tidak menyuruh mereka melakukan itu, ini fitnah," elak Pak Ferdi mulai gugup dan tegang. Dia bahkan berdiri menunjuk ke arah ke dua orang yang tak berani melihat ke arahnya.


"Kenapa kau panik, jika kau tak bersalah duduklah manis ayah," sindir Alex.


Pak Ferdi terdiam kembali. Emosinya coba diredam. Dia kembali duduk. Semua orang mulai mencurigainya. Semua kesaksian dari tiga orang saksi sudah jelas menyudutkannya. Pak Ferdi tidak tahu harus berkilah apa lagi.


"Kau apa-apan lagi Alex?" Pak Ferdi merasa Alex akan memperlihatkan bukti lainnya. Pasti rencananya akan gagal total.


"Aku hanya ingin membuktikan kau dan mereka berdua memiliki kerjasama yang romantis," sindir Alex.


"Alex!" teriak Pak Ferdi. Dia tak bisa mengontrol dirinya. Terlanjur basah kuyup dan kesulitan untuk mengeringkan dirinya.


"Oalah udah tersudut juga, ngaku Pak, mumpung penjara masih luas untuk menginap," ucap Kenan.


"Kenan! Bukannya aku menyuruhmu untuk menyetel rekamannya!" bentak Alex.


"Sorry Bos, gemes nih mewakili yang bapak-bapak biang gosip," sahut Kenan. Dia sudah gemes dengan tingkah Pak Ferdi yang terus menerus mengelak padahal bukti sudah jelas ada di depan mata.


"Kerjakan tugasmu!" perintah Alex.


"Siap!" sahut Kenan. Kemudian mengambil rekaman itu dan menyetelnya di depan semua orang yang ada di ruangan itu. Agar semua tahu kalau Pak Ferdi mengenal Hendri dan Sofyan.


"Aku punya tugas untukmu," ucap Pak Ferdi.


"Tugas? Berapa bayarannya?" tanya Hendri.


"Semua hutangmu padaku lunas ditambah 5 Milyar di muka, gimana?" tanya Pak Ferdi.


"Oke, tapi pekerjaan apa Bos, kok bayarannya gede banget?" tanya Hendri.


"Aku sudah menyiapkan settingan yang harus kau mainkan di Grand Golden City," ucap Pak Ferdi.


"Itu bukannya perumahan milik Alex?" tanya Hendri.


"Iya," sahut Pak Hendri.


"Apa karena Alex bukan anakmu Bos?" tanya Hendri.


"Alex memang bukan anakku," ucap Ferdi.


"Tapi kenapa aku harus melakukan itu, bukannya itu usaha milik keluarga?" tanya Hendri.


"Aku ingin memberinya sedikit pelajaran," sahut Pak Ferdi.


"Oke, aku mau melakukan tugas itu," jawab Hendri.


"Lakukan senatural mungkin," ucap Pak Ferdi.


"Beres," sahut Hendri.


Rekaman itu berhenti. Semua orang terkejut. Termasuk Alex. Dia tak menyangka kalau dia bukan anak dari Pak Ferdi. Alex terdiam. Dia baru mendengar rekaman itu, karena Kenan baru saja mendapatkannya dari Hendri dan Sofyan tadi. Mereka tak ingin disalahkan. Jadi mereka memberikan rekaman yang berasal dari CCTV yang ada di kamar Hendri. Dia mengambil percakapan telpon antara dia dan Pak Hendri.


"Bos," ucap Kenan. Dia tahu Bosnya pasti juga terkejut. Bukan karena Pak Hendri pelaku sabotase proyek pembangunannya tapi karena Alex baru tahu kalau dia bukan anak Pak Ferdi.


Alex terdiam. Begitupun semua orang di dalam ruang meeting. Petinggi perusahaan tak menyangka Pak Ferdi bukan ayah kandung Alex. Mereka tak berani bicara apapun. Masalah ini pasti sangat sensitif untuk dibahas karena masalah pribadi. Namun berhubungan dengan masalah yang terjadi di perusahaan.


"Bos, Kenan harus apa lagi?" tanya Kenan. Melihat wajah Alex mendingin. Membeku bagai es batu. Kenan tak berani menyinggung soal hubungan Pak Ferdi dan dirinya.