
Sophia dan Claudya membantu menyadarkan Sora yang pingsan. Dari tadi Sora belum sadarkan diri. Bagaimana tidak, seharusnya ini hari bahagianya justru berujung duka.
"Kasihan Sora, tega sekali Niko. Seharusnya dia tidak seenaknya jidat batalin. Mana tamu undangan udah pada dateng. Belum lagi udah ke luar duit buat acara," ujar Claudya emosi.
"Mesti dikasih pelajaran tuh cowok. Minta Mak Ros sunatin biar kapok," kata Ibu Marisa sensi. Dia sebel pada lelaki yang gak gentle seperti Niko. Gak bisa dipegang omongan dan janjinya.
"Udah Tante sabar, nanti darah tinggi," sahut Humaira menenangkan Ibu Marisa.
"Iya Bu, rugi kalau sakit karena mikirin ulah Niko, lebih baik bantu Sora biar sadar," tambah Maria. Dia mengkhawatirkan Ibu Marisa yang sensi, bisa-bisa darah tingginya kumat lagi.
"Ya sudah, ada yang bawa minyak kayu putih?" tanya Sophia.
"Ada, aku Kak," jawab Claudya. Dia sering membawa minyak kayu putih untuk dioleskan pada tubuh Ezar kalau gatel atau masuk angin.
Claudya pun memberikan kayu putih di tasnya pada Sophia. Kemudian Sophia mengoleskan kayu putih di bawah hidung Sora, tangan dan kakinya. Tak lama Sora pun sadar. Perlahan membuka matanya. Kedua netranya melihat ke sekeliling. Dia mengingat kejadian yang terjadi padanya tadi. Matanya berkaca-kaca.
"Sora," sapa Sophia. Menatap wanita cantik yang berbaring lemas.
"Nona Sophia." Sora berkata sambil menangis. Tak kuasa menahan kesedihannya. Apa yang dikatakan Niko sangat keterlaluan padanya.
"Sabar ya Sora, apapun yang terjadi hari ini sudah yang terbaik untukmu. Allah sudah menunjukkan seperti apa Niko, itu tandanya Allah menyayangimu," ujar Sophia. Apa yang sudah terjadi sudah menjadi takdir, tapi selalu ada hikmat dibalik semua itu. Tidak sia-sia Niko memutus hubungannya dengan Sora dengan begitu Sora bisa tahu seperti apa Niko sebenarnya.
Sora mengangguk. Benar kata Sophia karena kejadian ini dia tahu Niko tidak benar-benar mencintainya.
"Sophia, ibuku pasti sangat malu. Seharusnya hari ini aku menikah tapi tidak jadi," ujar Sora. Dia tahu ibunya sudah terlanjur mengundang banyak orang dan menyiapkan tenda di balas warga untuk resepsinya.
Mendengar itu Humaira mendekat. Ada yang harus dia sampaikan pada Sora. Ini menyangkut ayahnya
"Sora, maukah kau menikah dengan Papaku? Dia bersedia menikahimu kapanpun," ujar Humaira. Pak Harry siap menikahi Sora, tak peduli Sora lumpuh atau tidak. Dia menerima kekurangannya
"Iya, Ezar akan memiliki orangtua yang utuh. Dia bisa tinggal bersamamu dan Om Harry," tambah Claudya. Meski nanti akan berat melepas Ezar tapi Claudya ingin membahagiakan Ezar agar dia tinggal bersama kedua orang tuanya.
"Bagaimana Sora? Biar acara ini tetap bisa dilanjutkan?" tanya Sophia. Dia tidak ingin memaksa Sora. Keputusan ada di tangannya.
Sora mengangguk. Dia tahu Pak Harry begitu baik, meski dulu dialah orang yang telah memperkosanya.
"Alhamdulillah," sahut semuanya. Mereka ikut senang dengan keputusan yang diambil Sora.
Akhirnya Sora menerima pinangan dari Pak Harry. Dia ingin memberi kesempatan padanya. Biar bagaimanapun Pak Harry ayahnya Ezar.
Humaira pun menyampaikan kabar itu pada Pak Harry. Seketika lelaki paruh baya yang keren dan tampan itu kegirangan. Masa jomblo dan duda karatannya akan berakhir.
"Alhamdulillah Harry, kau tak lagi pohon tua yang kesepian," ujar Pak Ferdi sambil menepuk bahu Pak Harry.
"Iya Alhamdulillah, tapi tak perlulah kau sebut aku pohon tua. Aku masih muda hanya ktp yang eror," sahut Pak Harry membela diri. Babang tampan mana mau disebut tua.
"Udah tua masih merasa muda, Sora benar-benar dapat sisaan," ujar Alex yang duduk di belakang Pak Harry.
Mendengar ucapan Alex, Pak Harry berbalik. Menoleh ke arah Alex dan menatapnya.
"Bocah, aku ini Papamu, seharusnya kau mengatakan hal baik tentangku," sahut Pak Harry.
"Itu kenyataannya. Sora terpaksa menikah denganmu karena cuma kau yang jomblo di sini Pa," ujar Alex.
Pak Harry emosi, untung saja Gavin menangkap tangannya. Begitupun dengan Luki yang menahan tubuh Pak Harry yang mau nyembur Alex.
"Dia selalu mencari masalah denganku," sahut Pak Harry.
"Iya Pa sabar, kakak ipar hanya bercanda," tambah Luki.
"Sabar Om!" Gavin coba menenangkan Pak Harry.
"Sabar sih sabar. Tapi kenapa kau megang tanganku bukannya tangan Papa," ujar Luki.
"Masa sih?" Gavin tak percaya. Dia melihat tangannya bukannya memegang tangan Pak Harry justru tangan Luki.
"Astaga, aku malah romantisan ma Luki, aku masih normal," sahut Gavin. Dia melepas tangannya dari tangan luki. Kemudian memegang tangan Pak Harry.
Ayah dan anak itu pun terus berdebat hingga lelah sendiri.
"Sudah Om, ijab qobul akan di mulai." ujar Gavin.
"Iya Pa," sahut Luki.
Akhirnya emosi Pak Harry mereda. Acara akad nikah itu pun di mulai. Pak Harry dengan gagahnya duduk bersama penghulu. Sedangkan Sora duduk di barisan wanita. Sejajar dengan Sophia, Claudya, Maria dan Humaira. Dia melihat ke arah Pak Harry yang akan menikahinya.
"Sudah siap?" tanya penghulu. Dia menanyakan kesiapan Pak Harry.
"Insya Allah siap," jawab Pak Harry tegas. Dia sudah menunggu lama untuk momen ini. Saatnya melepas masa dudanya.
"Baik kita mulai ijab qobulnya," kata penghulu.
Pak Harry mengangguk. Penghulu bersiap jadi wali nikah Sora. Dia duduk di depan Pak Harry yang terlihat serius.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Harry Harold bin David Sebastian dengan ananda Sora Nafiza binti Imam Samudra dengan mas kawin cincin berlian pink seberat 10 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai," ujar Penghulu sambil menyalami Pak Harry.
"Saya terima nikah dan kawinnya Sora Nafiza binti Imam Samudra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," jawab Pak Harry. Hanya dalam satu nafas dia mengucapkan kalimat ijab qobul.
"Sah?" tanya penghulu.
"Sah."
"Alhamdulillah."
Rasa syukur dan tepuk tangan terdengar riuh sahut menyahut. Semua orang ikut bahagia di pernikahan itu.
Penghulu langsung membacakan doa untuk mempelai pengantin. Semua orang ikut mengaminkan setiap lantunan doa untuk mempelai pengantin itu.
"Akhirnya bisa langsung tancap gas malam ini," ujar Pak Harry kegirangan. Dia lupa sedang di masjid dan disaksikan banyak orang, seenaknya bicara seperti itu dengan keras. Pak Harry malu sekali melihat semua orang bengong mendengar apa yang dikatakannya.
"Is-is, memalukan sekali, kenapa aku jadi ponakannya," ujar Gavin sambil menggeleng.
"Dia siapa? Aku gak kenal," kata Alex. Malu sekali mendengar pak tua mengatakan hal cabul.
"Untung cuma menantu bukan anak, kalau gak? kena mental jadinya," sahut Luki.
Mereka bertiga ikut malu mendengar ucapan Pak Harry. Maklum duda karatan butuh penyegaran.