
"Kakak," sahut Sophia.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Nada. Matanya terus memperhatikan kotak hitam yang dibuka Sophia.
"Aku sedang melihat harta peninggalan orangtua kita," jawab Sophia.
"Tumben kau melihatnya, apa uang di kantor habis?" tanya Nada curiga.
"Huh." Sophia menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.
"Kak bisa kita bicara?" tanya Sophia balik.
Nada mengangguk.
Akhirnya mereka berdua duduk di sofa yang berada di dalam ruangan itu. Sophia menceritakan apa yang terjadi pada kakaknya secara detail. Nada dengan tatapan dingin mendengarkan cerita dari Sophia.
"Sophia niatmu baik, tapi harta milik keluarga kita itu bukan hanya milikmu, aku juga memilikinya," ujar Nada.
"Itu sebabnya aku mau meminta izin pada kakak, bolehkah aku melelang harta milik keluarga kita?" tanya Sophia memohon dengan tulus.
"Maaf, kakak tidak setuju. Kakak tak sependapat denganmu," jawab Nada.
"Berikan Sophia alasannya kenapa kakak tidak setuju?" tanya Sophia yang ingin tahu kenapa kakaknya tidak setuju.
"Itu harta milik orangtua kita turun temurun. Dan mungkin akan diwariskan pada generasi selanjutnya," jawab Nada.
Sophia diam mendengarkan alasan kakaknya.
"Lagi pula kenapa kau tak beli tanah ditempat lain, bangun masjid baru, dari pada harus membeli tanah dengan harga fantastis," tambah Nada.
"Pertama, di Jalan Jayakarsa penuh perkantoran, hanya ada satu masjid di daerah situ. Banyak orang-orang kantor yang beribadah ke masjid baik siang atau malam. Kedua tidak ada lahan kosong di daerah Jayakarsa yang bisa untuk dibangun masjid kembali, sudah penuh perkantoran, ketiga bolehkah aku berandai?" tanya Sophia.
"Boleh, silahkan!" jawab Nada.
"Seandainya itu Ka'bah yang akan digusur dan cara pemikiran kita sama, sudahlah bangun Ka'bah kembali di tempat lain dari pada membayar tanahnya dengan harga fantastis, lalu di mana kekuatan umat muslim, jika mempertahankan rumah ibadah saja tak mampu. Padahal di dunia ini begitu banyak umat muslim yang kaya raya," jawab Sophia.
Nada terdiam. Dia memikirkan jawaban Sophia.
"Untuk apa harta terus disimpan jika tak mendatangkan berkah untuk kita. Lagi pula jika harta ini dibelikan tanah untuk masjid, pahalanya akan mengalir pada ayah, ibu, dan kakek nenek sebelum mereka, berkah Kak," jawab Sophia.
"Sophia, aku tak sesuci dirimu. Aku tidak setuju. Harta itu tetap milik keluarga kita, sebagai tanda kalau kita ini ningrat," jawab Nada.
Sophia terdiam. Menghormati pendapat kakaknya meskipun berbeda.
"Gimana kalau suatu hari nanti perusahaan bangkrut, hanya harta itu yang bisa menolong kita," ucap Nada.
"Baiklah, ku hormati pendapat kakak. Aku juga tidak memaksa jika kakak tidak ridho, terimakasih atas waktunya Kak," jawab Sophia.
Nada mengangguk.
Setelah pembicaraan itu Sophia ke luar dari kamar kedua orangtuanya. Dia berjalan memasuki kamarnya sendiri. Sophia melihat seisi kamarnya. Dia melihat barang apa saja yang bisa dijual olehnya. Matanya melirik sebuah lemari kaca yang terdapat tas dan sepatu branded miliknya. Dari dulu Sophia tak pernah hobi mengoleksi barang-barang itu. Namun Aiko sebagai asistennya selalu membelikan Sophia barang-barang yang dibutuhkan untuk menunjang pekerjaannya, apalagi dia seorang CEO perusahaan besar. Melalui ACC dari Sekretaris Wang, Aiko bisa membelikan barang-barang itu untuk Sophia tanpa Sophia meminta padanya.
Sophia berdiri di depan lemari kaca itu. Kedua netranya memandang barang-barang itu.
"Apa aku jual saja barang-barang ini? Semoga bisa menambah kekurangannya," batin Sophia.
Segera Sophia mengeluarkan handphone miliknya dari tas canglong yang dikenakannya. Kemudian menghubungi Aiko.
"Hallo Aiko," sapa Sophia.
"Hallo, Bu Bos baru sampai udah telpon, ada apa nih?" tanya Aiko.
"Bolehkah aku minta tolong?" tanya Sophia.
"Bolehlah Bos, aku inikan masih kerja sebagai asistenmu," jawab Aiko.
"Aiko jangan bercanda, aku serius," ujar Sophia.
"Oke, apa?" tanya Aiko.
"Datanglah ke rumah sekarang! Ada hal penting yang ingin ku bicarakan," jawab Sophia.
"Siap!" sahut Aiko.
Pembicaraanpun ditutup. Sophia menekan tombol merah. Dia masih berdiri di depan lemari kaca. Kemudian berpindah ke laci kaca miliknya. Di dalamnya ada perhiasan miliknya dan beberapa logam mulia. Termasuk jam branded miliknya.
"Sepertinya semua asetku harus ku jual, mungkin tabunganku juga," batin Sophia.
Tak lama Aiko datang. Dia menghampiri Sophia yang berdiri depan lemari kaca.
"Kau sudah datang, terimakasih Aiko," sahut Sophia.
"Apa yang harus ku lakukan?" tanya Aiko.
"Aku ingin melelang semua barang-barangku sore ini, bisakah kau hubungi pihak lelang agar sore ini bisa dilelang semuanya?" tanya Sophia.
"Barang-barangmu?" tanya Aiko bingung.
"Ini berhubungan dengan uang untuk menghentikan penggusuran masjid," ujar Sophia.
"Bagaimana ceritanya, kok bisa?" tanya Aiko.
Sophia akhirnya menceritakan hasil pertemuannya dengan Luis. Tidak termasuk pelecehan dan ucapan kasar padanya.
"Dasar mata duitan, hati nuraninya ilang," ketus Aiko.
"Sudahlah, tak perlu dibahas lagi, lebih baik kita selesaikan tugas kita," ucap Sophia.
"Sophia, seandainya banyak orang sepertimu di dunia ini, pasti dunia damai, aku kagum padamu," puji Aiko.
Sophia hanya tersenyum.
Siang itu Aiko menghubungi pihak lelang. Semua barang milik Sophia dibawa ke tempat acara pelelangan. Sore itu Sophia sampai lupa menghubungi Alex, dia hanya membalas chat dari suaminya. Begitupun dengan Alex yang sangat sibuk. Hanya bisa mengirim chat.
Saat pekerjaan selesai, Alex duduk di kursinya. Mengistirahatkan sejenak tubuhnya yang lelah. Mengatur nafasnya dan bersantai untuk mengembalikan staminanya yang terpakai seharian. Tiba-tiba Kenan datang. Tanpa ketuk pintu masuk ke dalam membawa handphone miliknya yang masih menyala.
"Bos," sapa Kenan yang masih menggunakan masker wajah berwarna putih.
Alex yang sedang melamun terkejut melihat Kenan seperti hantu.
"Astagfirullah, padahal masih sore, kenapa hantu udah muncul," ucap Alex. Dia berdiri langsung mengambil gulungan kertas yang berbentum panjang. Memukul Kenan dengan gulungan itu.
Plaak ... plaaak ... plaaak ...
"Ampun Bos sakit," ucap Kenan.
"Pergi kau hantu! Kau pikir aku takut, rasain, makanya jangan usil," ujar Alex.
"Bos, ini aku sekretaris paling imut," ucap Kenan brrusaha mengentikan Bosnya. Namun Alex tetap memukulnya tidak percaya itu Kenan.
"Kau pikir aku bodoh, aku tahu bedanya hantu dan Kenan. Hantu wajahnya putih, Kenan hitam maksimal," ujar Alex yang masih memukul Kenan.
"Harus gunakan senjata biologi, mungkin Bos yakin nih," batin Kenan mencari cara menyakinkan Alex.
Bruuuut ....
Kenan terpaksa mengeluarkan senjata biologi andalannya.
"Legaaaa," ucap Kenan.
"Bau sekali, ini mah bau kentutnya Kenan," batin Alex. Dia langsung menghentikan tangannya.
"Kenan!" pekik Alex.
Kenan berbalik. Menghadap Alex dengan senyuman tanpa dosa.
"Kau ngapain menakutiku? Sudah bosan kerja? Heh!" ujar Alex.
"Masih Bos," sahut Kenan.
"Terus ngapain mukamu diputihin?" tanya Alex.
Kenan baru ingat dia memakai masker wajah. Langsung Kenan tersenyum mengedipkan matanya kali aja Bosnya memberi ampunan.
"Saya perawatan, biar putih gitu kaya Bos," jawab Kenan.
Alex menggeleng, ada sekretaris macam Kenan. Kalau bukan buat isengan udah dihempaskan dari awal biar gak dekem terus di kantor.
"Untuk apa kau masuk ruanganku?" tanya Alex.
"Begini Bos, sebenarnya kemunculan saya mau memberitahukan info penting," ujar Kenan.
"Info apa? Kalau tak penting angkat kaki dari kantorku!" ancam Alex.
"Buset dah, anak bini makan apa?" batin Kenan. Segera Kenan memperlihatkan handphone-nya ke Alex biar suasana aman terkendali.
"Sophia melelang barang miliknya, untuk apa?" batin Alex bertanya. Tadi belum sempat melihat balasan chat dari Sophia karena sibuk sehariaan. Alex jadi teringat handphone miliknya. Dia segera mengambil handphone-nya di atas meja kemudian membuka chat dari Sophia.