Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Perintah Untukmu



Setelah pembicaraan itu selesai, Arfan dan Emily naik ke lantai atas. Masuk ke kamar Arfan. Ini kali pertama Emily masuk ke kamar pria. Dia begitu antusias. Sampai memegang semua barang yang ada di kamar Arfan. Dari sepatu, topi, bola, raket, gitar, dan barang lainnya.


"Arfan kamarmu bagus, kenapa memilih tinggal di kontrakkan?" tanya Emily sambil mengenakan topi koboi milik Arfan.


"Karena aku ingin mandiri Emily," jawab Arfan. Masih terlihat cuek. Namun mulai memperhatikan tingkah Emily.


"Arfan koboi butuh kuda, gendong!" pinta Emily dengan suara manjanya.


"Kau sudah bukan anak kecil Emily," sahut Arfan.


"Arfan!" keluh Emily memohon.


"Oke-oke," jawab Arfan. Dia membungkuk lalu Emily naik ke punggungnya. Dia melingkarkan tangannya di leher Arfan. Kemudian Arfan berlari-lari keliling ruangan itu.


"Arfan pelan-pelan!" pinta Emily.


"Kudanya harus berlari di padang rumput Emily," sahut Arfan sambil terbawa kegirangan karena Emily ketakutan.


"Arfan takut," ucap Emily.


"Gak dengar," sahut Arfan. Dia terus berlari memutari ruangan kamarnya.


"Arfan! Arfan! Takut!" Emily ketakutan sampai berpegangan erat. Namun tak menggubris. Itu membuat Emily kesal, dia mencium pipi Arfan beberapa kali sampai Arfan terkejut mendapatkan ciuman itu. Dia tidak fokus melihat jalan kemudian terjatuh di ranjang bersama Emily.


Bruug ....


Mereka berbaring di ranjang. Tertawa bersama dengan tingkah konyol mereka.


"Asyik gak?" tanya Arfan. Menatap wajah cantik Emily.


"Asyik, tapi Emily takut Arfan," jawab Emily.


Arfan mendekati Emily. Meraba pipinya. Dia baru menyadari istrinya begitu cantik. Namun sikapnya saja yang manja seperti anak kecil.


"Arfan kenapa? Ada belek ya?" tanya Emily.


Arfan tak menjawab pertanyaan Emily justru semakin mendekatkan wajahnya ke bibir seksi di depannya. Bibir merah delima milik Emily begitu menggoda.


"Arfan gigiku sakit, apa kebanyakan makan permen ya?" Emily langsung menutup bibir Arfan.


"Sialan, lagi pengen nyium kenapa ditutup?" batin Arfan kesal tak jadi mencium Emily. Padahal tinggal dikit lagi.


Emily melepas tangannya dari bibir Arfan. Dia tersenyum pada Arfan.


"Ar- ..." Baru Emily mau bicara Arfan sudah mencium bibirnya tanpa aba-aba. Arfan takut Emily akan menutup mulutnya lagi. Perlahan dan penuh kelembutan keduanya menikmati ciuman itu. Baik Arfan atau Emily itu ciuman pertama mereka. Emily yang awalnya tegang hanyut dalam kemesraan itu. Dia bahkan memberi kode pada Arfan untuk melakukan lebih. Namun Arfan melepas ciuman itu.


"Arfan lagi!" pinta Emily ketagihan.


"Aku akan memberimu sekali setiap kau melakukan perintahku," jawab Arfan. Ciuman itu dianggap sebuah hadiah untuk Emily agar dia mengikuti perintahnya.


"Kalau begitu apa perintahnya?" tanya Emily manja. Arfan menatap Emily, kalau mengikuti nalurinya sebagai laki-laki dia ingin melakukannya langsung. Bahkan lebih dari itu. Tapi dia harus menaklukkan Emily terlebih dahulu agar dia mau melakukan semua perintahnya. Bukan justru selalu bermanja padanya.


"Ganti pakaianmu dengan yang lebih sopan dari itu dan berhijab!" titah Arfan. Tahap pertama perintah yang diberikan Arfan pada Emily. Dia ingin gadis manja itu menutup auratnya seperti permintaan ayahnya.


"Tapi ..., aku tidak pernah berhijab Arfan," sahut Emily beralasan. Dia memang belum pernah berhijab. Itu sesuatu hal yang masih tabu untuknya.


"Berarti kau tidak mau ciuman dariku?" tanya Arfan. Padahal dia juga ingin mencium Emily lagi hanya saja ditahan demi kebaikan Emily.


"Baiklah, ayo kita jajan! Mau?" tanya Arfan.


"Jajan? Mau!" jawab Emily kegirangan. Dia mengira Arfan tidak akan menyuruhnya berhijab. Dia justru mau mengajaknya jajan.


Arfan pun mengajak Emily ke toko jajanan anak-anak. Bebagai snack, coklat, biskuit, waffer, permen, dan lain-lain ada di toko itu. Emily sampai kalap. Dia mengambil banyak jajanan yang dia sukai. Arfan hanya diam membiarkan Emily memilih sesukanya. Setelah itu Arfan membayarnya.


"Arfan kita pulang udah dapet banyak jajannya," ucap Emily sambil menunjukkan jajanan miliknya. Namun tiba-tiba Arfan melepas semua jajanan itu dari bungkusnya dan meletakkan semuanya di plastik besar. Di satukan tanpa satupun bungkus melekat pada makanan itu.


"Arfan kok dibuang bungkusnya. Nanti kotor, kena debu dan cepet basi," keluh Emily. Melihat semua jajanan itu jadi satu di plastik besar tanpa bungkus.


"Kau suka atau tidak melihatnya?" tanya Arfan.


"Tidak, nanti gak higenis lagi," jawab Emily. Dia takut semua jajanan itu akan terkontaminasi bakteri atau kuman.


"Kau tidak sukakan jajanan tanpa bungkus?" tanya Arfan.


"Iya," jawab Emily.


"Nah seperti itulah dirimu saat tidak mengenakan hijab. Bagai jajanan tanpa bungkus. Mudah kotor dan terkontaminasi bakteri ataupun kuman," sahut Arfan. Dia tidak ingin memerintah tapi memberi contoh pada sebuah makanan.


Emily terdiam. Dia melihat jajanan di dalam plastik besar itu tanpa bungkus. Dia mengamatinya. Dan melihat jajanan yang masih terbungkus. Memahami arti hijab untuk seorang wanita.


Tiba-tiba Arfan mengeluarkan jajanan tanpa bungkus itu. Meletakkannya di atas kedua telapak tangan Emily.


"Ayo pulang!" ajak Arfan.


"Gimana bawanya? Kalau tanpa bungkus begini apalagi gak ditaruh di plastik," keluh Emily.


"Seperti itulah saat aku akan membawamu ke akhirat nanti. Aku akan kesulitan saat membawamu ke sana," sahut Arfan. Dia mengibaratkan Emily jajanan tanpa bungkus dan plastik, tentu dia akan kesulitan membawa pulang sama halnya dengan Emily yang akan sulit saat dibawa Arfan ke jannah nantinya.


Emily langsung terdiam. Melihat jajanan di tangannya. Bahkan sampai rumah Emily masih diam. Dia duduk di ranjang memikirkan ucapan Arfan. Dia duduk bersandar pada sandaran ranjang. Matanya menatap ke depan. Seolah kata-kata Arfan tadi terngiang-ngiang di telinganya. Jajanan tanpa bungkus tadi terbayang di pikirannya.


"Emily! Kau sedang apa?" tanya Arfan masuk ke dalam kamar. Dia duduk di samping Emily yang termenung.


"Emily!" panggil Arfan. Dia memegang tangan Emily. Tangannya dingin dan berkeringat.


"Emily kau tidak apa-apa?" tanya Arfan. Menatap wajah cantik yang bengong itu.


"Arfan," ucap Emily dengan suara manjanya.


"Iya ada apa?" tanya Arfan memegang dagunya.


"Aku ingin berhijab," jawab Emily.


"Beneran?" tanya Arfan kegirangan. Dia senang sekali Emily mau berhijab. Paling tidak syarat pertama sudah terpenuhi.


Emily mengangguk. Dia sudah mantap berhijab. Apa yang dilihatnya dari sebuah jajanan tadi membuat Emily mengambil kesimpulan bahwa hijab berfungsi untuk membungkus wanita dari pikiran kotor laki-laki dan kontaminasi yang akan dilakukan oleh para laki-laki yang punya niat jahat pada wanita.


Tanpa menunggu lama Arfan langsung mencium bibir merah delima itu. Rasanya manis membuat Arfan bolak balik ingin menciumnya. Begitupun Emily dia begitu menikmati ciuman dari Arfan.


"Nanti aku akan memberikannya lagi asal semua perintahku kau turuti! Oke?" ujar Arfan sambil menatap wajah istrinya yang masih penasaran dengan ciuman manis dari Arfan.


Emily mengangguk.