Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Mungkin Hamil



"Apa mungkin anak Papa?" batin Alex mulai menebak. Dia berpikir mungkin ada keterkaitan Ezar dengan ayahnya. Meski cerita anak dibuang di tempat sampah banyak. Namun wajah Ezar sangat mirip dengannya.


"Jika Ezar anak Papa, wajar kalau wajahnya mirip denganku," batin Alex mencocokkan Ezar dengan Pak Harry.


"Pa, kira-kira kapan Papa memperkosa Sora dan kira-kira berapa usia anak Sora?" tanya Alex. Dia harus memastikan hubungan Ezar dan ayahnya..


"Aduh Papa gak ingat kalau itu. Kemungkinan besar Papa mabuk. Jadi tidak ingat kapannya," jawab Pak Harry.


"Kurang lebih dua tahun. Dan usia anak Papa sekitar satu setengah tahun," jawab Humaira yang masuk ke ruang tamu membawa nampan berisi dua buah jus jeruk.


Alex dan Pak Harry menoleh ke arah Humaira yang masuk dan meletakkan dua buah jus jeruk di atas meja. Kemudian duduk di samping Pak Harry.


"Kau pasti itu benar?" tanya Alex.


Humaira mengangguk. Dia mendengar sendiri apa yang sudah diceritakan Sora padanya.


"Mungkin Ezar memang anak Papa. Ezar juga dibuang di tempat sampah, wajahnya mirip denganku, usia Ezar sama dengan usia anak Papa yang hilang," batin Alex. Dia menyimpulkan semua informasi yang di dapatnya.


"Pa, aku membawa seorang anak kecil dari panti asuhan. Dulunya anak itu ditemukan di tempat sampah oleh dinas sosial. Mukanya mirip Arfan. Usianya juga hampir sama dengan usia anak Papa yang hilang," ujar Alex menceritakan Ezar pada ayah dan Humaira.


"Ezar ya Kak?" tanya Humaira. Dia pernah melihat Ezar di rumah Keluarga Sebastian saat Humaira pergi ke sana.


"Iya, Ezar anak angkat Tuan Matteo dan Claudya," jawab Alex.


"Apa mungkin dia anakku Lex? Aku jadi penasaran ingin bertemu dengannya," sahut Pak Harry. Sudah lama dia tidak main ke rumah Keluarga Sebastian. Jika tak ada acara penting Pak Harry jarang pergi ke sana.


"Papa memang harus bertemu dengan Ezar, iyakan Kak?" ujar Humaira.


"Iya, benar kata Humaira. Papa harus bertemu Ezar. Kalau perlu tes DNA sekalian. Aku merasa Ezar memang anak Papa dari semua kecocokan itu," sahut Alex. Memang lebih baik ayahnya bertemu dengan Ezar agar semuanya jelas. Biar bisa dibuktikan Ezar anak Pak Harry atau bukan.


"Kalau begitu ayo kita ke sana!" ajak Pak Harry.


Alex dan Humaira mengangguk.


"Kak, Pa, apa kita ajak Sora juga?" tanya Humaira. Biarbagaimanapun jika Ezar memang anak Pak Harry, Sora adalah orang pertama yang harus ada dalam pembuktian itu.


"Iya, ide yang bagus," jawab Alex. Apa yang dikatakan Humaira benar. Sora memang harus ikut. Dia harus tahu semuanya.


"Papa juga berpikir begitu, akan lebih baik Sora ikut," tambah Pak Harry.


"Baiklah, aku ke kamar Sora dulu," ujar Humaira.


Dia meninggalkan ruang tamu. Masuk ke kamar Sora. Kebetulan Sora sedang duduk dan merenung, melihat itu Humaira bergegas menghampiri Sora. Duduk di sampingnya.


"Sora, aku dan Papa mau pergi ke rumah Keluarga Sebastian, kau ikut ya?" ujar Humaira. Dia berharap Sora mau ikut bersamanya pergi ke rumah Keluarga Sebastian.


"Untuk apa?" tanya Sora. Dia tidak tahu tujuan Humaira mengajaknya pergi ke rumah Keluarga Sebastian.


"Nanti aku ceritakan, yang jelas ada hubungannya dengan pencarian anakmu," jawab Humaira. Dia tidak bisa menjelaskan tujuan utama pergi ke rumah Keluarga Sebastian. Biar Sora sendiri melihat keadaan yang terjadi di sana.


"Baiklah, aku ikut," jawab Sora. Mungkin dengan ikut bersama Humaira dia bisa menemukan anak kandungnya.


Mereka berempat pun pergi ke rumah Keluarga Sebastian.


***


Siang itu Keluarga Sebastian berkumpul di ruang keluarga. Ada Pak Ferdi, Ibu Marisa, Gavin, Maria, Tuan Matteo yang kebetulan pulang siang demi membeli rujak untuk istri tercintanya, Claudya, dan Sophia yang menyempatkan istirahat siang di rumah. Mereka semua makan rujak yang dibawa Tuan Matteo.


"Astaga Yah, tar perut ayah gak sakit, dari tadi rujakan cabe bukannya rujakan buah," celetuk Claudya.


"Ini cabe toh, kirain manisan gak pedes soalnya," sahut Pak Ferdi.


"Claudya jangankan cabe, cabe-cabean aja diembat ama ayahmu," sahut Ibu Marisa.


"Kebagusan cabe-cabean, paling cabe keriting galing yang udah bau tanah tuh yang diembat Ayah," ujar Gavin.


"Kok tahu?" Pak Ferdi heran kenapa Gavin tahu kalau dia pernah hampir ngembat cabe keriting.


"Vin, sepertinya kita damai saja, jangan ceritakan soal itu," ujar Pak Ferdi.


"Apa sih penasaran aku Kak, yang lain juga ingin tahu," kata Claudya.


"Ayah kan pernah punya gebetan di fb. Di foto muda, cantik, dan seksi. Eh ... pas ketemuan gigi aja ompong, rambut udah putih semua, jalan bungkuk kaya nenek gayung, bawa penghulu lagi. Udah gitu maksa ayah buat tanggung jawab kehamilannya," ujar Gavin menceritakan sepenggal kisah memalukan yang dialami Pak Ferdi saat muda dulu.


"Apa nenek-nenek hamil? Sama ayah?" tanya Claudya penasaran sambil memegang mangga muda yang akan disuapkan ke mulut. Sedangkan Sophia menahan tawa. Begitupun Tuan Matteo yang sudah sakit perut bukan karena rujak tapi bayangin Pak Ferdi yang harus nikahin nenek-nenek tua yang hamil.


"Enak aja, sekali nyium doang. Waktu ketemuan yang pertama, neneknya duduk, pakai wig sama masker. Kirain lagi sakit batuk, ayah seneng aja mau nyium cewek, gak tahunya nenek-nenek. Mana pas nyium di foto lagi," ujar Pak Ferdi menceritakan kronologis di TKP saat terciduk mencium nenek-nenek.


Claudya, Sophia dan yang lainnya tertawa. Mereka tak menyangka ada sejarah indah antara Pak Ferdi dan nenek-nenek.


"Lagian Ayah kenapa mau nyium nenek-nenek?" tanya Claudya.


"Ayah disuruh tutup mata, ya tutup mata sambil nyium," jawab Pak Ferdi.


"Emang gak bau yah?" tanya Gavin penasaran.


"Bau jengkol, tapi dipaksain lumayan nyium cewek cantik, meskipun kenyataannya nenek-nenek," jawab Pak Ferdi.


Sophia menutup mulutnya. Dia tertawa mendengar cerita Pak Ferdi.


"Emang bibir nenek-nenek empuk? Gak kering kerotan apa?" tanya Gavin.


"Kok lo lebih apal Kak, jangan-jangan lo udah nyium nenek-nenek juga?" Claudya curiga mungkin saja Gavin lebih parah dari Pak Ferdi.


"Gaklah kalau nenek-nenek, tapi bibir di bokong ayam pernah," jawab Gavin.


Claudya dan yang lainnya tertawa sampai memegang perut mereka karena cerita Gavin lebih parah dari Pak Ferdi.


"Ya elah Vin, masih untungan Ayahlah, meski nyium nenek-nenek," sahut Pak Ferdi.


"Sudah-sudah, ayo dimakan lagi rujaknya, masih banyak," ujar Ibu Marisa.


Claudya dan yang lainnya mengangguk.


"Sophia, jangan-jangan kau hamil?" ujar Ibu Marisa melihat Sophia begitu nikmat makan rujak.


"Iya Kak, dari kemarin tiap ku ajakin rujakan nikmat banget makannya," tambah Claudya.


"Gak tahu, bawaannya pengen makan yang seger-seger. Gak rujak doang, es buah, es campur, bakso, apa aja yang seger," jawab Sophia.


"Fix, Kak Sophia hamil," tebak Claudya. Dari cara Sophia makan rujak beberapa hari ini, Claudya berpikir Sophia hamil.


"Alhamdulillah kalau bener mah," sahut Sophia.


"Tes pack Sophia, Alex pasti seneng banget kalau kau hamil lagi, Arfan biar punya adik," ujar Ibu Marisa. Dia tahu Alex akan sangat bahagia saat Sophia hamil lagi.


"Iya Sophia, biar rame rumah ini, Claudya hamil, kau hamil, cucu Ayah jadi banyak," sahut Pak Ferdi.


"Kakak ipar bakal seneng banget, makin betah di rumah," tambah Tuan Matteo.


"Amin, semoga benar. Nanti mau tes pack deh," sahut Sophia.


"Aku mau nambah lagi ya sayang," ujar Gavin bermanja-manja pada Maria.


"Abang ini aja masih di perut, mau nambah lagi gimana?" tanya Maria sambil menunjuk perutnya yang sudah buncit.


"Nambah istri gitu? Di sunat Mak Ros baru tahu rasa," sahut Claudya.


"Ampun deh, jangan provokatif lo Claudya, bini gue lagi hamil, iyakan sayang?" ujar Gavin.


Maria tersenyum. Sambil mengelus rambut Gavin. Dia tahu meski Gavin suka iseng tapi dia setia dan sayang istri dan keluarganya.


Mereka terus mengobrol dan makan rujak. Sedangkan Arfan dan Ezar main mobil-mobilan truk yang mengangkut buah-buahan. Tak lama Alex, Pak Harry, Humaira dan Sora datang.