Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Siapa Dia Untuknya



Sampai di Cidatar Erisa dan Sari turun dari mobil box. Mereka berdiri di tepi jalan. Masih bingung harus ke kanan atau ke kiri. Mereka bertanya pada orang yang ditemuinya di jalan. Kemudian pergi ke tempat yang diberitahu oleh orang itu.


"Erisa emang ngerti bahasa sunda?" tanya Sari. Penasaran dari tadi Erisa hanya bilang iya. Antara ngerti atau bingung.


"Ngerti sih enggak, cuma paham yang jalan ditunjukkan," jawab Erisa.


"Gimana kalau salah? Aku udah gak kuat jalan. Pengen terdampar di lautan kapuk," sahut Sari.


"Tinggal tanya lagi, nanti kalau capek tinggal rebahan," sahut Erisa.


"Rebahan di rumah mertua ya?" tanya Sari. Udah gak sabar pengen berbaring nyaman.


"Di kapolsek setempat," jawab Erisa. Sesekali menggoda Sari agar dia bersemangat kembali. Udah bawaan banyak, beban berat, udah gak sanggup jalan, mana ada yang mau menggotong.


"Astaga masuk bui dong, gimana mau dapat jodoh kalau gitu. Jauh-jauh ke Garut malah ketemu pasukan orange," sahut Sari.


Erisa tertawa kecil. Paling tidak dia bisa mengalihkan fokus Sari ke hal lainnya.


"Erisa jalannya naik ke atas terus ya? Mana aku dah capek," keluh Sari.


"Di atas sana ada pangeran berkuda putih lagi nungguin Sari," ujar Erisa. Kembali menyemangati sahabatnya yang kesulitan berjalan naik ke ata.


"Pasti menunggu Sari untuk dilamar ya?" ujar Sari semangat mau bertemu pangeran berkuda putih.


"Bukan, dia nunggu Sari buat balikin mangkok sekalian bayar bakso yang dah dimakan," sahut Erisa.


"Tukang bakso itu mah bukan pangeran berkuda putih," jawab Sari.


Erisa tetsenyum kecil mendengar Sari mengoceh.


Mereka terus berjalan sampai ke rumah yang berada di daerah atas.


"Erisa rumahnya ada beberapa yang masih rumah adat ya?" ujar Sari. Dia senang bisa melihat beberapa rumah panggung.


"Iya, bagus ya," sahut Erisa.


"Unik," jawab Sari.


Mereka berdua terus berjalan sambil bertanya alamat. Sampai di sebuah rumah cukup besar. Ada kebun di sekelilingnya. Erisa berjalan menuju teras rumah itu. Dia melihat seorang kakek tua sedang merapikan sayuran di terasnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Erisa dan Sari.


"Wa'alaikumsallam," sahut kakek itu. Dia menoleh ke arah Erisa.


"Apa benar ini rumah Kakek Daniel Mananta?" tanya Erisa dengan ramah dan sopan.


"Benar, saya sendiri Daniel Mananta," jawab Kakek Daniel.


"Alhamdulillah," sahut Erisa dan Sari. Mereka sudah menemukan orang yang dicarinya.


"Ada urusan apa datang ke mari?" tanya Kakek Daniel.


"Perkenalkan saya Erisa Harold, dan ini teman saya Sari Sridevi, kami dari Jakarta Kek. Ingin bertemu Dokter Leon," ujar Erisa memperkenalkan dirinya pada lelaki tua di depannya.


"Oh dari Jakarta. Pasti teman-temannya Leon ya?" tanya Kakek Daniel. Dia berpikir mungkin dua wanita itu teman-temannya Dokter Leon.


"I-iya Kek," jawab Erisa.


"Ngomong-ngomong Dokter Leon di mana Kek? Kok gak kelihatan batang hidungnya," ujar Sari. Dia tidak melihat keberadaan Dokter Leon.


Erisa dan Sari tersenyum meringis. Dia tahu Kakek Daniel salah pengertian.


"Apa benar Dokter Leon tinggal di sini dengan kakek?" tanya Erisa. Dia ingin tahu di mana Dokter Leon berada.


"Benar, hanya saja Leon gak ada di sini," jawab Kakek Daniel.


"Gak ada di sini? Di mana Kek?" tanya Erisa penasaran. Dia ingin tahu di mana keberadaan Dokter Leon.


"Masuk dulu nanti kakek kasih tahu. Kalian pasti lelahkan?" jawab Kakek Daniel. Dia tahu kedua tamunya pasti lelah.


Erisa dan Sari mengangguk. Mereka berdua masuk ke dalam rumah Kakek Daniel. Mereka duduk di ruang tamu sedangkan Kakek Daniel masuk ke dalam dapur.


"Erisa akhirnya bisa berbaring dengan santai, punggungku rasanya mau patah," keluh Sari yang berbaring di atas kasur yang ada di lantai karena di sofa tak muat.


Erisa tak menggubris ucapan Sari, dia berdiri di depan dinding. Melihat-lihat foto yang terpajang. Dia melihat foto kegiatan kemanusiaan yang dilakukan Dokter Leon selama di Garut. Namun ada satu foto yang membuat Erisa terperanjat. Dokter Leon terlihat sedang bersama seorang wanita bercadar. Foto itu terlihat berbeda dari foto yang lainnya.


"Leon, siapa wanita bercadar ini. Apakah dia wanita yang ...?" batin Erisa tak sanggup menebaknya.


"Erisa jangan-jangan Dokter Leon sudah punya kekasih, atau sudah menikah, dan ini istrinya Aisyah bercadar," celetuk Sari yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Erisa.


"Mungkin," jawab Erisa lemas. Rasanya akan hancur berkeping-keping hatinya jika tahu Dokter Leon sudah memiliki seseorang di hatinya.


"Ya udah setahun lebih, mungkin ada mojang Garut yang nyantol di hatinya," sahut Sari. Dia bicara tanpa direm. Dia lupa Erisa terlihat sedih. Sudah jauh-jauh datang dari Jakarta kalau ternyata Dokter Leon sudah punya seseorang tentu membuatnya patah hati.


"Sari ayo kita pulang!" ajak Erisa. Dia takut mendengar dan melihat kenyataannya jika Dokter Leon terbukti memiliki seseorang di Garut.


"Loh belum juga bertemu masa pulang? Mana tahu Dokter Leon memang sudah menikah," sahut Sari. Dia keceplosan tanpa dipikir dulu.


Mata Erisa berkaca-kaca. Dia jadi takut bertemu Dokter Leon. Dia takut apa yang dikatakan Sari itu benar.


"E-Erisa maaf, salah ngomong. Mulutku lagi gak berotak. Ketinggalan di bus kayanya," ujar Sari merasa tidak enak sudah bicara sembarangan pada Erisa. Padahal sahabatnya pasti sedang sedih karena cintanya tanpa kepastian.


"Kau gak salah kok Sari, mungkin benar Leon sudah memiliki istri di sini makanya gak balik ke Jakarta," sahut Erisa. Dia tidak ingin berharap terlalu jauh. Bisa bertemu saja sudah Alhamdulillah. Mungkin akan menyakitkan tapi semua itu pasti sudah takdir yang harus dijalaninya.


"Erisa wanita bercadar ini ada di beberapa foto di sini, bahkan bersama Kakek Daniel, apa mungkin benar ya. Dia wanita spesial atau istri dari Dokter Leon?" ujar Sari. Memperhatikan beberapa foto di dinding. Terlihat kedekatan Dokter Leon dengan sesosok wanita bercadar.


Air mata Erisa tak lagi bisa dibendung. Dia sudah berpikir jauh ke mana-mana melihat foto di dinding itu. Perasaannya jadi tidak enak.


"Ayo kita pulang Sari! Kalau Leon serius padaku pasti pulang ke Jakarta bukannya aku yang menyusul seperti wanita murahan," ucap Erisa. Hatinya sudah sakit menunggu Dokter Leon satu tahun lebih ditambah melihat foto itu.


"Lohkan belum tanya langsung sama Dokter Leon, dia istrinya atau bukan. Masih ada harapan," sahut Sari.


Erisa menggendong ransel gunung milik Sari ke luar dari rumah itu. Disusul Sari yang mengikutinya di belakang.


"Erisa! Erisa! Erisa! Tunggu!" Sari berteriak memanggil Erisa yang berjalan di depannya.


"Aduh mulutku gak bisa direm. Bikin Erisa ngambekkan," keluh Sari sambil mengejar Erisa. Dia berjalan dengan cepat. Karena jalannya turun Sari susah mengontrol kakinya yang tadi berlari kencang.


"Eh ... Erisa aku ...!" Sari berteriak.


Byuuur ...


Dengan pendaratan sempurna Sari masuk kolam ikan. Mana satu ikan nyangkut di mulutnya. Namun sayangnya Erisa tetap berjalan ke depan jauh dari tempat Sari berada.


Air mata Erisa jatuh tak beraturan. Dia berjalan membawa luka di hatinya. Dia tidak ingin mendengar dan melihat kenyataan yang menyakitkan.


"Seharusnya aku tak datang ke sini, mungkin kita memang tidak berjodoh," gumam Erisa. Dia turun ke jalan. Kemudian saat sebuah elef berhenti di depannya dia langsung naik. Erisa duduk di kursi yang berada di tengah. Menangis sambil melihat pemandangan dari kaca elef itu.