
Luki terkejut dengan pertanyaan Tuan Matteo. Dia hanya terdiam. Sedikit melirik ke arah luka di tangannya.
"Ini-ini tergores pecahan kaca Bos," jawab Luki.
"Tergores pecahan kaca? Kaca apa?" tanya Tuan Matteo.
Luki terdiam sesaat. Terlihat kebingungan menjawab pertanyaan Tuan Matteo.
"Luki, kau tidak sedang berbohong padaku?" tanya Tuan Matteo.
"Tidak Tuan, aku tidak berani berbohong padamu," jawab Luki menunduk. Tak berani menatap mata Tuan Matteo.
"Jawab pertanyaanku terkena pecahan kaca di mana?" tanya Tuan Matteo.
"Di kamar Tuan," jawab Luki.
"Boleh aku melihat kamarmu?" tanya Tuan Matteo menatap Luki dengan tatapan dingin.
Luki mengangguk.
Segera Tuan Matteo bangun. Dia berjalan menuju kamar Luki. Di belakangnya Luki mengekor. Mengikuti Tuan Matteo masuk ke kamar miliknya.
Mata Tuan Matteo menyapu seluruh ruangan itu. Dia berjalan masuk ke dalam. Tuan Matteo melihat ke arah lemari yang dilapisi cermin seluruh permukaannya. Satu bagian cerminnya pecah. Tuan Matteo mendekat. Dia memegang cermin yang terpecah sebagian.
"Itu yang mengenai tangan saya Tuan," ucap Luki.
Tuan Matteo mengangguk. Kemudian mendekat ke arah Luki. Dia mengambil tangan Luki yang terluka itu.
"Apa sakit?" tanya Tuan Matteo.
"Tidak Tuan," jawab Luki.
Tiba-tiba Tuan Matteo mencengkram tangan Luki yang terluka. Mencengkramnya kuat. Sampai Luki kesakitan.
"Luki, aku tidak suka orang yang berbohong. Apalagi dia orang kepercayaanku," ucap Tuan Matteo menatap tajam Luki.
"Tuan sakit, aku tidak berbohong," sahut Luki.
Tuan Matteo mencengkram tangan Luki sampai tangannya mengeluarkan darah. Luki terlihat kesakitan. Dia meringis kesakitan. Tapi tak berani melawan Tuannya.
"Kau tahu siapa aku? Pengkhinat takkan pernah ku bebaskan begitu saja," ujar Tuan Matteo.
"Iya Tuan aku tahu," jawab Luki.
Darah mengalir hingga mengenai tangan Tuan Matteo yang mencengkram tangan Luki. Semakin banyak sampai tangan Tuan Matteo basah terkena darah Luki.
"Aw ...," keluh Luki kesakitan.
"Seperti ini rasa sakit untuk pengkhianat," ujar Tuan Matteo.
"Iya Tuan," sahut Luki.
"Aku membawamu ke rumah ini, kau tahu siapa dirimu sebelumnya?" tanya Tuan Matteo.
"Tahu Tuan," jawab Luki. Dia menahan rasa sakit di tangannya. Membiarkan Tuan Matteo masih mencengkram tangannya. Bahkan darah menetes di lantai.
"Luki, kau tangan kananku, aku percaya padamu ," ujar Tuan Matteo.
"Jika Tuan tak percaya, patahkan tanganku! aku rela," ucap Luki.
Tuan Matteo mencengkram tangan Luki semakin kuat, lalu memelintir tangannya hingga berputar 180°. Luki terlihat semakin kesakitan.
"Tanganmu akan patah," ujar Tuan Matteo.
"Tidak apa-apa, aku siap!" sahut Luki.
Tiba-tiba Tuan Matteo melepas tangannya dari tangan Luki.
"Obati tanganmu!" titah Tuan Matteo.
Luki mengangguk. Menunduk sambil memegang tangannya yang berdarah cukup banyak. Sedangkan Tuan Matteo berjalan melewati Luki, dia ke luar dari kamar Luki.
Di dalam Luki terlihat kesal. Dia kembali memukul cermin di depannya.
Tuaar ...
Cermin itu pecah. Berjatuhan di lantai dan berserakan.
"Tuan, aku mencintaimu, aku sudah mengabdikan hidupku untukmu, kenapa kau memilih dia?" ujar Luki. Dia begitu kecewa, cintanya tak berbalas. Dia harus menyimpan rasa cintanya sendirian. Luki berlutut di lantai. Menangis. Semua mimpinya sirna. Tuannya sudah memiliki seorang wanita di hatinya.
Sementara Luki bersedih, Tuan Matteo berjalan menuju kamarnya. Dia masuk ke dalam. Menutup pintu kamarnya. Kali ini Tuan Matteo mengunci kamarnya. Takkan membiarkan Luki masuk ke dalam seperti malam-malam sebelumnya.
Tuan Matteo membiarkan darah Luki masih basah di tangannya. Dia bergegas mengambil sebuah tabung kecil. Memasukkan sisa darah di tangannya ke dalam tabung kecil itu. Meletakkannya di atas laci. Kemudian Tuan Matteo menelpon seseorang.
"Hallo," ucap Tuan Matteo.
"Aku punya pekerjaan untukmu," ujar Tuan Matteo.
"Pekerjaan apa?"
"Tolong lakukan pemeriksaan darah pada dua sample darah yang akan ku berikan padamu," jawab Tuan Matteo.
"Baik Bos."
Setelah bicara dengan orang itu, Tuan Matteo menutup telponnya. Menatap ke depan dengan dingin. Ada sesuatu yang sedang dipikirkan olehnya.
***
Siang itu Alex sedang makan siang dengan Kenan. Mereka makan di sebuah restoran. Alex tidak memesan private room karena hanya sekedar makan. Tidak sedang membicarakan bisnis. Kenan begitu lahap menyantap makanannya seperti orang yang tidak makan berhari-hari.
"Kenan kau makan atau kesambet?" tanya Alex.
"Sorry Bos dari kemarin aku makan daun, berasa puasa, baru buka nih Bos," ujar Kenan.
"Memang istrimu masih marah?" tanya Alex.
"Aku digugat cerai Bos, padahal kesalahanku cuma karena dipijat nenek-nenek," jawab Kenan.
"Memang kau tidak jelaskan?" tanya Alex.
"Sudah, eh malah mau talak tilu sekalian," jawab Kenan.
"Miris banget nasibmu, untung aku nikah sama Sophia, adem kalau ada di rumah, berasa di surga," ujar Alex. Sejak menikah dengan Sophia hidupnya bahagia. Alex bahkan lupa siapa dia sebelumnya. Dia menjelma menjadi sosok suami yang baik. Cintanya kini hanya untuk Sophia. Tak ada wanita lain yang bisa menggodanya, ketulusan Sophia sudah menempati seluruh hatinya.
"Si Bos enak, saya berasa di neraka kalau di rumah, panas dan penuh derita," sahut Kenan.
"Separah itu?" tanya Alex.
"Gak tahu Bos, ada tetangga bilang sering ada cowok bertamu ke rumah, di saat aku kerja Bos," ujar Kenan.
"Maksudmu istrimu selingkuh?" tanya Alex.
"Gak tahu juga, tapi aku pernah nemuin pengaman di kamarku Bos," jawab Kenan.
"Pengaman punyamu kali?" tanya Alex.
"Aku gak pernah pakai pengaman Bos, seringan pakai sabun," jawab Kenan.
Alex tertawa. Lalu terdiam. Dia kasihan pada Kenan. Selama ini Kenan sudah bekerja keras dan sosok suami sayang keluarga. Jika benar istrinya selingkuh kasihan nasibnya pasti semakin ngenes.
"Bos itu kok kaya kakak ipar Bos, yang pejabat itu," ujar Kenan menunjuk ke meja yang ada di pojok kanan.
Alex melihat ke arah meja di pojok kanan. Benar kata Kenan, lelaki yang duduk dengan wanita yang membelakangi mereka itu adalah Hanan suami Nada.
"Mesra banget Bos, masa makan sambil pegangan tangan, suap-suapan," ujar Kenan.
Alex memperhatikan gelagat Hanan. Lelaki itu mengenakan topi dan berpakaian biasa. Mungkin supaya orang tak mengenalinya. Maklum dia seorang pejabat bisa repot masalahnya jika ketahuan selingkuh.
"Meskipun pakai baju biasa aku bisa mengenalinya, dulukan pernah ngaji bareng di pesantren meskipun cuma dua tahun," ucap Kenan.
"Kau kenal dia?" tanya Alex.
"Kan tadi aku bilang Bos, dua tahun ngaji bareng dia di pesantren," sahut Kenan.
Alex memastikan kembali lelaki itu benar Hanan.
"Iya dia Hanan, meski tak kenal dekat, tapi aku tahu wajahnya," batin Alex.
"Kenan, aku ke sana dulu, habiskan makananmu!" ujar Alex.
"Bos mau labrak pelakor? Mesti pakai sambel Bos, biar kepedesan," ujar Kenan.
"Sambel kurang nendang, ada palu?" tanya Alex.
"Buat apa Bos?" tanya Kenan.
"Biar gak bolong lagi, dipaku sekalian," jawab Alex.
Kenan tertawa. Bisa aja bosnya lagi genting malah bercanda.
Alex menghampiri lelaki dan perempuan yang duduk di meja yang ada di pojok kanan. Dia berdiri tepat di samping kursi wanita yang duduk dengan Hanan.
"Hanan," sapa Alex.
"Alex," sahut Hanan terkejut Alex bisa berdiri di depannya.
Alex menengok ke arah wanita yang duduk bersama Hanan. Dia terkejut melihat wanita itu. Alex tak menyangka wanita yang bersama Hanan, seseorang yang dikenalnya.