
Malam itu Emily belum tidur. Dia menghafal cara memasak yang benar. Dari bahan, cara sampai jenis masakan. Kepalanya sampai pusing. Emily menghafal sambil berbicara sendirian dengan keras. Untung kamarnya kedap suara. Arfan yang sudah tidur duluan sampai terkejut saat mendengar suara Emily yang keras.
"Emily kenapa malam-malam kau belum tidur?" tanya Arfan.
"Aku sedang menghafal masakan Arfan. Biar besok saat masak aku bisa," jawab Emily.
Arfan tertawa kecil dengan apa yang dikatakan Emily. Istrinya begitu polos sampai masakan dihafalkan seperti mau ujian nasional esok hari.
Arfan bangun. Duduk di samping Emily dan mengusap kepalanya.
"Emily, masakan tidak perlu dihafal seperti pelajaran tapi dipraktekkan," ujar Arfan.
"Jadi percuma ya Emily ngafalin? Mana udah buat contekan segala," sahut Emily. Dia sudah menyiapkan beberapa kertas contekkan agar bisa menyontek selama memasak bersama Sophia.
"Apa? Kau buat contekan segala?" Arfan tertawa kecil. Ada saja tingkah polos Emily.
"Iya, lihat!." Emily menunjukkan gulungan kecil lalu dibuka gulungan itu memanjang. Bahkan memenuhi ranjang.
"Emily ini contekan ujian sekolah atau contekkan masak?" Arfan tercengang melihat contekan panjang kaya meteran gulung.
"Ini contekan biar Emily gak lupa bahan, bumbu dan cara memasaknya Arfan," jawab Emily.
"Kau niat banget ingin bisa, aku bangga," kata Arfan sambil memegang dagu Emily.
"Iya, habis Emily ingin bisa masak untuk Arfan dan keluarganya Arfan," jawab Emily. Dia ingin sekali bisa memasak.
"Coba belajar dari tutorial masak yang ada di YouTube atau Instagram," ucap Arfan.
"Sudah tapi lupa terus makanya Emily menghafal," jawab Emily. Dia sudah melihat tutorial masak di medsos tapi gak hafal dan tidak mengerti juga.
"Kalau begitu besok aku yang mengajarimu," sahut Arfan.
"Beneran?" tanya Emily kegirangan Arfan mau mengajarinya memasak.
"Iya cantik, sekarang tidur ya, besok pagi bangun kita belajar masak," jawab Arfan. Dia sangat menghargai usaha Emily untuk bisa. Pasti tak mudah untuk Emily mempelajari semuanya. Itu sebabnya Arfan ingin mengajarinya.
"Makasih Arfan," sahut Emily. Tersenyum manis pada Arfan.
"Cium dulu!" pinta Arfan. Gemas melihat wajah cantik dan manja Emily.
Tanpa ragu Emily langsung mencium Arfan.
"Selamat tidur Arfan," ucap Emily.
"Selamat tidur cantik," jawab Arfan.
Mereka berdua pun berbaring. Emily lebih dulu tertidur. Arfan masih memandangi wajah cantik Emily. Dia tersenyum sudah memiliki istri mesti tanpa kesengajaan.
"Bawang merah, cabe, jahe, ...." Emily mengigau gara-gara kebanyakan menghafal.
Arfan menggeleng melihat Emily yang sedang mengigau. Dia menyelimuti tubuh mulus dan seksi istrinya. Kemudian tidur memeluk Emily yang sudah lebih dulu tidur.
***
Pagi itu Emily dan Arfan memasak di dapur. Mereka bangun lebih pagi dari yang lainnya. Arfan mengajari Emily masak-masakan yang simpel agar Emily belajar dari yang mudah dulu.
"Emily ini tempe," kata Arfan.
Emily mengangguk.
"Tempe terbuat dari kacang kedelai, rasanya enak dan gurih," tambah Arfan. Dia sibuk memotong tempe. Sedangkan Emily memegang tempe itu lalu memakannya.
"Rasanya aneh Arfan," ucap Emily.
Arfan yang tadinya melihat ke bawah menaikkan pandangannya. Menatap Emily yang sedang makan tempe mentah.
"Emily! Jangan dimakan! Harus dimasak dulu," kata Arfan sambil mengambil tempe mentah itu.
"Tadi kata Arfan rasanya enak dan gurih," sahut Emily.
"Iya, tapi harus digoreng dulu, nanti perutmu sakit," kata Arfan.
Emily langsung mual. Dia memintahkan tempe yang ditelannya di tempat cuci piring. Melihat itu Arfan bergegas mengambil air hangat. Dia memberikan air itu pada Emily.
"Diminum ya!" ucap Arfan.
"Perutku mual Arfan," sahut Emily.
"Tidak apa-apa nanti enakkan setelah minum air hangat itu ya," kata Arfan.
Emily mengangguk dan meminum air hangat yang ada di tangannya.
"Alhamdulillah enakkan," kata Emily.
"Dengarkan aku! Semua bahan yang ada di dapur harus dimasak dulu baru bisa dimakan," ujar Arfan. Memperingatkan Emily agar tidak memakan bahan masakan sembarangan.
"Iya, siap Bos," jawab Emily.
"Ya sudah kita belajar lagi ya," kata Arfan.
Emily mengangguk. Dia kembali belajar memasak dengan Arfan. Dari bahan masakan, bumbu, dan cara memasaknya.
"Nah sekarang Emily goreng tempenya," ujar Arfan.
"Oke," jawab Emily. Dia mulai memasukkan tempe itu satu per satu sampai memenuhi wajan.
"Emily, tidak dimasukkan semuanya tapi secukupnya agar matangnya merata," kata Arfan. Dia mengambil kembali beberapa tempe yang dimasukkan Emily ke penggorengan.
"Jadi gak usah banyak-banyak ya?" tanya Emily memastikan lagi.
Emily mengangguk. Mengingat setiap apapun yang Arfan ajarkan padanya.
"Arfan diapain lagi?" tanya Emily.
"Tunggu sampai agak coklat," jawab Arfan yang sedang memotong sayuran di meja dapur.
"Oke," jawab Emily. Dia salah dengar justru memasukkan coklat ke dalam gorengan tempe itu.
"Nah kalau begitu sudah penuh coklat," ujar Emily.
Arfan yang sedang memotong sayur menghentikan pekerjaannya, dia ingin memantau pekerjaan Emily.
"Loh kok ada coklatnya?" tanya Arfan.
"Tadi Arfan bilang sampai ada coklat, jadi ku masukkan coklat," jawab Emily.
Arfan tertawa kecil melihat coklat yang digoreng bersama tempe.
"Baiklah, yang ini anggap saja tempe goreng varian baru," ujar Arfan.
"Jadi salah ya?" tanya Emily.
"Gak salah, namanya juga inovasi, nah sekarang goreng tempenya gak perlu pakai coklat lagi tapi menunggu sampai warna tempenya kecoklatan ya," jawab Arfan.
Emily mengangguk. Dia tidak ingin gagal lagi. Emily menggoreng tempe itu sampai mengukut warnanya dengan aplikasi pengukur warna.
"Belum coklat, berarti belum matang," ujar Emily.
Arfan hanya menggeleng melihat tingkah Emily. Seribet itu padahal cuma goreng tempe. Tapi ya sudahlah Emily sudah berusaha.
"Arfan, sudah matang. Tingkat kecoklatannya 100% tidak lebih dan tidak kurang," kata Emily kegirangan bisa goreng tempe.
"Oya," sahut Arfan. Dia menghampiri Emily. Melihat hasil goreng tempenya.
"Keren, ini baru istri Arfan," puji Arfan agar Emily bersemangat untuk masak.
"Makasih Arfan," jawab Emily.
"Berarti aku harus memberi hadiah untuk istri cantikku," ujar Arfan.
"Mau," jawab Emily dengan senang hati akan mendapat hadiah dari Arfan. Dia menutup matanya. Ternyata Arfan memasukkan tempe goreng itu dari mulutnya ke mulut Emily.
"Ar- ..." Emily terkejut dan membuka mata. Sebuah tempe di antara mulutnya dan Arfan.
"Gigit," kata Arfan.
Emily mengangguk. Mengigit tempe itu bersamaan dengan Arfan. Mereka mengunyahnya bersama.
"Enak gak?" tanya Arfan.
"Iya enak, gak kaya tadi," jawab Emily.
Arfan mencolek hidung Emily. Kemudian mereka kembali memasak lauk pauk dan sayur lainnya. Emily mendengarkan dan mengikuti arahan Arfan. Dia benar-benar ingin bisa memasak.
"Alhamdulillah semuanya sudah beres, tinggal ditata di meja," kata Arfan.
"Tapi apa masakanmu enak? Aku baru belajar Arfan," kata Emily.
"Cantik, enak tidak enak kau sudah berusaha. Lagi pula tadi aku sudah mencicipinya, enak kok," sahut Arfan. Dia memang sudah mencicipi masakan Emily. Meski belum seenak masakan Sophia tapi untuk pemula sudah enak.
"Kalau begitu ayo kita bawa ke meja!" ajak Arfan.
Emily mengangguk. Dia membantu Arfan membawa masakan itu ke meja di ruang makan. Mereka menata semua masakan itu di atas meja, menyiapkan susu, kopi dan air putih untuk semua orang.
Tak lama Alex dan yang lainnya turun ke bawah. Mereka duduk di ruang makan. Semua makanan sudah tersaji di atas meja makan.
"Wah siapa yang masak?" tanya Sophia.
"Emily Ma," jawab Arfan. Dia membanggakan istrinya.
"Emily? Kalau gitu Papa sarapan di luar saja," kata Alex yang tidak yakin dengan masakan yang dibuat Emily.
"Janganlah Lex, hargai hasil kerja keras Emily! Dia sudah bangun pagi untuk masak," sahut Pak Ferdi. Dia menasehati anaknya agar menghargai usaha Emily yang memasak untuk mereka semua.
"Iya Lex, Emilykan sudah belajar memasak, enak tidak enak kita harus menghargai usahanya," tambah Ibu Marisa. Seperti suaminya dia ikut menasehati Alex.
"Enak kok Pa," ucap Aliza yang lebih dulu memakan tempe rasa coklat.
"Lihat tempenya saja gosong! Di mana enaknya? Kau hanya ingin membela anak manja itu," sahut Alex. Dia melihat tempe berwarna coklat tua yang dipegang Aliza.
"Oh itu tempe rasa coklat Pa, jadi warnanya emang lebih coklat dari tempe goreng biasanya," jelas Arfan.
"Mama penasaran mau nyoba juga ah," ucap Sophia. Dia mengambil tempe rasa coklat itu dan mencicipinya.
"Enak loh Pa, beneran!" kata Sophia.
"Kakek mau dong!" pinta Pak Ferdi.
"Tenang Kek, Nenek ambilin," sahut Ibu Marisa yang mengambil tempe rasa coklat itu dan meletakkan di piring Pak Ferdi. Bergegas Pak Ferdi dan Ibu Marisa mencicipi tempe rasa coklat itu.
"Enak ya Kek," ucap Ibu Marisa.
"Iya Nek, enak. Baru tahu tempe rasa coklat," sahut Pak Ferdi.
Melihat itu Alex terdiam. Di rumah itu semua orang mendukung Emily hanya Alex yang belum membuka hatinya.