Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Dompetku



"Pocong? Pocong apa?" tanya Dendi.


"Katakan!" bentak Gavin sambil mencengkram tangan Dendi lebih kencang lagi.


"Aw ... Aw ...," keluh Dendi kesakitan.


"Kau mau lagi?" tanya Gavin.


"Ampun, beneran aku tidak tahu yang kau maksud," jawab Dendi.


Gavin terdiam sesaat. Apa benar Dendi tidak tahu soal pocong di jok belakang mobilnya.


"Apa kau yang membunuh calon-calon suami Maria?" tanya Gavin dengan suara yang keras.


"Tidak, aku memang ingin mencelakaimu tapi tak berniat membunuhmu," jawab Dendi.


"Kau bohong!" bentak Gavin.


"Tidak, sumpah kau bisa menghajarku sampai mati kalau aku bohong," jawab Dendi.


Gavin terdiam. Sepertinya Dendi tidak berbohong. Dia bisa tahu dari cara Dendi berbicara.


"Tapi kau harus berhati-hati, ada orang yang akan selalu mencelakai siapapun yang akan menikahi Maria, itu sebabnya aku belum berani menikahinya," jawab Dendi.


"Orang? Siapa?" tanya Gavin.


"Aku sendiri tidak tahu, beneran," jawab Dendi.


Tak lama polisi datang. Meringkus Dendi dan teman-temannya. Membawa mereka ke kantor polisi. Tinggal Gavin dan Luki yang masih duduk di atas body mobil bagian depan.


"Sebenarnya siapa mereka?" tanya Luki.


"Dendi dan anak buahnya," jawab Gavin.


"Tapi kenapa mereka menyerangmu?" tanya Luki.


"Aku ingin menikahi Maria, seorang gadis keturunan Betawi," jawab Gavin.


"Jadi Dendi itu rivalmu?" tanya Luki penasaran. Dia ingin tahu kenapa mereka ingin menyerang Gavin.


"Iya, tapi masalahnya bukan hanya itu saja," ujar Gavin.


Luki terdiam. Seperti ada yang sedang dipikirkan oleh temannya itum


"Setiap calon suami Maria selalu meninggal sebelum hari pernikahannya," ujar Gavin.


"Apa? Kau tidak bercanda Gavin?" tanya Luki.


Gavin menggeleng tatapannya dingin. Sepertinya dia benar-benar tidak berbohong.


"Kok bisa, apa yang terjadi?" tanya Luki.


"Mereka mati mengenaskan, itu sebabnya Maria dianggap pembawa sial," jawab Gavin.


Luki terdiam. Seakan tak percaya ada orang yang ingin menikah tapi calon suaminya selalu meninggal. Dan dituduh pembaca sial.


"Aku percaya semua ini tidak kebetulan, satu kali mungkin, tapi ini terjadi berkali-kali," ujar Gavin.


"Berarti kau harus mencari apa penyebabnya? Atau mungkin ini sebuah pembunuhan berencana?" kata Luki.


"Itu sedang ku selidiki," jawab Gavin.


Akhirnya Gavin menceritakan proses bertemu dia dengan Vera sampai dikenalkan pada Maria dan hendak menikahi Maria dalam waktu dekat. Termasuk serangkaian kejanggalan yang terjadi padanya.


"Kenapa kau tak cari tersangkanya dari orang terdekat dulu. Misalkan keluarganya, tetangganya dan lingkungan sekitarnya. Pelaku pembunuhan berencana biasanya orang-orang yang berada di ruang lingkup itu," ujar Luki memberi saran pada Gavin.


Gavin terdiam. Memikirkan saran dari Luki yang sesuai dengan logika.


"Kau benar, aku akan lebih mudah mencari pelakunya," kata Gavin.


"Kalau kau butuh bantuanku bilang saja," ujar Luki.


"Oke, saat aku menikah jadilah pengisi acaranya," sahut Gavin.


"Bukan itu Bro," sanggah Luki.


Gavin tersenyum. Setidaknya bicara dengan Luki mengurangi beban dibenakknya.


"Kau ingin pulang atau menginap di apartemenku?" tanya Luki.


"Kau tinggal di apartemen?" tanya Gavin.


"Baru-baru ini, sebelumnya aku tinggal bersama Tuan Matteo," jawab Luki.


"Boleh, kau menjamukukan?" tanya Gavin.


"Pasti, kau tamu istimewa," jawab Luki.


Tapi tak seindah kata-kata manis Luki. Ternyata saat mereka sahur bersama wajah Gavin ditekuk.


Terlihat datar, penuh penyesalan.


"Ayo dimakan sobat," ajak Luki.


"Kau bilang menjamuku?" kata Gavin.


"I-iya, sorry Bro," sahut Luki.


"Sahurnya mie instan, telor dadar gosong, teh pahit tanpa gula dan buah jeruk tinggal sebelah," ujar Gavin.


"Hanya itu stok yang tersisa, aku baru pindahan," jawab Luki.


Gavin mulai memakan mie instannya.


"Ini mie instan jaman kapan?" tanya Gavin.


"Tunggu, baru expired bulan lalu," jawab Luki.


"Aman, paling mencretkan?" tanya Gavin.


"Sejenisnya, paling parah diare hingga ke ICU," jawab Luki.


"Aku tahu pelaku pembunuhan suami-suami Maria," kata Gavin.


"Siapa? Otakmu mendadak topcer ya setelah makan mie instan kadaluarsa," sahut Luki.


"Kaulah, meracuniku dengan mie instan expired," jawab Gavin.


***


Pagi itu Kenan sudah rapi dengan setelah jas mengantarkan putrinya berangkat ke sekolah TK-nya. Dulu pekerjaan ini menjadi tugas istrinya tapi sekarang menjadi tugasnya. Kenan mengendarai mobil operasional kantor untuk mengantarkan Tara. Mobil itu berhenti di depan TK. Begitupun dengan mobil yang baru saja tiba yang berada di samping mobil Kenan.


Kenan turun dari dalam mobil begitupun pengemudi mobil di sampingnya. Kenan berdiri di depan mobilnya bersama putri kecilnya, ternyata pengemudi mobil di sampingnya itu Nada dan Nesa putrinya.


"Nada," sapa Kenan.


"Eh Kenan, kau sedang apa di sini?" tanya Nada sambil menuntun putri kecilnya.


"Aku sedang mengantar putriku sekolah," jawab Kenan sambil memegang tangan Tara.


"Aku juga sedang mengantar putriku sekolah," jawab Nada.


Tak disangka bertemu di tempat itu juga. Kenan senang, bisa ketemu Nada tiap hari kalau rajin nganter anaknya sekolah.


"Putrimu cantik siapa namanya?" tanya Kenan.


"Nesa, putrimu?" tanya Nada balik.


"Tara," jawab Kenan.


"Ayo Nesa ajak Tara masuk," pinta Nada pada putri kecilnya.


"Iya Bunda," sahut Nesa. Dia menghampiri Tara. Berdiri di depannya.


"Ayo Tara masuk ke dalam," pinta Nesa.


"Iya, ayo," sahut Tar. Dia mengikuti Nesa yang menarik tangannya masuk ke dalam area TK. Sedangkan Kenan dan Nada masih di luar.


"Sore ini keluargaku mengadakan buka bersama. Alex dan Sophia akan datang, kau mau ikut?" tanya Nada.


"Beneran boleh?" tanya Kenan.


"Iya, asalkan kau tak bawa bunga tai ayam lagi," jawab Nada.


"Tenang, aku sudah keren, kau lihat," kata Kenan.


Pluuuk ...


Dompet buluk Kenan terjatuh di bawah. Mana kulitnya udah pada ngelotok. Sobek sana sini. Antara kulit dan bahannya udah tak seiring dan sejalan. Mereka harus terpisahkan oleh waktu.


"Itu dompet siapa?" tanya Nada menunjuk ke arah bawah.


"Iya ya, buluk banget, jelek lagi," jawab Kenan yang melihat ke bawah. Belum sadar kalau itu dompetnya sendiri.


"Siapa tahu dompetnya tukang rongsokan," kata Nada.


"Iya, dompet jelek gini paling pun- ...," ucap Kenan.


"Tunggu, kok kaya dompet gue, mana tadi udah gue hina-hina, kalau tuh dompet manusia, pasti jadi istri yang terabaikan," batin Kenan baru ngeh itu dompet miliknya. Mau dicomot gengsi. Kalau dicampakkan tar makan satu minggu ke depan gimana?


"Kenan ambil saja, serahkan pada sekuriti komplek," ujar Nada.


"Jelek begini paling gak ada duitnya, atau isinya tempe mendoan," sahut Kenan sambil mengambil dompet di bawah kakinya.


"Tapi yang penting isinyakan, siapa tahu pemiliknya butuh buat makan seminggu," jawab Nada.


"Bener, kalau ilang, seminggu bisa puasa tanpa berbuka dan sahur," batin Kenan.


"Coba buka isinya, biar ketahuan yang punyanya siapa," usul Nada.


Deg


Kenan terkejut. Repot kalau Nada tahu pemilik dompet menderita itu ya Kenan. Tapi dia terlanjur sombong tadi, bingung nyari alasan pada Nada.


"Gak usah, paling dompet ini dah dibuang yang punya," jawab Kenan.


"Sorry dompet pisah ranjang dulu, aku tak berniat mencampakanmu, jangan marah ya," batin Kenan.


Nada mengangguk. Membiarkan Kenan membuang dompet ke tong sampah. Kemudian Kenan kembali menghampiri Nada. Berbincang sebentar. Setelah itu Nada berangkat kerja. Sedangkan Kenan balik lagi ke tong sampah. Mencari dompetnya yang dibuang tadi. Tangannya masuk ke dalam tong sampah. Mengodak-ngaduknya seperti adonan gorengan.


"Empuk, benyek, bau, apa ya?" Kenan merasa memegang sesuatu. Kemudian mengangkatnya.


"Oh popok basi, pantes," ujar Kenan. Melihat popok di tangannya. Meletakkannya kembali dengan hormat. Kemudian mencari dompetnya.


"Alhamdulillah ketemu, tapi kok kulitnya makin abis ya," ujar Kenan. Kulit yang ada di dompetnya udah ilang tinggal bahan dasarnya.


"Sabar, bulan depan aku punya uang banyak, saatnya jadi duda keren," ujar Kenan. Tersenyum. Lupakan kegembelannya saat ini. Songsong masa depan cerah. Gajinya sekarang akan jadi miliknya sepenuhnya. Dia bisa keren dan tajir lagi.


***


Pagi itu Gavin pergi ke rumah Maria sebelum berangkat kerja. Dia membawa beberapa buah untuk keluarga Maria. Sesuai saran dari Luki, mungkin saja pelaku adalah orang terdekat Maria. Bisa keluarga, tetangga atau orang-orang di lingkungan sekitar Maria. Gavin turun dari motornya. Berdiri di samping motor. Melihat ke arah spion motornya untuk merapikan rambutnya. Dari kaca spion terlihat ibu tua yang kemarin itu menabur bunga di depan rumahnya. Gavin menoleh ke arahnya. Ibu tua itu terlihat menatap Gavin dengan tajam. Tapi tak bicara apapun.


"Bu," sapa Gavin.


Ibu tua itu tetap terdiam. Tak membalas sapaan Gavin padanya.


"Aneh banget," ucap Gavin.


Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Gavin dari belakang. Gavin langsung terkejut dan berbalik.


"Astagfirullah, Maria ku pikir siapa?" ujar Gavin mengelus dada. Dia berpikir itu orang yang akan membunuhnya gara-gara parno. Apalagi perkataan Luki yang terngiang di telinganya.


"Maaf Gavin, habis dari tadi kau diam di situ," jawab Maria yang terlihat cantik mengenakan hijab pink sedangkan bajunya abu muda.


"Cantiknya calon istriku," puji Gavin melihat Maria.


"Gavin malu, jangan ngombal lagi puasa," sahut Maria.


"Astagfirullah, lupa kalau lagi puasa, gara-gara Luki nih," keluh Gavin. Jauh di sana Luki bersin saat Gavin menyalahkannya lagi.


Maria tersenyum malu-malu.


"Oh ya Maria aku mau tanya," ujar Gavin.


"Tanya apa?" tanya Maria.


"Ibu itu kok aneh banget, setiap ku sapa tak pernah menjawab, udah gitu melotot mulu padaku," ujar Gavin pelan pada Maria.


Maria melihat ke arah ibu tua tetangganya.


"Ibu Sariah bisu Gavin, selain itu ganguan mental juga," jawab Maria.


"Apa?" Gavin terkejut dengan jawaban Maria. Kecurigaannya dari kemarin terbantahkan. Ibu tua itu tidak aneh tapi bisu dan memiliki gangguan mental.