Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Harus Test DNA



Setelah Pak Ferdi tenang dan beristirahat. Ibu Marisa dan Claudya memutuskan pulang. Begitupun dengan Kakek David yang kondisi kesehatannya sedang tidak stabil. Alex meminta kakeknya untuk beristirahat di rumah. Namun kakeknya bersikeras ingin menemani Ferdi yang dari siang histeris gara-gara kakinya tidak bisa berjalan sementara waktu.


"Kek, pulanglah bersama Gavin! Ibu dan Claudya juga sudah pulang tadi," ujar Alex.


"Kakek masih ingin di sini," sahut Kakek David.


"Nanti kakek kecapean, ingat kondisi kesehatan kakek," ujar Alex.


"Baiklah, Gavin antar kakek pulang," pinta Kakek David pada Gavin yang duduk di sofa sambil bermain game di handphone-nya.


"Apa Kek?" tanya Gavin tak terlalu memperhatikan apa yang diucapkan kakeknya.


"Ayo kita pulang saja, biar Alex dan Sophia yang berjaga di sini," ujar Kakek David.


David langsung meletakkan handphone-nya di meja. Menatap Kakek David yang duduk di seberangnya.


"Kek, aku ingin menjaga ayah di sini," jawab Gavin.


"Tumben kau mau jaga di rumah sakit, waktu kakek sakit aja kau cuma ngeliat bentaran?" sindir Alex. Dia tahu sekali Gavin bukan tipe lelaki yang mau ribet mengurus keperluan orang sakit. Dulu sewaktu kakeknya sakit aja hanya Alex, Claudya dan Ibu Mariska yang mondar-mandir ke rumah sakit.


"Itu karena ayah sakit parah, Gavin gak tega," jawab Gavin..


"Beneran? Kau tak sedang punya maksud tertentu?" sindir Alex lagi.


"Tidak, lagian kasihan Kak Alex dan Kak Sophia kalau nanti mau istirahat kan ada Gavin," sanggah Gavin. Sambil tersenyum meyakinkan Alex yang tidak mempercayainya.


"Ya sudahlah, biar kakek pulang diantar Pak Amat," ucap Kakek David membuat keputusan dari pada menyaksikan kedua cucunya berdebat tiada habisnya.


"Tapi Kek?" Alex tidak tega kakek pulang tanpa diantar salah satu dari mereka.


"Gak papa, ada Pak Amat, lagian besok kakek ke sini lagi," sahut Kakek David.


"Bener Kek, biar Gavin antar sampai lobi," ucap Gavin.


"Baiklah, kakek hati-hati di jalan, kabarin kalau dah sampai," ujar Alex.


Kakek David mengangguk.


Segera Gavin bangun. Mengantar kakeknya ke luar dari ruangan. Tinggal Alex dan Sophia yang ada di ruangan itu. Sedangkan Pak Ferdi sedang ada di alam mimpi, bermimpi masih bisa jalan, mabuk, judi dan main perempuan.


Sophia sedang berbaring di ranjang yang ada di sudut kanan ruangan. Ranjang yang digunakan untuk keluarga pasien yang menunggu. Alex memastikan ayahnya benar-benar tidur.


"Ayah kalau sudah tidur cewek semok disebut semua, kali-kali mimpiin masuk neraka atau alam barzah biar tobat apa," gumam Alex melihat ayahnya yang sedang mengigau sesekali.


Dirasa ayahnya sudah di alam mimpi, Alex menghampiri Sophia yang berbaring. Dia berbaring di ranjang yang sama. Memeluk Sophia dengan erat. Mencium pipinya.


"Mas," ucap Sophia terbangun saat mendapatkan sentuhan kasih sayang dari Alex. Dia menengok ke samping.


"Tidur aja tetep cantik, coba gak di rumah sakit," goda Alex pada pemilik mata emerald itu.


"Mas bisa aja, nanti ya hadiahnya di rumah," ujar Sophia.


"Iya tapi double ya," bisik Alex ditelinga Sophia.


Tahu-tahu Sophia mencubit perut Alex dengan pelan.


"Aw ... sayang, jangan bikin panas dingin di sini," goda Alex.


Sophia tersenyum. Menyentuh pipi Alex merabanya.


"Mas orang dicubit kok malah pikirannya jorok," ucap Sophia gemas pada suaminya yang seorang casanova itu.


"Habis kalau deket kamu mode on, ingetnya yang romantis mulu," ujar Alex.


Sophia menyandarkan kepalanya di dada Alex. Hangat dan nyaman. Sekarang Sophia memiliki belahan jiwa. Jantungnya berdebar saat Sophia ada di sisinya. Memancarkan cinta dan kasih sayang padanya.


"Sayang, makasih ya, kau sudah membantu dan mensupport ku selama ini," ucap Alex.


"Aku akan ada di saat kau suka maupun duka, aku akan tetap di sisimu," jawab Sophia.


Cup


Satu ciuman mendarat di ubun-ubun Sophia.


"Meskipun aku tak memiliki apapun, asal ada kamu, semua terasa sempurna," ujar Alex.


"Mas menggombal kaya di film drakor ya," canda Sophia.


"Gaklah sayang, aku tak pernah nonton drakor, tapi pemain live action bagian yang vulgar," ucap Alex.


"Mas ada-ada aja," sahut Sophia memeluk Alex.


"Tapi sama kamu," ujar Alex.


Sophia tersenyum. Biarlah suaminya itu sedikit ngeres gaya bicaranya, toh sama istrinya bukan sama orang lain. Romantis tak harus kata-kata manis. Sedikit sensasional untuk menghangatkan suasana.


"Tidurlah, aku akan menjagamu," ucap Alex.


Sophia mengangguk. Kemudian menutup matanya.


Alex memperhatikan wajah Sophia dari dekat, lebih lama. Wajah yang dulu membuatnya berpikir untuk sekedar icip-icip menikahi Sophia tapi justru sekarang Alex jatuh cinta berat padanya. Pemilik mata emerald itu berhasil menjinakkan sang casanova, membuatnya bagaikan binatang peliharaan yang akan setia pada majikannya.


"Aku sangat mencintaimu Sophia, tetaplah di sisiku," bisik Alex di telinga Sophia.


Alex memeluk Sophia. Mengingat kembali masalahnya tadi siang. Ada hal yang janggal mengusik pikirannya. Membuatnya harus tahu fakta yang sebenarnya.


"Kenapa aku memiliki golongan darah yang sama dengan kakek dan ayah, padahal kami tak memiliki hubungan darah, jika itu darah O, A, B dan AB, mungkin itu kebetulan, tapi darah emas, tidak semua orang memilikinya," batin Alex. Dia terus bertanya dan berpikir. Kemudian membaringkan Sophia. Menyelimutinya dan mencium keningnya dengan lembut. Alex berjalan menghampiri ayahnya. Berdiri di depan ranjang pasien.


"Apa aku anak kandungnya?" pikir Alex.


Tangan Alex mengambil satu rambut milik Pak Ferdi yang sedang berbaring. Tidur pulas di alam mimpi ditemani bidadari khayalannya.


"Aku harus melakukan test DNA untuk tahu jawabannya," batin Alex. Dia memasukkan rambut itu ke dalam tisu. Tak lupa rambut miliknya juga. Dia ingin memastikan hubungan antara dia dan Pak Ferdi, ayah dan anak atau bukan.


Di luar Gavin berjalan celingak-celinguk. Memutari lantai tiga. Berharap sesosok gadis bercadar tadi muncul. Paling tidak menghantuinya.


"Sial, di ruangan mana dia, jangan-jangan bukan di lantai tiga. Haruskah aku berpatroli ke semua lantai, kaya tim pemburu hantu aja," batin Gavin.


Namun rasa penasarannya begitu besar. Membuat dia ingin bertemu gadis bercadar yang membuatnya penasaran setengah mati. Bela-belain stand by di rumah sakit padahal Gavin mana mau dekem lama-lama di rumah sakit kalau bukan karena gadis bercadar itu.


"Harus gitu nyari dia? Tapi ...," ucap Gavin. Langkah kakinya tak bisa dibohongi. Dia memang ingin sekali lagi bertemu gadis bercadar tadi.


Gavin masuk lift naik ke lantai empat. Berjalan menuju lantai empat namu dia tak bisa masuk ke ruang rawat inap. Gavin tidak memiliki kartu anggota keluarga pasien untuk membuka pintu keamanan untuk masuk ke dalam ruang rawat inap lantai empat.


"Mana bisa masuk, gak punya kartu, dodol," batin Gavin.


Tiba-tiba seorang sekuriti menghampiri Gavin. Ingin tahu tujuan lelaki muda itu berdiri di depan pintu keamanan lantai empat.


"Mas ada yang bisa saya bantu?" tanya sekuriti.


Gavin berbalik. Melihat sekuriti ada di dekatnya.


"Eee ...," ucap Gavin bingung mau jawab apa.


"Masa aku bilang ingin masuk untuk sekedar melihat gadis bercadar itu," batin Gavin.


"Kenapa? ada masalah?" tanya sekuriti.


"Tidak Pak, saya hanya ingin menjenguk keluarga saya," jawab Gavin.


"Siapa nama pasiennya?" tanya sekuriti.


"Mana gue tahu, gimana ini?" batin Gavin.


"Sutrisna Hadikusumo Mangun Rejo Joko Santoso bin Sutejo," jawab Gavin asal.


"Panjang banget namanya Mas, muat tuh di dalam KTP?" pikir sekuriti.


"Itu dia, kalau ujian aja kolomnya kurang minta ditambahin sama kolom temennya," ujar Gavin.


"Ada sih pasien yang namanya itu, baru masuk, kena bisulan katanya, penuh di bokongnya," jawab sekuriti.


"Buset bisulan penuh di bokongnya? Kenapa ada sih nama itu, gimana ini?" batin Gavin.


"Silahkan kalau gitu, biar saya bantu untuk masuk," ujar sekuriti.


"Yaudahlah, yang penting bisa masuk," batin Gavin.


Sekuriti itu meletakkan kartu miliknya di depan sensor. Pintu langsung terbuka otomatis.


"Nanti kalau mau ke luar, pencet tombol di samping kanan dinding ya," saran sekuriti.


"Iya, terimakasih Pak," ucap Gavin.


"Sama-sama," sahut sekuriti.


Akhirnya dengan alasan Sutrisno Hadikusumo Mangun Rejo Joko Santoso bin Sutejo, Gavin masuk juga ke dalam ruang rawat inap itu. Dia berkeliling. Berjalan di lorong. Melihat nomor-nomor pintu.


"Yang mana? Apa dia ada di dalam salah satu kamar itu?" batin Gavin semakin penasaran.


"Haruskah ku buka satu-satu?" batin Gavin.


Dari pada penasaran gak ada habisnya, Gavin memberanikan diri membuka pintu pertama. Masuk ke dalam. Pura-pura menjenguk pasien. Melihat-liat ada tidak gadis bercadar tadi. Eh malah ketemu bocah kecil tiba-tiba nempel.


"Papa kok baru datang," ucap anak kecil gendut dan botak.


"Eh, siapa kamu, aku masih lajang," bantah Gavin.


"Papa kasihan Mama sedang sakit, temani Mama."


"Buset dah, kapan gue nikahnya? Kenapa brojol bocah gendut botak ini," batin Gavin.


Bocah gendut botak itu menarik-narik baju Gavin.


"Dek kau salah orang, aku ini belum menikah apalagi punya anak," ujar Gavin.


"Papa jangan melupakan kita, sibuk dengan pelakor di luar sana."


"Jangan-jangan dia anak salah satu pacarku, ketemu udah gede gini, tapi kok gak ada ganteng-gantengnya kaya aku, pas-pasan," batin Gavin.


"Dek, salah orang, Om ini mau menjenguk keluarga Om," sahut Gavin mencoba menjelaskan kalau dia bukan ayah bocah gendut itu.


Suara perdebatan Gavin dan bocah gendut itu menarik perhatian keluarga pasien di bilik yang ada di ruangan itu. Mereka ke luar melihat Gavin dan bocah gendut botak itu. Menghampiri mereka dan menyaksikan drama ayah dan anak yang mengharukan.


"Mas kasihan banget anaknya, tega banget demi pelakor kau tinggalkan anak dan istrimu."


"Iya, laki sekarang pilih pelakor mulu, gemes aku."


"Aduh aku kok emosi juga."


"Alamak ini perkumpulan ibu-ibu emosi jiwa, bisa babak belur kalau diteruskan," batin Gavin.


"Maaf ya ibu-ibu, ayo endut kita tengok Mama," ucap Gavin mau tak mau untuk sementara waktu mengakui bocah gentut botak itu anaknya. Merangkulnya kemudian masuk ke bilik tempat ibu bocah itu di rawat. Demi menenangkan masa yang berkecamuk.


Ketika masuk ke dalam. Gavin terkejut melihat wanita yang berbaring di ranjang. Dia mematung. Meskipun bocah gendut botak itu terus memanggilnya.