
"Aku sudah memiliki calon suami. Kami akan menikah dalam waktu dekat," jawab Sora. Sudah tiga tahun ini Sora dekat dengan seorang lelaki. Bahkan lelaki itu sudah tahu tentang Sora yang hamil dan melahirkan.
"Oh, kalau begitu selamat ya Sora. Semoga rencana pernikahanmu berjalan lancar," sahut Humaira. Dia ikut senang dengan rencana pernikahan Sora.
"Iya, makasih Humaira," jawab Sora. Senyuman mengembang di wajah cantiknya.
Humaira mengangguk.
"Oya Sora, maukah kau memaafkan Papaku? Dia sangat menyesal atas semua kesalahannya?" tanya Humaira.
Sora terdiam sesaat. Memikirkan ucapan Humaira. Meskipun Pak Harry memang bersalah tapi dia tak bisa menyalahkannya seumur hidup, Allah SWT saja Maha Pengampun meski hambaNya melakukan kesalahan. Begitupun dengan Sora sendiri, dia tidak bisa memvonis Pak Harry selamanya.
"Iya, aku memaafkan Papamu," sahut Sora. Dia berusaha ikhlas dan berlapang dada.
"Alhamdulillah. Terimakasih Sora," ujar Humaira.
Sora mengangguk.
Humairapun ke luar dari kamar itu. Terlihat ayahnya sudah ada di depannya. Sepertinya ayahnya sudah berdiri di depan pintu sejak tadi.
"Humaira, gimana?" Pak Harry tampak bersemangat menanyakan apa yang tadi dibicarakan Sora dan Humaira.
"Kita bicara di sana Pa!" aja Humaira.
Pak Harry mengangguk.
Mereka berdua pun duduk berdua di ruang keluarga lantai atas. Humaira menarik nafas panjangnya sebelum berbicara.
"Pa, Sora sudah memiliki calon suami," ujar Humaira. Dia tidak enak menyampaikan kabar itu pada ayahnya.
Patah hati seketika Pak Harry. Harapannya untuk bersanding dengan Sora, pupus sudah. Siap-siap kembali jadi duda karatan dan jomblo obralan. Emang nasib para wanita pergi meninggalkannya.
"Jadi Papa ditolak?" tanya Pak Harry ulang.
"Iya Pa sepertinya," jawab Humaira.
Mau tak mau Pak Harry harus merelakan Sora untuk orang lain. Semua itu demi kebahagiaan Sora.
"Sabar ya Pa, semoga Allah memberikan jodoh yang lainnya untuk Papa," ujar Humaira.
"Iya Nak. Amin," jawab Pak Harry. Dia harus mengubur dalam-dalam keinginannya menjadi suami Sora.
"Oya Pa, Sora sempat hamil setelah kejadian itu," kata Humaira.
"Apa Sora hamil?" Pak Harry terkejut. Dia tidak menyangka permerkosaan itu berujung pada kehamilan Sora.
"Iya Pa, Sora bilang dia melahirkan anak laki-laki," sahut Humaira.
"Jadi Papa punya anak dari Sora?" tanya Pak Harry memastikan ucapan Humaira.
"Iya Pa, tapi anak itu hilang," jawab Humaira. Terlihat sedih saat menyampaikan kalau anak Pak Harry hilang.
"Hilang? Kok bisa gimana ceritanya?" tanya Pak Harry penasaran. Dia ingin tahu kenapa anaknya bisa hilang.
"Anak itu dibuang oleh ibunya Sora," jawab Humaira.
Pak Harry langsung mengepalkan tangan. Dia tidak menyangka ada orang yang tega membuang anak yang tak berdosa.
"Ibunya Sora keterlaluan. Tidak punya hati. Aku harus menyeretnya ke penjara!" Pak Harry marah saat anaknya dibuang oleh Ibu Nita.
"Sabar Pa. Jangan emosi dulu! Ingat, di sini posisi Papa jauh lebih bersalah. Lebih baik kita mencari keberadaan anak Papa," sahut Humaira.
"Gimana mau mencarinya? Kita tidak punya petunjuk," sahut Pak Harry.
"Iya sih Pa, tapi tidak ada salahnya kita berusaha," jawab Humaira.
Pak Harry terdiam. Dia mengkhawatirkan anaknya.
"Kata Sora, anaknya dibuang di tempat sampah Pa," ujar Humaira. Meski berat dia harus menyampaikan berita itu.
"Di buang di tempat sampah?" Pak Harry lebih terkejut lagi. Tega sekali seorang Nenek membuang cucunya di tempat yang tak layak.
"Iya Pa, itu sebabnya Humaira miris sekali. Tak tega membayangkan seorang bayi di buang di tempat sampah," jawab Humaira. Tak pernah terbayangkan seorang nenek tega membuang cucunya di tempat sampah, mana cucunya masih bayi.
Braaak ...
Pak Harry memukul meja. Dia sangat emosi. Dia tidak mempermasalahkan Sora tidak mau menikah dengannya tapi masalah anaknya yang dibuang di tempat sampah membuat Pak Harry merasa sangat marah.
"Aku harus menyeret wanita itu ke penjara!" Pak Harry kembali emosi.
"Sabar Pa. Lebih baik kita cari keberadaan anak Papa. Insya Allah jika memang berumur panjang pasti sekarang dia sedang berada di suatu tempat," sahut Humaira. Tak ada habisnya kalau terus menyalahkan. Lebih baik mencari keberadaan anaknya Sora dan ayahnya.
Pak Harry mengatur nafasnya. Dia berusaha tenang kembali.
"Papa harus menemukan anak itu," ujar Pak Harry.
Humaira mengangguk.
Setelah bicara dengan Humaira, Pak Harry pergi berolahraga tinju di halaman rumah besarnya. Pak Harry melampiaskan kekecewaannya dsn kemerahan pada Sora.
Dug ... dug ... dug ...
Pak Harry terus memukul. Dia benar-benar melampiaskan kekesalan setelah ditolak. Secara babang tampan harus mendapatkan penolakan dari wanita itu menyedihkan sekali.
"Son, Bos habis ditolak kesurupan kali ya?"
"Emang orang kesurupan main tinju? Padahal nari jaipong aja ya lebih menantang."
"Kalau aku sih mending mandiin banteng."
Mereka terus berdebat sampai Pak Harry memanggil keduanya untuk adu tinju. Sedangkan Pak Harry jadi penonton. Mereka berdua mulai saling menonjok.
"Emang kenapa Jon?" Son bingung tidak boleh meninju bagian kepala.
"Baru tanam benang, tar hidungku miring lagi."
"Dada kalau gitu?" tanya Son.
"Jangan dada baru oplas silikon kemarin."
"Bagian tangan gimana?"
"Baru tanam implan Son."
"Astaga, bukannya cewek yang KB kenapa jadi lo?" tanya Son.
Mereka berdua malah ngerumpi bukannya beradu tinju.
"Ya udah aku tinju paha gimana?" tanya Son.
"Jangan aku baru tanam susuk."
"Memang kau tanam apa aja ditubuhmu?" tanya Son terperanjat.
"Banyak, kalau duit bisa ku tanam, pasti udah ku tanam dari kemarin."
"Son! Jon!" Buruan tanding!" Pak Harry mulai marah. Mau tak mau mereka harus bertanding. Bukannya adu tonjok justru malah adu batu kertas gunting. Pak Harry hanya menggeleng. Anak buahnya tak bisa diandalkan.
Tak lama Alex datang. Dia membawa madu murni untuk ayahnya. Alex menghampiri Pak Harry yang sedang menyaksikan adu tinju kedua anak buahnya.
"Assalamu'alaikum," sapa Alex.
"Wa'alaikumsallam," sahut Pak Harry.
"Aku bawa madu murni untukmu Pak tua," ujar Alex sambil memberikan madu murni itu pada Pak Harry.
"Bocah kau perhatian juga padaku," sahut Pak Harry. Tangannya memegang plastik yang berisi madu murni.
"Karena kau ayahku Pak tua," jawab Alex. Matanya beralih ke depan melihat kedua anak buah Pak Harry yang sudah kelelahan adu batu kertas gunting.
Pak Harry tersenyum. Setidaknya Alex perhatian padanya meski masih tengil.
"Ayo bicara di dalam, jangan melihat cacing sedang bertanding," ajak Pak Harry.
"Oke." Alex masuk ke dalam rumah mengikuti Pak Harry. Mereka berdua duduk di ruang tamu.
"Apa kau libur?" tanya Pak Harry.
"Tidak, aku hanya menyempatkan ke sini. Tadi habis meeting di luar," jawab Alex.
Mereka mulai mengobrol santai perihal pekerjaan dan kabar Keluarga Sebastian.
"Aku dengar kakek dan nenek sakit jadi ke sini," ujar Alex.
"Sudah baikkan. Besok mereka akan pulang ke rumah Keluarga Sebastian," sahut Pak Harry.
"Alhamdulillah kalau begitu," jawab Alex.
Pak Harry terdiam sesaat. Dia ingat Alex juga terlahir tanpa sepengetahuannya. Hanya Humaira yang dari lahir disaksikan olehnya.
"Lex maafin Papa, dari kau masih kecil aku tak pernah ada di sisimu," ujar Pak Harry.
"Santai saja Pak tua, aku sudah memaafkanmu," sahut Alex.
Pak Harry tersenyum. Dia senang Alex tak dendam padanya.
"Lex aku menghamili anak orang," ujar Pak Harry.
"Apa? Papa menghamili anak orang?" Alex terperanjat.
"Iya, gara-gara mabuk Papa memperkosanya," jawab Pak Harry.
"Pa kapan kejadiannya?" tanya Alex penasaran ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Sudah lama. Papa tak ingat betul kapannya," jawab Pak Harry.
"Terus gimana Pa? Apa wanita itu minta pertanggungjawaban Papa?" tanya Alex. Dia ingin tahu kelanjutan peristiwa itu.
"Tidak. Hanya saja dia hamil dan melahirkan anakku tanpa sepengetahuan ku," jawab Pak Harry. Dia terlihat murung saat menceritakan hal itu.
"Jadi Papa punya anak dari wanita itu?" tanya Alex.
"Iya," jawab Pak Harry merasa bersalah.
"Terus Papa sudah bertemu dengan anak itu?" tanya Alex.
Pak Harry menggeleng.
"Kenapa gak ditemuin Pa. Biar bagaimanapun itu anak Papa. Jangan sampai seperti aku. Sudah dewasa baru tahu ayah kandungku. Bagaimana kalau dia tidak terima itu?" ujar Alex. Dia merasa di posisi anak itu. Tidak tahu ayah kandungnya.
"Anak itu hilang Lex," jawab Pak Harry.
"Hilang?" Alex terkejut.
"Ibu wanita itu sudah membuang anakku," jawab Pak Harry.
"Astagfirullah, tega sekali," sahut Alex.
"Anakku di buang di tempat sampah," ujar Pak Harry.
Alex langsung terdiam. Teringat Ezar yang juga dibuang di tempat sampah.