
Arfan dan Emily pulang ke rumah Keluarga Sebastian. Mereka masuk ke dalam kamar. Arfan langsung menyudutkan Emily di dinding. Emily terlihat gugup melihat sikap agresif Arfan padanya.
"Ar-Arfan! Mau apa?" tanya Emily.
"Mau kasih Emily hadiah," jawab Arfan.
Emily tersenyum malu-malu. Senang sekali akan diberi hadiah oleh Arfan. Dia menutup matanya. Membiarkan Arfan menciumnya. Dia menikmati ciuman dari suaminya.
"Emily kau mau itu gak?" tanya Arfan. Menatap wajah cantik Emily.
"Itu apa?" tanya Emily.
"Malam pertama," jawab Arfan malu-malu mengungkapkan keinginannya. Meski dia tahu terlalu terburu-buru. Mungkin saja Emily belum siap.
"Arfan, Emily takut," jawab Emily.
Arfan mengelus pipi Emily melihat wajah manja itu tampak tegang.
"Takut kenapa?" tanya Arfan. Dia berusaha menahan syahwatnya.
"Kata temenku sakit," jawab Emily. Dia sering mendengar seperti apa malam pertama dari teman-teman kuliahnya.
"Kalau gak dicoba mana tahu," ucap Arfan. Sambil mengedipkan mata pada Emily dan mencium helai rambut panjang Emily.
"A-Arfan. E-Emily butuh waktu untuk siap. Emily takut," jawab Emily. Terlihat ketakutan. Pikirannya sudah jauh ke mana-mana. Memikirkan yang tidak-tidak.
Arfan mencium kening Emily. Lalu menatap wajah cantik yang terlihat takut.
"Aku gak akan memaksa, siap menunggu sampai cantik siap," ucap Arfan. Dia tahu Emily gadis yang polos dan manja meski penampilannya terbuka.
"Makasih Arfan," jawab Emily. Tersenyum manis pada Arfan. Bibirnya merekah begitu seksi dan manis.
Arfan mengangguk.
"Aku berendam dulu ya cantik," ucap Arfan.
"Kenapa berendam? Kan Arfan baru saja mandi tadi?" tanya Emily. Dia tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan Arfan.
"Ada yang panas cantik, luar dalam," jawab Arfan dengan suara mengoda.
Emily tersenyum malu-malu.
"I Love You," ucap Arfan.
"I Love You Too," jawab Emily.
Arfan pun berjalan meninggalkan Emily. Dia masuk ke dalam toilet. Berendam di dalam air. Mendinginkan syahwatnya yang sempat naik dan memanas.
"Sabar Arfan, semua akan indah pada waktunya," ucap Arfan. Dia harus sabar, Emily butuh waktu untuk siap. Dia masih kekanak-kanakan. Meski begitu Arfan menyukai sikap polosnya yang kadang suka aneh.
Tak lama Arfan ke luar dari toilet. Dia terkejut mendapati Emily begitu cantik mengenakan hijab dan baju muslim yang santun.
"Assalamu'alaikum," ucap Emily.
"Wa'alaikumsallam," sahut Arfan. Dia langsung berlari mengangkat Emily ke atas hingga lebih tinggi darinya.
"Cantik banget Emilyku," ucap Arfan. Dia memandang Emily dengan penampilan barunya.
"Yang bener Arfan?" tanya Emily.
Arfan mengangguk. Untung saja tak jadi dengan Annisa. Mungkin dia akan menyesal seumur hidupnya sudah melepas Emily yang cantik dan imut.
"Arfan, takut jatuh," ucap Emily.
Arfan pun menurunkan Emily. Memegang kedua pipinya.
"Emily maafkan aku saat itu meninggalkanmu," ucap Arfan. Dia merasa bersalah telah meninggalkan Emily.
"Suka, Emily bisa belajar sedikit demi sedikit untuk mandiri dan dewasa. Tidak perlu memaksakan sekaligus, perlahan dan biarkan mengalir. Pasti Emilyku bisa jadi istri yang sholeha," ujar Arfan. Menatap mata indah yang masih jernih itu.
Emily mengangguk. Dia senang meski pernikahan mereka dadakan tapi Arfan selalu baik padanya.
"Kalau begitu ayo turun dan temani Mama beraktivitas. Belajarlah sesuatu dari Mama, dia sangat baik dan penyayang pada siapapun," kata Arfan.
Emily mengangguk.
Arfan melepas tangannya. Dia berjalan ke lemari. Memilih pakaian yang akan dikenakannya. Arfan mengambil baju lama miliknya yang sudah kecil dan jelek. Arfan memakai baju itu. Lalu menghampiri Emily.
"Ayo turun cantik!" ajak Arfan.
"Tunggu Arfan!" sahut Emily melihat pakaian suaminya yang tak pantas dipakai.
"Kenapa?" tanya Arfan pura-pura tidak tahu.
Emily mendekat. Meraba baju yang dikenakan Arfan.
"Arfan bajunya kecil dan jelek, ganti ya?" ujar Emily. Dia mengusulkan agar Arfan mengganti pakaian yang dikenakan olehnya.
"Tapi aku gak tahu mana yang pantas cantik," jawab Arfan. Pura-pura lugu padahal dia ingin sekali Emily yang memilihkan baju untuknya.
"Kalau begitu biar aku yang carikan!" ujar Emily.
"Boleh cantik," jawab Arfan. Tersenyum pada istrinya.
Emily bergegas menuju lemari. Mencarikan baju yang cocok untuk suaminya. Dia memilih T-shirt dan celana pendek untuk Arfan. Lalu memberikan padanya.
"Wah bagus sekali pilihanmu cantik," puji Arfan.
"Lain kali biar aku saja ya yang memilihkan baju untuk Arfan, setiap hari," ujar Emily. Tanpa sadar Arfan sudah mengarahkan Emily dengan tugasnya sebagai istri.
"Oke siap komandan," jawab Arfan. Dia senang Emily mau melakukan tugasnya tanpa sadar.
"Ayo ganti! Kita mau turunkan?" ujar Emily.
Arfan mengangguk. Dia mengganti pakaian yang dikenakannya dengan pakaian yang dipilih Emily. Kemudian mereka berdua ke luar dari kamar. Arfan pergi ke ruang keluarga sedangkan Emily masuk ke dapur menemani Sophia memasak.
"Assalamu'alaikum," ucap Emily.
"Wa'alaikumsallam," sahut Sophia. Menatap Emily dengan penampilan barunya. Sangat cantik dan anggun.
"Masya Allah cantiknya menantu Mama," puji Sophia.
"Alhamdulillah, makasih Ma," jawab Emily. Dia senang sekali Sophia memujinya.
"Mama, Emily ingin membantu, boleh tidak?" tanya Emily. Sebenarnya dia belum pernah masak, ke dapur saja jarang. Makan masih disuapin ibunya sampai dewasa.
"Boleh, kemarilah Nak!" sahut Sophia dengan ramah dan sopan. Di rumah Keluarga Sebastian hanya ada Sophia, Alex, Pak Ferdi dan Ibu Maria. Kakek David dan Nenek Carroline sudah meninggal. Mereka meninggal bersama di hari yang sama. Sedangkan Claudya dan Tuan Matteo sudah pindah rumah. Begitupun dengan Arfan yang tinggal terpisah dan Aliza yang kuliah di luar negeri.
Emily menghampiri Sophia. Dia tidak tahu yang harus dilakukan. Hanya melamun di depan meja dapur.
"Emily mau ngupas bawang?" tanya Sophia.
"Boleh Tante, memang bawang yang mana?" tanya Emily. Dia tidak tahu bawang yang mana. Bahkan semua sayuran dan bahan yang lainnya dia juga tidak paham semuanya.
Sophia tersenyum. Dia harus sabar mengajari Emily.
"Nah ini bawang," ucap Sophia memberikan sekantung bawang merah dan putih pada Emily.
"Ini kaya buah ya Mama, bisa dimakan?" tanya Emily dengan polosnya.
"Bisa ..., Eh Mama lupa belum masukin santannya." Sophia belum melanjutkan pembicaraannya. Dia langsung menghampiri panci di atas kompor. Kebetulan yang ada di dapur hanya Sophia. Bi Siti sedang cuti pulang kampung sedangkan Bi Inem sudah meninggal.
Emily yang berpikir bawang bisa dimakan penasaran. Dia mencoba memakan bawang itu tanpa dikupas. Dia pikir bawang itu seperti buah strawberry. Dia mengunyahnya sambil meringis karena rasa getir dan matanya terus berurai air mata.