Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Rencana Bahagia



"Berarti Alex dalam bahaya? Harry Harold tak pernah berubah. Dulu menghancurkan ayahku sekarang Alex, tak bisa dibiarkan," ucap Luki. Kemudian meninggalkan tempat itu. Memasuki kamar tamu. Dia mengambil handphone-nya di sakunya, menelpon Tuan Matteo.


"Assalamu'alaikum," sapa Tuan Matteo.


"Wa'alaikumsallam Tuan," jawab Luki.


"Sudah fasih membalas salam. Apa kau terjebak dalam perangkapmu sendiri?" tanya Tuan Matteo.


"Begitulah Tuan, ternyata anak Harry Harold gadis bercadar yang begitu lembut dan baik hati, aku merasa jadi iblis yang mendzolimi malaikat cantik," jawab Luki.


Tuan Matteo tertawa. Luki yang mantan lelaki belok sepertinya akan menemukan sarang yang tepat untuk bernaung. Agar dia tak kembali bermain terong dan timun yang jelas sayuran bukan pasangan.


"Baguslah kalau kau sudah menemukan surga yang akan mendinginkan api di dalam hatimu," ujar Tuam Matteo.


"Surga?" Luki tak paham.


"Jangan terlalu keras pada gadis bercadar, nanti kau jatuh cinta berat padanya," jawab Tuan Matteo.


"Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya, tapi aku harus bisa menikahinya," sahut Luki.


"Ku rasa jangan permainkan perasaannya, nikahi dia dan bahagialah bersamanya, jangan campur adukkan dendam dan cinta, dua hal yang berbeda," saran Tuan Matteo.


"Tapi dia anak musuhku," jawab Luki.


"Luki mungkin gadis bercadar itu sebagai ganti rugi atas kesalahan Harry Harold pada keluargamu, anggaplah dia penyembuh luka di hatimu," kata Tuan Matteo. Dia ingin Luki kembali hidup sebagai lelaki normal yang memiliki pasangan seorang wanita. Apalagi wanita itu bisa menuntunnya ke jalan yang benar.


Luki terdiam. Dia memikirkan saran Tuan Matteo. Sekilas terlintas wajah cantik Humaira dengan mata biru, rambut pirang dan hidung mancungnya.


"Apa yang ku pikirkan?" batin Luki.


"Luki ... Luki ...," panggil Tuan Matteo karena Luki terdiam padahal handphone masih nyala.


"Iya Tuan," sahut Luki.


"Kau menelponku untuk apa?" tanya Tuan Matteo.


"Ada hal penting yang ingin ku katakan Tuan," jawab Luki.


"Apa?" tanya Tuan Matteo.


"Harry Harold berencana untuk mencelakai Alex Sebastian, itu karena tanah yang dibeli Alex Sebastian untuk proyek barunya," ujar Luki.


"Ternyata lelaki tua itu masih serakah dan kejam," sahut Tuan Matteo. Dia sangat mengenal Harry Harold seperti Luki. Lelaki tua itu memang tak punya hati. Melakukan apapun demi melancarkan bisnisnya.


"Apa aku beritahu Alex Sebastian?" tanya Luki.


"Jangan dulu, Alex sedang fokus pada proyek barunya, aku tak ingin proyek itu gagal," sahut Tuan Matteo.


"Aku tahu apa yang Tuan mau," ujar Luki.


"Bagus kalau kau paham, aku tak perlu memerintah," sahut Tuan Matteo


"Siap," jawab Luki.


"Nanti malam datanglah ke rumah Keluarga Sebastian! aku ingin melamar Claudya," ujar Tuan Matteo.


"Dadakan Tuan? belum ada persiapan," sahut Luki.


"Tak perlu dipersiapkan, aku ingin memberi surprise pada calon istriku," tutur Tuan Matteo.


"Semoga yang diimpikan terlaksana dengan baik Tuan," ujar Luki.


"Amin, ingat kau harus datang!" titah Tuan Matteo.


"Baik Tuan," jawab Luki. Perasaannya pada Claudya sudah gugur. Kini Luki harus menata hidupnya ke depan. Dia tahu Claudya akan bahagia bersama Tuan Matteo dari pada dengan dirinya.


Pembicaraan itu pun diakhiri. Luki memikirkan semua hal yang dikatakan Tuan Matteo. Terdiam di tempat.


***


Pagi itu Sophia membantu Ibu Marisa menyiapkan kue-kue basah dan kering di meja dapur sedangkan Claudya sedang sibuk memasak daging dan ayam dibantu Bi Inem dan Bi Siti. Mereka tampak sibuk. Sophia sengaja cuti agar bisa membantu keluarganya menyiapkan acara untuk menyambut kedatangan Tuan Matteo yang akan memperkenalkan dirinya pada Keluarga Sebastian.


"Calon penganten beda ya bersinar wajahnya," ujar Bi Inem. Melihat wajah Claudya yang terlihat ceria dan happy.


"Ah Bibi bisa aja," sahut Claudya.


"Ibu dukung kau bersama Tuan Matteo, dia paling cocok jadi mantu. Tampan, gagah, dan terpandang," ujar Ibu Marisa.


"Alhamdulillah, semoga jodoh terbaik pilihan Allah," ucap Sophia.


"Amin, makasih Bu, Kak Sophia," sahut Claudya. Dia senang seluruh anggota keluarganya sudah mendukung hubungannya dengan Tuan Matteo. Tinggal dilamar dan menuju pelaminan.


"Non bokong ayamnya buang ya, geli," ujar Bi Inem.


"Jangan Bi, Dodo nampung walau bokong ayam juga," jawab Claudya.


"Ya ampun lupa kalau di rumah ini ada penampungan serba guna," sahut Bi Inem sambil tertawa kecil mengaduk gulai ayam di panci.


"Jangan ada yang dibuang, kalau ada bulu ayam masak sekalian Bi," canda Claudya.


"Ya udah Non, disaus tiram aja bulu ayamnya biar enak, Dodo pasti nambah," sahut Bi Inem tertawa. Inget kalau Dodo makan udah kaya vacum cleaner.


Claudya asyik bercanda dengan Bi Inem dan Bi Siti. Sedangkan Sophia asyik menyiapkan adonan dan mencetaknya.


"Sophia, jangan capek-capek, kau sedang hamil," ujar Ibu Marisa.


"Iya Bu," sahut Sophia tersenyum. Senangnya sekarang Ibu Marisa perhatian padanya selayaknya mertua pada menantunya.


"Pantas baunya harus, sayangku bikin kue," puji Pak Ferdi yang masuk ke dapur. Menghampiri Sophia dan Ibu Marisa.


"Mas mau, aku bikin rainbow cake kesukaanmu," ujar Ibu Marisa.


"Boleh sayang," sahut Pak Ferdi.


"Cie Ayah sama Ibu sayang-sayangan, kalah yang muda nih," ledek Claudya.


"Mas malu, udah tua jangan gombal," sahut Ibu Marisa.


Sophia hanya tersenyum. Senang melihat hubungan Pak Ferdi dan Ibu Marisa semakin lengket dan harmonis.


"Sophia beristirahatlah, biar ayahmu yang membantuku," ujar Ibu Marisa.


"Iya Sophia, beristirahatlah, biar ayah yang membantu ibumu," tambah Pak Ferdi.


Sophia mengangguk. Berjalan meninggalkan dapur menuju ruang depan. Melangkahkan kakinya ke luar dari rumah. Di halaman rumah, Alex sedang mengotak-atik mobilnya. Sophia menghampirinya.


"Mas," ucap Sophia.


"Sayang," sahut Alex. Berbalik melihat Sophia yang menghampirinya.


"Tumben reparasi sendiri? Gak ke bengkel?" tanya Sophia.


"Nyari kesibukan sayang, bosan main sama berkas ma laptop mulu," jawab Alex.


Sophia tertawa kecil melihat wajah Alex.


"Kenapa sayang?" tanya Alex.


"Cemong," jawab Sophia.


"Beneran? Kena oli kali ya," sahut Alex.


Sophia mengangguk. Mendekati Alex. Tangannya naik ke udara membersihkan wajah Alex yang belepotan oli dengan penuh kelembutan.


"Sayang mau jalan gak?" tanya Alex.


"Ke mana?" tanya Sophia.


"Alun-alun sekalian berjemur," jawab Alex.


"Mau Mas," sahut Sophia.


Alex mendekat di depan wajah Sophia. Pipi kemerahan itu semakin merah. Mata emeraldnya berbinar.


"Cium dulu!" pinta Alex.


"Gak mau, malu," jawab Sophia.


Alex menarik tubuh Sophia dalam pelukannya. Mencium bibir merah delima itu. Menikmati ciuman yang membuatnya candu dari awal menciumnya.


"Ayo sayang," ucap Alex usai mencium Sophia.


Sophia mengangguk.


Alex pun membuka pintu mobilnya agar Sophia masuk ke dalam mobil. Setelah itu barulah Alex masuk ke dalam mobil, duduk di kursi kemudi. Dia meninggalkan rumah besar itu. Mengendarai mobilnya pergi ke alun-alun.


Satu jam perjalanan sampai juga di alun-alun. Kebetulan sepi. Tak begitu banyak orang. Mungkin karena hari kerja. Alex dan Sophia turun dari mobil. Berjalan masuk ke dalam area alun-alun.


Tak lama dua orang mendekati mobil Alex. Satu dari mereka berjaga. Satu orangnya mulai menyabotase mobil Alex.


"Kelar."


"Ayo cabut!"


Mereka berdua meninggalkan tempat itu usai menyabotase mobil milik Alex. Menjalankan apa yang sudah diperintah Pak Harry padanya.


Satu jam pun berlalu. Alex dan Sophia ke luar dari alun-alun. Mereka menghampiri mobil yang terparkir di bawah pohon. Alex mengambil kunci mobilnya di kantong celananya tapi tak ada. Dia mencari ke seluruh kantong bajunya tapi tak ada juga.


"Kenapa Mas?" tanya Sophia.


"Kunci mobilnya hilang sayang, apa mungkin terjatuh," jawab Alex.


"Apa kita cari dulu Mas?" tanya Sophia.


Tiba-tiba Luki datang menghampiri mereka berdua. Berdiri di depannya.


"Bos Alex," sapa Luki.


"Luki, sekretaris Tuan Matteo?" tanya Alex.


"Betul," jawab Luki.


"Kau sedang apa di sini?" tanya Alex. Dia penasaran dengan Luki yang ada di tempat sama dengannya.


"Jalan santai," jawab Luki.


"Oh kalau begitu kami pamit," ujar Alex.


"Tunggu sepertinya tadi Anda terlihat kebingungan ada apa?" tanya Luki.


"Kunci mobilku hilang," jawab Alex.


"Kalau begitu pakai mobil saya saja, biar mobil anda saya kirim ke rumah Keluarga Sebastian," sahut Luki.


"Gimana ya? Saya jadi merepotkan" ujar Alex.


"Tidak kok, lagi pula Nona Sophia sedang hamil, butuh istirahat segera," sahut Luki.


"Baiklah, saya terima tawaran anda," ucap Alex.


Luki memberikan kunci mobilnya pada Alex. Dia membiarkan Alex dan Sophia naik mobilnya, meninggalkan tempat itu.


"Apa mobil ini yang disabotase atau tidak?" batin Luki. Dia tidak tahu pasti yang disabotasi mobil yang mana. Luki hanya ingin memastikan Alex akan baik-baik saja.


"Aku harus membawa mobil ini," batin Luki. Dia masuk ke dalam mobil. Meninggalkan tempat itu. Mobil yang dinaiki Luki belum memperlihatkan keganjilannya. Namun saat melewati jalan yang turun remnya sulit untuk berfungsi.


"Sial remnya blong, ternyata ini yang direncanakan Harry Harold, licik," batin Luki.