Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Pernikahan Yang Membahagiakan



Alex dan Sophia duduk di kursi untuk keluarga pengantin. Mereka duduk menyaksikan Kakek David dan Nenek Carroline yang sedang melakukan akad nikah di pagi itu. Ustad Muhammad menjadi penghulu sekaligus wali nikah Kakek David dan Nenek Carroline. Akad nikah itu berjalan dengan hikmat. Semua orang ikut senang dengan pernikahan Kakek David dan Nenek Carroline. Gema kata sah terdengar di dalam gedung itu kala akad hampir selesai.


"Sah."


"Alhamdulillah."


Kakek David dan Nenek Carroline begitu bahagia. Mereka bisa menjadi pasangan suami istri sah. Menjadi passngan yang akan menghabiskan hari-harinya bersama sampai maut memisahkan.


Nuansa Toska kental di dalam gedung itu. Mereka keluarga pengantin kompak mengenakan seragam toska. Begitupun pengantin. Kakek David dan Nenek Carroline berdiri di pelaminan menyalami tamu yang datang. Baik keluarga, teman, kenalan dan rekan bisnis. Sophia ikut mengantri untuk bersalaman. Namun Alex melarangnya karena antrian panjang.


"Jangan sayang, antriannya panjang," kata Alex.


"Kita akan salaman jugakan Mas?" tanya Sophia dengan suara lembutnya.


"Iya tapi jangan sekarang, terlalu banyak orang yang ngantri kau akan capek," kata Alex.


"Sekali-sekali mengantri seru Mas," kata Sophia.


"Iya tapi kau bisa kelelahan. Perutmu juga sudah besar, jangan ya sayang," pinta Alex.


"Baiklah Mas," jawab Sophia. Dia tidak ingin Alex cemas padanya.


"Nanti kalau udah kosong kita ke atas pelaminan sekalian foto bareng kakek dan nenek ya," ujar Alex.


"Iya Mas," jawab Sophia.


Alex kembali mendorong kursi roda itu ke tepi. Dia menemani Sophia mengambil makanan untuknya. Mereka ada di prasmanan yang khusus keluarga pengantin.


"Mas aku mau rujaknya," kata Sophia.


"Rujaknya pedes sayang, jangan ya," ujar Alex. Sebisa mungkin Alex ingin memberikan yang terbaik untuk Sophia.


"Kalau gitu salad aja ya Mas?" pinta Sophia.


"Salad boleh deh, mau disuapin?" tanya Alex.


Sophia tersenyum malu. Entah kenapa suaminya tiba-tiba begitu perhatian bahkan untuk hal yang kecil sekalipun.


Alex menyuapi Sophia dengan salad buah itu. Tak hanya salad buah tapi makan nasi dan es krim dengan sabarnya Alex menyuapi Sophia.


"Apa masih lapar sayang?" tanya Alex yang duduk berjongkok di depan kursi roda sambil mengelus perut buncit Sophia.


"Tidak Mas, Alhamdulillah kenyang," jawab Sophia.


Alex mencium perut buncitnya. Mengucapkan doa-doa untuk Sophia dan anak.


"Mas," ucap Sophia melihat Alex usai berdoa untuknya.


"Iya sayang," jawab Alex.


"Ada apa?" tanya Sophia. Dia merasa ada yang ada berbeda dari Alex. Dia lebih protektif. Bahkan selalu melarangnya kecapean.


"Gak ada apa-apa sayang, lebih baik ke pelaminan. Seperti sudah kosong," usul Alex.


Sophia melihat ke arah pelaminan. Benar kata Alex, sudah kosong.


"Iya Mas," jawab Sophia.


Alex mendorong kursi roda yang dinaiki Sophia ke pelaminan. Mereka bersalaman, mengucapkan selamat dan berfoto. Begitupun dengan yang lainnya. Baik Gavin-Maria, Luki-Humaira, Kenan-Nada, Tuan Matteo-Claudya, Pak Ferdi-Ibu Marisa, sedangkan Pak Harry sendirian. Mereka semua berfoto menjadi foto keluarga terbesar.


"Alhamdulillah ya Kek kita udah jadi suami istri," kata Nenek Carroline.


"Iya Nek, Alhamdulillah, semoga pernikahan kita langeng sampai maut memisahkan kita," jawab Kakek David.


"Kek cium kening kaya anak muda kalau nikah gitu," kata Nenek Carroline manja. Dia ingin sekali diperlukan selayaknya pengantin pada umumnya meskipun sudah tua.


"Malu Nek, kita sudah tua," jawab Kakek David.


"Gak romantis Kek, sekali-kali aja apa?" keluh Nenek Carroline cemberut. Mengerucutkan bibirnya.


Melihat istrinya cemberut, Kakek David tak tega. Mau tak mau mencium kening Nenek Carroline juga.


Cup


Satu ciuman mendarat di kening Nenek Carroline.


"Makasih Kek, I Love You," kata Nenek Carroline.


"I Love You Too Nek," jawab Kakek David.


Tak hanya orang besar anak-anak juga ingin bersalaman dan berfoto dengan calon pengantin.


"Ayo Do, kita salam dan foto sama kakek dan Nenek Buyut," kata Nesa.


"Iya Do, jangan makan terus," tambah Tara.


Mereka berdua melihat Dodo yang makan terus gak ada habisnya di depan prasmanan.


"Tapi aku masih lapar Nesa, Tara," jawab Dodo yang masih makan.


"Nanti bajumu akan sobek atau kancingnya terlepas karena kau terus makan," ujar Nesa.


"Iya, kalau perutmu kebesaran, di foto jelek," kata Tara.


"Bukannya perut besar Dodo seksi," sahut Dodo.


"Seksi, itu gumpalan lemak, kalau difoto menuhin kamera," kata Nesa.


"Kalau di foto bikin sempit mata memandang," tambah Tara.


"Dodo ke toilet dulu biar langsingan gimana?" tanya Dodo.


"Udah Yuk, cari cowok lain aja," kata Nesa.


"Iya ayo," jawab Tara.


Dodo kembali ditinggalkan Nesa dan Tara. Sedangkan Dodo masih asyik makan.


Kakek David dan Nenek Carroline bahagia karena mereka sudah sah jadi suami istri dan seluruh keluarganya ikut mendukung dan senang dengan kebahagiaan mereka berdua.


Setelah berfoto Alex mengantar Sophia duduk bersama Claudya dan Humaira.


"Kak Sophia mau aja diikuti Kak Alex terus kaya kembar siam," ujar Claudya.


"Biarin, kan suami sayang istri," sahut Alex.


"Paling juga suami posesif," balas Claudya.


"Lebih baik posesif dari pada dianggurin," jawab Alex.


Sophia tersenyum mendengar perdebatan kakak adik itu. Mereka berdua memang selalu berdebat jika bersama.


"Sayang aku ke toilet dulu ya," kata Alex.


"Iya Mas," jawab Sophia.


Alex meninggalkan Sophia. Berjalan menuju toilet umum di gedung pernikahan itu. Dia berpapasan dengan seorang lelaki yang berpakaian rapi. Alex merasa familiar dengan wajah lelaki itu. Ketika Alex ke luar dari dalam toilet dia menunggu lelaki itu di luar toilet.


"Aku harus bicara dengannya," kata Alex.


Tak lama lelaki itu ke luar dari toilet. Dia berpapasan lagi dengan Alex yang berdiri menunggunya.


"Dokter Leon ya?" tanya Alex pada lelaki berkaca mata itu.


"Iya, ada apa ya?" tanya Dokter Leon menghentikan langkahnya menatap Alex.


"Bisakah kita bicara berdua?" tanya Alex.


Dokter Leon terdiam. Menatap Alex. Dia merasa tak asing dengan wajah Alex tapi tidak tahu persis siapa.


"Aku Alex Sebastian, suami Sophia Thalia," kata Alex langsung memperkenalkan diri agar Dokter Leon tahu maksud dan tujuannya meminta bicara berdua.


"Suami Sophia? Pantas mukanya tak asing," batin Dokter Leon. Dia tahu suami Sophia meskipun belum pernah bertemu.


"Oh suami Sophia Thalia, senang bertemu dengan anda. Saya Dokter Leon," jawab Dokter Leon memperkenalkan dirinya juga.


"Bisakah kita bicara berdua, ini tentang Sophia," ujar Alex.


Deg


Dokter Leon terkejut. Dia khawatir Alex akan membicarakan tentang penyakit Sophia. Karena Dokter Leon tahu Sophia merahasiakan penyakitnya dari siapapun kecuali Aiko dan sekretarisnya. Dokter Leon terdiam. Dia bingung harus menjawab apa?


"Ku mohon Dokter," tambah Alex. Dia sampai memohon. Ada yang memang ingin dia bicarakan dengan Dokter Leon tentang Sophia.


Dokter Leon masih terdiam. Permintaan Alex membuatnya kebingungan.


"Anda Dokternya Sophiakan?" kata Alex. Dia tahu kalau Dokter Leon memang Dokter spesialis kanker hati yang menangani Sophia.