
"Pergilah! Bahaya," ujar Gavin.
"Tidak, kau yang dalam bahaya," sahut Maria.
"Dia psikopat, kau bisa terbunuh juga," ucap Gavin.
Maria menggeleng. Dia tidak takut dengan orang bertopeng itu. Meskipun harus mati, dia akan tetap bersama Gavin.
"Maria!" teriak Gavin.
Orang bertopeng itu berlari membawa golok yang diacungkan ke arah Maria. Seketika Maria melawannya dengan kayu. Satu dua kali golok dan kayu beradu.
Teg ... teg ... teg ...
Lama kelamaan kayu terpotong sampai habis. Tak ada lagi senjata yang bisa digunakan Maria untuk melawan dan bertahan.
"Maria awas!" teriak Gavin.
Orang bertopeng itu mengacungkan golok kembali ke arah Maria. Tanpa persiapan Maria hanya bisa menangkap golok itu dengan tangan kosongnya.
"Kau ingin mati juga?"
"Takkan ku biarkan kau membunuh calon suamiku lagi," jawab Maria sambil memegang golok yang mulai menyayat telapak tangannya sampai ke luar darah yang menetes hingga ke bawah.
"Sakit? Ayo menangis!" Orang bertopeng itu terlihat sangat senang melihat kedua tangan Maria menahan golok itu.
"Maria!" teriak Gavin yang tak bisa berbuat apapun.
Maria menatap orang bertopeng itu.
"Kenapa kau membunuh semua calon suamiku?"" tanya Maria.
"Ha ha ha ..., kau ingin tahu?"
"Iya, jika aku matipun sekarang, aku tidak akan penasaran," jawab Maria.
Orang bertopeng itu tertawa puas. Seolah baru saja mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Karena aku baik, akan ku kabulkan permintaanmu sebelum kematianmu datang."
Maria tak gentar. Dia harus tahu apa alasan orang bertopeng itu membunuh calon suaminya.
"Aku juga tidak tahu, tapi aku suka membunuh dan menyiksa."
"Kebetulan calon suamimu buruan yang pas untukku, lelaki dengan mulut yang manis darahnya sangat segar, ha ha ha ....."
"Maria dia gila, percuma bicara dengannya," ujar Gavin. Jantungnya makin berdebar kencang. Nafasnya tersengal-sengal. Dia terlihat panik melihat Maria bisa saja dibunuh orang bertopeng itu.
"Alasanmu tak masuk akal, kau gila, psikopat!" pekik Maria.
Orang bertopeng itu semakin menekan goloknya hingga tangan Maria mundur ke perutnya.
"Maria!" teriak Gavin. Golok itu semakin mendekat. Gavin khawatir orang bertopeng itu akan menusuk perut Maria.
Mendengar Gavin berteriak, dia langsung menendang ke depan dengan kencang.
Bruuug ....
Orang bertopeng itu terjatuh ke bawah. Begitupun dengan golok yang terjatuh sembarang.
Praang ...
Melihat orang itu terjatuh Maria langsung menghampirinya. Menendangnya beberapa kali.
Dug ... dug ... dug ...
Setelah Maria merasa orang bertopeng itu tak berdaya. Dia menghampiri Gavin. Berusaha melepas ikatan di tangan Gavin dengan tangannya. Tapi kesulitan, apalagi kedua telapak tangannya terluka.
"Maria biarkan, pergilah ku mohon!" titah Gavin.
"Tidak, lebih baik aku mati dari pada hidup menanggung malu karena kau mati," sahut Maria. Dia melihat ke sekeliling. Mencari benda tajam yang bisa digunakan untuk melepas tali yang mengikat tangan dan kaki Gavin. Kedua netra Maria tertuju pada golok yang ada di lantai. Dia berlari ke arah golok. Begitupun dengan orang bertopeng yang kembali bangun, berlari ke arah golok.
"Maria! Awas!" pekik Gavin.
Maria melompat. Mendapatkan golok itu terlebih dahulu. Namun orang bertopeng itu menangkap tubuhnya.
"Serahkan golok itu padaku!"
"Tidak akan," tegas Maria. Dia tetap memegang erat gagang golok itu meskipun tangannya sangat perih dan sakit.
"Serahkan padaku!"
"Kau sudah membuat hidupku menanggung kesalahan yang tidak pernah ku lakukan," kata Maria.
"Jangan gila Maria."
"Aku tidak gila, kaulah yang gila. Membunuh semua calon suamiku," sahut Maria.
"Sepertinya aku harus membunuhmu juga."
Bruuug ...
Orang bertopeng itu kembali terjatuh. Maria mendekatinya. Menendangnya dengan keras.
Dug ...
"Rasain!" ucap Maria. Kemudian dia berlari ke arah Gavin. Memotong tali di tangannya. Baru mau memotong tali di kaki Gavin, tiba-tiba orang bertopeng itu menangkapnya dari belakang.
"Kau sudah membuatku ingin membunuhmu terlebih dulu."
"Lepas!" teriak Maria.
Orang bertopeng itu mengambil golok di tangan Maria. Dia ingin menusuk Maria dari depan. Tapi Maria bergerak cepat, menggigit tangan orang itu yang mendekap tubuhnya.
"Aw ..." Orang bertopeng itu ke sakitan. Golok terjatuh lagi di lantai.
Praaang...
"Lari Maria!" titah Gavin.
"Tidak, aku akan di sini bersamamu Gavin," sahut Maria. Dia kembali mengambil golok. Membuka tali pengikat di belakang kursi bagian bawah. Gavin langsung berdiri. Meraih menghampiri Maria.
"Kau tidak apa-apa Maria?" tanya Gavin.
Maria menggeleng.
Gavin melihat ke arah orang bertopeng yang ada di depan mereka.
"Kalian harus mati bersama."
"Kali ini aku tidak akan tinggal diam," sahut Gavin. Dia berpindah. Berdiri di depan Maria pujaan hatinya.
Orang itu mengambil kayu. Dia maju ke depan untuk memukul Gavin dengan kayu. Untung saja Gavin bersiap. Dia menendangnya dengan keras.
Bruuug ...
Gavin maju ke depan. Menghampiri orang bertopeng itu. Meraih kerah bajunya sampai dia berdiri. Gavin membuka topeng yang menutup wajahnya.
Terkejut.
Baik Gavin dan Maria tercengang. Melihat wajah dibalik topeng itu. Seketika mata keduanya berkaca-kaca. Sosok yang begitu familiar. Sangat hangat dan penyayang. Selalu membuat keduanya tertawa bahagia. Sosok yang tak pernah terpikirkan akan melakukan kejahatan yang begitu kejam dan sadis.
"Ve-Vera," ucap Gavin. Menelan ludahnya sekali. Berat bibirnya mengucapkan nama yang selama ini dikenal baik hati dan ceria itu.
"Tidak, tidak mungkin Vera," kata Maria. Seketika tubuhnya lemas tak berdaya. Bulu kuduknya berdiri. Tubuhnya memanas. Nafasnya mulai berat. Sesak karena ketidakpercayaannya pada sosok di depannya. Vera adiknya anak yang baik, manis, imut, hangat dan ceria. Bukan sosok pembunuh berdarah dingin. Maria menggeleng. Dia sampai berlutut. Menunduk. Air matanya jatuh di pipinya.
"Semua ini pasti mimpi, iyakan Gavin?" tanya Maria. Dia masih belum percaya. Veralah yang telah membunuh semua calon suaminya. Dia mencubit tangannya berkali-kali kemudian menggigit lengannya. Berharap semua ini mimpi.
"Tidak, ini mimpi," ujar Maria. Kepalanya kembali menggeleng. Menganggap ini mimpi meskipun dia tahu ini nyata.
"Ha ha ha ...." Vera tertawa.
"Vera!" bentak Gavin.
"Kenapa? Kalian terkejut, aku bukan Vera. Aku Mika!"
"Tidak, jelas-jelas kau Vera," sanggah Gavin.
"Ha ha ha."
Maria bangun mendekat.
"Vera, kenapa kau melakukan semua ini?" tanya Maria. Dia ingin tahu alasan Vera melakukan semua ini.
"Aku Mika bukan Vera!"
"Tidak kau adikku Vera, aku tidak punya adik selain dirimu," sahut Maria. Air matanya mulai membanjiri pipinya.
"Aku bukan adikmu, aku Mika!"
Maria menggeleng.
Tiba-tiba Vera menendang Gavin hingga terjatuh bersama Maria bersamaan.
Bruuug ...
Gavin dan Maria terjatuh di lantai. Gavin jatuh di bawah tubuh Maria. Dia mendekap tubuh Maria yang terjatuh di atasnya agar tak terbentur ke lantai.
Vera mengambil goloknya kembali. Menghampiri Gavin dan Maria sambil mengacungkan goloknya ke depan. Tatapan matanya penuh aura membunuh. Dingin sedingin es yang membeku.
"Kalian harus mati! Biar aku puas!"
"Hentikan Mika!" teriak Mak Ros di depan pintu ruangan itu. Dia menatap ke arah Vera yang membawa golok di tangannya.
Vera berhenti. Kedua netranya melihat ke arah Mak Ros.