Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Istriku



Kenan mencari Nada ke tepi jalan raya. Kedua netranya terus melirik ke kanan ke kiri. Mencari keberadaan Nada. Dari kejauhan tampak kerumunan orang-orang. Terdengar mengatakan melahirkan. Kenan buru-buru menghampiri kerumunan itu. Dia berpikir itu pasti Nada.


"Mami aku datang!" ujar Kenan berlari secepat mungkin. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya


Kenan berusaha masuk ke dalam kerumunan.


"Awas! Awas! Dia istriku! Dia istriku mau melahirkan!" ujar Kenan.


"Mas suaminya?"


"Iya, awas dong! Istriku mau melahirkan," kata Kenan berusaha berusaha masuk meski sulit.


"Kasih jalan suaminya mau masuk!"


"Awas! Istriku membutuhkanku! Awas!" Kenan merangsek terus sampai masuk ke dalam. Matanya membulat melihat apa yang sedang melahirkan. Matanya terbelalak.


"Mas suaminya sapi ini?"


"Kok ada orang istrinya sapi?"


"Mungkin dia vegetarian dalam hal ranjang."


"Astaga, ini mah sapi bukan Nada. Udah ngaku-ngaku istri lagi. Ternyata sapi. Orang-orang pasti mikir aneh-aneh nih," batin Kenan sambil memperhatikan orang-orang yang melihat ke arahnya. Seperti melihat orang gila.


"Maaf bapak-bapak, ibu-ibu, sapi ini bukan istri saya, ini murni kesalahfahaman," ujar Kenan. Coba menjelaskan pada massa kalau dia bukan suami sapi yang melahirkan.


"Kok ditalak ya sapinya."


"Kasihan diceraikan saat melahirkan."


"Sapinya jadi janda kesepian."


Kenan buru-buru kabur. Gak mau tanggungjawab sebagai suami sapi. Dia berlari sekuat tenaga. Dari pada jadi suami sapi.


"Ampun hampir aja jadi suami sapi, harus lebih selektif pilih kerumunan massa," ujar Kenan. Nafasnya tersengal-sengal. Dia kelelahan berlari dari tadi. Kenan berdiri di tepi jalan mengatur nafasnya.


"Nada di mana?" Kenan khawatir. Dia belum menemukan istrinya.


Tiba-tiba suara telpon berdering. Kenan langsung mengambil handphone di saku bajunya.


"Telpon dari Bos Alex," ujar Kenan melihat layar handphone-nya.


Bergegas Kenan mengangkat telpon dari Alex.


"Assalamu'alaikum," sapa Alex.


"Wa'alaikumsallam Bos," jawab Kenan.


"Kenan, cepetan ke rumah sakit, Nada mau melahirkan," ujar Alex.


"Apa? Nada udah di rumah sakit?" sahut Kenan. Terkejut saat tahu istrinya ada di rumah sakit.


"Iya, cepetan ke sini!" titah Alex.


"Iya Bos," jawab Kenan.


Percakapan itu pun diakhiri. Kenan memasukkan handphone miliknya ke saku. Dia terburu-buru mencari taksi agar bisa ke rumah sakit.


Sampai di rumah sakit, Kenan langsung menuju ke ruang bersalin. Dia berlari sekuat tenaga. Masuk ke dalam lift. Kemudian ke ruang bersaling di lantai tiga.


"Kenan!" panggil Alex menghampiri Kenan yang baru datang.


"Bos," sahut Kenan.


Alex menepuk lengan Kenan dengan pelan.


"Bentar lagi kau akan punya anak ketiga," ujar Alex.


"Makasih Bos, tapi kenapa Bos bisa bersama Nada?" tanya Kenan. Dia ingin tahu kenapa Alex bisa bertemu istrinya.


"Tadi aku dan Sophia jalan santai sekalian ngajak Arfan dijemur, tak sengaja bertemu Nada yang mau lahiran," jawab Alex.


"Makasih banyak ya Bos," ujar Kenan.


"Iya, segeralah temani Nada! Dia sedang berjuang," kata Alex.


Kenan mengangguk.


Kenan berjalan memasuki ruang bersalin dengan cepat. Di dalam ada Sophia yang membantu menemani Nada yang kesakitan.


"Mami!" panggil Kenan.


"Papi!" sahut Nada.


Kenan langsung berdiri di samping kiri Nada. Dia menggenggam tangan Nada yang mulai ke level yang lebih tinggi. Dia menahan rasa sakit sampai mencubit tangan Kenan.


"Aw ...." Keluh Kenan.


"Maaf Pi, tapi perutku sakit," keluh Claudya.


"Gak Mi, kenceng juga gak papa," jawab Kenan padahal kesakitan. Tapi demi si cinta sakit pun ditahan.


"Aw... sakit ...." Nada meng€rang kesakitan. Dia mencubit tangan Kenan dengan kencang.


"Astaga sakitnya, tapi aku harus kuat, istriku lebih kesakitan dariku," batin Kenan. Dia menahan rasa sakitnya demi Nada yang jauh lebih kesakitan.


"Aw ... sakit ... Aw ... sakit ..." Nada berkeluh kesah saat proses kontraksinya.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita akan bertemu anak kita," ujar Kenan memberi semangat.


Nada mengangguk. Beristigfar. Dia lupa dari tadi mengeluh sakit tapi lupa untuk mengingat Alllah.


Tak lama Dokter masuk setelah Nada sudah pembukaan sepulah. Dokter membantu Nada untuk melahirkan.


"Tarik nafas yang panjang ke luarkan lewat mulut ya Bu."


Nada mengangguk. Dia melakukan instruksi dari Dokter. Menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dari mulut di ulang-ulang.


"Nah bagus, teruskan! Pucuk kepalanya sudah terlihat."


Nada antusias dia bersemangat. Mengikuti setiap instruksi demi instruksi dari Dokter.


"Sedikit lagi, ayo Bu semangat!"


Nada berusaha menged4n sekuat tenaga. Tangannya mencubit tangan Kenan sekencang mungkin.


"Aw ..." Kenan menjerit.


"Pak jangan berisik! bayinya tar takut masuk lagi," canda Dokter.


"Eh iya, maaf Dok," sahut Kenan. Kini dia menahan segala jenis cubitan, cengkraman dan gigitan Nada.


"Sedikit lagi."


Nada menged4n lagi hingga suara bayi terdengar merdu.


Uuueeekk ... uuueeekkk ... uuueeekk ...


Dokter mengambil bayi itu. Mengangkatnya di tangannya.


"Alhamdulillah bayinya laki-laki Pak, Bu."


"Alhamdulillah," sahut Kenan dan Nada bersyukur putranya sudah lahir. Mereka melihat putranya.


"Sehat dan lengkap ya."


Kenan dan Nada mengangguk.


"Selamat ya Pak, Bu."


Nada dan Kenan mengangguk. Kebahagiaan terpancar di wajah keduanya. Mereka senang dengan kelahiran buah cintanya. Dengan begitu anggota keluarganya bertambah.


Setelah semuanya selesai, Nada dipindahkan ke ruang rawat inap. Nada berbaring karena kelelahan. Kenan menemaninya. Begitupun Alex dan Sophia.


"Selamat ya Kenan atas kelahiran putramu," ujar Alex.


"Terimakasih Bos atas ucapannya," jawab Kenan.


"Kau kenapa memegang tanganmu terus, biru lagi? Kau digigit tawon selama prosesnya?" tanya Alex.


"Di gigit singa Bos," jawab Kenan.


"Yang bener? Singa mana yang mengigitmu? Biar ku suruh menggigitlu lebih dari itu," canda Alex.


"Astaga kirain mau belain aku Bos, ternyata malah menyuruh singa mengigitku," sahut Kenan.


Alex tersenyum tipis dengan ucapan Kenan.


"Ini kenang-kenangan semasa proses melahirkan putraku Bos," ujar Kenan.


"Teraniaya juga ya menunggu istri melahirkan," sahut Alex.


"Demi Bos," jawab Kenan.


"Sabar, belum parah. Kau masih hidupkan?" tanya Alex.


"Bos-Bos," jawab Kenan.


Mereka berdua kembali bercanda saat bersama. Keakraban mereka tidak seperti Bos dan anak buahnya. Tapi seperti seorang teman.


Tak hanya Alex dan Kenan yang senang dengan kelahiran anak Kenan dan Nada, tapi Sophia juga ikut senang. Dari tadi Sophia menemani Nada sebelum Kenan datang.


"Kak Nada selamat ya atas kelahiran putra kakak," ucap Sophia.


"Iya. Makasih ya Sophia," sahut Nada.


Sophia mengangguk. Dia senang kakaknya bisa lahiran dengan selamat. Ibu dan anak sehat wal'afiat.


"Sophia, bayiku belum dibawa ke sini ya," keluh Nada.


"Belum, mungkin masih dibersihkan Kak," jawab Sophia.


"Aku udah gak sabar," ucap Nada.


Sophia menggenggam tangan Nada.


"Sebentar lagi juga dibawa ke sini," ujar Sophia.


Nada mengangguk. Dia sudah tak sabar ingin melihat anaknya.