
Cala pergi ke sebuah taman untuk bertemu dengan Raiyan. Dia duduk di kursi sambil melihat hamparan bunga-bunga indah di depannya. Cala membayangkan jika dia dan Raiyan menikah, dan memiliki anak. Bibir tipisnya itu tersenyum gembira saat lamunan itu jauh melayang, namun lamunannya terpecah saat Raiyan duduk di sampingnya.
"Raiyan," ucap Cala menoleh ke arah Raiyan yang tampak dingin dan acuh padanya. Padahal selama ini dia sangat perhatian pada Cala dan ramah padanya.
"Raiyan aku cantik gak?" tanya Cala. Dia ingin tahu tanggapan Raiyan pada dress yang dikenakannya. Seharusnya Raiyan suka melihatnya mengenakan dress yang dibeli olehnya.
Raiyan hanya diam tak menggubris apa yang diucapkan wanita cantik di sampingnya itu.
"Raiyan kamu kenapa?" tanya Cala. Dia merasa Raiyan hari ini sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Dia seperti sengaja mengacuhkannya dan menjaga jarak darinya.
"Cala, mulai hari ini kita tidak usah bertemu lagi, aku akan menikah dengan wanita yang dijodohkan denganku.
"Apa?" Cala terkejut mendengar Raiyan akan dijodohkan dengan orang lain. Selama ini mereka begitu dekat bahkan Tak terpisahkan. Jika Raiyan menikah dengan orang lain otomatis mereka tidak akan bersama lagi.
"Aku harap kau mengerti, dan menganggapku sebagai sepupunya," jawab Raiyan. Sebenarnya dia tidak memiliki perasaan pada Cala hanya saja Raiyan begitu menyayanginya seperti adiknya sendiri. Dia tidak tega jika harus menyampaikan hal itu pada Cala.
"Kenapa kau begini padaku? Selama ini kita baik-baik saja dan bahagia," jawab Cala. Dia tidak merasa ada yang salah dengan hubungannya dan Raiyan. Mereka selalu bahagia dan menghabiskan waktu bersama.
"Itu menurutmu, tapi tidak menurutku. Kita tidak bisa selamanya seperti ini Cala. Baik aku ataupun kamu harus menikah dan memiliki keluarga. Tidak mungkin menjalani kebersamaan ini terus-menerus, tentu akan banyak yang terluka nantinya," jawab Raiyan. Dia tahu persis Apa yang akan terjadi jika terus-menerus menjalani kedekatan yang tidak jelas arah dan tujuannya itu. Dibilang pacar bukan, teman pun bukan, begitupun dengan saudara. Mereka menjalani hubungan yang tidak tahu akan berakhir di mana. Jadi jika diteruskan tidak akan ada yang bahagia.
"Tapi selama ini kamu bahagia kan sama aku?" tanya Cala. Dia menatap Raiyan. Berharap dia bilang iya.
"Aku hanya berusaha untuk membuatmu bahagia, meskipun aku sendiri kehilangan masa di mana seharusnya aku tumbuh menjadi laki-laki pada umumnya, memiliki seseorang yang aku sukai dan menikah dengannya," jawab Raiyan. Selama ini dia hanya berusaha untuk membahagiakan Cala, sampai dia melupakan kepentingan pribadinya. Raiyan tak pernah sekalipun dekat dengan wanita ataupun bermain dengan yang lainnya. Dia hanya menghabiskan waktu bersama Cala. Bahkan sepulang bekerja pun Cala sudah menghampirinya, membawa makan siang ke kantornya. Mengantar Raiyan kerja dan meneleponnya setiap saat ada waktu. Bagaimana Raiyan bisa dekat dengan wanita lainnya jika sikap Cala seperti itu padanya.
"Jadi kau mau bilang kalau yang bahagia selama itu cuma aku, iyakan?" tanya Cala.
"Maafkan aku Cala, mengertilah! Kita saudara bukan pasangan," jawab Raiyan. Meski pahit dia harus tetap mengatakannya demi kebaikan mereka berdua. Agar Cala tak terus menerus bergantung dan menempel padanya.
"Kau tega Raiyan setelah semua yang kita lewati," kata Cala. Dia merasa Raiyan tega padanya Setelah semua kenangan yang sudah mereka ukir bersama.
"Maafkan aku Cala, selamat tinggal," ujar Raiyan. Dia meletakkan sekuntum bunga mawar putih sebagai tanda persahabatan. Lalu berdiri meninggalkan gadis cantik itu. Meski langkahnya berat dia harus tetap bisa melangkah ke depan demi kebahagiaan keduanya.
"Kau jahat Raiyan! Kau tidak sayang padaku!" teriak Cala. Dia tidak terima dengan kata perpisahan yang diucapkan Raiyan padanya.
Raiyan tak menggubris ucapan Cala. Dia terus berjalan ke depan. Meski menyakitkan semua ini awal untuk mereka berdua membuka lembaran baru. Hidup dengan pasangannya masing-masing.
Cala terdiam. Dia menangis. Raiyan benar-benar meninggalkannya. Tak ada lagi yang akan perhatian padanya dan memahami perasaannya.
"Cala, lagi ngapain?" tanya Dodo. Dia membawa alat pancing dan ember yang berisi ikan. Sesangkan tiga sekawan bersembunyi di semak-semak agar tidak mengganggu Dodo untuk pendekatan dengan wanita yang dia suka.
Cala tidak peduli. Dia tetap menangis.
"Gak mau, gak asyik," sahut Cala. Dia tidak ingin menerima tawaran dari Dodo untuk memancing di danau.
"Kalau belum nyoba bagaimana tahu asyik atau tidak," kata Dodo. Berusaha membujuk Cala agar mau memancing dengannya sebagai bentuk PDKT.
Cala terdiam. Dia masih menangis tersedu-sedu sedangkan teman-teman Dodo melempar-lempar lembaran-lembaran bunga mawar dari atas seperti sebuah acara pesta.
"Astaga ini part tambahan yang berlebihan, seharusnya belum waktunya, kenapa mereka buang-buang bunga yang seharusnya ditaburkan saat memancing nanti," batin Dodo. Teman-temannya yang kreatif justru salah jadwal mereka malah menabur-nabur bunga di saat momennya belum pas.
"Hei kau menabur apa? Itu bukannya ulat untuk menakut-nakuti Cala agar Dodo jadi superhero," kata Roma. Melihat Turki menaburkan ulat hijau bukannya bunga mawar.
"Eh iya salah," jawab Turki.
"Tadi sudah ku bilang tabur bunga bukan ulat," sahut Nepal.
"Kau sendiri kenapa malah menabur uangnya Dodo? Itukan buat sedekah," kata Turki. Hanya Roma yang benar-benar menabur bunga mawar sedangkan keduanya malah menabur ulat lembaran sepuluh ribuan.
"Pantas dari tadi rame bener di depan kita, ku pikir lagi ada pembagian door prize," sahut Nepal.
"Dodo pasti marah nih, kita gak pernah bisa diandalkan," kata Roma.
Teman-teman Dodo memang tidak ada yang bisa diandalkan tapi mereka sangat kompak dalam hal melakukan kesalahan.
Di sisi lain ulat-ulat itu berhamburan di manapun begitupun dengan uang puluhan ribu. Cala ketakutan melihat ulat ulat hijau merayap di kakinya dan anak-anak kecil yang berebut uang sepuluh ribuan.
"Astaga mereka malah menabur penderitaan dan uangku," batin Dodo. Dia bergegas membawa Cala pergi dari tempat itu. Mereka berdua duduk di tepi danau sambil melihat hamparan air yang begitu jernih. Dodo mulai memancing sambil mengajak Cala mengobrol sedangkan teman-temannya membuang ikan-ikan emas ke dalam kolam supaya Dodo mendapatkan ikan. Biar terkesan benar-benar.
"Bro kita yang bego atau Dodo yang bego ya?" tanya Turki.
"Memang kita pernah pintar?" tanya Nepal.
"Gak juga sih, masih untung dilulusin gara-gara muka kita meresahkan," sahut Turki.
"Udahlah, intinya Dodo harus dapat ikan," jawab Roma.
"Terus ngapain ikannya kita buang-buang?" tanya Turki.
"Kan mancingnya cuma settingan, pencitraan gitu," jawab Nepal.
Mereka bertiga malah asik ngerumpi dan berdebat masalah ikan yang mesti dimasukkan ke dalam danau agar terkesan beneran mancing mania. Sedangkan di sisi lain Dodo coba untuk PDKT pada Cala yang sedang patah hati.