Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Sushi Penyemangat



Pagi itu Alex berangkat ke perusahaan. Dia masuk ke ruangan meeting ditemani Kenan untuk bertemu dengan kepala kontraktor yang bertanggungjawab pada proyek pembangunan perumahaannya. Dia bernama Bagus Sodikin. Perawakannya tinggi besar. Mengenakan kaca mata, kumis tipis, botak dan kulitnya hitam. Dia sudah ada di ruang meeting sendari tadi.


Alex mengucapkan salam saat masuk ke dalam ruangan. Bersalaman dengan Bagus. Kemudian duduk. Begitu pun dengan Kenan yang duduk di samping Alex. Bagus tampak santai tak ada gurat bersalah sama sekali.


"Pak Bagus sudah tahu berita yang beredar?" tanya Alex menatap dingin lelaki yang tampak santai itu.


"Belum Bos, saya baru pulang dari luar kota," jawab Pak Bagus.


"Masa sih? Update status aja bisa, masa gak tahu tuh yang lagi trending, apa handphone milik Pak Bagus masih kentang?" ketus Kenan kesal pengen ngulek Pak Bagus kaya sambel dadakan.


"Betul kata Kenan, anda penanggungjawab proyek, saya sudah membayar mahal untuk itu, anda tahu perjanjian hitam di atas putih yang sudah ditanda tangani bersama?" tanya Alex mulai menaikkan ritme bicaranya.


"Saya tahu Bos, tapi saya merasa sudah menjalankan kewajiban saya. Setiap hari saya cek," jawab Bagus.


"Yang dicek apanya? Semen dan batu bata itu datang sendiri, pakai pintu doraemon gitu, untung saja saya masih waras," ujar Kenan emosi.


"Saya sudah menyediakan bahan bangunan terbaik, bagaimana bisa ada bahan bangunan kualitas rendah itu?" tanya Alex.


Bagus tak terlihat tegang sama sekali. Dia menjawab dengan santai. Seolah dia tidak takut kena denda atau dilaporkan ke polisi.


"Saya tidak tahu, saya sendiri yang setiap hari datang, tidak ada bahan bangunan kualitas rendah itu," jawab Bagus.


"Gak mungkin mbah dukun kirim semen dan batu bata itukan? Dibayar berapa dia, tahu gitu saya minta kirimkan Pak Bagus ke bulan," ujar Kenan emosi melihat Bagus terus mengelak.


"Kenan!" ucap Alex melihat emosi Kenan.


Kenan menengok ke arah Alex dengan senyuman.


"Sorry Bos, ke bawa suasana," sahut Kenan.


Alex kembali fokus pada pertanyaannya pada Bagus.


"Kalau anda tidak tahu semen dan batu bata itu ada di sana, kenapa sampai berdiri bangunan tinggi dan akhirnya roboh, apa anda tidak cek? Atau sibuk?" sindir Alex.


Pertanyaan Alex kali ini sulit dijawab Bagus. Sebagai kontraktor seharusnya dia tahu hal itu. Mana mungkin bangunan itu berdiri tanpa sepengetahuannya.


"Saya sudah cek," jawab Bagus.


"Jadi anda tahu bahan bangunan kualitas rendah ada di sana?" tanya Alex.


Bagus terdiam. Pertanyaan Alex menyudutkannya. Dia bingung harus menjawab apa lagi.


"Bukti sudah ada ya Pak Bagus, tim sudah mengecek bahan bangunan yang dipakai, dan penerapan yang tidak sesuai SOP," ucap Kenan.


Pak Bagus mulai tegang. Dia harus menyiapkan jawaban yang benar.


"Perusahaan saya yang salah pilih kontraktor atau anda yang salah dalam hal ini?" tanya Alex.


"Saya sudah cek, pasti ada yang sengaja menyudutkan saya untuk jadi kambing hitam dalam masalah ini," jawab Bagus.


"Jangan pura-pura tidak tahu, dari semua bangunan hanya dua bangunan itu yang berbeda dari bangunan lainnya. Apa anda tak mengecek?" ujar Kenan sedikit smart.


"Saya ... saya sudah mengecek semuanya," jawab Bagus.


"Saya akan membawa kasus ini ke polisi, anda ingin cara itu untuk menyelesaikannya?" tanya Alex.


"Saya siap di penjara untuk kesalahan saya," jawab Bagus.


"Apa?" Alex dan Kenan terkejut. Lelaki yang tadi santai kemudian tegang itu terlihat pasrah. Tak ada pembelaan lagi. Mereka heran.


"Silahkan jika memang kasus ini harus dibawa ke polisi. Karena saya merasa sudah mengeceknya setiap hari, meskipun kemarin ke luar kota," ujar Bagus.


Alex terdiam. Sedangkan Kenan masih berbicara dengan Bagus yang selalu merasa tak bersalah.


"Saya sudah mendapat informasi dari para pekerja bangunan, anda membiarkan mereka menggunakan bahan bangunan kualitas rendahan," ucap Kenan.


"Saya tidak merasa menyuruh atau membiarkan mereka melakukan itu," jawab Bagus.


"Baik anda harus dengar pernyataan seseorang," ujar Kenan. Kemudian berdiri. Dia menuju pintu. Membukanya, seorang pekerja bangunan masuk ke dalam. Kenan mengajaknya duduk.


"Pak Toto katakan!" perintah Kenan.


"Saat itu saya tidak tahu kenapa bahan bangunannya diganti, saya coba tanya asistennya Pak Bagus, katanya itu memang bahan bangunan yang harus kami gunakan," ujar Pak Toto.


"Dengar! Anda masih mengelak?" tanya Alex.


"Saya tidak pernah menyuruh mengganti, sebaiknya Bos tanya asisten saya," ujar Bagus.


"Sudah, asisten anda sudah mengakui, kalau anda sendiri yang menyuruh menggunakan bahan bangunan itu," sanggah Kenan.


Bagus terlihat tegang. Semua bukti menyudutkannya.


"Saya pasti dijebak, saya tidak salah Bos," ujar Bagus.


"Pak Toto apa lagi yang kau tahu?" tanya Alex.


"Hari itu saya bingung karena asisten Pak Bagus menyuruh kami menggunakan semen sedikit sedangkan pasir dengan jumlah yang banyak, padahal bangunan yang kami bangun tinggi, saya khawatir tidak menempel antara bata dan adukan," ujar Pak Toto.


"Ada lagi hal lain yang anda tahu Pak Toto?" tanya Alex.


"Cakar ayam biasa digunakan juga diganti dengan cakar ayam banci, saya heran kenapa bangunan tinggi dan besar menggunakan cakar ayam banci," ujar Pak Toto.


"Jadi itu penyebab robohnya? Tidak sesuai SOP sekali," ucap Alex sambil tersenyum sinis.


"Gak mungkin, semua bahan bangunan sudah di stok dari perusahaan Bos, mana mungkin saya mengganti," elak Bagus.


"Maksud anda, asisten anda yang bersalah?" tanya Kenan.


"Hari kemarin saya ke luar kota Bos, finishing bangunan pertama yang disebutkan dan bangunan kedua yang roboh itu saya tidak ada di tempat, semua tanggungjawab sudah saya alihkan pada asisten saya," ujar Bagus.


"Baik panggil asisten Pak Bagus," perintah Alex.


"Baik Bos," sahut Kenan.


Kenan berdiri. Berjalan ke luar dari ruangan. Beberapa menit kembali ke dalam. Dia menghampiri Alex berbisik padanya.


Alex terkejut. Matanya dingin menatap ke depan.


"Cari ke rumahnya!" perintah Alex.


"Baik Bos," sahut Kenan.


Akhirnya meeting itu diakhiri. Tak hadirnya asisten Bagus, membuat bukti kurang lengkap. Alex tepaksa harus menunggu asisten Bagus memberi kesaksian.


Alex kembali ke ruangannya. Dia duduk menyandarkan rasa lelah dan penatnya dengan masalah itu di kursi nyamannya. Di kepalanya puluhan masalah yang akan datang memenuhi pikirannya.


Kenan masuk ke dalam membawa tablet milik perusahaan. Dia melaporkan perkembangan pasar saham.


"Bos saham kita anjlok," ucap Kenan.


"Aku sudah tahu akan begitu," jawab Alex santai.


"Untuk saat ini para pemegang saham belum melakukan antisipasi apapun, mungkinkah mereka akan mundur?" ujar Kenan.


Alex terdiam. Posisi perusahaannya memang sedang tidak baik. Dia sudah memprediksi semua ini akan terjadi.


"Kau boleh kembali ke ruanganmu! kalau ada kabar tentang asisten Pak Bagus beri tahu aku," ujar Alex.


"Baik Bos, yang sabar ya, semoga Allah memberi jalan ke luarnya," ucap Kenan ikut bersedih dengan masalah yang dihadapi perusahaan.


"Terimakasih Kenan, tumben otakmu gak miring," ucap Alex.


"Iya dong Bos, cukup Bos aja yang otaknya lagi miring," sahut Kenan.


"Kau masih ingin kerja Kenan?" tanya Alex.


"Masih Bos, saya undur diri," jawab Kenan. Mundur teratur dari pada disembur. Bisa gawat kalau tetap bertahan disaat gegana aktif. Lebih baik kabur. Amankan situasi demi kelangsungan hidup yang tersisa.


Akhirnya Kenan ke luar dari ruangan Alex. Di dalam Alex mengatur nafasnya yang mulai berat dan sesak dengan masalah yang menumpuk.


"Aku ikhlas dengan semua ketentuanMu Ya Allah, sejauh aku sudah berusaha," batin Alex.


Tiba-tiba suara gagang pintu diputar.


Kreek ...


Pintu terbuka wajah cantik penyejuk jiwa muncul di depan pintu dengan senyuman lembutnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Sophia.


"Wa'alaikumsallam sayang," sahut Alex.


"Aku bawa sesuatu untukmu Mas," ucap Sophia.


"Kemarilah sayang!" pinta Alex.


Sophia menghampiri Alex. Meletakkan kotak bekal di atas meja. Dia mendekat, Alex langsung menarik Sophia ke pangkuannya.


"Kau datang di saat yang tepat sayang," ucap Alex.


Sophia tersenyum. Memegang kedua pipi Alex.


"Aku akan sering datang, disela-sela waktu senggangku di kantor," ucap Sophia.


"Makasih sayang, jadi semangat lagi," sahut Alex.


"Iya Mas," jawab Sophia.


Alex menciumi pipi Sophia. Seperti mendapatkan penyemangat baru disaat semangatnya sedang menurun drastis. Alex tak tahu kalau tak ada Sophia mungkin dia sudah marah, menyalahkan dan frustasi. Namun kini ada Sophia penyemangat yang tiada duanya.


"Mas mau nyemil, aku bawa sushi buatanku sendiri," ujar Sophia.


"Sushi?" Alex heran. Meskipun sering melihat di manapun. Tapi Alex tak pernah makan sushi. Dia lebih suka makanan barat.


"Iya, yang jelas Mas gak boleh nolak, coba dulu baru boleh komentar," ucap Sophia.


"Siap Bu Bos!" ucap Alex.


Sophia tersenyum. Mencium kening Alex.


"Seneng deh liat Mas senyum, ganteng," puji Sophia agar Alex senang.


"Iya dong, makanya Sophia Thalia melamarku." Seperti biasa Alex menyombongkan dirinya.


Sophia tersenyum.


"Ayo sayang, penasaran gimana rasa sushi buatanmu," ujar Alex.


"Oke," jawab Sophia. Kemudian berdiri. Mengambil kotak bekalnya. Membuka kotak bekal ini. Beberapa potongan sushi berbagai macam isiannya. Dengan saus mustrad di atasnya.


"Cantik, seperti yang membuatnya," puji Alex.


Sophia tersenyum. Senyuman manis itu menghembuskan angin segar di hati Alex. Rasa panas yang tadi mengekangnya kini hilang sudah. Sophia membuat mood-nya membaik.


"Suapin sayang!" pinta Alex manja.


"Iya Mas," sahut Sophia. Tangannya mengambil sumpit untuk mengambil sushi, kemudian mengangkatnya ke depan mulut Alex.


"Buka mulutnya Mas," ucap Sophia.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Alex sebelum membuka mulut kemudian mulutnya terbuka. Membiarkan sushi itu masuk. Mengunyahnya perlahan. Merasakan setiap rasa yang bercampur jadi satu.


"Enak, aku baru tahu ternyata sushi itu enak," ucap Alex.


Sophia tersenyum. Melihat suaminya yang baru merasakan rasa sushi dan ketagihan. Sampai semuanya habis dimakan. Setidaknya Sophia lega melihat suaminya kembali terlihat ceria.


.