
"Wa'alaikumsallam," sahut Sophia, Alex, dan semua yang ada di ruangan itu.
Kenan dan Keluarga Wijaksana masuk ke dalam. Berbaur dengan anggota keluarga lainnya. Kenan menghampiri Alex. Seakan baru bertemu padahal tadi baru saja mengantarkan Alex gimbal berubah menjadi Alex sang pangeran tampan.
"Bos, sehat?" tanya Kenan.
"Kau tak perlu basa-basi, tadikan kita sudah bertemu," sahut Alex.
"Iya Bos, ritual doang, biar kelihatan akrab," ujar Kenan. Tersenyum tanpa dosa pada Bosnya.
"Bocah, dia sekretaris mu?" tanya Pak Hanry. Melihat Kenan dari atas sampai ke bawah membuat Kenan berkeringat dingin.
"Iya, gak ada lagi pilihan," sahut Alex bercanda.
"Ku pikir dia pawang hujan, basah kusup mukanya," kata Pak Harry yang melihat Kenan penuh keringat karena dipelototin Pak Harry.
"Mungkin dia baru melihat setan di ruangan ini," sahut Alex.
"Kalau dia macam-macam aku bawa Son dan Jon untuk melatih dia lari mengelilingi rumah sakit," ujar Pak Harry.
"Astaga Bokapnya Si Bos menyeramkan, untung gak sering bertemu kalau gak, bisa masuk UGD setiap hari," batin Kenan. Merinding setiap kali bertemu Pak Harry. Bertemu hantu saja paling banter BAB di celana atau nyemplung di septic tank. Kalau ketemu kunti paling minta ditraktir sate kambing Madura.
"Tak perlu dia sudah divaksin, aman untuk jadi sekretaris ku," jawab Alex.
Kenan kena double penindasan kalau bertemu dua Bos penindas seperti mereka. Hubungan kekerabatan tak membuatnya bisa menindas Alex. Apalagi Pak Harry.
"Bos Arfan lucu ya, pasti kangen berat ma Bos," ujar Kenan.
"Iyalah anakku pasti lucu gak jauh beda ma Papanya," sahut Alex menyombongkan diri.
"Om Enan ... Om Enan ..." ocehan Arfan sambil membuka kedua tangannya minta gendong Kenan.
"Kenan, Arfan mau minta gendong padamu," ujar Alex.
"Siap Bos!" jawab Kenan. Dia langsung mengambil Arfan. Menggendongnya. Gak tahunya Arfan pipis dan pop banyak. Sampai tembus dari popoknya.
"Pantes aja Arfan minta gendong aku, ternyata dia mau ke toilet Bos," kata Kenan.
"Sabar Kenan, Arfan hanya ingin menguji kesetiaanmu," sahut Alex.
"Aku mendapat trippel penindasan sehari ini, gak kakeknya, bapaknya, eh ini anaknya," batin Kenan. Selalu jadi pihak yang tertindas. Sementara itu Arfan hanya tertawa lucu. Senyumannya mengembang di pipi cabinya. Giginya baru terlihat empat biji. Di atas dua dan di bawah dua.
Sophia, Alex dan yang lainnya tertawa melihat tingkah Arfan yang lucu dan menggemaskan.
Di sela-sela itu Nada duduk di samping Sophia. Perutnya sudah besar. Dia sudah hamil 8 bulan. Sophia mengelus perut Nada.
"Sophia aku seneng banget kau sudah sadar dan Alex sudah kembali," ujar Nada.
"Aku juga senang bisa bertemu kakak dan semua keluarga kita," sahut Sophia. Matanya berkaca-kaca melihat saudara kandungnya.
"Semoga kau sehat selalu agar bisa merawat dan membesarkan Arfan," ujar Nada.
"Amin, terimakasih Kak," ujar Sophia.
Nada mengangguk.
"Sophia, Bibi kangen," ujar Bibi Fatimah mendekat.
"Sophia juga kangen Bibi," sahut Sophia.
Mereka berdua pun berpelukan satu sama lain. Selayaknya seorang Bibi pada keponakannya. Hanya saja kedekatan mereka lebih dari itu. Bibi Fatimah sudah seperti ibunya.
Bibi Fatimah melepas pelukannya. Mengelus kepala Sophia.
"Semoga Allah senantiasa memberimu kesehatan, mengangkat semua penyakitmu, dan bahagia bersama keluargamu," ujar Bibi Fatimah.
"Amin," sahut Sophia. Tersenyum pada Bibi Fatimah. Senyuman yang penuh kelembutan.
Tak hanya Bibi Fatimah, Paman Harun juga melepas rindu pada Alex dan Sophia. Dia mendoakan mereka agar menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah.
"Oya Lex apa yang terjadi padamu selama setahun ini?" tanya Kakek David. Dia penasaran ingin tahu apa yang terjadi pada cucunya.
"Iya Lex apa yang sudah terjadi?" tambah Pak Ferdi.
Yang lain pun juga ingin tahu apa yang terjadi pada Alex. Mereka juga mengajukan pertanyaan yang sama.
"Besok kalau Sophia sudah ke luar dari rumah sakit, aku pasti akan menceritakan apa yang terjadi," sahut Alex pada semuanya.
"Iya, lagi pula ini di rumah sakit, waktu kita terbatas, memang lebih baik di rumah nanti," ujar Kakek David.
Pak Ferdi dan yang lainnya mengangguk. Benar kata Alex dan Kakek David, mereka sedang berada di rumah sakit, Sophia juga baru sadar, dan juga waktu besuk yang terbatas.
"Kalau begitu kita semua pamit pulang, sekuriti sudah bolak balik ke sini," ujar Kakek David.
"Iya Kek, terimakasih juga untuk semuanya yang sudah menyempatkan datang ke sini," sahut Alex.
Kakek David dan yang lainnya mengangguk. Kemudian mereka meninggalkan ruangan itu. Hanya Arfan yang ditinggal bersama Alex dan Sophia. Biar Arfan bisa kangen-kangenan dengan kedua orangtuanya.
"Iya Mas, dari tadi banyak tamu jadi belum πyu$u aku," sahut Sophia.
"Mumpung sepi kasih dulu sayang, biar aku jaga takut Dokter Leon masuk, gak rela aku dia liat d4damu," kata Alex.
Sophia mengangguk dan tersenyum. Ternyata suaminya cemburu dengan Dokter Leon yang menanganinya.
"Mama ... Mama ..." Arfan memanggil saat Sophia mulai membuka kancingnya. Dia langsung paham dan mendekat. Meπyu$u pada Sophia.
"Sed0t sepuasnya ya Nak, biar Arfan kenyang. Maafkan Mama tidak ada di sisimu selama ini," ujar Sophia berurai air mata sambil mengelus kepala Arfan.
Melihat itu Alex mendekat. Duduk di samping Sophia. Merangkul istrinya.
"Arfan haus banget ya Nak, jagoan Papa harus banyak minum susu ya," ujar Alex.
Arfan hanya mengangkat tangannya ke udara, minta dipegang Alex. Bergegas Alex mengambil tangan Arfan. Memegangnya dengan lembut.
"Mas, meskipun ini pertama kali bertemu dengan kita, tapi Arfan seperti sudah sering bersama dengan kita," ujar Sophia.
"Itu karena Claudya selalu menunjukkan foto kita pada Arfan, selain itu ikatan batin takkan bisa dipisahkan sayang," sahut Alex.
Sophia mengangguk. Dia bersandar di bahu Alex. Membuang nafas leganya. Dia bisa bertemu suaminya dalam keadaan sehat wal'afiat.
"Sayang, apa yang kau rasakan saat ini?" tanya Alex. Dia ingin tahu apa Sophia sakit atau tidak.
"Aku seperti terlahir kembali Mas, semua berkat Allah SWT yang memberiku kesempatan untuk bersamamu dan Arfan," sahut Sophia.
"Aku selalu berdoa agar kau sembuh sayang, agar kita bisa bersama merawat dan membesarkan anak-anak kita," ujar Alex.
"Amin," sahut Sophia.
Alex mencium kening Sophia. Sore itu penuh kebahagian untuk keduanya. Kini mereka bisa berkumpul dan bersama, ditambah lagi dengan adanya Arfan buah cinta keduanya.
***
Sore harinya Tuan Matteo, Sekretaris Wang dan Aiko yang menyempatkan datang di sore hari itu. Mereka baru pulang bekerja sekalian mampir. Untung di dalam sudah mulai sepi. Hanya ada Alex, Sophia dan Arfan.
Tuan Matteo, Sekretaris Wang dan Alex duduk di sofa bersama Arfan yang sedang memainkan buah jeruk. Sedangkan Aiko duduk di samping ranjang bersama Sophia.
"Aku seneng ... banget kamu dah sadar Sophia, Bos Alex juga dah kembali," ujar Aiko suka cita melihat Sophia dan keluarga kecilnya.
"Iya, terimakasih Aiko. Selama aku koma pasti kau bolak-balik ke rumah sakit, mengurus keperluanku," sahut Sophia.
"Itu karena aku sayang padamu Sophia," jawab Aiko. Matanya berkaca-kaca menatap Sophia.
"Aku juga sayang padamu, kau sahabat terbaikku," kata Sophia.
Aiko langsung memeluk Sophia. Dia begitu merindukan sahabatnya itu. Setahun sudah Sophia koma dan baru sadar. Membuat Aiko kesepian di tempat kerja.
Aiko duduk kembali. Dia terlihat berbeda. Bajunya sudah mulai tertutup. Membuat Sophia penasaran.
"Aiko tumben pakai baju panjang?" tanya Sophia.
"Lagi belajar Sophia, dalam waktu dekat aku mau jadi mualaf," jawab Aiko.
"Alhamdulillah, lebih cepat lebih baik," sahut Sophia.
"Maunya, tapi aku mau disaksikan olehmu," ujar Aiko.
"Kalau begitu secepatnya aku akan menyaksikannya," sahut Sophia. Dia senang Aiko mau masuk Islam dengan suka rela tanpa paksaan. Sophia tak pernah menyinggung apapun tentang perbedaan agama mereka. Justru Sophia sangat menghormati agama yang dianut sahabatnya itu.
"Iya," jawab Aiko. Dia berharap Sophia akan hadir di saat dia bersyahadat nantinya.
Di sisi lain Alex mengobrol dengan Tuan Matteo dan Sektetaris Wang diselingi ocehan Arfan yang gemas mengigit jeruk.
"Aku hampir saja meminta bantuan temanku di luar negeri untuk membantu mencarimu," kata Tuan Matteo.
"Iya, aku juga berpikir seperti itu, apalagi Sophia koma," tambah Sekretaris Wang.
"Terimakasih atas perhatian adik ipar dan Sekretaris Wang, Alhamdulillah aku sudah selamat dan bisa berkumpul lagi dengan istri dan anakku," sahut Alex. Dia senang banyak orang sayang dan peduli padanya dan Sophia.
Tiba-tiba perawat masuk ke ruangan itu. Dia berbicara dengan Alex.
"Tuan Alex Sebastian, Dokter Leon ingin bicara dengan Anda di ruangannya."
"Oke aku akan ke sana," sahut Alex.
"Kalau begitu saya permisi dulu."
Alex mengangguk.
Perawat itupun ke luar dari ruangan itu.
"Mungkin Dokter Leon ingin membicarakan soal kesehatan Sophia," batin Alex menebak. Setelah beberapa pemeriksaan yang dilakukan tadi pasti Dokter Leon ingin memberi tahu hasilnya.