
Akhirnya Gavin memutuskan pergi ke Klinik DR. Joko Santoso. Dia harus mendapatkan jawaban atas rasa penasaran yang ada dibenaknya. Apa yang dilakukan Mak Ros di klinik itu. Membuat Gavin ingin tahu. Satu jam perjalanan melewati kemacetan dan rasa lelah yang mulai mendera membuat Gavin sempat emosi, untung saja dia ingat sedang berpuasa.
Motor Gavin masuk ke dalam area klinik itu. Dia memarkirkan motor gedenya. Melepas helm kesayangannya. Berjalan masuk ke dalam klinik tersebut.
"Aku tanya ke konter pendaftaran kali ya," ujar Gavin.
Langkahnya perlahan menghampiri konter pendaftaran. Klinik itu tidak ramai seperti klinik-klinik pada umumnya. Tampak sepi, hanya ada satu dua orang yang tampak mengantri.
"Selamat sore ada yang bisa saya bantu?"
"Sore," sahut Gavin.
"Apa anda ingin mendaftar?"
"Begini Kak saya ....," ujar Gavin ragu. Bingung mau ngomong apa dulu.
"Anda sudah pernah berobat ke sini? Siapa nama pasiennya?"
"Belum," jawab Gavin.
"Pasien baru ya?"
"Saya tidak ingin berobat, tapi saya ingin tanya," jawab Gavin.
"Tanya apa ya Mas?"
"Ini klinik umumkan kak?" tanya Gavin merasa aneh dengan klinik yang didatanginya.
"Oh bukan, ini klinik untuk pasien gangguan kejiwaan."
"A-apa?" Gavin terkejut. Klinik yang didatangi Mak Ros adalah klinik untuk pasien ganguan jiwa.
"Memang Masnya mengalami gangguan jiwa?"
"Tidak Kak," jawab Gavin tersenyum meringis.
"Gangguan jiwa? Orang gila dong gue, masa iya mau nikah gila dulu," batin Gavin. Membayangkannya saja membuatnya merinding.
"Kalau begitu Masnya ke sini untuk apa?"
"Saya mau bertanya di sini ada pasien bernama Rosmalia tidak?" tanya Gavin. Lebih baik dia to the point dari pada kebingungan sendiri.
"Maaf ya Mas, kami tidak bisa memberitahu rekam medis pasien kecuali anda keluarga pasien."
"Iya ya aku lupa, gak mungkin pihak klinik memberitahu soal ini, bisa menyalahi aturan," batin Gavin. Percuma tanya, tidak mungkin rekam medis dibeberkan padanya.
"Iya saya mengerti," jawab Gavin.
"Ada yang lain Mas?"
"Tidak, makasih," jawab Gavin. Kemudian Gavin berdiri. Berjalan meninggalkan konter pendaftaran. Dia masih di dalam klinik. Kebetulan klinik itu lumayan luas. Gavin berjalan di koridor yang berada di dalam klinik. Dia melihat beberapa orang tertawa sendiri, termenung sendirian, dan menangis.
"Ini beneran klinik untuk pasien dengan gangguan mental," kata Gavin. Dia berhenti. Melihat beberapa orang yang mengalami gangguan jiwa. Mereka terlihat ditemani anggota keluarganya.
"Untuk apa Mak Ros ke sini? Apa untuk berobat?" tanya Gavin pada dirinya sendiri.
"Kalau berobat berarti Mak Ros?" tebak Gavin. Dia membuang nafas gusarnya.
"Astagfirullah, aku berpikir terlalu jauh, tapi gak mungkin Mak Ros datang ke sini kalau tidak untuk berobat, minimal konsultasi," ujar Gavin. Dia menduga-duga. Mencari jawaban yang masih belum jelas sepenuhnya.
***
Sore itu Alex masih berdiri di depan lahan terbengkalai. Lahan itu sangat luas dan berada di dekat pintu tol. Sangat strategis untuk dibangun perumahan baru. Kenan berdiri di sampingnya menemani Alex. Dia tampak tampan dengan setelan jas pemberian Alex, dan gaya rambut terbaru habis dari salon saat jam istirahat tadi. Rambutnya diwarnai putih.
"Bos lahannya sangat strategis, cocok untuk perumahan elit," ujar Kenan.
"Iya, tapi pemilik lahan ini sangat alot untuk menjual pada perusahaan kita," sahut Alex.
"Memang kenapa Bos? Apa dia lupa masuk toples jadi alot?" tanya Kenan.
"Iya begitulah, kau tahu sendiri kalau kelamaan di luar apapun alot termasuk rambutmu itu," sahut Alex.
"Ini rambut terbaruku Bos, duda keren masa kini," jawab Kenan.
"Kau mirip kakekku Kenan, jangan berdiri di dekatnya, orang lain akan mengiramu kakek juga," sahut Alex.
"Masa sih Bos? perasaan keren, biar kembali ke fitri," jawab Kenan.
"Aku khawatir kau akan ditolak karena rambut ubananmu," ujar Alex.
"Nyesel Bos, apa aku aspal aja biar hitam lagi?" tanya Kenan menyesal berat. Kalau bisa diaspal biar langsung item permanen lagi.
"Makanya tanya dulu padaku," sahut Alex.
"Bos gimana nih? mana mau ngapelin Nada," keluh Kenan.
Alex tertawa. Siapa suruh mewarnai rambut mana warna putih. Diaspal juga mesti menderita dulu.
"Kau sok tahu sih, tapi pewarna rambutmu kayanya abal-abal," ujar Alex.
"Betul Bos, katanya, ini bertahan seminggu asal gak kena angin tornado dan kena hujan es batu," jawab Kenan ditambah candaan.
Alex tertawa. Perutnya yang kosong berasa dikocok.
"Bos itu bukannya Pak Hanry?" ujar Kenan menunjuk ke arah Pak Hanry.
Alex melirik ke arah Pak Hanry yang baru datang dengan anak buahnya. Dia terlihat arogan. Menghampiri Alex yang masih berdiri bersama Kenan.
"Anak bawang ada di sini?" ujar Pak Hanry.
"Anda bicara dengan siapa?" tanya Alex.
"Kau siapa lagi?" jawab Pak Hanry.
"Aku anak singa bukan anak bawang," jawab Alex.
"Jon Bos Alex itu mirip Si Bos waktu muda ya."
"Iya Son, bak pinang dibelah kapak."
"Jon yang disampingnya itu setan apa?"
"Penampakan kali inikan tanah kosong." Jon dan Son mengira Kenan penampakan penunggu tanah kosong gara-gara rambutnya putih.
"Ayo Kenan kita pergi tempat ini mulai panas," kata Alex.
"Mendung kok panas Bos, demam apa?" tanya Kenan belum konek.
"Mataharinya di depan kita, kau tak melihat," jawab Alex.
"Mana Bos, adanya juga Bos Hanry yang galak," jawab Kenan. Mendengar dibilang galak Pak Hanry melotot ke arah Kenan, begitupun Son dan Jon yang mengeluarkan goloknya.
"Bosnya galak anak buahnya kaya tukang jualan kuda poni," batin Kenan melewati dua orang anak buah Pak Hanry.
Alex meninggalkan tempat itu bersama Kenan. Sedangkan Pak Hanry masih berdiri di depan lahan terbengkalai itu.
"Bos apa mau dipanggilin pawang hujan biar daerah ini subur?"
"Atau Mbah dukun biar setan pada mudik mumpung mau lebaran."
"Otak kalian tak pernah encer, loading terus," sahut Pak Hanry.
Mereka berdua langsung terdiam.
"Pemilik lahan ini begitu alot melepasnya, cari tahu kenapa?" ujar Pak Hanry.
"Baik Bos."
Baik Pak Hanry dan Alex sama-sama mengincar tanah itu. Mereka ingin membeli tapi pemiliknya tak ingin menjualnya.
Alex dan Kenan sampai di rumah Keluarga Wijaksana. Di dalam Sophia dan keluarganya sudah menunggu kedatangan mereka di ruang keluarga. Paman Harun dan Bibi Fatimah sengaja menggelar karpet untuk buka puasa lesehan di bawah.
"Assalamu'alaikum," sapa Alex dan Kenan.
"Wa'alaikumsallam," sahut Sophia dan yang lainnya.
Sophia langsung menghampiri Alex. Mengambil tas di tangannya dan mencium tangannya.
"Mas, Kenan, ayo duduk!" ajak Sophia.
"Iya sayang," jawab Alex.
"Siap Nyonya Bos," sahut Kenan memanggil Sophia dengan sebutan Nyonya Bos.
Alex dan Kenan duduk lesehan di karpet. Mereka menunggu waktu berbuka bersama-sama sambil mengobrol santai. Alex memperkenalkan Kenan pada Paman Harun dan Bibi Fatimah meski dulu mereka sempat bertemu dengan Kenan saat acara pernikahan Alex dan Sophia.
"Jadi Kenan sekretarisnya Alex?" tanya Paman Harun.
"Iya Paman," jawab Kenan.
"Apa sudah punya cucu?" tanya Paman Harun.
Alex tertawa sambil menutup mulutnya. Begitupun dengan Sophia dan yang lainnya yang menahan tawa.
"Saya baru punya anak satu Paman," jawab Kenan.
"Anaknya sudah menikah?" tanya Paman Harun.
"Astaga bener kata Bos, aku dikira kakek-kakek," batin Kenan. Niat model terbaru biar keren malah berujung dipanggil kakek.
"Anak saya belum menikah," jawab Kenan.
"Masih perjaka atau duda?" tanya Paman Harun..
"Duda," jawab Kenan.
"Nada juga janda, mungkin cocok dengan anaknya," jawab Paman Harun.
"Ampun rambut putih malah dikira kakek, mana anakku dikira duda," batin Kenan.
"Iya mungkin," jawab Kenan.
Sophia dan yang lainnya hanya tersenyum. Kenan niat pedekate dengan Nada malah dianggap calon mertuanya.
"Paman, Kenan ini tua di luar muda di dalam," ujar Alex.
"Oh masih muda, Paman pikir sudah kakek-kakek," sahut Paman Harun.
"Rambutnya bukber di kutub utara jadi begini," jawab Alex.
"Kirain uban, ternyata bukan ya," sahut Paman Harun.
"Tadi saya cat dulu pakai cat tembok biar lebih murah," canda Kenan.
Alex dan yang lainnya tertawa kecil, lumayang ada hiburan di saat gabut.
Suara adzan magrib berkumandang. Sophia dan yang lainnya mulai berdoa dan berbuka bersama. Mereka juga sholat magrib berjamaah. Kemudian makan bersama.
"Bagaimana Kenan enak?" tanya Paman Harun.
"Enak Paman," jawab Kenan sambil makan.
"Yang masak Nada," sahut Paman Harun. Dia bisa membaca gerak gerik Kenan. Terlihat dengan jelas dia menyukai Nada.
"Makasih ya Nada dah dimasakin," kata Kenan.
Nada mengangguk malu-malu. Pipi kemerahannya mulai tampak.
Keluarga Sophia tampak welcome pada Kenan. Jalannya Kenan mendekati Nada akan berjalan mulus.