
"Kalau cinta kenapa kau tak perjuangkan?" tanya Sari.
"Perbedaan akidah yang tidak memungkinkan kami bersama," jawab Erisa. Tidak mungkin dia bersama di atas perbedaan akidah. Tak mungkin satu kapal dua nahkoda. Akan sulit mencapai tujuan yang diinginkan.
"Kalau begitu move on, cari pengganti Dokter Leon," sahut Sari. Dia ingin melihat Erisa bahagia. Tidak ingin melihatnya terus bersedih dengan cinta yang ada di dalam hatinya.
"Move on? Mencari gantinya?" tanya Erisa menoleh ke arah Sari.
"Iya, di dunia ini begitu banyak laki-laki, sangat mudah mencari gantinya," sahut Sari.
Erisa terdiam. Memikirkan ucapan Sari. Mungkin saja benar kata Sari sudah satu tahun. Tak ada kepastian. Haruskah Erisa terus menunggu.
"Ya udah ayo masuk, pengajiannya sudah mau dimulai," ucap Sari.
Erisa mengangguk. Dia dan Sari masuk ke dalam rumah. Tinggal anak-anak yang asyik main kelereng di luar. Sedangkan Dodo asyik makan.
"Do, di sana ceweknya cantik-cantik?" tanya Nesya.
"Cowoknya ganteng-ganteng dan pinter ngaji," jawab Dodo.
"Jadi gak ada cewek cantik, berarti Tara tetap tercantik di mata Dodo kan?" tanya Tara.
"Ehm ... gimana ya, Tara kasih Dodo snack yang banyak pasti Dodo bilang Tara tercantik," sahut Dodo. Tukang makan ya butuh sogokan.
"Kalau Nesya kasih segerobak coklat, cantikkan mana Tara atau Nesya?" tanya Nesya.
"Tunggu Dodo pikir dulu, enak snack atau coklat?" Dodo berpikir.
"Dodo Tara tambahin permen, gimana? Cantik Tara atau Nesya?" tanya Tara. Dia tahu Dodo tukang makan mana bisa menolak permen.
"Cantiknya seperti berat ke arah Tara," jawab Dodo.
"Kalau Nesya tambahin puding, cantikkan mana?" tanya Nesya.
"Tunggu Dodo pikir dulu, cantiknya imbang. Dodo susah menentukan," jawab Dodo mikirin coklat, snack, permen dan puding.
"Kalau Tara tambahin pop corn cantikan mana?" tanya Tara.
"Aduh Dodo memikirkan Tara lebih cantik," jawab Dodo berat ke Tara demi tambahan pop corn.
"Kalau Nesya tambahin es krim cantikkan mana?" tanya Nesya. Dia tidak mau kalah cantik di depan Dodo.
"Aduh Dodo susah memilih. Semua kandidat memberi uang suap," sahut Dodo. Bimbang mau pemilu malah disuap sana sini. Bingungkan milih calon yang mana.
"Kak Nesya cantik banget," ucap Arfan. Dia tergiur tawaran Nesya pada Dodo.
"Kak Tara super cantik," kata Ezar. Sama seperti Arfan, dia tergiur tawaran Tara pada Dodo.
"Yang bener?" tanya Nesya dan Tara.
"Iya," jawab Arfan dan Ezar.
Akhirnya Nesya dan Tara memberikan tawaran mereka pada Dodo berpindah pada Arfan dan Ezar. Mereka duduk di bawah pohon. Makan snack, coklat, permen, puding, pop corn dan es krim.
"Loh Nesya, Tara, kalian kenapa gak jadi kasih Dodo makanan?" tanya Dodo.
"Dodo plin plan," jawab Tara.
"Calon pemimpin yang tak punya pendirian," tambah Nesya.
"Iya kaya Arfan pilih Kak Nesya," jawab Arfan.
"Ezar tetep Dong dukung Kak Tara," tambah Ezar.
"Dodo bye!" kata Nesya dan Tara melambaikan tangan ke arah Dodo.
"Yah Dodo gak dapet apa-apa," keluh Dodo. Dia hanya bisa mengigit jari melihat mereka makan-makanan itu. Gara-gara galau menentukan pilihan dan plin plan, ujung-ujungnya gak dapat apa-apa. Yang untung Arfan dan Ezar. Mereka lebih cerdik dari pada Dodo.
Pengajian itu pun dimulai. Semua orang begitu mengikuti pengajian itu dengan tertib dan khusyuk. Meski pun banyak suara anak kecil dan bayi yang rewel. Tapi pengajian itu berjalan lancar.
Alex dan Sophia bersalaman dengan para tamu yang pulang. Mereka terlihat ramah dan santun menyapa mereka.
"Aiko padahal baru datang, udah mau pulang. Main dulu ya?" ucap Sophia.
"Pengennya Sophia, tapi perutku udah begah banget. Bawaannya pengen dekem di rumah," jawab Aiko sambil memegang perutnya yang sudah buncit. Aiko kini sedang hamil delapan bulan. Dia mulai malas ke luar rumah. Inginnya berustirahat dan bermalas-malasan.
"Sebulan lagi lahirankan?" tanya Sophia.
"Iya, makanya makin berat Sophia," jawab Aiko.
"Ya udah, yang penting ibu dan bayinya sehat ya," sahut Sophia sambil menggendong Aliza.
Aiko mengangguk. Kemudian ke luar bersama Frank.
"Sayang acaranya berjalan lancar," ucap Alex.
"Iya Mas," jawab Sophia.
Alex mengelus pipi Aliza putri kecilnya yang sedang tidur digendongan Sophia.
"Cantiknya putri Papa kaya Mamanya," puji Alex.
"Makasih ya sayang, hidupku jadi sempurna karena hadirmu dan kedua buah hati kita," ucap Alex.
Sophia mengangguk. Alex pun mencium kening Sophia dan mencium putri kecilnya.
"I Love You," bisik Alex.
"I Love You Too Mas," jawab Sophia. Tersenyum manis pada suaminya.
"Kelak kita akan menjadi tua dan anak-anak akan dewasa, semoga kita terus bersama hingga maut memisah dan bersama kembali di surganya Allah SWT," ucap Alex.
"Amin," jawab Sophia.
Alex merangkul Sophia tak lama Arfan berlari ke arah mereka.
"Papa! Mama!" panggil Arfan. Dia langsung memeluk Alex dan Sophia yang berdiri di depannya.
"Jagoan Papa udah gede," ucap Alex.
"Iya Papa, Arfankan udah punya dede Aliza," jawab Arfan.
Alex langsung mengangkat Arfan kemudian menggendongnya.
"Sayang berasa udah tua, kita sudah punya sepasang anak," ucap Alex.
"Iya Mas," jawab Sophia.
Mereka berdua berdiri di ruang tamu melihat semua anggota keluarga berkumpul dan bahagia. Tiada kebahagian yang paling sempurna selain berkumpul bersama keluarga.
***
Erisa naik bus hampir setiap hari. Dia berharap Dokter Leon akan naik bus yang dinaiki olehnya. Terkadang Erisa naik bus hingga ke Bandung sekedar melepas rindu pada Dokter Leon. Hari itu Erisa duduk sendirian melihat pemandangan dari kaca bus.
"Apa aku hanya akan menunggu tanpa kepastian, merindukan tanpa tahu di mana orang yang ku rindukan," batin Erisa.
Erisa terdiam di dalam bus. Dia tidak tahu harus dibawa ke mana hubungan mereka. Apa akan mengakhirinya dan melupakan atau tetap menunggu dan menunggu.
Erisa berjalan di tepi jalan. Pergi dari satu tempat ke tempat lainnya. Dia mengembalikan semua dompet yang telah dicurinya lengkap dengan isinya. Satu per satu ke alamat yang ada di kartu identitas mereka.
"Erisa!" Sari memanggil Erisa yang berjalan di depannya.
Erisa menoleh ke belakang. Dia melihat Sari membawa begitu banyak bawaan. Dia menggendong tas gunung di belakangnya dan tas jinjing berisi bekalnya.
"Sari," sahut Erisa.
Sari berlari ke arah Erisa. Dengan bersusah payah dengan beban di punggung dan tangannya.
"Huh ... huh ... huh ..." Sari mengatur nafasnya.
"Sari sudah tahu kau itu beban, kenapa tambah bawa beban," ujar Erisa.
"Ki-ta akan menyusul Dokter Leon jadi harus bawa beban," sahut Sari. Nafasnya masih tersengal-sengal.
"Menyusul Dokter Leon?" Erisa terperanjat dengan ucapan Sari.
"Iya, memang kau mau menunggu sampai nenek-nenek? Temui dia dan bicaralah! Jangan terus menunggu," ucap Sari. Dia tidak ingin melihat Erisa terus menunggu dan menunggu tanpa kepastian.
Erisa terdiam. Benar yang dikatakan Sari. Dia harus memastikan semuanya jangan terus menunggu.
"Ayo berangkat! Temani aku ke Garut!" ajak Erisa
"Oke, semangat!" sahut Sari.
Erisa langsung berjalan duluan sedangkan Sari di belakang karena keberatan.
"Erisa, tolong. Nyawaku tinggal sedikit lagi. Gak sanggup bawa lagi," keluh Sari.
"Kau ini ngapain bawa banyak-banyak barang, bikin susah sendiri," sahut Erisa.
"Tapi kita bisa kelaparan nanti kalau tak dibawa," sahut Sari. Susah payah membawa barang miliknya.
"Emang kita mau ke bulan takut kelaparan? Kita mau ke Garut Sari," jawab Erisa.
"Iya tapi aku takut tak ada makanan berlemak di sana," sahut Sari.
Erisa geleng-geleng. Dia tak habis pikir cuma makanan-makanan dipikirkan Sari.
"Seharusnya aku masukin kau ke pesantren bersama Dodo, biar kau kurusan," ujar Erisa.
"Dodo masih gemuk tuh di pesantren," jawab Sari.
Erisa menarik nafas panjangnya, masuk ke dalam bus disusul Sari yang terjepit di pintu bus belakang.
"Ayo Sari buruan!" titah Erisa.
"Er-Er-Erisa aku gak muat masuk bus," sahut Sari yang masih terjepit.
Erisa berbalik. Menatap Sari yang terjepit pintu bus bagian belakang karena tubuhnya yang gemuk di tambah ransel gunung dan tas di kedua tangannya.