
Shopia berjalan dengan tatapan wajah menggoda dan gerakan pinggul yang seksi. Menghempaskan rambut panjangnya. Tersenyum manis. Membuat Alex tak tahan. Atas bawah panas dingin melihat istrinya bak model di atas catwalk. Bening dan cantik. Jantungnya terus berdebar. Langkah kaki istrinya yang semakin mendekat membuatnya merinding. Sophia menghampiri Alex. Berhenti di depan keduanya.
"Assalamu'alaikum," sapa Sophia.
"Wa'alaikumsallam," sahut Alex yang berdiri tak jauh dari Deva.
Sophia menatap Deva. Wanita yang tadi menggoda suaminya bahkan terang-terangan dilakukan di depannya.
"Tadinya saya ingin makan siang romantis dengan suami, ternyata ada tamu. Sayang saya hanya bawa dua porsi," ujar Sophia.
"Tenang saja, aku sudah memasakkan makanan untuk Alex, karena cuma aku yang tahu makanan kesukaannya," ujar Deva sombong. Seolah hanya dialah yang memahami Alex.
Sophia tersenyum sesaat.
"Aku masak sup daging kesukaanmu Mas," ujar Sophia.
Terkejut. Saat Deva tahu ternyata Sophia tahu makanan kesukaan Alex. Dia pikir Sophia tak tahu apa-apa tentang Alex. Hanya Deva yang mengetahui segalanya tapi semua itu salah.
"Makasih sayang, dari tadi aku menunggumu," ujar Alex.
"Oya Nona Deva, sepertinya anda tak perlu memberi perhatian pada suami orang, karena suami saya sudah punya istri yang akan memperhatikannya," ujar Sophia.
Deva terdiam. Masih tak percaya apa yang dilihatnya.
"Satu hal lagi, apa di dunia ini hanya ada suami saya, sebagai lelaki yang tersisa untuk Nona goda?" tanya Sophia.
Deva terdiam.
"Jika benar, saya tidak akan tinggal diam. Ketika amanah yang dititipkan pada saya hendak dirusak orang," ujar Sophia.
Alex tercengang Sophia ternyata tak selemah yang dia pikirkan. Lembut di luar menyimpan kekuatan di dalam yang bisa sewaktu-waktu dikeluarkan.
"Model Internasional yang terhormat tak mungkin menggoda suami orang, di mana kelasnya? Apa hanya sebatas perebut suami orang?" ucap Sophia.
Deva masih terdiam. Dia tidak menyangka Sophia berani melawannya dari yang sebelumnya. Perkataannya lebih tegas dari yang sebelumnya saat dia mendatangi kantor Sophia.
"Jika managemen tempat Nona bekerja tahu ini, tentu Nona Deva tahu resikonya," ujar Sophia.
"Kau mengancamku?" tanya Deva.
"Saya tidak mengancam, tapi Nona tahu bagaimana jika karir anda hancur hanya karena masalah ini, bukannya karir sangat berarti untuk anda?" kata Sophia.
"Sophia?" Deva kesal. Dia hendak menampar Sophia namun Alex menahan tangan Deva. Dia mencengkram tangannya.
"Jika kau berani melukai istriku seujung rambutnya pun aku takkan memaafkanmu," ancam Alex.
"Alex kau lebih membelanya dari pada aku?" ujar Deva.
"Iya, aku akan membelanya, dia istriku," ucap Alex.
"Alex, apa tidak ada artinya aku di matamu lagi?" tanya Deva.
"Ke luar! Atau aku telpon sekuriti untuk mengeluarkanmu," ujar Alex.
Deva kesal. Mengambil bekalnya. Lalu berjalan ke luar dengan membanting pintu hingga terdengar kencang.
Braaak ...
Sophia bernafas lega wanita penggoda yang tak ada matinya untuk menggoda suaminya pergi. Deva sudah terang-terangan berani menggoda suaminya dan ingin merebut suaminya. Kali ini Sophia tidak bisa diam saja. Dia harus bisa lebih kuat dari pelakor itu.
Alex tersenyum memandangi wajah cantik istrinya. Dia terus menatap hingga membuat Sophia malu dan menurungkan pandangannya.
"Sayang, kau hebat juga, ini baru istriku," puji Alex.
Sophia tersenyum. Tiba-tiba tangan Alex memegang dagu Sophia.
"Jangan menunduk, aku ingin melihat wajahmu yang sudah menggodaku di siang hari seperti ini," ujar Alex.
Sophia mengangkat wajahnya. Mata emerald itu berbinar. Begitu indah dengan alis panjang ditambah pipi kemerahan, dan bibir seksi membuat Alex mabuk kepayang. Tanpa berkata lagi, Alex mencium Sophia. Sesaat mereka menikmati ciuman itu. Alex mendekap Sophia dalam pelukannya.
"Mas ...." ucap Sophia.
"Iya sayang?" tanya Alex yang masih memeluk Sophia menatap matanya.
"Jangan di sini," ujar Sophia.
Alex tertawa. Mendengar keluhan Sophia. Maklum Alex itu tak bisa membiarkan tangannya sopan dan terdiam. Sophia risih apalagi di kantor.
"Sialan nih tangan kebiasaan nakal, mesti digembok dulu biar diem," batin Alex.
"Sayang aku laper," keluh Alex. Sekalian mengganti topik pembicaraan. Malu banget atas tingkah nakalnya tadi pada Sophia.
"Aku siapkan ya, Mas mau makan di mana?" tanya Sophia.
"Lesehan enak, di karpet menghadap ke jendela sepertinya view-nya bagus," usul Alex.
"Seksi," puji Alex yang berjalan beriringan dengan Sophia.
Merinding mendengar pujian dari Alex. Maklum sang casanova gak bisa melihat ikan segar nganggur, apalagi ini istrinya. Pengen langsung nangkep dan digoreng tapi masih inget sumpahnya.
"Makasih Mas," sahut Sophia.
Keduanya duduk di karpet. Menata makanan di tengahnya. Alex juga mengeluarkan jus dan buah dari kulkas yang ada di dalam ruangannya. Dia duduk dengan Sophia melihat ke kaca. Pemandangan kota terlihat padat. Gedung-gedung tinggi dan perumahan padat penduduk terlihat dari kaca.
Sophia dan Alex mulai makan. Seperti biasa sup buatan Sophia memang juara. Bukan hanya sup tapi makanan apapun selalu enak dan nikmat saat dimakan. Itu karena Sophia sudah belajar memasak sejak kecil. Semenjak ibunya meninggal, Sophia tertarik untuk bisa memasak. Ayahnya menyewa koki khusus untuk mengajari Sophia memasak. Sampai sekarang Sophia selalu memasak apalagi untuk suaminya.
Alex menikmati semua makanan. Dia begitu lahap. Lupa kalau Sophia di depannya. Memperhatikan Alex makan. Tiba-tiba Alex menghentikan kunyahannya.
"Sayang ada apa? Aku belepotan ya makannya?" tanya Alex.
Sophia menggeleng.
"Aku ganteng ya?" tanya Alex.
Sophia menggeleng. Alex malu kirain Sophia terkesima dengan ketampanannya jadi memperhatikannya terus. Tapi ternyata salah.
"Enak gak Mas?" tanya Sophia.
"Enak sayang," puji Alex.
Sophia tersenyum. Dia senang Alex suka dengan sup yang dimasak olehnya. Tidak ada yang membuatnya senang saat suaminya memujinya karena pengabdiannya sebagai seorang istri.
Usai makan dan membereskan semuanya. Alex menarik Sophia ke pangkuannya duduk di sofa. Alex menatap mata emerald yang begitu indah. Mata keduanya bertautan.
"Sayang kalau begini aku tak mampu menahan, kau begitu menggoda," ujar Alex.
"Untuk apa ditahan, aku istrimu, halal untuk disentuh, sedangkan wanita di luar sana haram dan berdosa jika Mas menyentuhnya," ungkap Sophia.
"Tapi aku tidak sepertimu, kau terlalu baik," ujar Alex.
"Mas, semua orang pernah melakukan kesalahan, pada zaman Muhammad SAW, ada seorang sahabat Nabi yang bernama Umar Bin Khattab. Beliau orang yang sangat kejam dan membenci Rasullullah, tapi Allah memberinya hidayah, dia menjadi orang yang mendukung dan siap mati demi membela dan melindungi Rasulullah dan agama Allah," ujar Sophia. Dia juga menceritakan berbagai kisah hijrah orang yang dulunya pendosa, kini menjadi penyiar agama dan berjalan di jalan Allah SWT.
"Allah SWT Maha Pengampun asalkan kita mau bertobat dan tidak mengulanginya lagi," kata Sophia.
Cup
Satu ciuman mendarat di pipi Sophia.
"Terimakasih Ustadzah Sophia," ujar Alex.
Sophia tersenyum.
"Kalau malam ini kita ...," ujar Alex ragu. Meminta haknya sebagai suami.
Sophia langsung mendekatkan dahinya di dahi Alex.
"Aku siap Mas," jawab Sophia.
Tangan Alex bergerak memeluk Sophia. Dia tak pernah merasakan perasaan yang berbeda seperti ini. Cinta yang tulus dari Sophia meluluhkan hatinya. Meredam nafsunya. Sophia menjadi bidadari surga yang dikirim untuknya, mengetuk pintu hati menuntunnya ke jalan yang benar.
***
Malam itu Alex duduk di ranjang. Menunggu Sophia ke luar dari toilet. Di dalam sejarah pengelanaannya menjelajahi berbagai wanita. Baru kali ini Alex grogi. Bulu kuduknya merinding. Sesekali mengelap keringat di dahinya. Alex merasa seperti angkatan perang yang akan berperang di medan perang. Tegang dan membuatnya resah.
Alex berdiri. Mengambil handphone-nya. Membaca cara-cara menjalani malam pertama sukses tanpa membuat wanita menangis.
"Ampun, casanova kok ilang semua bakatnya, masa gue baca beginian," batin Alex.
"Gimana kalau Sophia nanti gak nyaman? Atau Sophia kesakitan?" ucap Alex kebingungan. Semua pengalaman yang selama ini melumpuhkan banyak wanita menghilang. Tak ada satu pun nyangkut di otak. Tiba-tiba polos.
"Tutorial cara belah durian, ya pakai kapak," ujar Alex baca review mengenai belah durian.
"Kenapa jadi ke durian gini, ini mah aku juga ngerti," ucap Alex.
Kembali ke layar. Mencari cara-cara di berbagai blog. Termasuk makan pete dan sambal agar kuat dan sehat semalaman.
"Kuat sih semalaman tapi kasihan Sophia bisa pingsan, belum lagi perut mules, enaknya di mana coba," ujar Alex yang membaca berbagai tutorial. Alex ingin memberikan yang terbaik di malam pertama mereka yang sempat tertunda.
"Sophia lama juga," batin Alex tak sabaran. Dia meletakkan handphone-nya di atas laci. Kemudian berjalan ke toilet. Dia coba mengetuk-ngetuk pintu toilet.
"Sayang ... sayang ...," panggil Alex.
Belum ada jawaban dari dalam. Alex jadi mencemaskan Sophia. Dia terus mengetuk.
"Mas ...," teriak Sophia dari dalam.
Alex panik mendengar Sophia berteriak. Dia berusaha membuka pintu toilet yang terkunci dari dalam.