
"Sophia!" panggil Aiko kembali.
"Ee ..., kami ingin bersilaturahmi dengan Pak Daren Liew," ujar Sophia.
"Untuk tujuan apa?" bentak lelaki itu. Matanya melotot ke arah Sophia dan Aiko. Sedangkan tangannya mengesekkan golok dengan telapak tangan.
"Sophia serem," bisik Aiko. Dia benar-benar takut. Melihat orang yang mirip tingkah lakunya dengan seorang psikopat menakutkan.
"Begini Pak, saya dan Pak Daren sudah ada janji untuk bertemu," ujar Sophia menjelaskan. Dia berusaha tenang. Mungkin saja apa yang dipikirkan Aiko tak seperti kenyataannya.
"Oh anda Nona Sophia Thalia?" tanya lelaki itu.
"Iya Pak, betul," sahut Sophia.
"Kebetulan saya sendiri Daren Liew," jawab lelaki itu yang masih menegang golok tajamnya.
"Oh, Alhamdulillah," sahut Sophia lega. Ternyata benar, apa yang dipikirkan Aiko tak seseram kenyataannya.
"Iya sih Pak, tapi bisakah goloknya diamankan? Saya ngilu melihatnya," ujar Aiko yang masih takut melihat golok tajam itu. Lehernya terasa tertarik.
"Eh iya, maaf. Kebiasaan kalau ke ladang mesti bawa golok buat bebersih, tadi goloknya tumpul baru saja diasah," sahut Pak Daren.
Sophia dan Aiko mengangguk dan tersenyum. Wajah tegang keduanya sudah mereda. Semua hal buruk yang dipikirkan sirna sudah. Hanya kesalahfahaman semata.
Pak Daren mengajak Sophia dan Aiko masuk ke dalam rumahnya. Di dalam Pak Daren tinggal bersama istri dan kedua anaknya yang masih kuliah. Sophia dan Aiko duduk bersama dengan Pak Daren di ruang tamu. Mereka mulai membicarakan masalah yang ada.
"Jadi maksud kedatangan saya ke sini untuk membicarakan soal tanah yang sudah diwakafkan kakek Pak Daren untuk masjid," ujar Sophia.
"Soal itu, saya memang ingin mengambil tanah milik keluarga kami. Wajarkan Nona?" ucap Pak Daren.
"Gak wajarlah Pak, tanah itu sudah dibangun masjid di atasnya," sahut Aiko kesal. Dia tak habis pikir ada orang ingin mengambil tanah yang sudah diwakafkan. Namun Sophia memegang tangan Aiko. Meredam emosinya agar lebih bersabar.
"Begini Pak, saya tidak tahu persis seperti apa dulu kakek bapak mewakafkan tanah itu. Tapi apakah bapak memiliki sertifikat kepemilikan tanah itu?" tanya Sophia.
"Punya, tanah itu baru kami alih nama sertifikatnya lima tahun lalu," jawab Pak Daren.
"Apa? Kalau sertifikat itu masih atas nama keluarga Pak Daren, lalu bagaimana ceritanya tanah itu diwakafkan?" batin Sophia berpikir keras. Dia tidak tahu persis cerita di masa lalu.
"Dengan kata lain dulu tanah yang diwakafkan itu tanpa memberi sertifikat? Begitu ya Pak?" tanya Sophia.
"Saya tidak tahu urusan kakek saya, pihak keluarga juga tidak tahu soal kakek mewakafkan tanah itu. Yang jelas tanah itu masih atas nama keluarga saya," jawab Pak Daren.
"Apa mungkin dulu belum dibuat sertifikat? Dan baru setelah orangtua Pak Daren sertifikat itu dibuat? Atau dulu saat mewakafkan, kakek Pak Daren tidak memberikan sertifikatnya," batin Sophia yang masih memikirkan permasalahan itu.
"Saya dengar bapak ingin menggusur masjid yang berdiri di atas tanah milik keluarga anda?" tanya Sophia.
"Saya tidak tahu menahu soal itu, saya hanya menjual tanah itu pada seorang pengusaha properti bernama Luis Aragones, beliaulah yang mungkin hendak menggusur masjid itu," jawab Pak Daren.
"Luis Aragones?" Sophia dan Aiko terkejut saat nama itu disebut. Mereka mengenal siapa pengusaha properti tersebut.
"Iya, sebulan yang lalu saya menjual tanah itu karena saya butuh biaya untuk kuliah kedua anak saya," sahut Pak Daren.
Sophia dan Aiko mulai paham duduk perkaranya. Mereka mengerti kenapa masjid mau digusur karena pemilik tanah sudah menjualnya pada pengusaha. Pagi itu Sophia dan Aiko berbincang sebentar lalu pamit. Mereka masih harus bertemu pengusaha properti itu.
Di perjalanan Sophia masih terdiam memikirkan tanah itu. Aiko yang melihat Sophia terdiam, mengajaknya bicara.
"Sophia apa kau memikirkan Luis Aragones?" tanya Aiko.
"Iya, akan alot jika kita berbicara dengannya, karena sudah berhubungan dengan bisnis," jawab Sophia.
"Heh, benar juga," sahut Aiko. Tak bisa dipungkiri bisnis dan kepentingan umum akan berbeda hitungannya. Tak akan mudah untuk berdiskusi dengan kepentingan bisnis yang hitungannya materi.
Tak lama sampai di Perusahaan Alison Barnett. Sebuah perusahaan properti cukup besar di kota Jakarta. Sophia dan Aiko masuk ke dalam perusahaan dan bertemu dengan pemimpin perusahaan tersebut. Karena nama Sophia begitu familiar dikalangan pebisnis tak sulit untuknya bertemu dengan Luis Aragones. Sophia dan Aiko duduk di ruang meeting bersama Luis. Mereka mulai berbincang di ruangan itu.
"Tumbeng Presdir Sophia datang menemui saya, bukannya dulu anda sangat menghindari saya?" ujar Luis.
"Sepertinya anda salah tafsir. Dari dulu kita tidak ada hubungan bisnis wajar kalau saya tidak harus menerima ajakan anda nongkrong bareng," jawab Sophia. Dulu Luis memang beberapa kali mengajak Sophia untuk nongkrong bersamanya dan teman-teman bisnis lainnya untuk sekedar minum di bar miliknya. Namun Sophia selalu menolaknya secara halus.
"Anda sangat pintar. Kedatangan saya memang ingin membahas masalah masjid di Jalan Jayakarsa," jawab Sophia.
Luis langsung tahu arah pembicaraan Sophia ke mana. Dia tersenyum licik menatap Sophia yang begitu cantik dimatanya.
"Bisa kita bicara berdua?" tanya Luis.
"Bicara berdua?" tanya Sophia balik. Dia heran Luis meminta bicara berdua dengannya.
"Iya, jika anda ingin bicara dengan saya, harus berdua. Kalau tidak tinggalkan tempat ini," jawab Luis.
"Sophia," bisik Aiko. Dia khawatir pada Sophia. Lelaki itu sepertinya mengincar Sophia.
"Aiko tunggu aku di luar," pinta Sophia.
"Tapi?" tanya Aiko ragu.
Sophia hanya memberi kode dengan memegang tangan Aiko. Meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja.
"Oke," sahut Aiko. Kemudian Aiko ke luar dari dalam ruangan. Tinggal Sophia dan Luis yang duduk berdua berseberangan tempat duduk terhalang meja panjang.
"Baik, apa yang anda inginkan dari masalah ini?" tanya Sophia dengan tatapan dingin.
"Sophia Thalia, kau tahu bisnis is bisnis. Tanah itu mau aku bangun apartemen yang menjulang. Keuntungan yang akan ku dapatkan sangat banyak. Tak mungkin aku akan menghentikan penggusurannya," ujar Luis.
"Tapi di atas tanah itu masjid, tempat untuk ibadah, di mana hati nurani anda," sahut Sophia tegas.
"Nurani? Jika bisnis dengan cara seperti itu, aku takkan pernah kaya, lagi pula itu hakku. Aku sudah membelinya dengan sah dari pemiliknya langsung," jawab Luis.
"Baik saya tak ingin berdebat panjang. Berapa yang anda minta untuk menghentikan penggusurannya?" tanya Sophia langsung tanpa harus berdebat panjang. Sudah jelas Luis tidak akan mundur.
"10 Trillion," ucap Luis.
"Apa? Itu banyak sekali," ujar Sophia terkejut. Kisaran tanah di sekita Jalan Jayakarsa tak semahal itu. Paling 5 Milyar juga sudah dapat. Sophia tak habis pikir Luis sengaja mengambil keuntungan demi kepentingan pribadinya.
"Kenapa? Aku sudah terlanjur bekerjasama dengan investor untuk pembangunannya. Tentunya aku tak mau rugi. Lagi pula jika apartemen itu berdiri keuntunganku sangat banyak. Letaknya stategis," ujar Luis menekankan.
Sophia terdiam. 10 Trillion bukan uang sedikit. Dia harus menghitung seluruh uang yang dimiliki jika bernegoisasi sekarang.
Luis menghampiri Sophia. Berdiri di belakangnya. Dia menyondongkan tubuhnya ke bawah. Ada sedikit jarak antara tubuh Sophia dengannya.
"Jika kau membayar dengan tubuhmu, aku akan melepas tanah itu," bisik Luis.
Sophia masih terdiam. Ucapan Luis tak digubris. Namun tangan Luis mulai kurang ajar. Merayap di bahu Sophia. Langsung Sophia berdiri dan menjauh.
"Kedatangan saya ke sini untuk bernegoisasi bukan memenuhi fantasi ranjang anda," tegas Sophia kesal sambil menunjuk ke muka Luis.
Luis tersenyum tipis melihat Sophia marah.
"Sophia-Sophia, aku salah satu lelaki yang suka keindahan apalagi yang masih tertutup, tentunya membuatku penasaran," ujar Luis.
"Stop! Anda seorang pemimpin perusahaan bukan orang cabul di jalanan. Bersikaplah yang sopan!" tegas Sophia.
"Sopan? Apa suamimu sopan? Bukankah dia sering mem4sukkan itunya ke setiap lub-" ucap Luis terhenti saat Sophia menamparnya.
Plaaak ...
"Sophiaaa!" Luis kesal sambil memegang pipinya yang ditampar Sophia.
Sophia tak gentar. Dia menatap Luis dengan tatapan dingin.
"Aku akan membayar sesuai permintaanmu, tapi jangan merendahkan suamiku," ujar Sophia. Kemudian ke luar dari ruangan itu dengan sangat kecewa. Di luar Aiko tegang menunggu Sophia. Saat Sophia ke luar dia hanya diam. Tak bicara sepatah kata pun. Begitu pun saat di mobil. Sophia hanya diam. Membuat Aiko cemas.
"Apa yang terjadi pada Sophia?" batin Aiko. Dia yakin sudah terjadi sesuatu. Tak mungkin Sophia terdiam.