Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Tuan Matteo



Setelah sarapan Harry pergi ke perusahaan miliknya. Pagi itu dia terlihat senang. Semalam orang suruhannya pasti sudah melenyapkan Alex. Pak Harry duduk di kursi dengan arogan. Tangannya mulai membuka laptop pribadinya. Menyalakan layarnya. Tiba-tiba handphone miliknya berdering. Pak Harry melihat layar handphone-nya, sebuah panggilan dari Ketua Gengster Serigala. Bergegas lelaki berjambang itu mengangkat telponnya.


"Hallo Bos Harry."


"Hallo, pasti Ketua ingin mengabarkan keberhasilan misi kaliankan?" tanya Pak Harry.


"Sorry Bos Harry, semuanya di luar rencana."


"Apa yang di luar rencana?" tanya Pak Harry bingung.


"Semalam kami tidak berhasil menjalankan misi, justru anak buahku masuk bui."


"Apa? Kok bisa? Kalian sangat handal?" Pak Harry terkejut. Selama ini Gengster Serigala tak pernah gagal menjalankan tugasnya. Apalagi ini tugas yang sangat enteng.


"Semalam anak buahku sudah hampir melumpuhkan Alex namun warga sekitar keburu datang menangkap mereka semua."


"Sial!" Pak Harry langsung menutup telponnya. Dia sangat marah. Tangannya mengepal. Seharusnya dia bisa membuat Alex terluka agar tak datang menemui Tuan Matteo justru dia baik-baik saja.


"Seharusnya aku lakukan sendiri!" batin Pak Harry. Dia menghembuskan nafas gusarnya. Menurunkan emosinya yang sempat meledak-ledak.


***


Pagi itu Gavin sudah berpakaian rapi mengenakan kemeja putih celana bahan berwarna hitam dan sepatu hitam. Gavin menyiapkan beberapa surat lamaran kerja. Dia ingin melamar kerja dan mengikuti tes di beberapa perusahaan. Sedangkan Dodo mengenakan setelan jas rapi dan kaca mata hitam layaknya bos besar.


"Ndut mencolok banget penampilanmu, kok kaya aku kacungmu?" gumam Gavin.


"Om namanya mau nyari kerja ya harus meyakinkan, begini baru niat nyari kerjanya," sahut Dodo.


Gavin memperhatikan sepatu kulit yang dipakai Dodo. Roman-romannya dia hafal sepatu itu punya siapa.


"Gendut itu sepatu gue!" pekik Gavin. Tak terima sepatu kulit kesayangannya dipakai Dodo.


"Sepatu milik Dodo gak muat Om, dua hari terakhir ini Dodo naik lima kilo Om, jadinya pakai sepatu Om," jawab Dodo.


"Lepas gak? Itu sepatu dari seseorang Ndut," ujar Gavin.


"Mantan pacar Om?" tanya Dodo.


"Iya, hadiah ulang tahunku," jawab Gavin.


"Namanya mantan tempatnya di tempat sampah Om, nah sepatu ini berarti dah dibuang dong kaya mantan, jadi sekarang milik Dodo sang pemulung sultan," ucap Dodo.


"Bisa aja lo Ndut, oya kok muat?" tanya Gavin.


"Dodo ganjel pakai daleman milik Om," celetuk Dodo.


"Apa? Lo ganjel pakai apa?" Gavin melotot ke arah Dodo. Siap-siap menjitak kepala plontosnya yang mengkilap.


"Pakai daleman gambar keropi Om, lucu deh, gak nyangka Om Gavin demen keropi," ujar Dodo.


Cetak ....


Gavin melayangkan ulekan tangannya di kepala plontos Dodo. Akhirnya Gavin lega menyalurkan kekesalannya.


"Om, kalau kaya gini Dodo gak bisa melamar kerja dong," lirih Dodo.


"Siapa suruh macem-macem, awas aja ngambilin daleman gue lagi! Gue jitak lebih dari itu," ucap Gavin.


Dodo tersenyum tak berdosa. Padahal dia make kaos dalam milik Gavin juga bergambar Barbie.


"Kenapa lo senyum Ndut?" tanya Gavin curiga.


"Om suka Barbie ya?" tanya Dodo.


Gavin mendekati wajah Dodo. Menatap matanya.


"Lo ngambil kaos dalem gue juga?" tanya Gavin.


"Gak nyangka Om maco di luar hello kitty di dalam, he he he," gumam Dodo sambil tersenyum senang. Bisa meledek Gavin.


Gavin langsung bersiap menjitak Dodo kembali.


"Om nanti Dodo bilang Kak Humaira, Om Gavin sangat baik, berbudi luhur, rajin menabung, sholat lima waktu dan berdzikir semalaman," ujar Dodo cari aman.


"Nah gitu dong, Humaira harus tahu pesona dan talenta Om tampanmu ini," ucap Gavin sombong.


"Siap Om," sahut Dodo.


Gavin dan Dodo pun ke luar dari kamar. Berjalan menuju tangga dengan gagahnya. Bak Bos dan kacung. Dodo Bos dan Gavin kacungnya.


"Gavin mau ke mana?" tanya Kakek David menghampiri keduanya.


"Mau ngelamar kerja Kek sambil tes di beberapa perusahaan," jawab Gavin.


"Iya Kek, biar Om Gavin gak jadi pengangguran yang nyusahin negara Kek," tambah Dodo.


Kakek tertawa. Melihat mereka berdua.


"Kenapa kau tak kerja saja di perusahaan kita?" tanya Kakek David.


"Aku gak mau ditindas Kak Alex, diakan Bos di sana, lebih rela ditindas oranglain Kek, dari pada Kak Alex," jawab Gavin.


"Intinya Om Gavin tidak ingin KKN Kek, nanti dia malas kalau kerja di perusahaan sendiri, bangun aja susah Kek," ujar Dodo.


"Benar juga kamu Do, kalau Gavin kerja sama orang akan lebih profesional," sahut Kakek David.


"Yaelah Ndut, bongkar terus kebiasan burukku, awas aja di depan Humaira kau begitu, gue jitak sampai pagi," ancam Gavin.


"Tenang Om, asal makan Dodo terpenuhi semua bisa dibicarakan sesuai kemauan Om," ucap Dodo.


Gavin menggeleng. Kenapa juga dia bisa mengasuh bocah gendut kaya Dodo.


"Ya udah Kek, Gavin berangkat dulu, doain ya Gavin dapet kerja," ucap Gavin kemudian mencium tangan kakeknya.


"Dodo pamit dulu Kek, doain Dodo bisa ngasuh Om Gavin," ucap Dodo gantian mencium tangan Kakek David.


"Kakek akan selalu mendoakan kalian, semangat," ucap Kakek David.


"Semangat!" sahut Gavin dan Dodo mengangkat tangan kanan ke udara tanda semangat.


Keduanya turun ke lantai bawah. Berjalan bersama menuju ruang tamu. Tak sengaja bertemu Ibu Marisa yang sedang membaca majalah di sofa.


"Mau ke mana kau Gavin?" tanya Ibu Marisa.


"Nyari kerja Bu," jawab Gavin.


"Aku ingin punya pekerjaan biar bisa menafkahi keluargaku nantinya," jawab Gavin.


Selama ini Gavin selalu mengandalkan kekayaan kakeknya tapi kali ini dia ingin ke luar dari zona nyaman. Mencari kerja demi menafkahi anak dan istrinya kelak dengan hasil keringatnya sendiri.


"Harta Keluarga Sebastian itu banyak, gak akan habis tujuh turunan," ujar Ibu Marisa.


"Kita gak tahu nasib ke depan Bu, mana tahu perusahaan bangkrut, aku tidak ingin berpangku tangan," jawab Gavin.


"Bodoh, nikah aja sama cewek kaya raya beres, kenapa mesti repot-repot kerja," ucap Ibu Marisa.


"Laki-laki harus bekerja Nek, kalau pengangguran nanti jadi kacung di rumah sendiri," jawab Dodo.


"Bocah gendut pinter juga mulutmu itu bicara," gumam Ibu Marisa.


"Dodo aja ngerti, apalagi aku Bu, laki-laki memang harus bekerja, jadi kepala keluarga yang bertanggungjawab atas segalanya," ujar Gavin.


"Dasar bodoh, sudah kaya kok mau susah-susah," ujar Ibu Marisa.


Gavin tak membalas celotehan ibunya. Dia tahu ibunya memang seperti itu. Dia hanya memikirkan harta tanpa harus bekerja. Berbeda dengan kakeknya ataupun Alex yang giat bekerja. Alex meskipun dulu terkenal sebagai casanova tapi soal pekerjaan dia bisa diandalkan.


"Aku berangkat dulu Bu, assalamu'alaikum," ucap Gavin.


Ibu Marisa tak membalas salam dari Gavin. Dia fokus kembali melihat majalah di tangannya. Membiarkan Gavin pergi meninggalkan tempat itu.


***


Alex dan Sophia sarapan pagi di ruang makan yang ada di villa yang disewa olehnya. Sophia memasak sendiri semua sarapan untuk mereka berdua. Alex begitu lahap menghabiskan masakan buatan istri tercintanya. Sesekali Alex mengecek handphone miliknya. Dia meminta Kenan memantau Instagram milik Tuan Matteo. Kebetulan Kenan memang berteman dengan Tuan Matteo di Instagram sedangkan Alex tidak. Sulit untuk bisa di follback Tuan Matteo. Tak sembarang orang bisa melihat Instagram miliknya.


Tak lama sebuah pesan WhatsApp dari Kenan.


[Assalamu'alaikum


Bos aku tahu di mana Tuan Matteo menginap]


Alex mengetik ...


[Di mana?]


Send


Centang biru


Kenan mengetik ...


[Di Hotel Anseley]


Alex berpikir Hotel Anseley itu tempat Kenan menginap. Dia bisa pergi ke tempat itu untuk bertemu Tuan Matteo meskipun dengan cara menemuinya dadakan.


Alex mengetik ...


[Aku ke sana Kenan]


Send


Centang biru


Kenan mengetik ...


[Oke Bos]


Alex mengakhiri pesan itu. Dia berpikir untuk pergi menemui Tuan Matteo pagi ini sebelum dia pergi lagi. Akan sulit baginya bertemu lelaki kaya itu.


"Sayang aku ada urusan bisnis, nanti aku menyusul ke tempat acara itu ya," ujar Alex.


"Iya Mas, hati-hati ya, kalau ada apa-apa telpon Sophia," ucap Sophia.


"Iya sayangku," jawab Alex.


Setelah sarapan Alex mengendarai mobil Lamborghini berwarna hitam miliknya. Dia menuju hotel tempat Kenan menginap.


Satu jam perjalanan sampai juga di Hotel Anseley. Kenan sudah menunggu Alex di lobi utama hotel itu. Segera Alex menghampiri sekretarisnya itu.


"Assalamu'alaikum," sapa Alex.


"Wa'alaikumsallam," sahut Kenan.


"Kau yakin Tuan Matteo menginap di sini?" tanya Alex.


"Iya Bos," jawab Kenan.


"Kira-kira dia sudah turun atau masih di atas?" tanya Alex.


"Masih di atas, setelah subuh Kenan berdiri di sini untuk memastikan Tuan Matteo belum turun," ujar Kenan.


"Pintar, kau bisa diandalkan Kenan," puji Alex.


"Kenan, sekretaris multitalenta Bos," puji Kenan pada dirinya sendiri.


Alex menggeleng. Bagaimana bisa punya sekretaris kaya es campur segala bisa namun kadang bikin suasana berasa kaya lawakan.


"Terus kita akan menunggu?" tanya Alex.


"Seharusnya sih Tuan Matteo turun pagi ini, aku dengar dari perbincangan bodyguard-nya dia akan menghadiri sebuah acara," jawab Kenan.


"Acara apa?" tanya Alex.


"Sayangnya tidak bisa nguping sepenuhnya Bos, saya dikira banci omprengan Bos ngikutin cowok," ujar Kenan.


"Informasi sepotong, yaudah, yang penting kita tahu Tuan Matteo akan turun," jawab Alex.


Mereka berdua duduk di lobi sambil mempertajam mata mereka pada setiap orang yang lulu lalang. Tak lama ke luar Tuan Matteo dan bodyguard-nya dari dalam lift. Mereka berjalan menuju pintu ke luar hotel.


"Bos Tuan Matteo," ucap Kenan menunjuk ke arah Tuan Matteo dan bodyguard-nya.


"Iya bener, ayo kita samperin Kenan," jawab Alex.


Kenan mengangguk.


Mereka berdua berdiri. Berjalan menghampiri Tuan Matteo. Kemudian memblokir jalannya dengan berdiri di depannya.


"Tuan Matteo," sapa Alex tersenyum.


Bodyguard Tuan Matteo langsung melindungi Bosnya berusaha berdiri di samping Bosnya.