
"Kau harus tahu saat kau menceraikanku, ternyata aku hamil," jawab Nenek Carroline.
"Apa? Kau hamil Carroline?" Kakek David terkejut. Dia tak menyangka Carroline hamil saat dia menceraikannya.
"Aku juga tidak tahu kalau aku sedang hamil, setelah kita bercerai aku baru tahu kalau aku hamil," jawab Nenek Carroline.
Kakek David terdiam. Memegang dadanya. Apa yang didengar olehnya sangat mengejutkannya.
"David kau tak apa-apakan? Jangan tinggalkan aku lagi, kau harus menebus kesalahanmu padaku," ujar Nenek Carroline panik melihat Kakek David memegang dadanya.
Kakek David mengatur nafasnya. Benar juga dia belum menebus semua kesalahannya pada Nenek Carroline. Dia tidak boleh mati. Ada anak yang belum ditemuinya. Kakek David ingin bertemu dengannya.
"Aku baik-baik saja Carroline," jawab Kakek David yang mulai membaik.
"Kalau kau mati, aku akan membencimu seumur hidupku," ujar Nenek Carroline.
"Berarti aku harus hidup agar kau tidak membenciku, iyakan?" tanya Kakek David.
"Iya David, aku akan menikahimu, kau tidak boleh menolak," jawab Nenek Carroline.
"Kau melamarku Carroline?" tanya Kakek David.
"Iya, agar kau membayar kesalahanmu padaku, kau harus membahagiakanku, disisa hidupku David," jawab Nenek Carroline.
"Jangan melamarku," ujar Kakek David.
Nenek Carroline langsung cemberut. Dia mengerucutkan bibirnya. Merasa ditolak Kakek David.
"Kau marah?" tanya Kakek David.
"Kau menolakku," jawab Nenek Carroline.
Kakek David tersenyum. Dia senang melihat Nenek Carroline marah.
"Aku yang akan melamarmu, maukah kau menikah denganku Carroline?" tanya Kakek David.
"Kau tidak bohongkan David?" tanya Nenek Carroline.
"Aku mencintaimu, dari dulu," jawab Kakek David.
"Aku juga mencintaimu David, tak pernah berubah," ucap Nenek Carroline.
Mereka berdua tersenyum. Berbunga-bunga. Cinta bersemi kembali setelah mereka jadi lansia. Namun cinta tak terbatas ruang dan waktu. Begitupun dengan cinta Kakek David dan Nenek Carroline.
***
Pagi itu Nada sudah bersiap. Dia duduk di depan meja riasnya. Dia menatap wajahnya di depan cermin. Melihat dirinya yang kini harus merelakan semuanya berakhir. Kisah cintanya dan biduk rumah tangga yang sudah dijalani selama tujuh tahun. Masa-masa indah itu tak tersisa lagi. Hanya menyisakan luka mendalam.
Air mata Nada sudah mengering. Tak ada lagi tangisan untuk lelaki yang selama ini begitu dicintainya. Semua hanya kepahitan yang dia tinggalkan. Seakan tujuh tahun itu tak pernah ada dan berarti untuknya.
Sophia masuk ke dalam kamar. Menghampiri Nada yang masih duduk di meja riasnya. Sophia memeluk Nada dari belakang.
"Kak sudah siap?" tanya Sophia.
"Iya, aku sudah siap," jawab Nada.
"Aku dan Mas Alex akan menemani kakak," ujar Sophia.
"Makasih ya Sophia," ucap Nada.
Sophia mengangguk. Melepas pelukannya. Mengajak Nada ke luar dari kamarnya. Mereka menuruni tangga. Di bawah Paman Harun, Bibi Fatimah dan Alex sudah menunggunya.
Nada menghampiri Paman Harun dan Bibi Fatimah. Mencium tangan mereka.
"Doain ya Paman, Bibi, agar proses perceraiannya lancar," ujar Nada.
"Iya Nada, semoga ini jadi awal kebahagiaanmu," ujar Paman Harun.
"Bibi doain semoga kau mendapatkan yang terbaik," ucap Bibi Fatimah.
"Amin," sahut Nada, Sophia dan Alex.
"Aku titip Nesa ya Paman, Bibi," ucap Nada.
Paman Harun dan Bibi Fatimah mengangguk. Mereka akan menjaga Nesa di rumah tidak ikut ke Pengadilan Agama. Hanya Alex dan Sophia yang mengantar Nada.
"Assalamu'alaikum," ucap Nada, Sophia dan Alex.
"Wa'alaikumsallam," sahut Paman Harun dan Bibi Fatimah.
Nada pun melangkahkan kakinya ke luar. Memberanikan dirinya ke luar dari zona nyamannya selama ini. Dia siap dengan status barunya yang nanti akan disandang olehnya. Apapun itu dia sudah memikirkan matang-matang, berpisah sudah jadi keputusan terakhirnya.
Mereka bertiga pergi ke pengadilan agama. Nada hanya diam disepanjang perjalanan. Meskipun mulut berkata siap tapi hati tetap saja menyimpan luka.
Sampai di Pengadilan Agama, Nada turun bersama Sophia sedangkan Alex belakangan karena ada yang menelponnya.
Alex berdiri di samping mobilnya. Dia sedang berbicara dengan Kenan.
"Masa? Kau tak punya uang sama sekali?" tanya Alex.
"Iya Bos, ini aja lagi ngamen," jawab Kenan.
"Miris banget nasibmu," sahut Alex.
"Gajian masih lama, duit dipegang istri semua Bos," ujar Kenan.
"Bukannya kau mau cerai dengannya?" tanya Alex.
"Iya Bos, tapi aku harus punya bukti perselingkugannya dulu, baru menalaknya," jawab Kenan.
"Sebenarnya aku kasihan sama anakku Bos," ujar Kenan.
"Jadi korban perceraian ya," sahut Alex.
"Iya, apa aku bertahan demi anak ya Bos?" tanya Kenan.
"Sabar, pikirkan matang-matang keputusanmu Kenan, udah dulu aku lagi ada urusan penting," ucap Alex.
"Siap Bos," jawab Kenan.
Alex menutup telponnya. Dia berjalan menuju koridor Pengadilan Agama. Tak sengaja berbarengan dengan Deva dan Hanan.
"Pasangan yang cocok, sama-sama tak tahu malu dan pengkhianat," ujar Alex.
"Alex, apa maumu? Aku sudah bahagia, kau mengusik kebahagiaanku?" tanya Deva.
Alex tersenyum licik. Jijik dengan dua pasangan di depannya.
"Kebahagianmu dibangun dari penderitaan seorang istri yang tersakiti, Deva kau akan menyesal," ujar Alex.
"Jangan sok suci Alex, siapa dirimu sebelumnya? Kau lupa?" ujar Hanan mengingatkan Alex tentang masa lalunya.
Alex mengepalkan tangan. Ingin rasanya memukul lelaki tak tau diri di depannya. Namun dia yakin ini akan menambah masalah. Proses perceraian Nada dan Hanan akan tertunda. Alex menurunkan emosinya. Berpikir bijak dalam menghadapi dua ular di depannya.
"Lebih baik mantan lelaki brengsek, dari pada mantan lelaki alim," sindir Alex.
"Kau!" Hanan emosi.
"Selamat atas kehancuran yang kalian gali sendiri," ucap Alex.
"Kau keterlaluan Alex," ujar Deva marah.
"Tak lama lagi kalian akan menangis dan memohon ampun," gumam Alex kemudian meninggalkan mereka berdua. Berjalan memasuki ruang sidang.
"Sudahlah sayang, hari ini hari bahagia kita, aku akan jadi milikmu seutuhnya," ujar Hanan.
"Kau benar, hari ini kita bebas bersama, tanpa ada yang mengganggu hubungan kita," sahut Deva.
Mereka berdua tersenyum. Berjalan memasuki ruangan sidang. Hanan duduk di samping Nada. Sedangkan yang lainnya duduk di belakang keduanya. Tak ada sedikitpun rasa bersalah Hanan. Dia terlihat senang. Senyuman memenuhi bibirnya sepanjang sidang berlangsung. Hanya Nada yang sesekali menunduk menahan air matanya agar tak ke luar dan menetes. Dia tak ingin terlihat lemah di depan Hanan.
"Kuatkan aku Ya Allah," batin Nada. Sekali saja sebelum palu diketuk, Nada menatap Hanan. Begitupun Hanan. Nada memandang Hanan sebagai kenangan yang akan dilupakannya setelah palu diketuk. Dia takkan melihat ke belakang lagi. Hanya masa depan yang akan dilihat olehnya.
Tok ... tok ... tok ...
Suara palu diketuk. Mereka sudah resmi bercerai. Ikatan yang dulu begitu erat kini terlepas dan berakhir.
"Alhamdulillah," ucap Nada.
"Akhirnya aku bebas darimu, titip Nesa," ujar Hanan.
"Kau tak perlu menitipkan Nesa, aku pasti menjaganya, silahkan puaskan dirimu dengan pelakor itu!" titah Nada.
Hanan mendekati Nada. Membungkukkan tubuhnya ke dekat bahu wanita yang kini jadi mantan istrinya.
"Dia lebih hot di atas ranjang dari pada dirimu," bisik Hanan. Kemudian dia kembali berdiri. Berjalan meninggalkan Nada. Menghampiri Deva yang siap memeluknya. Mereka berpelukan. Berciuman tak ada rasa malu.
"Menjijikkan," batin Nada. Dia bersyukur bisa lepas dari Hanan. Bertahanpun hanya akan membuat luka di hatinya.
Sophia langsung menghampiri Nada, memeluk kakaknya. Pelukan hangat itu sangat berarti untuk Nada. Saat ini jiwanya rapuh tubuhnya tak berdaya.
"Kakak hebat, aku bangga," ujar Sophia.
"Terimakasih Sophia, kau selalu ada untukku," ucap Nada.
"Iya Kak, kitakan saudara," sahut Sophia.
Nada menahan air matanya. Berusaha tegar.
"Menangislah Kak! Yang penting kau tidak menangisi lelaki itu," ujar Sophia.
Air mata yang tadi coba dibendung akhirnya membanjiri pipinya. Nada tak kuasa menangis, meluapkan sesak di dadanya.
***
Hanan dan Deva begitu bahagia. Mereka ke luar ruangan sidang. Tiba-tiba banyak wartawan di luar. Mereka di kerumuni para wartawan itu. Baik Hanan dan Deva tidak bisa menghindar. Mereka sudah terlanjur terjepit. Mau tak mau menghadapi wartawan itu.
"Hanan Al Malik, saya dengar Anda baru saja bercerai, apa itu benar?"
"Apakah ada wanita idaman lain yang menyebabkan perceraian kalian?"
"Siapa wanita yang ada di samping anda?"
"Dia kekasih Anda?"
"Saya dengar anda tersandung kasus penyalahgunaan dana untuk desa terpencil, benarkah?"
Satu per satu pertanyaan menghujani mereka. Baik Deva dan Hanan tak tahu harus menjawab apa. Mereka malu. Hanya menundukkan kepala, berusaha ke luar dari kerumunan wartawan.
Hanan dan Deva masuk ke dalam mobil dengan terburu-buru. Mereka takut masih diikuti wartawan. Hanan segera mengendarai mobilnya ke luar dari tempat itu. Di perjalanan mereka sempat berbincang.
"Gimana ini? Kok jadi bahan gosip, karirku bisa hancur," ujar Deva.
"Sabar sayang, ini ujian cinta kita," sahut Hanan.
"Oya, apa benar kau tersandung kasus penyalahgunaan dana untuk desa terpencil?" tanya Deva.
Hanan terdiam. Tak mampu menjawab. Dia sendiri juga takut, karirnya akan hancur dan berujung di penjara.