Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Malam Dua



Luki dan Humaira memutuskan menghabiskan malam pertama mereka di apartemen milik Luki. Di sana lebih sepi dari pada di rumah Keluarga Harold. Mesti mengikuti tes sebelum malam pertama, asupan gizi sebelum malam pertama dan suwun sebelum malam pertama pada Pak Harry. Kemarin saja tes kejantanan brabenya minta ampun. Apalagi tes sebelum malam pertama pasti lebih heboh.


Luki masih dekem di toilet. Sudah tujuh kali bolak-balik pacaran ma toilet belum putus juga. Padahal udah totalitas persiapan dari awal. Beli obat kuat udah, bedakan baby powder biar wangi dan minyak kayu putih biar gak masuk angin. Tapi malah obat kuat yang dipesan dari online shop ternyata tertukar dengan obat pelancar BAB.


Satu jam dekem ke luar juga dari toilet. Luki yang hanya mengenakan kolor pink samaan ma Gavin beli di Mall. Udah dicolek-colek SPG, dimintain foto ma ibu-ibu, dan dicubit adik-adik. Mengenaskan nasib kedua pejuang cinta demi malam pertama yang sempurna.


"Alhamdulillah, sudah tuntas, semoga tak terulang lagi," kata Luki sambil memegang perutnya yang udah kempes.


"Huh ...." Luki menghembuskan nafasnya. Matanya beralih ke depan. Sesosok gadis cantik bermata hazel dengan dress putih transparan. Terbuka dan seksi. Begitu minim di atas lutut. Semua bagian terpentingnya terekspose. Dia membawa nampan yang berisi gelas.


Luki menelan ludahnya berkali-kali. Kaku dan kedinginan. Jantungnya berdebar tak karuan. Kaya suara musik rock and roll. Membuat Luki bergetar.


"Ya Allah begini rasanya nafsu pria yang sesungguhnya, rasanya memanas dan ingin segera ku terkam wanita di depanku," batin Luki.


"Oppa, masih sakit?" tanya Humaira. Rambutnya panjang kepirangan. Mata berwarna hazel itu berbinar. Suara Humaira lebih seksi. Berbeda dengan suara biasanya yang pelan dan lembut. Datar tanpa notasi naik turun. Kali ini suaranya sengaja mendayuh-dayuh. Terdengar seksi membuat bulu kuduk Luki berdiri.


"I-iya sayang," jawab Luki. Berat sekali mulutnya mengucapkan satu katapun. Tubuhnya seakan terkunci. Dan kuncinya dibuang ke samudera.


Humaira mendekat. Meletakkan nampannya di atas laci. Kemudian dia membawa gelas di tangannya. Berdiri di depan Luki. Tangan kirinya memegang gelas, dan tangan kanannya meraba dada bidang Luki yang terbuka karena Luki hanya memakai kolor pink.


"Sa-sa-sayang ...." Luki benar-benar grogi. Mati kutu dipepet cewek cantik aduhai. Dia hanya teringat pesan mamat. Tutup pintu, mati lampu, buka baju.


"Apa kurang?" tanya Humaira. Bibirnya menggoda Luki dengan mengigit-gigit bibir bawahnya.


"Panas dingin ini, berasa kena angin tornado di tepi pantai," batin Luki.


"Inget Luk, tutup pintu, mati lampu, buka baju, ya kalau gak ada baju, buka kolor tetangga," ujar Mamat terngiang di telinganya.


"Kata-kata itu terdengar jelas, kenceng lagi, apa Mamat menghantuiku sampai apartemen ya?" batin Luki. Masih terbayang Mamat memberinya kursus kejantanan.


"Oppa itu rekaman sengaja disetting ya, kok tutup pintu, mati lampu, buka baju sih?" tanya Humaira mendengar rekaman di handphone Luki yang terus berdering. Berisi wejangan Mamat.


"Ampun dah memalukan, kenapa rekamannya disettting sih kan cuma buat dihafal," sahut Luki.


"Oppa, praktekin yuk!" ajak Humaira. Mengedipkan mata. Tangannya masih setia meraba dada bidang Luki yang berkelok.


"Aw ... Mamat kalau bini ngajakin duluan harus gimana?" batin Luki bingung. Secara pengalaman cuma ama timun dan terong. Tak ada pengalaman menaklukan wanita apalagi mengambil kehormatannya.


"Oppa!" panggil Humaira.


"Iya sayang," jawab Luki.


"Minum jamunya dulu biar enakkan badannya," kata Humaira dengan suara menggoda. Memberikan jamu itu pada Luki.


"Jamu untukku sayang?" tanya Luki memegang jamu kuat dan sehat dengan telur ayam kampung ditambah madu alami.


"Iya, minum Oppa biar enakkan, nanti ku beri hadiahnya," jawab Humaira.


Luki mengangguk. Meminum jamu buatan Humaira sampai habis.


"Alhamdulillah enak sayang, badan anget jadinya," kata Luki.


Humaira mengambil gelas jamu itu. Kemudian mendekati Luki. Meraba pipinya dan dada bidangnya.


"Aku akan mengajarimu cinta Oppa," kata Humaira.


Luki menelan ludahnya berkali-kali. Humaira yang ada di depannya bukan Humaira yang bercadar. Liar dan menggoda. Tubuhnya indah membuat mata Luki seakan dimanjakan perhiasan dunia.


"Dari atas sampai bawah, dari enak sampai puas, dari suka sampai ketagihan," bisik Humaira di telinga Luki. Membuatnya merinding total. Suara Humaira membuatnya terdiam.


Humaira membawa Luki ke ranjang. Menjatuhkannya ke atas ranjang dengan posisi berbaring.


"Biar aku yang memimpin sampai Oppa terbangun dari mimpi," kata Humaira.


Humaira mulai memimpin upacara bendera. Mengibarkan yang masih terpasang di tiang. Membiarkan terjatuh sembarangan. Berbaris dari barisan depan hingga belakang. Memimpin dari samping kanan ke kiri, atas ke bawah. Suara paduan suara yang merdu mulai terdengar mendayuh-dayuh. Tubuh mulai memanas di bawah terik matahari. Meminta pendinginan, namun keringat-keringat itu bercucuran. Nafas mulai melaju cepat. Lelah mulai mendera ketika langkah kaki dan gerak tangan sudah dimaksimalkan. Akhirnya sang singa terbangun dari tidur panjangnya. Menerkam Humaira yang lelah. Dia menjadi raja hutan. Menguasai pegunungan dan lautan. Menjelajahi semua bagian sebagai raja yang memiliki daerah kekuasaan.


Suara jerit Humaira saat kehormatannya sudah dimiliki sang raja singa. Membuatnya merasa kesakitan. Untung saja raja singa mampu mendinginkan suasana. Memberi kenyamanan travelling di hutan. Menerobos pepohonan yang rindang. Menemukan kursi kepemimpinan. Menjadi sang pemilik kehormatan.


"Alhamdulillah, terimakasih sayang, aku sudah menjadi lelaki sejati," bisik Luki di telinga Humaira saat mereka saling memeluk. Berbaring karena kelelahan. Berselimut tebal yang menutupi seluruh bagian tubuh.


Humaira mengangguk. Dia tak sanggup berkata-kata lagi. Sudah ekstra kelelahan. Untung saat upacara penyatuan cinta itu Luki memimpin gantian dan lebih dahsyat.


"Tidur dulu sayang, nanti lagi, aku ketagihan," bisik Luki.


Humaira tersenyum manis. Senangnya sudah membuat suaminya ketagihan jadi lelaki normal. Yang mencintai wanita. Memang sudah seharusnya laki-laki berpasangan dengan wanita.


***


Pagi itu Sophia mau menemani Nada untuk fitting gaun pengantin. Alex sengaja mengantar Sophia ke rumah Keluarga Wijaksana. Dia berangkat siangan agar bisa mendampingi Sophia yang perutnya sudah membesar. Usia kandungannya kini sudah delapan bulan. Sophia juga sudah cuti selama hamil. Pekerjaannya digantikan Nada. Mau tak mau Nada ke luar dari kantor Alex. Menggantikan Sophia dibantu Sekretaris Wang.


Alex dan Sophia duduk di kursi belakang. Mobil Alphard berwarna hitam itu melaju di jalan raya. Bersama kendaraan lainnya. Baik kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.


"Sayang kau yakin menemani Nada fitting baju pengantin?" tanya Alex.


"Iya Mas, yakin," jawab Sophia.


"Perutmu sudah besar, aku takut kau kecapean," kata Alex yang mengkhawatirkan Sophia. Semenjak kehamilannya semakin membesar, Alex lebih mengkhawatirkan Sophia dari hari ke hari.


"Tidak, Kak Nadakan kakakku, aku ingin memberinya support dengan cara seperti ini," sahut Sophia.


"Istriku memang baik hati," puji Alex. Dia tahu Sophia sangat baik. Dia selalu berusaha ada untuk kakaknya.


"Makasih atas pujiannya Mas," ucap Sophia.


"Iya sayang," sahut Alex.


Ketika mobil itu terus melaju. Supir fokus ke jalanan. Alex mencium pipi dan bibir merah delima Sophia. Rasanya ingin bercengkrama dengan istrinya setiap saat tapi pekerjaan harus dikerjakan. Ribuan orang menjadi tanggungjawabnya. Dia sekarang seorang pemimpin bukan hanya seorang suami atau anak.


Sudah sepatutnya bisa membagi waktu dengan baik.


"Jangan kecapean, kalau sudah tak mampu lebih baik berhenti," pesan Alex.


"Iya Mas," jawab Sophia.


Alex langsung merangkul Sophia. Menyandarkan kepala Sophia ke bahunya. Sambil mengelus dengan lembut perut buncit Sophia.


"Nanti ku usahain pulang cepet ya sayang," kata Alex.


"Iya Mas, tahu aja aku pengennya deket Mas terus," jawab Sophia.


"Aku juga maunya deket kamu terus sayang," sahut Alex. Dia juga merasakan hal yang sama dengan Sophia. Ingin selalu berdekatan, berduaan dan bermesraan.


Tak lama sampai di kediaman Keluarga Wijaksana. Alex dan Sophia disambut Bibi Fatimah. Mereka masuk ke ruang tamu. Tapi Alex tak mampir lama, ada meeting di restoran untuk bertemu kliennya.


"Sophia sudah datang," ujar Nada masuk ke ruang tamu.


"Baru aja Kak," jawab Sophia.


"Langsung berangkat ya," ujar Nada.


Sophia mengangguk. Dia pamit pada Bibi Fatimah. Kemudian pergi bersama Nada baik ke mobil milik Nada. Mereka duduk berdua di kursi belakang. Mobil pun melaju setelah tak lama mereka naik.


"Kak kok arahnya gak ke butik?" tanya Sophia. Dia heran melihat mobil bergerak ke arah lain. Bukannya tadi Nada bilang mau ke butik tapi mobil melaju ke tempat yang lain.