
"Sepatu saya tadi jatuh saat berangkat," jawab Nada. Tersenyum. Berharap Kenan tak mencurigainya.
Tiba-tiba Kenan duduk berjongkok di depan Nada. Seketika Nada takut Kenan akan tahu kalau itu dia.
"Mati aku? Percuma menyamar, Kenan akan tahu," batin Nada. Pasrah. Jika Kenan akan tahu dia tidak bisa berbuat apapun lagi.
"Kaos kakinya lucu, beli di mana?" tanya Kenan.
Bruuug ...
Terjatuh sudah mental Nada. Udah tegang, jantung berdebar, keringat dingin, aliran darah menjadi kencang, eh yang ditanyakan kaos kaki beli di mana?
"Beli di pasar langgananku," jawab Nada.
"Masih ada gak motif bunga-bunga gini? Kayanya lucu," ujar Kenan. Melihat kaos kaki Nada.
"Astaga jantungku udah mau copot eh kaos kaki yang ditanyain, otaknya memang agak beda sejak SMA," batin Nada. Mengelus dada.
"Masih, beli aja, memang ingin kaos kaki kaya gini?" tanya Nada.
"Iya, aku ingin membelinya untuk seseorang, tapi yang sama kaya gini, biar dia suka," sahut Kenan.
"Untuk siapa? Paling kredit kaya saat SMA dulu, terus dikejar-kejar penagih utang," batin Nada. Teringat semasa SMA Kenan playboy mendekati cewek ini itu cuma untuk nebeng makan dan jajan. Belum lagi minta jawaban soal. Secara Kenan cukup tampan saat SMA, imut lagi. Cewek-cewek gemes padanya. Lumayan buat nemening nonton ke bioskop atau kondangan, gak malu-maluin.
"Oh, ya udah aku kembali ke ruanganku ya," ucap Nada.
"Tunggu, aku punya sepatu yang sama dengan kau pakai," jawab Kenan.
Nada tegang. Dia takut Kenan tahu siapa dirinya.
"Ikut aku," ajak Kenan.
Nada mengangguk. Mengikuti Kenan berjalan menuju ke ruangannya. Kenan mengambil sepatu itu di mejanya. Memakaikannya pada kaki Nada sambil berjongkok di depannya.
"Nada di depan orang kau bisa berpura-pura, di depanku kau tetap Nada," ujar Kenan.
"Makasih Kenan," ucap Nada. Melihat Kenan memakaikan sepatu padanya.
Kenan mengangguk. Dia berdiri lagi di depan Nada.
"Aku kembali ke ruanganku," ujar Nada.
"Oke, semangat!" ucap Kenan.
Nada mengangguk kemudian ke luar dari ruangan itu. Kenan hanya berdiri membiarkan Nada berjalan meninggalkannya. Kenan hanya tersenyum menatap ke depan. Dia senang bisa satu kantor dengan wanita cantik itu.
Nada masuk ke ruangan kerjanya. Menyapa semua orang di dalam ruangan. General Manajer HRD yang bernama Dimas Andrean menghampirinya. Menyambut kedatangannya ke ruangan itu.
"Assalamu'alaikum," sapa Dimas ramah.
"Wa'alaikumsallam," sapa Nada. Dia melihat sesosok lelaki berkumis tipis, berhidung mancung dan tingginya proposional. Kulitnya agak kecoklatan. Terlihat maco dan gagah.
"Harum Nafiza ya?" tanya Dimas.
"Iya Pak," jawab Nada.
"Saya Dimas Andrean, GM di sini," ucap Dimas memperkenalkan dirinya.
"Saya Harum, tadi Pak Dimas sudah tahukan nama panjang saya," ujar Nada.
"Iya," sahut Dimas sambil tersenyum.
"Mari ikut saya," ajak Dimas.
Nada mengangguk. Mengikuti Dimas berkeliling di ruang HRD. Menjelaskan semua hal di ruangan itu dan pekerjaannya nanti. Nada akan menjabat jadi Manager HRD di ruangan itu. Jadi Dimas sendiri yang bertugas menyambut dan menjelaskan pekerjaannya.
"Gimana sudah paham?" tanya Dimas.
"Iya paham," jawab Nada.
"Saya antar ke ruangan Nona," ajak Dimas.
Nada mengangguk. Dia mengikuti Dimas menuju ke ruangannya yang ada di dalam ruangan HRD. Di dalam ruangannya cukup nyaman dan rapi. Tidak terlalu luas tapi cukup untuknya bekerja.
"Nah ini ruangannya, kalau ada yang kurang atau ada yang tidak tahu bilang saya ya," ucap Dimas.
"Iya," sahut Nada.
"Boleh minta nomor telponnya?" tanya Dimas.
"Oh boleh," jawab Nada. Dia memberikan nomor telponnya untuk dicacat Dimas di ponselnya.
"Makasih ya, assalamu'alaikum," ucap Dimas.
"Wa'alaikumsallam," sahut Nada.
Kemudian Dimas berjalan ke luar dari ruangan itu. Nada mulai duduk dan memeriksa berbagai berkas di mejanya. Memperlajarinya satu per satu.
***
Siang itu Sophia ditemani Aiko pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya. Sophia terlihat bersemangat. Dia berjalan bersama Aiko di lorong rumah sakit. Sophia terlihat memegang perutnya.
"Sophia kau sudah lapar lagi?" tanya Aiko.
"Sedikit, aku pengen makan ramen pedas," jawab Sophia.
"Aku telpon your husband ya, biar dia siaga," ucap Aiko.
"Mungkin dia sibuk sekarang," sahut Sophia.
"Tapi your husband bucin gitu, pasti nekad melakukan apapun demi keinginanmu saat nyidam gini," jawab Aiko.
Sophia terdiam. Dia memang kangen sama Alex. Walaupun pagi tadi sudah bertemu. Semenjak hamil pengennya berduaan. Disayang dan diperhatikan.
Tiba-tiba suara handphone Sophia berdering. Langkah kakinya terhenti. Dia mengambil hanphone di dalam tasnya. Melihat layar handphone yang terus menyala.
"Aiko aku angkat telpon dulu, dari suamiku," ucap Sophia.
"Oke, panjang umur tuh baru diomongin," jawab Aiko.
Sophia tersenyum. Kemudian meninggalkan Aiko. Dia berdiri di sudut lorong. Mengangkat telpon dari suaminya.
"Assalamu'alaikum," sapa Alex.
"Wa'alaikumsallam Mas," sahut Sophia.
"Mau makan apa sayang? siang ini kita makan siang bareng ya," ujar Alex.
"Aku mau ramen pedas Mas, tapi Mas sendiri yang meraciknya ya," pinta Sophia.
"Oke, aku siap jadi Chef pribadimu sayang," jawab Alex.
"Makasih Mas," ucap Sophia.
"Iya sayang, salam buat Dede bayi ya," ucap Alex.
"Iya Mas," sahut Sophia.
Setelah selesai bicara, Sophia mematikan handphone-nya. Tersenyum bahagia. Suaminya sangat perhatian dan menyayanginya. Dia merasa hidupnya sangat berharga.
Sophia kembali berjalan menghampiri Aiko. Mereka berjalan memasuki ruangan Dokter Chris. Dokter pribadi yang menangani Sophia. Dokter Chris memeriksa kondisi Sophia. Kemudian duduk di kursinya bersama Sophia dan Aiko.
"Sophia kondisimu baik dari pemeriksaan luar, tapi aku belum bisa menyarankanmu pemeriksaan CT Scan karena tidak diperbolehkan untuk ibu hamil atau bayi," ujar Dokter Chris.
"Jadi gimana dengan penyakit Sophia? apalagi dia sedang hamil," ucap Aiko.
Dokter Chris membuang nafas gusarnya.
"Sebenarnya segala sesuatu kembali pada yang di atas. Sebagai Dokter saya sudah berusaha. Saya tidak bisa memvonis seseorang atas hidupnya, sejauh ini Sophia lebih baik dari sebelumnya," jawab Dokter Chris.
"Sophia bisa melahirkan dengan selamatkan Dok?" tanya Aiko.
"Kita berdoa saja, semoga Sophia dan bayinya bisa sehat sampai melahirkan nanti," jawab Dokter Chris.
Sophia terdiam. Apapun itu dia tidak takut. Dia percaya Allah yang memiliki kehidupannya. Dia hanya berusaha dan akan tetap mempertahankan buah cintanya. Sebagai hadiah atas pernikahannya dari Allah SWT.
Sophia dan Aiko berjalan di lorong rumah sakit.
"Sophia aku rasa kau sehat sekarang, sudah jarang mimisan dan kau selalu terlihat bugar, bahkan kau jarang mengeluh sakit sekarang," ujar Aiko.
"Iya, aku berharap yang terbaik untukku dan bayiku," jawab Sophia.
Aiko merangkul Sophia. Memberinya semangat.
"Kau pasti sembuh, orang baik doanya langsung nembus langit," ujar Aiko.
Sophia tersenyum. Aiko melepas tangannya dari bahu Sophia kembali berjalan di sampingnya.
"Kita makan yuk Aiko, suamiku mengajakku makan," ujar Sophia.
"Makan ramen?" tanya Aiko.
"Iya, aku pengen banget," jawab Sophia.
"Oke, seger juga siang-siang makan ramen," jawab Aiko.
Mereka berdua berjalan menuju parkiran mobil. Meninggalkan rumah sakit dengan mengendarai mobil Sophia, Alphard berwarna hitam.
Lima belas menit kemudian, sampai di restoran. Sophia masuk duluan ke restoran. Sedangkan Aiko masih membetulkan sepatu miliknya, sepatu kets berwarna putih. Tak sengaja Kenan menginjak sepatu putih miliknya.
"Woi! Jalan pakai mata," ucap Aiko marah.
"Siapa ya? Mataku masih minus gara-gara belum gajian," jawab Kenan. Dia berbalik melihat Aiko.
"Oh, Sekretaris Kenan, pantes hawanya mulai horor," sahut Aiko.
"Kau asistennya Presdir Sophia ya, yang jomblo itukan?" ujar Kenan.
Aiko marah langsung mendekati Kenan. Meraih keraj bajunya.
"Kau masih mau idup atau bugil dijalanan heh?" tanya Aiko.
"Astaga, asisten udah kaya tukang pukul, aku kok sekretaris aja tertindas terus," jawab Kenan.
Aiko maju ke depan sambil memegang kerah baju Kenan. Memojokkannya ke dinding.
Dug ....
Satu pukulan di samping kepala Kenan.
"Alhamdulillah masih utuh kepalaku," ujar Kenan.
"Ku peringatkan ya! Kalau kau menginjak sepatuku lagi, bogem ini meluncur langsung di mukamu tanpa tanda peringatan," ancam Aiko.
"Ada surat tilangnya gak, biar tak melanggar lagi," jawab Kenan.
"Kau!" bentak Aiko.
"Kalian lagi pacaran, mogok gitu," ucap Alex yang baru datang.
Aiko dan Kenan terkejut. Aiko langsung melepas tangannya dari kerah baju Kenan. Mereka berdua berdiri kebingungan.
"Saya bukan pacarnya Bos, bisa babak belur kalau jadi pacarnya, jadi suaminya lebih parah lagi bisa dicincang tiap hari," jawab Kenan.
"Siapa juga yang mau jadi pacarmu, cemen begitu paling aku yang terus kau andalkan," jawab Aiko.
"Sudah-sudah, ayo masuk. Laparkan?" tanya Alex.
"Iya Bos," jawab Kenan dan Aiko.
Mau tak mau mereka masuk bersama Alex ke dalam restoran itu. Alex segera menghampiri Sophia yang duduk di pojok. Dia langsung duduk berjongkok. Mencium perut istrinya. Bercengkrama dengannya. Mereka sengaja memesan private room agar bisa bebas bercengkrama bersama.
Di sisi lain Aiko dan Kenan duduk berdua. Pesanan datang. Kenan makan ramen sepuasnya mumpung gratis gak perlu bayar. Toh Bos sudah mentraktirnya sepuasnya. Sedangkan Aiko makan salad.
"Kau makan daun terus pantes darah tinggi," ucap Kenan.
Braaak ...
Aiko memukul meja sampai ramen Kenan yang ada di tangannya tumpah ke meja dan bajunya.
"Ya ampun gratisan melayang," ucap Kenan.
"Mulutnya belum pernah makan merconkan?" tanya Aiko.
"Astaga menakutkan sekali, kau sekolah di penjara ya galak banget," jawab Kenan.
"Iya, aku bahkan biasa memukul orang kalau lapar," ujar Aiko.
"Aduh nyesel ngomong tadi, pasti kena pukulan nih," batin Kenan.
"Daunnya enak ya, boleh ku coba?" tanya Kenan. Dia mengambil daun di piring Aiko. Mengunyahnya dan tersenyum pada Aiko biar emosinya turun.
"Getir, gak enak, tapi mau gimana lagi, dari pada ditonjokkan ngilu nih pipi," batin Kenan. Terpaksa mengunyah daun.
Aiko melotot. Menatap Kenan. Dia kembali memakan salad sayuran miliknya.
"Ramenku tumpah tapi telor puyuhnya masih nyelip di deket tangannya? Kira-kira aman gak kalau aku ambil, gimana kalau ada granat?" batin Kenan. Perlahan tangannya merayap di atas meja. Hendak mengambil telur puyuh itu. Tangannya tak sengaja menyenggol tangan Aiko.
"Mati aku," batin Kenan.
Aiko mengambil garpu. Menatap Kenan tajam.
"Astaga, dia kembali sadis," batin Kenan.
"Kau tarik tanganmu atau garpu ini berbicara. Biasanya aku tak suka pengganggu saat aku makan," ujar Aiko.
"Ampun, aku cuma mau ngambil telor puyuh itu, mubadzir," ujar Kenan.
Aiko melihat ke arah telur puyuh. Melayangkan garpu itu ke udara. Hendak menusuk sesuatu di bawahnya.
"Abis tanganku, kenapa ada asisten sadis seperti ini, kalau aku bosnya sudah lama aku mati," ucap Kenan pelan.
Creb ...
Garpu itu mengenai telur puyuh, bukan tangan Kenan. Kemudian Aiko memakan telur puyuh itu.
"Itukan telur puyuhku," ujar Kenan.
"Apapun yang masuk daerah teritorial ku jadi milikku, paham!" ujar Aiko.
Kenan menelan ludahnya. Apes banget makan semeja dengan asisten Sophia. Pantes dari pertama bertemu perasaan Kenan gak enak.
***
Sore itu Alex dan Sophia pulang ke rumah Keluarga Sebastian. Mereka duduk bersama di meja makan. Makan bersama dengan seluruh anggota keluarga. Semuanya terlihat bahagia bisa makan bersama. Pak Ferdi sudah sehat kembali. Dia sudah bisa berjalan perlahan-lahan menggunakan tongkat.
Mereka semua makan dengan lahap dan nikmat. Bisa menikmati makan bersama. Kakek David juga terlihat sehat dan bugar. Senyumannya terpancar dari wajahnya. Setelah makan mereka mengobrol sejenak di meja makan.
"Semuanya ada yang ingin kakek sampaikan," ujar Kakek David.
Semua orang melihat ke arah Kakek David. Mereka penasaran apa yang akan disampaikannya.
"Kakek ingin menikah dengan seseorang," ucap Kakek David.
Semua orang terkejut mendengar pernyataan Kakek David. Di usianya yang sudah kepala tujuh ingin menikah.