
Tak hanya bicara dengan ibunya. Alex juga bicara dengan Pak Ferdi. Mereka duduk bersama di teras samping. Sambil menikmati suasana sore hari dan pemandangan taman yang indah. Baik Alex dan Pak Ferdi terlihat saling terbuka dan membicarakan semuanya dari hati ke hati.
"Aku minta maaf atas ketidakhadiranku selama ini dalam hidupmu. Hanya menjadi ayah statusmu selama bertahun-tahun lamanya,," ujar Pak Ferdi.
"Kau memang tidak pernah hadir dalam hidupku, aku juga tidak tahu apa tujuanmu ada dalam hidupku," jawab Alex.
"Iya kau benar. Saat itu hidupku kacau. Aku hanya seorang pemabuk, tukang judi, tukang kawin dan semua hal negatif yang ada pada diriku. Aku sudah membuatmu kesepian tanpa kasih sayang seorang ayah," sahut Pak Ferdi.
"Kau memang ayah brengsekku, dari dulu itu yang ku ingat," jawab Alex.
Pak Ferdi membuang nafas gusarnya. Tersenyum tipis.
"Iya, tak ada satupun hal positif yang ku miliki untuk kau banggakan sebagai seorang ayah," jawab Pak Ferdi.
Alex tersenyum. Benar kata ayahnya tak ada satu pun hal positif yang dapat dia banggakan dari ayahnya. Semuanya negatif pada saat itu.
"Terkadang aku malu saat mengingat semua itu. Aku sudah menyia-nyiakan seumur hidupku demi keegoisan ku sendiri," kata Pak Ferdi.
"Kau memang egois, berapa waktu yang kau punya untuk menebus semuanya, hanya sedikit waktu yang tersisa," jawab Alex.
"Iya, sedikit waktu yang tersisa dari kemurahan Allah padaku, aku ingin menebus dan memperbaikinya," sahut Pak Ferdi.
Alex tersenyum tipis. Menatap pemandangan indah di depannya seperti kehidupannya yang mulai tumbuh dan berwarna.
"Ketika manusia berada dititik terendahnya. Dia akan ingat Allah dan semua kesalahannya. Dan di saat itu tempat kembali yang ternyaman adalah keluarga," ujar Alex.
Pak Ferdi mengangguk.
"Keluargamulah yang akan menerimamu apa adanya, meskipun kau sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupmu," ujar Alex.
"Kau benar, aku mencari kebahagian dengan melakukan apapun meskipun itu melanggar aturan dan penuh dosa," kata Pak Ferdi. Dia teringat semua kesalahan yang sudah diperbuat olehnya.
Pak Ferdi membuang nafas gusarnya.
"Tapi semua itu hanya kebahagiaan yang sementara. Karena kebahagian yang sejati itu ya keluarga, tempat berbagi suka maupun duka," jawab Pak Ferdi.
Alex terdiam sesaat. Dia sepemikiran dengan Pak Ferdi, ketika mencari kebahagiaan ke ujung dunia sekalipun, tidak akan pernah kau jumpai. Karena kebahagiaan yang sejati itu ada disisimu bahkan kau tak menyadarinya. Keluarga adalah kebahagiaan yang kadang sering dilupakan. Tapi justru kebahagian yang bisa membuatmu merasa nyaman dan merasakan kebahagian yang benar-benar kau cari selama ini.
"Satu kata yang belum pernah ku ucapkan padamu, terimakasih ayah, sudah menjadi ayahku selama ini," ujar Alex.
"Iya, aku juga berterima kasih karena kau tetap memanggilku ayah meskipun aku bukan ayah yang baik untukmu," sahut Pak Ferdi.
Alex mengangguk. Di masa lalu Pak Ferdi memang bukan ayah yang baik. Tapi dia ingin berdamai dengan hidupnya, tak ada manusia yang sempurna. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Hanya bagaimana caranya memperbaiki semua itu.
"Aku minta maaf atas semua kesalahanku, aku akan berusaha menjadi ayah yang terbaik untuk keluarga kita. Hari ini dan seterusnya," kata Pak Ferdi.
"Aku sudah memaafkanmu ayah, jauh sebelum kau minta maaf," sahut Alex.
Pak Ferdi tersenyum. Ternyata putranya sudah dewasa dan bijaksana.
"Alex, Harry Harold ayah kandungmu. Maafkanlah dia, karena sebenarnya dia memang tidak tahu kalau ibumu sedang mengandungmu. Selama ini dunia hanya tau kau putraku, karena aku dan ibumu memang sengaja menutupi semua ini," ujar Pak Ferdi.
Alex terdiam. Dia termenung dengan ucapan Pak Ferdi.
"Aku tahu tak mudah menerima semua ini, butuh waktu agar kau bisa menerima Harry Harold sebagai ayahmu," tutur Pak Ferdi. Dia tidak ingin memaksakan Alex untuk menerima Harry Harold sebagai ayah kandungnya. Semua butuh proses dan waktu. Pak Ferdi percaya saatnya nanti Alex akan bisa menerima semua itu.
Setelah bicara dengan Pak Ferdi, Alex menemui Kakek David di kamarnya. Dia duduk di sofa bersama kakeknya. Alex ingin membicarakan hal mengganjal di dalam hatinya.
"Saat aku kecil dulu hanya kakek orang yang selalu menyayangiku dengan tulus, kakek yang sudah mengajariku banyak hal. Meskipun terkadang aku sering membangkang," kata Alex.
"Kau memang cucuku yang nakal, gayamu sok tampan, dan penindas kaum wanita. Aku sempat kecewa karena semua kenakalanmu. Untung ada Sophia yang membawamu kembali ke rumah ini dan ke jalan yang benar," sahut Kakek David.
Alex tertawa kecil mendengar ucapan kakeknya. Semua itu benar, Alex memang nakal sudah membuat kakeknya naik pitam dengan semua kenakalannya.
"Sophia memang sudah merubah hidupku Kek. Aku beruntung menjadi suaminya. Aku seperti mendapatkan hadiah yang dikirim Allah khusus untukku," jawab Alex.
"Kau tau itu hadiah, jadi jagalah dengan baik. Karena kau tidak akan pernah mendapatkannya lagi," sahut Kakek David.
"Iya Insya Allah aku akan menjaga Sophia dengan baik," jawab Alex.
"Lex, Harry Harold adalah ayah kandungmu. Mau kau suka ataupun tidak. Dia mungkin tidak pernah ada dalam hidupmu, tapi tidak ada salahnya jika kau memberi kesempatan untuknya menebus semuanya," ujar Kakek David.
Alex terdiam memikirkan ucapan Kakek David.
"Kakek pernah ada di posisi Harry, bukan kakek membenarkannya tapi yang kakek rasakan saat tahu kalau kakek punya anak, itu membuat kakek merasa bersalah dan tak berguna," jawab Kakek David.
Alex terdiam. Hanya mendengarkan ucapakan kakeknya.
"Kakek tidak pernah ada di saat Harry tumbuh kembang. Di saat dia merindukan kakek, tapi kakek tidak tahu itu," kata Kakek David.
"Kakek baru tahu semua itu belum lama ini. Perih saat mengetahui semuanya, rasanya kakek ingin menebus semua waktu yang kakek lewatkan," tambah Kakek David.
Alex menunduk. Matanya memerah. Mencoba mengontrol emosinya.
"Kakek rasa Harry pun merasakan hal yang sama dengan kakek, dia pasti merasa bersalah dan ingin menebus semua waktu yang terlewatkan," ujar Kakek David.
"Kalau kau bisa memaafkan Harry sama saja kau memaafkan kakek yang sudah menelantarkan anaknya sendiri," tambah Kakek David.
Alex tak bicara apapun. Dia ke luar dari kamar kakeknya. Memikirkan semua nasehat dari Sophia, Pak Ferdi dan Kakek David.
***
Sore itu semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang keluarga. Mereka duduk lesehan di karpet yang digelar di lantai. Sore itu adalah buka terakhir sebelum besok hari raya idul fitri. Alex dan para lelaki membaca Alquran bersama sedangkan Sophia dan para wanita menyajikan semua makanan dan tajil di tengah karpet. Mereka semua kompak dengan tugasnya masing-masing. Setelah itu mereka semua duduk bersama menunggu waktu berbuka. Alex dibarisan lelaki dan Sophia dibarisan wanita.
Tak lama Pak Harry datang bersama Nenek Carroline, Luki dan Humaira.
"Assalamu'alaikum," sapa Pak Harry dan yang lainnya.
"Wa'alaikumsallam," sahut Alex dan yang lainnya.
"Ayo masuk! Silahkan duduk!" ucap Kakek David dengan ramah dan sopan.
"Alhamdulillah, kita semua bisa berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat wal'afiat, semoga Allah senantiasa memberikan rahmatNya pada kita semua," ujar Kakek David.
"Amin," jawab semuanya.
"Kita manusia tak luput dari kesalahan dan dosa. Tak ada manusia yang sempurna. Semoga Allah memaafkan segala kesalahan kita dan selalu membimbing kita ke jalan yang benar," ujar Kakek David.
"Amin," jawab semuanya.
"Kita semua berkumpul di tempat ini untuk menyambung silaturahmi. Mempererat tali persaudaraan dan berbagi kebahagian. Semoga Allah memberi kita semua umur yang panjang agar dihari-hari berikutnya kita masih bisa berkumpul seperti ini," ujar Kakek David.
"Amin," jawab semuanya.
Setelah itu mereka saling berbagi cerita. Mengobrol santai dan menunggu waktu berbuka puasa.
"Besok habis lebaran kakek dan nenek menikah, semoga dimudahkan dan dilancarkan prosesnya," ujar Sophia.
"Amin," sahut Ibu Marisa dan yang lainnya.
"Ngomong-ngomong seragamnya pada muat gak?" tanya Nenek Carroline.
"Muat Nek, cuma punya Claudya dimodif sedikit biar ada rampelnya," jawab Claudya.
"Kalau seragamku terpaksa ku kecilin, agak kegedean," sahut Maria.
"Ibu sih tambahin aksesoris yang dipasang di seragamnya biar tambah kece," ucap Ibu Marisa.
Di sela-sela obrolah semua orang, suara adzan pun berkumandang.
"Alhamdulillah," ucap semua orang.
Mereka semua mulai berbuka puasa. Minum dan makan-makanan yang sudah disajikan. Suasana kekeluargaan begitu kental. Mereka terlihat bahagia bisa berbuka bersama di hari terakhir berpuasa. Usai berbuka, mereka semua sholat magrib berjamaah. Alex menjadi imam untuk semua orang. Suaranya merdu ketika melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan doa-doa sholat. Semua begitu khusyuk saat sholat berjamaah itu dilaksanakan.
Sophia duduk melihat ke arah Alex yang duduk usai sholat. Dia begitu bangga pada suaminya yang sekarang. Wajahnya begitu bersinar memancarkan ketenangan. Melihat Sophia memperhatikannya, Alex mrnghampiri Sophia. Duduk di depannya sambil mencium dan mengelus perut buncit Sophia.
"Anak Papa pinter ya udah puasa satu bulan," ujar Alex memuji bayi di perut Sophia.
"Mas ganteng deh," kata Sophia.
"Makasih sayang, pasti karena tadi aku jadi imam ya," sahut Alex.
"Iya, suara Mas merdu. Sophia bangga jadi makmum Mas," kata Sophia.
"Aku juga senang jadi imammu dunia akhirat Sophia," sahut Alex.
Sophia tersenyum. Senyuman manis itu mengembang di bibir merah delimanya.
"Alex bisakah kita bicara berdua?" tanya Pak Harry.
Alex yang asyik mengelus perut Sophia, menoleh ke arah Pak Harry yang menghampirinya.
"Iya," jawab Alex singkat.
Mereka berdua pun pergi ke balkon lantai atas. Berdiri di tepi balkon. Menatap langit yang dipenuhi bintang dan bulan yang terang. Suara takbir mulai menggema dari satu tempat dan tempat lainnya. Malam kemenangan itu begitu terasa sampai ke relung hati saat suara-suara takbir itu terdengar di telinga setiap insan.
"Malam ini malam kemenangan, kita semua kembali ke fitri. Semoga semua kesalahan dan dosa kita diampuni Allah SWT," ujar Pak Harry.
"Amin," jawab Alex.
"Bolehkah aku menyebut diriku Papa untukmu?" tanya Pak Harry. Dia tidak ingin memaksakan keinginannya pada Alex.
"Terserah," jawab Alex.
Pak Harry mengangguk. Kelihatannya Alex sudah memberi lampu hijau.
"Papa minta maaf atas semua kesalahan Papa, baik yang disengaja atau tidak padamu," ujar Pak Harry.
Alex terdiam. Belum mengatakan apapun.
"Papa benar-benar tidak tahu kalau kau anakku. Aku bahkan sudah beberapa kali hampir membunuhmu. Menganggapmu musuhku dan ingin membuatmu hidupmu menderita dengan berbagai cara," kata Pak Harry.
"Aku tahu," jawab Alex singkat.
"Aku menyesal ternyata orang yang ku benci setengah mati itu anakku sendiri," ujar Pak Harry.
"Ya," jawab Alex.
"Hubunganku dan ibumu memang rumit. Kami bukan pasangan suami istri yang saling mencintai. Adanya dirimu juga karena malam terlarang itu. Aku tidak tahu kalau ibumu mengandung benih dariku, aku minta maaf atas kesalahnku padamu," ujar Pak Harry.
Alex membuang nafas gusarnya. Dadanya terasa sesak. Namun dia ingat ucapan Sophia, Pak Ferdi dan Kakek David.
"Aku memaafkanmu Papa," sahut Alex.
"Kau-kau bilang aku Papa?" tanya Pak Harry tak menyangka Alex akan menyebutnya Papa.
"Iya, bukannya kau Papakukan?" sahut Alex.
"Iya aku Papamu. Kau setampan diriku," jawab Pak Harry.
"Tetap saja aku lebih tampan darimu," sahut Alex.
"Astaga dia seperti diriku keras kepala kalau soal ketampanan. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya," batin Pak Harry.
"Baiklah ketampananmu di atasku satu persen," ujar Pak Harry
"Aku seratus persen lebih tampan darimu Pak tua," sahut Alex.
Mereka tak bisa mengalah soal ketampanan. Maklum Babang tampan dan anak tampan sama-sama memiliki daerah teritorial masing-masing. Tak ingin terusik atau diganggu gugat.