Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Berikan Aku Posisimu



Pagi itu Alex dan Sophia sudah rapi untuk berangkat bekerja. Alex mengenakan setelan jas berwarna biru dongker dengan dasi hitam bergaris putih. Di tambah kemeja putih di dalamnya. Terkesan keren dan maco. Wajah tampannya dengan kumis tipis ditambah jambang yang sedikit memanjang dari dagu ke ujung pipi membuatnya terlihat seksi. Sedangkan Sophia mengenakan setelan jas yang bawahannya rok panjang berwarna abu dengan kemeja krem di dalamnya. Hijab persegi yang cukup lebar hingga menutup dadanya. Berwarna krem. Senada dengan warna kemeja yang dikenakannya. Dia sedang membantu Alex merapikan dasi yang masih terlihat miring belum seimbang. Sambil dirapikan dasinya sesekali Alex mencium kening Sophia.


"Sayang doakan aku semoga meeting hari ini berjalan lancar," ucap Alex.


"Amin, semoga Allah memudahkan dan melancarkan segala sesuatunya Mas," sahut Sophia.


"Bagaimana kalau pulang kerja nanti, kita makan malam romantis?" tanya Alex. Selama menikah mereka belum sekalipun makan malam romantis di luar. Alex ingin merasakan rasanya seperti muda mudi yang sedang jatuh cinta, makan malam berdua dengan sang pujaan hati.


"Ide bagus, biar sekali-kali berbagi rejeki untuk orang lain," sahut Sophia.


"Kok berbagi rejeki sama orang lain? bukannya makan di restoran itu bikin dompet kering kalau kata Kenan," canda Alex.


"Mas tahu yang kerja di restoran itu berasal dari banyak kalangan, dari Bos sampai tukang cuci piring. Dengan kita beli di sana sama saja kita memberi kelangsungan hidup untuk pekerjanya," ucap Sophia


"Iya ya, tak ada salahnya makan sesekali di restoran, meskipun masakan istri paling dirindukan," ujar Alex.


"Paling hemat dan murah kali, iyakan?" canda Sophia yang mulai pintar bergurau mengikuti Alex.


"Pinter deh istriku ini," sahut Alex sambil mencolek dagu Sophia.


Senyuman itu mulai terpancar dari bibir merah delima. Membuat Alex semakin semangat untuk memulai harinya.


"Kenapa tak berhias sayang?" tanya Alex.


"Apa kurang cantik?" tanya Sophia sambil melepas dasi Alex yang sudah dirapikan.


"Cantik, hanya biasanya wanita paling suka berhias," jawab Alex.


"Aku hanya ingin berhias untuk suamiku," jawab Sophia.


"Pantes tiap pulang ke rumah pengen tugas negara dulu," sahut Alex.


Sophia tersenyum malu. Pipinya memerah. Membuat pemandangan indah di pagi hari seperti apel segar yang baru dipetik.


"Ayo berangkat sayang, minta doa restu kakek, semoga semua lancar," ajak Alex.


Sophia mengangguk.


Alex meraih tangan Sophia. Memegangnya sambil ke luar dari kamar. Pemandangan romantis yang syahdu itu dilihat Gavin adik Alex. Dia melihat Alex sangat berbeda. Hidupnya penuh kebahagiaan saat bersama Sophia wanita berhijab yang sholeha.


"Apa seindah itu islam, Kak Alex dan Sophia terlihat romantis terus, bahkan lebih bahagia. Rasanya aku juga ingin seperti itu," batin Gavin melihat Alex dan Sophia dari kejauhan. Dia sudah lama putus nyambung. Ke sana sini ganti pacar. Namun belum ada yang sreg. Rata-rata hanya hubungan simbiosis mutualisme. Gavin butuh ranjang kepuasan, pasangannya butuh uang. Tak ada kebahagiaan hanya kemaksiatan dan kesepian.


Gavin ingin memiliki seorang istri wanita berhijab seperti Sophia yang membuat hidup kakaknya jauh lebih baik. Alex yang dulu sang casanova, mabuk, ateis, dan arogan. Kini berubah menjadi sosok yang ramah, baik, rajin sholat dan family man. Seratus delapan puluh derajat sangat berbeda dari Alex yang dulu.


Alex dan Sophia turun ke lantai bawah. Menghampiri Kakek David yang duduk di ruang tamu. Beliau sedang membaca koran seperti biasanya saat pagi hari. Di temani kopi hitam, singkong dan pisang rebus. Kakek David sudah mengurangi makanan bergoreng. Dia berusaha makan rebusan dan rajin berolahraga agar tetap sehat, di usianya yang sudah menginjak 70 tahun. Meskipun usianya sudah kepala tujuh, Kakek David masih energik dan tampak bugar.


"Kek," sapa Alex dan Sophia.


Kakek David melihat ke arah Alex dan Sophia yang berdiri di depannya.


"Udah mau berangkat?" tanya Kakek David.


"Iya Kek," jawab Alex dan Sophia. Keduanya maju ke depan bergantian. Mencium tangan Kakek David. Kemudian mundur kembali.


"Kek doain ya, semoga masalah yang dihadapi perusahaan ada jalan ke luarnya," ucap Alex.


"Amin," sahut Kakek David dan Sophia.


"Semoga Allah, memudahkan semuanya, dan memberi jalan ke luar yang terbaik," ucap Kakek David.


"Amin," sahut Alex dan Sophia.


Setelah meminta doa restu dari Kakek David, Alex dan Sophia berangkat dengan mobil yang berbeda. Mobil keduanya ke luar dengan jalur yang memisah.


Sampai di perusahaan, Alex berjalan memasuki ruang meeting. Di saat sedang berjalan, Kenan menghampiri Alex. Berjalan mengekor di belakang Bosnya.


"Pagi Bos," sapa Kenan.


"Pagi, ngapain kau di belakangku?" tanya Alex.


"Saya sedang diare Bos, buang gas terus, takut didakwa sama Bos," jawab Kenan.


"Kok bisa? Bukannya hari ini meeting, tak bisa apa kompromikan masalah ini dengan perutmu?" tanya Alex.


"Sudah Bos, saya minum obat anti masuk angin biar gak diare tapi jatuhnya malah buang gas terus," jawab Kenan.


"Bungkus tubuhmu dengan APD biar semua peserta tak ada yang mabuk karena kau buang gas terus!" perintah Alex.


"Siap Bos!" sahut Kenan.


"Ampun deh, yang lain gak mabok tapi aku yang mabok karena kegerahan," batin Kenan.


Alex dan Kenan masuk ruang meeting. Semua petinggi perusahaan sudah berkumpul di dalam ruangan menunggu kehadiran Alex.


"Assalamu'alaikum," sapa Alex.


"Wa'alaikumsallam," sahut semuanya.


Pruuut ...


Suara buang angin Kenan juga memberi kode awalan.


"Maaf kelepasan, iklan dulu biar gak tegang," ucap Kenan yang malu gara-gara masuk langsung buang angin.


Semua petinggi perusahaan tutup hidung. Kecuali Alex yang sudah terbiasa dengan aroma buang angin milik Kenan.


Alex duduk di kursi begitupun dengan Kenan yang duduk di sampingnya. Dia menaruh batu kecil kemudian diduduki berharap manjur, tak akan buang gas lagi.


"Meeting kali ini tentunya kalian semua tahu untuk apa," ucap Alex.


Semua orang mengangguk. Mereka tahu permasalahan yang dihadapi perusahaan. Bukan permasalahan yang mudah. Bahkan mengancam kelangsungan perusahaan ke depannya.


"Perusahaan kita sedang mengalami masalah yang serius, saham kita anjlok. Kepercayaan konsumen menurun, berita miring di luaran beredar liar, para pemegang saham resah dan pemasukan kita menurun drastis," ujar Alex bicara panjang lebar menjelaskan keadaan yang sedang dialami perusahaannya. Dia bicara apa adanya biar semua karyawan memahami itu. Meskipun Alex tahu mereka pasti sudah tahu sebelum Alex memberi tahu.


Semuanya terdiam. Mereka tahu masalah yang dihadapi perusahaan.


"Sebagai pemimpin, saya berharap perusahaan ini tetap berdiri, menjaring banyak pekerja dan kesejahteraan untuk semuanya. Namun hidup tak selalu baik, termasuk perusahaan kita yang sedang ada di ujung tanduk," ucap Alex.


Mereka semua mendengarkan Alex bicara.


"Mari kita diskusikan sama-sama solusi terbaik untuk masalah ini, silahkan bagi yang ingin memberi ide!" titah Alex.


"Bagaimana kalau kita bayar orang untuk menaikkan pasar jual kita, lewat influenzer, sekarang lagi trend seperti itu baik makanan, elektronik, otomotif dab sebagainya."


Alex mendengarkan usul dari bawahannya.


"Yang lain?" ujar Alex.


"Bayar orang untuk memberi kesaksian bahwa perumahan kita bagus dan nyaman, tentunya orang itu harus orang yang sudah membeli perumahan kita sebelumnya."


Alex mengangguk. Menampung semua ide yang diberikan mereka.


"Iklan lewat media sosial secara jor-joran, biasanya kalau sering diiklanin, orang akan terus mengingat, jadi tertanam di pikiran mereka."


"Dengan begitu mereka akan tertarik, saya sependapat."


Satu persatu memberi masukan. Alex menampung semua masukan dari bawahannya. Dia tahu satu orang berpikir dibandingkan seribu orang berpikir hasilnya akan lebih baik dari seribu orang yang berpikir. Ide lebih berkualitas dan inovatif.


"Ada lagi?" tanya Alex.


"Bayar wartawan, media, agar memberitakan hal baik tentang perumahan kita."


"Lapor polisi, penjarakan yang sudah menjatuhkan perusahaan kita dengan begitu nama baik perusahaan akan bersih kembali."


"Betul Bos ... betul Bos."


"Sabar harga minyak masih terkendali, pemerintah sudah turun tangan," ucap Kenan menenangkan semuanya agar tak ricuh. Emosi karena pelaku yang membuat perusahaan mengalami kerugian.


"Kenan, kau kerja di gedung DPR?" tanya Alex menatap Kenan dingin.


"Tidak Bos, biar ada hiburan sedikit, kasihan pada tegang," sahut Kenan.


Semua orang menggeleng. Kok bisa itu sekretaris berguna. Kalau bisa hempaskan saja, gak ngaruh juga kalau dia tak ada.


Meeting kembali dilanjutkan. Alex mulai memberi komentar terhadap pendapat bawahannya.


"Perusahaan kita sudah membentuk tim investigasi untuk menyelesaikan masalah ini. Jika tak ada jalan ke luar, jalan terakhir adalah lapor polisi," ujar Alex.


Ketika mereka sedang meeting, Pak Ferdi memaksa masuk. Dia langsung masuk ke ruang meeting. Sekuriti tak berhasil menghentikannya.


"Untuk apa kau ada di sini?" tanya Alex sinis. Ekspresi masam melihat ayahnya masuk ke dalan. Dia tahu ayahnya hanya akan membuat keributan.


Pak Ferdi menghampiri meja panjang yang digunakan untuk meeting. Dia berdiri di samping kanan. Di antara para karyawan yang duduk di deretan samping kanan.


"Aku punya ide bagus untuk menyelamatkan perusahaan. Asal, berikan aku posisimu!" pekik Pak Ferdi menatap ke arah Alex. Seperti memberikan sebuah pilihan.


"Kau gila?" tanya Alex.


"Hanya aku yang bisa menyelamatkan masa depan perusahaan, jangan egois Alex," ujar Pak Ferdi.


Semua petinggi perusahaan membicarakan tawaran Pak Ferdi. Sedangkan Alex hanya diam menatap tajam lelaki yang seharusnya jadi ayah yang baik untuknya.