
Pagi itu Alex dan Sophia sudah rapi mengenakan pakaian berwarna putih. Mereka ke luar dari kamar. Berkumpul di ruang tamu bersama anggota keluarga lainnya yang sudah berpakaian putih senada dengan keduanya. Alex berdiri di dekat Tuan Matteo dan Gavin sedangkan Sophia berdiri di dekat Claudya.
"Kak Sophia udah mau lima bulan ya?" ujar Claudya.
"Iya, baju udah pada gak muat," jawab Sophia.
Claudya memegang perut buncit Sophia.
"Kak Alex junior tumbuh besar di perut kakak," kata Claudya.
Sophia tersenyum. Dia memang mengandung buah cintanya bersama Alex.
"Aku pengen hamil juga jadinya," kata Claudya.
"Semoga cepet isi ya," sahut Sophia.
"Amin," jawab Claudya.
Kakek David berdiri di tengah semua anggota keluarga bersama Dodo sebagai asistennya.
"Alhamdulillah semua sudah siap, kita berangkat ke masjid bersama ya," ujar Kakek David.
"Iya Pa."
"Iya Kek."
Alex dan Sophia berserta keluarga berangkat ke masjid yang tak jauh dari rumah besar Keluarga Sebastian. Mereka berjalan kaki menuju masjid tersebut.
Sampai di masjid, mereka masuk ke dalam masjid. Berbaur dengan yang lainnya. Alex di barisan laki-laki sedangkan Sophia di barisan wanita. Mereka melaksanakan sholat idul fitri dengan khusyuk. Kemudian mendengarkan khotbah dari Ustad Muhammad. Suasana lebaran begitu menyejukkan dan menenangkan jiwa. Penuh dengan kedamaian dan kebahagian dari setiap muslimin dan muslimat.
Setelah mendengar khotbah, mereka bersalam-salaman, saling memaafkan satu sama lain, kembali ke fitri. Melebur semua dosa yang sudah dilakukan selama satu tahun ini. Mereka begitu menikmati momen yang hanya terjadi satu tahun sekali dan begitu istimewa, di mana semua orang berkumpul dengan keluarga dan saling memaafkan satu sama lain untuk hidup yang lebih baik ke depannya.
Alex dan Sophia beserta Keluarga Sebastian pulang ke rumah. Di ruang keluarga mereka berkumpul. Kakek David duduk di sofa sedangkan Alex dan yang lainnya berjejer untuk bersalaman dan minta maaf pada kakek. Pak Ferdi berada di barisan terdepan. Dia duduk bersimpuh di kaki Kakek David.
"Pa maafkan semua kesalahanku ya Pa, selama jadi anakmu aku selalu melakukan kesalahan yang membuatmu jengkel," ujar Pak Ferdi sambil mencium tangan Kakek David.
"Iya Ferdi, Papa sudah memaafkanmu. Papa juga minta maaf kalau selama ini memiliki salah padamu," sahut Kakek David.
"Iya Pa," jawab Pak Ferdi. Mereka berdua saling meminta maaf dan memaafkan.
Ibu Marisa maju ke depan usai Pak Ferdi yang mundur. Dia bersimpuh di kaki Kakek David meminta maaf padanya dan mencium tangannya.
"Pa maafkan Marisa yang selalu merepotkan Papa untuk ikut mengurus anak-anak. Maafin kesalahan Marisa Pa," kata Ibu Marisa.
"Iya, Papa sudah memaafkan kesalahanmu Marisa, Papa juga minta maaf tidak bisa menjadi mertua yang baik untukmu," sahut Kakek David.
"Iya Pa," jawab Ibu Marisa.
Giliran Alex maju ke depan usai Ibu Marisa yang meminta maaf pada Kakek David. Alex bersimpuh di kaki Kakek David, mencium tangannya.
"Aku minta maaf ya Kek, selama ini sudah membuat kakek naik darah karena kenakalanku, maafkan aku," ujar Alex.
"Kakek sudah memaafkanmu, jangan kau ulangi lagi. Gunakan hidupmu untuk hal yang lebih baik dari sebelumnya ," sahut Kakek David.
"Iya Kek Insya Allah Alex akan berubah lebih baik," jawab Alex.
"Kakek juga minta maaf atas semua kesalahan kakek padamu," ujar Kakek David.
"Iya Kek," jawab Alex.
Keduanya saling meminta maaf dan memaafkan. Begitupun dengan Sophia, Claudya, Gavin, Tuan Matteo dan Dodo yang bergantian meminta maaf pada Kakek David. Begitupun mereka meminta maaf pada setiap anggota keluarga. Saling minta maaf dan memaafkan.
Setelah itu mereka makan bersama di ruang makan. Meja panjang itu dipenuhi makanan. Ada rendang, opor ayam, sate, ketupat, telur asin, puding, rainbow cake, emping, kerupuk udang, jus, salad buah, dan makanan lainnya. Mereka menyantap makanan itu dengan nikmat.
"Rendang bikinan Ibu paling juara," puji Alex.
"Iya dong, meski ibumu ini jarang masak, tapi bikin rendang jangan ditanya," sahut Ibu Marisa.
"Jangan ditanya kalau cuma nambahin gula dan garam, bumbunya beli bumbu jadi," jawab Pak Ferdi.
"Tapi opornya enak Bu," ujar Claudya.
"Sophia yang bumbuin opornya," sahut Ibu Marisa.
"Udah jelas, istriku tercinta pinter masak, gak cantik doang," sindir Alex.
"Kak Alex baru aja minta maaf udah nabung dosa lagi," sahut Claudya.
Alex tertawa kecil dengan ucapan Claudya.
"Do, tumben kau makan salad, cacing kremi mudik ya?" tanya Gavin.
"Cacing kreminya lebaran Om, jadi minta maaf gak ngulangin lagi," jawab Dodo.
"Yaelah paling juga udah makan kenyang subuh tadi," sahut Claudya.
"Enggak Tante, baju lebaran Dodo kesempitan, kalau makan banyak pasti sobek," jawab Dodo.
Semua yang ada di ruang makan tertawa dengan ucapan Dodo. Ternyata dia makan salad doang karena baju lebarannya sempit khawatir robek.
Usai makan Alex mengajak Sophia ke kamar mereka. Alex mendudukkan Sophia di ranjang. Dia duduk bersimpuh di kaki Sophia. Mencium tangannya.
"Mas kok di bawah? Aku yang seharusnya melakukan itu," kata Sophia.
"Tidak sayang, kau malaikatku," jawab Alex.
"Tapi Mas ...," sahut Sophia.
Alex menutup bibir merah delima dengan jari telunjuknya. Dia menggeleng.
"Biarkan aku yang melakukan ini," kata Alex. Matanya menatap mata Sophia dengan penuh cinta.
Melihat suaminya tampak memohon, Sophia hanya mengangguk.
"Sayang maafkan semua kesalahanku. Aku lelaki yang brengsek, bukan suami idaman yang pantas bersanding dengan bidadari sepertimu, maafkan semua kekurangan dan kesalahanku," ujar Alex berurai air mata sambil mencium tangan Sophia.
"Aku sudah memaafkanmu Mas, bagiku Mas adalah imam terbaikku, aku hanya melihat Mas yang sekarang bukan yang dulu, aku tidak pernah menyesal menikah denganmu," sahut Sophia.
"Makasih atas semua kebaikanmu, kesetiaanmu, kesabaranmu dan pengabdianmu sebagai istri yang sholeha untukku, kau harta yang terbaik yang ku miliki Sophia," kata Alex.
Air mata Sophia jatuh di pipinya. Dia bahagia sekaligus terharu dengan ucapan suaminya.
"Aku sangat beruntung memilikimu dalam hidupku," tambah Alex.
"Aku juga beruntung jadi istrimu Mas," sahut Sophia.
Alex bangun. Menatap mata emerald itu. Menyeka air matanya dengan lembut. Mencium bibir merah delimanya.
"Aku mencintaimu Sophia," kata Alex.
"Aku juga Mas," sahut Sophia.
Alex memeluk Sophia. Dalam hidupnya bertemu dengan Sophia seperti terlahir kembali ke dunia. Dia merasa jadi dirinya yang baru dan jauh lebih baik lagi.
Alex dan Sophia ke luar dari kamar. Mereka kembali masuk ke ruang keluarga berkumpul dengan keluarga menyambut tamu yang silih berganti datang baik dari kerabat, kenalan, sahabat dan rekan bisnis. Termasuk Keluarga Wijaksana, Kenan dan Tara, Maria dan Mak Ros, dan terakhir Pak Harry beserta keluarganya.
Pak Harry dan keluarganya meminta maaf pada seluruh anggota Keluarga Sebastian. Mereka kini menjadi keluarga. Pak Harry juga menyempatkan mengobrol dengan Pak Ferdi di halaman belakang dekat kolam renang.
"Kak Harry mulai sekarang mari kita berdamai dan menjadi keluarga yang utuh," kata Pak Ferdi.
"Aku belum bisa melakukan itu sampai kau menjawab pertanyaanku," sahut Pak Harry.
"Pertanyaan apa?" tanya Pak Ferdi.
"Apa yang terjadi pada Tiara selama bersamamu?" tanya Pak Harry balik. Dia ingin tahu apa yang terjadi pada Tiara.