Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Keluarga Datang



"Iya sayang, ini Mama," sahut Sophia. Mencium pipi gembul Arfan.


"Papa juga mau nyium Arfan," kata Alex. Setahun sudah tak bertemu Sophia, ini kali pertamanya melihat buah cintanya bersamanya. Arfan begitu ceria dan anteng. Ketika Sophia menciumnya, dia hanya tersenyum dan mengoceh.


"Sini Papa!" ujar Sophia.


Bergegas Alex mendekatkan wajahnya ke wajah Arfan. Mencium pipi gembulnya.


Cup


"Wanginya, Papa suka," ucap Alex. Dia mencium Arfan lagi sampai Arfan kegelian karena kumis-kumis tipis Alex. Sampai ketawa-tawa.


"Mas, Arfan geli sama kumis tipismu," kata Sophia.


"Arfan, geli ya? Geli?" goda Alex pada anak lelakinya. Sengaja mendekatkan kumisnya pada pipi gembul Arfan.


"Pa-Pa ... Pa-Pa ..." Arfan mengoceh sambil tertawa.


Sophia tersenyum melihat Alex mengajak Arfan bercanda. Sementara itu Claudya dan yang lainnya terharu melihat keluarga yang terpisah berkumpul lagi.


"Alhamdulillah, Ibu seneng melihatnya, Alex, Sophia dan Arfan sudah berkumpul lagi," ujar Ibu Marisa. Dia bersandar di bahu Pak Ferdi.


"Ayah juga seneng, mereka bisa bertemu setelah sekian lama," sahut Pak Ferdi.


Yang lainnya mengangguk. Mereka ikut senang dengan pertemuan Sophia, Alex dan Arfan. Pertemuan yang memang seharusnya terjadi sejak lama. Tapi Allah SWT berkata lain. Semuanya indah pada waktunya.


"Kak Sophia, Kak Alek, aku rindu kalian," kata Claudya. Matanya menatap mereka berdua.


"Aku juga rindu padamu Claudya," sahut Sophia.


Claudya mendekat. Memeluk Sophia. Dia begitu rindu kakak iparnya. Orang yang membawa kedamaian di Keluarga Sebastian.


"Kau tak rindu padaku Claudya?" tanya Alex.


"Aku tidak rindu padamu, justru aku kesal padamu kak Alex, kau tak pulang-pulang. Kita semua menunggumu," sahut Claudya sambil berurai air mata. Meskipun dia suka berdebat dengan Alex tapi dia begitu menyayangi kakaknya.


"Kalau begitu aku yang rindu padamu," sahut Alex. Menghampiri Claudya yang berdiri di seberangnya.


"Kakak," sahut Claudya. Beralih memeluk Alex. Dia menangis dibahunya. Rindu pada sosok lelaki menyebalkan yang selalu meledeknya saat mereka bersama.


Tak hanya Claudya. Kakek David, Nenek Carroline, Pak Ferdi, dan Ibu Marisa menghampiri Sophia dan Alex. Mereka memeluk Alex dan Sophia bergantian. Mereka melepas rindu dan mencurahkan kasih sayang. Dibalik air mata dan rasa haru, ada tawa Arfan yang lucu menghangatkan suasana membuat mereka tertawa renyah melihat tingkah Arfan.


"Sophia lihat Arfan geleng-geleng, gaya barunya kalau denger musik," kata Ibu Marisa.


"Oh anak Mama suka denger musik?" ujar Sophia menatap tingkah lucu Arfan mendengar nada dering handphone milik Pak Ferdi.


Arfan tertawa lucu. Membuat Sophia gemas. Mencium pipinya lagi.


"Ada lagi Kak, kalau dengerin sholawatan, lihat nih," ujar Claudya sambil menyetel sholawatan yang ada di handphone miliknya. Arfan langsung menengadahkan tangannya seperti orang yang berdoa.


"Ha ha ha ..." Semua orang tertawa melihat tingkah lucu Arfan. Bukannya malu ditertawakan Arfan justru tertawa kegirangan.


"Jagoan Papa emang hebat!" kata Alex memuji Arfan sambil mengacunginya jempol ke depan Arfan, bergegas Arfan mengambil tangan Alex dan mengigitnya.


"Aw ... Aw ...!" keluh Alex.


"Teruskan Arfan, biar Papamu mencoba gigi barumu yang tumbuh," ujar Claudya senang Alex kena gigit gigi Arfan yang gatal.


"Wah pelatihnya kejam, pantas Arfan mengigitku," kata Alex.


Sophia dan yang lainnya tertawa melihat Arfan uji coba giginya pada jari Alex.


"Arfan anak Papa lepas ya." Alex memohon. Dia tak tega tangannya dilepas dari mulut Arfan yang lagi asyik mengigit.


"Lex puji dulu anak baik, sholeh, gantengnya maksimal pasti dilepas deh," kata Pak Ferdi memberi tutorial agar Arfan melepas jari Alex.


"Iya Yah," jawab Alex.


Sophia dan yang lainnya hanya tersenyum dengan tingkah lucu Arfan yang gusinya gatal karena giginya mau tumbuh. Dia mengunyah-ngunyah jari Alex bak sosis empuk yang k€ny4l.


"Arfan anak baik, sholeh, ganteng maksimal," kata Alex. Mendengar pujian dari Alex, dia langsung melepas jari Alex dan tepuk tangan.


"Lucunya anak Papa," ujar Alex melihat Arfan yang lucu.


"Iya Mas, lucu banget Arfan," tambah Sophia.


Mereka semua tersenyum bahagia bisa berkumpul bersama dan berbagi cerita tentang Arfan yang tumbuh kembang.


"Wa'alaikumsallam," sahut Alex, Sophia, dan yang lainnya.


Pak Harry dan anggota Keluarga Harold masuk ke dalam. Mereka bersalaman dengan Keluarga Sebastian. Saling bercengkrama dan berbagi berita bahagia.


"Alex, Sophia," ujar Pak Harry menghampiri anak dan menantunya.


"Pak tua lama tak jumpa denganmu," ucap Alex.


"Bocah kau membuatku marah besar karena kau tak pulang-pulang," sahut Pak Harry. Seperti biasa dari zaman tutut harga serebuan sampai lima rebuan mereka tetap bersitegang. Tak lain tak bukan masalah berapa persen tingkat ketampanan di antara mereka berdua.


"Aku juga marah padamu, karena aku tak bisa bertemu denganmu, tentunya kau merasa besar kepala tanpa saingan setampan diriku," ujar Alex.


"Mau kau ada atau tidak, aku sudah yang paling tampan," sahut Pak Harry.


Sophia dan yang lainnya geleng-geleng ayah dan anak itu selalu berdebar soal ketampanan tak ada habisnya.


"Tapi bolehkah Pak tua ini memelukmu? Dari bayi aku belum pernah memelukmu," kata Pak Harry. Dia memang belum pernah memeluk Alex dari kecil. Gengsi mengakuinya tapi dia rindu padanya dan rasa rindu itu terasa berat saat Alex tak ada. Dan dinyatakan hilang.


Alex tersenyum tipis. Akhirnya Pak tua itu turun level demi memeluknya.


"Oke, orang tampan sepertiku selalu berlapang dada menghadapi Pak tua sepertimu," sahut Alex.


"Astaga nih bocah kenapa nurunin sifatku banget, soal ketampanan tak bisa ditawar," batin Pak Harry. Padahal bukan Alex saja tapi cucunya Arfan juga sama soal ketampanan nomor satu.


Alex membukakan tangannya. Memeluk Pak tua. Sebenarnya dia juga merindukan ayah kandungnya itu. Bukan karena soal ketampanan yang sering diperdebatkan. Tapi karena hubungan ayah dan anak. Pak Harry tetap saja ayah kandungnya. Suka atau tidak.


Mereka berdua saling memeluk sepuasnya. Ayah dan anak. Tiba-tiba Arfan minta turun. Dia berjalan ke arah Alex dan Pak Harry.


"Opa anteng ... Opa anteng ..." Arfan mendekat.


Alex langsung mengangkat Arfan. Memeluknya bersama Pak Harry. Tiga manusia tampan yang tak bisa ditawar. Arfan kecil pun mesti dibilang ganteng. Tak jauh beda dari leluhurnya.


Tak hanya Pak Harry, Luki juga menghampiri Alex. Dia berbincang dengannya. Melepas rindu sebagai kakak ipar dan adik ipar. Begitupun dengan Humaira yang menghampiri Sophia.


"Alhamdulillah Kak Sophia sudah sadar dan Kak Alex sudah kembali," ucap Humaira. Wanita bercadar itu selalu lembut dan santun saat bertutur kata. Pembawaannya itu membuat siapapun begitu menghormatinya.


"Alhamdulillah, terimakasih Humaira," sahut Sophia. Tersenyum padanya.


"Arfan pasti seneng banget bisa bersama Kak Sophia lagi," kata Humaira.


"Iya, setahun ini aku tidak ada untuknya," sahut Sophia.


Humaira langsung memeluk Sophia. Dia senang kakak iparnya sudah sadar dan terlihat sehat.


"Semoga Allah senantiasa memberi kesehatan dan keselamatan untuk kakak," ujar Humaira.


"Amin," jawab Sophia. Dia senang banyak yang menyayanginya. Keluarga Sebastian, Keluarga Harold dan Keluarga Wijaksana yang merupakan keluarganya sendiri.


Keramaian di ruangan itu bertambah ketika Gavin dan Maria datang. Mereka berdua langsung berbaur. Berkumpul dengan keluarga lainnya bak reonian angkatan 45.


"Kak Alex!" panggil Gavin menghampiri Alex yang menggendong Arfan.


"Gavin," sahut Alex.


Gavin langsung mendekat. Mencolek Arfan yang asyik digendongan Alex sambil mengunyah jarinya.


"Alhamdulillah, Allah masih mempertemukan kita Kak," ujar Gavin. Matanya berkaca-kaca. Pertemuan buaya dan biawak dalam kelas menaklukan wanita baru saja dimulai.


"Iya Vin, Alhamdulillah. Allah masih memberiku kesempatan bisa berkumpul dengan semua keluargaku," sahut Alex.


Gavin beralih melihat Arfan yang cuek padanya. Biasanya langsung minta gendong Gavin kalau bertemu dengannya.


"Gak mau ke Om? mentang-mentang ada Papanya nih," ujar Gavin.


Arfan tetap cuek. Malah mendekatkan kepalanya ke Alex. Menyatukan pipinya ke pipi Alex.


"Astaga Arfan kau memanasiku, gak butuh Om lagi ya," kata Gavin.


"Arfan lagi kangen-kangenan sama gua Vin, lo gak dibutuhkan ke laut aja dulu," ujar Alex.


"Tar gua gak balik setahun kalau ke laut Kak," sahut Gavin.


Sophia dan yang lainnya tertawa dengan gurauan Alex dan Gavin. Mereka semua ikut bahagia.


"Assalamu'alaikum," sapa Kenan dan Keluarga Wijaksana yang baru datang