
"Baik Tuan," jawab supir.
Mobil tetap melaju meski di depan ada orang berdiri membawa palu. Setelah mobil mendekat dan hampir menabrak, orang itu naik ke atas mobil memukul kaca mobil sampai pecah.
Tuar ...
"Tuan!" teriak supir terkejut. Kemudian menghentikan mobilnya.
"Siapa kau berani sekali padaku!" teriak Pak Harry.
Tak hanya satu. Muncul lagi dua orang lainnya membawa palu juga. Mereka mendekat. Memukulkan palu ke kaca mobil samping.
Tuar ...
Tak hanya itu mereka merusak seluruh body mobil.
Pak Harry terkejut. Orang-orang itu terlihat beringas. Membuka pintu mobil. Menarik Pak Harry ke luar dari dalam mobil. Melemparnya ke jalan.
Bruuug ...
Pak Harry terjatuh di jalan. Dia tersungkur sampai terduduk di jalan.
"Kalian siapa? Berani sekali berurusan denganku!" Pak Harry marah. Berdiri.
Ketiga lelaki itu mengerumuni Pak Harry di tengah.
"Kami pencabut nyawamu." Salah satu dari mereka berbicara.
"Kalian akan menyesal berkata seperti itu padaku," sahut Pak Harry.
Mereka tak membalas ucapan Pak Harry. Langsung menyerangnya. Mau tak mau Pak Harry tak bisa berdiam diri. Membalas kembali serangan mereka. Baku hantam tak terelakkan. Pak Harry menghindar dari pukulan demi pukulan palu di tangan mereka. Hingga dia kelelahan, tak bisa lagi menghindar terkena hantaman palu itu di tangan dan kakinya sampai terjatuh di jalan.
Bruug ...
"Lemah," ucap mereka bertiga.
Pak Harry berusaha bangun tapi dia sudah babak belur. Ketiga orang itu melangkah. Mendekat. Jantung Pak Harry berdebar. Menandakan dirinya dalam bahaya besar. Bisa saja mereka bertiga memang akan mencabut nyawanya.
Tiba-tiba sebuah mobil Ferrari berwarna hitam berhenti di dekat mobil Pak Harry.
Mereka bertiga terhenti. Melihat ke arah mobil Ferrari berwarna hitam itu. Seseorang ke luar dari dalam mobil mengenakan setelan jas hitam. Terlihat tampan dan keren. Gayanya arogan. Tatapan matanya dingin. Berjalan ke depan. Menghampiri mereka bertiga.
"Ada apa ini? Main keroyokan?" tanya Luki.
"Berani sekali kau menganggu pesta kami."
"Pesta? Aku tak diundang?" tanya Luki.
"Banyak omong lo."
"Mari kutunjukkan pesta yang sesungguhnya," jawab Luki. Dia mengeluarkan tali rantai dari dalam jasnya.
Melihat itu mereka bertiga maju ke depan menyerang Luki menggunakan palu di tangan merekam Dengan sigap Luki memutar tali rantai, mengait ketiga palu yang diarahkan padanya.
Sreeek ...
Tali rantai mengait ke tiga palu itu lalu dia mengibaskan ke samping dengan keras sampai palu itu terjatuh tak beraturan ke jalan.
Bluuug ...
Kini ketiga preman itu tak memiliki palu lagi. Luki mulai maju menyerang mereka. Sabetan demi sabetan mengenai tangan, kaki, dan perut ketiga orang itu.
Bruuug ...
Mereka bertiga terjatuh. Luki masih berdiri memegang tali rantai.
"Sepertinya pesta akan berakhir," ucap Luki.
"Kau!" teriak ketiganya. Mereka kembali bangun. Berlari kencang. Menubruk Luki. Menangkap tubuhnya secara bersamaan. Luki terperangkap dalam dekapan mereka. Rantai di tangannya juga dilepas salah satu dari mereka. Di buang begitu saja.
"Kau tak bisa apa-apa."
"Benarkah?" ujar Luki. Dia memberontak sekuat tenaga. Menggunakan kaki dan tangannya untuk terlepas dari dekapan mereka.
Bruuug ....
Mereka bertiga terjatuh di samping Luki yang berdiri.
"Ayo lawan aku!" titah Luki.
Dug ... dug ...
Pukulan demi pukulan. Dan tendangan demi tendangan. Baik Luki dan ketiga orang itu saling membalas.
Luki dikeroyok dari depan, belakang dan samping. Tapi dia lebih dominan. Mereka bertiga memukul bersamaan. Luki mendang mereka bersamaan sambil berputar.
Bruuug ...
Ketiga orang itu terjatuh di jalan.
"Sepertinya kurang seru kalau senjata yang satu ini belum dikeluarkan," ujar Luki sambil mengeluarkan pistol dari jas kerjanya.
Mereka bertiga menelan ludahnya berkali-kali saat melihat pistol di tangan Luki.
"Ayo kabur!"
"Oke."
Mereka bertiga tak mau ambil resiko, memilih kabur dari tempat itu.
Luki tersenyum licik. Kembali memasukkan pistolnya ke dalam jas miliknya. Dia berjalan menghampiri Pak Harry.
"Anda tak apa-apa?" tanya Luki.
"Tidak," sahut Pak Harry. Dia sudah tak bertenaga dan babak belur. Matanya melihat ke arah Luki. Lelaki muda yang sangat kuat di matanya.
"Mari saya bantu!" ujar Luki.
Pak Harry mengangguk.
Luki membantu Pak Harry bangun. Memapahnya. Supir yang dari tadi di dalam mobil ketakutan ke luar. Menghampiri mereka.
"Tuan," ucap supir.
"Bantu aku masuk ke mobil!" titah Pak Harry.
"Tidak perlu Bos, naik mobil saya saja, biar saya antar ke rumah," ujar Luki.
"Benar Tuan, mobil kita rusak parah," sahut supir.
Pak Harry terdiam. Lelaki muda itu baru dikenalnya. Apa aman pergi bersamanya walaupun tadi dia menolongnya.
"Bagaimana Bos? luka anda parah harus segera diobati?" tanya Luki.
Pak Harry mengangguk.
Segera Luki membawa Pak Harry masuk ke dalam mobilnya. Dia mendudukkan Pak Harry di kursi belakang. Kemudian dia menyetir mobilnya meninggalkan tempat itu.
Satu jam berlalu. Sampai juga dikediaman Keluarga Harold. Luki memapah Pak Harry masuk ke dalam. Di ruang tamu ternyata Humaira sudah menunggu Pak Harry. Dia tidak bisa tidur. Hatinya resah. Pikirannya terus memikirkan ayahnya yang belum pulang. Saat melihat ayahnya dipapah seorang lelaki asing, Humaira langsung mendekat.
"Papa," ucap Humaira cemas.
"Humaira," jawab Pak Harry pelan. Dia tak mampu bicara keras. Tubuhnya benar-benar sakit. Luka lebam hampir disekujur tubuhnya. Untung saja tak mengenai organ penting.
"Papa kenapa?" tanya Humaira melihat Pak Harry sudah tak berdaya. Penuh luka lebam di mukanya.
"Tadi Papamu dikeroyok begal, aku hanya membantunya," ujar Luki. Menjadi pahlawan kesiangan untuk putri cantik di depannya. Siap melumpuhkan putri cantik itu dan membawanya dalam rencana besarnya.
"Apa? Papa dikeroyok begal?" Humaira terkejut. Miris mendengar ayahnya dikeroyok begal yang biasa berkeliaran malam. Tak pernah terbayangkan olehnya rasa resah dan gelisahnya dari tadi karena ayahnya dalam bahaya.
"Iya, sekarang lebih baik Papamu segera diobati," jawab Luki.
Humaira mengangguk.
"Ternyata ini putri Pak Harry, lihat saja aku akan mendapatkannya dan membalas semuanya," batin Luki.
"Biar ku bantu naik ke kamar ayahmu, di mana?" tanya Luki. Seolah dia malaikat baik hati. Padahal kedatangannya ke rumah itu untuk tujuan besar. Dia siap berburu mangsa. Takkan membiarkannya terlepas dengan mudah.
"Mari!" sahut Humaira. Dia berjalan menuju tangga. Diikuti Luki yang memapah Pak Harry. Berjalan menuju kamar Pak Harry. Masuk ke dalam. Luki membaringkan Pak Harry. Sedangkan Humaira terlihat sibuk menyiapkan kotak P3K dan air di dalam wadah dengan handuk kecil.
"Saya pamit pulang dulu Bos," ucap Luki.
"Jangan pulang dulu, kau juga terluka, biarkan putriku mengobatimu," ujar Pak Harry. Melihat lelaki muda di depannya juga terluka di tangan dan bibirnya.
"Bagus, itu memang sesuai rencanaku," batin Luki kegirangan. Semua sudah masuk dalam perangkap yang sudah direncanakannya jauh-jauh hari.