
Erisa terdiam. Mengamati foto lelaki di samping ibunya. Dia tidak tahu siapa lelaki itu tapi dia pernah melihat wajah yang mirip dengan lelaki di foto itu.
"Di mana ya aku pernah melihat wajah lelaki ini? Pernah muncul di televisi, di YouTube juga ada, siapa ya?" Erisa berusaha berpikir namun suara neneknya memanggil. Bergegas Erisa memasukkan kembali foto itu ke belakang foto yang terpajang. Dia memajang kembali figura itu ke dinding. Merapikan kamar neneknya dengan cepat. Kemudian masuk ke dapur secepatnya selagi neneknya masih duduk di sofa karena pusing.
"Aku harus buatkan nenek teh hangat biar tidak curiga," batin Erisa. Dia harus lebih pintar dari neneknya. Wanita tua itu akan memanfaatkan situasi demi keuntungannya.
Erisa membuat teh hangat untuk neneknya. Kemudian berjalan kembali ke ruang tamu dengan membawa satu gelas teh hangat.
"Nek aku buatkan teh hangat. Dari tadi coba ku bangunkan, tapi nenek tetap pingsan jadi aku berpikir untuk membuat teh hangat," ucap Erisa beralasan agar neneknya tak curiga.
"Iya nenek pusing mencium bau kentut. Kamu kan tahu nenek alergi bau menyengat. Tadi tuh kentutnya bau banget. Sampah aja kalah," keluh Nenek Menur sambil memijat pelipisnya.
Erisa tersenyum tipis. Justru dia beruntung neneknya pingsan jadi bisa memanfaatkan situasi untuk mengetahui petunjuk tentang ayahnya.
"Ya udah Nek mending minum teh dulu biar enakkan." Erisa memberikan teh hangat itu pada neneknya. Lalu duduk di sampingnya. Beban di pundaknya terasa ringan setelah tahu wajah ayahnya. Tinggal mencari tahu siapa ayahnya.
"Ini gulanya gak kebanyakan kan?" tanya Nenek Menur. Gula darahnya tinggi. Dia berusaha mengurangi memakan atau meminum yang manis.
"Gaklah masa aku mau kasih gula sekilo. Tar nenek mati duluan," sahut Erisa. Dia tidak mungkin mengerjai neneknya seperti pada Yuda. Untuk sementara, gak tahu ke depan. Erisa tersenyum.
"Kau mendoakan nenek mati?" Nenek Menur emosi. Dia tak terima disebut mati oleh cucunya.
"Gaklah Nek, gak perlu didoain juga nenek akan mati. Kakek aja udah, tinggal nenekkan?" sahut Erisa dengan santai. Menghadapi neneknya tidak bisa dengan tangisan atau kelembutan. Dia licik, Erisa harus lebih licik darinya.
"Apa kau bilang?" Nenek Menur marah.
"Sabar Nek, tar darah tinggi lagi. Sayang sisa umur belum tobatkan?" sahut Erisa sambil mengelus lengan neneknya. Tersenyum tipis penuh tipu muslihat.
"Kau ya!" Nenek Menur mulai naik darah. Nafasnya tersengal-sengal. Dadanya agak sesak. Tangannya memegang dadanya. Dari tadi sudah terbawa emosi gara-gara ucapan Erisa.
"Tuhkan Nek, Erisa bilang apa? Sabar." Erisa mengelus dada neneknya. Bersikap manis padanya, seolah Erisa sangat menyayanginya.
Nenek menur mengatur nafasnya. Dia tidak ingin terbawa emosi. Bisa naik darah kalau dituruti. Dia coba untuk tenang dan berpikir jernih.
"Ayo Nek diminum tehnya!" titah Erisa.
Nenek Menur mulai meminum teh hangat buatan cucunya sampai habis.
"Gimana? Dah enakkan?" tanya Erisa sambil mengambil gelas kosong di tangan neneknya kemudian meletakkannya di atas meja.
"Iya," sahut Nenek Menur. Dia sudah merasa tenang. Nafasnya sudah teratur kembali dan jantungnya sudah tak berdebar tak karuan.
"Baguslah, toh aku sudah tahu wajah ayahku, tinggal cari siapa dia," batin Erisa. Dia harus lebih cerdik dari neneknya. Kalau tidak dia akan masuk dalam perangkap yang sudah dibuat neneknya.
"Iya Nek, siapa ayahku?" tanya Erisa. Memasang wajah imutnya. Seolah dia belum tahu, biar neneknya tidak curiga.
"Ada syaratnya, baru aku akan memberi tahu siapa ayahmu," jawab Nenek Menur. Tidak ada yang gratis. Erisa harus mengikuti keinginannya baru dia akan memberi tahu siapa ayahnya.
"Sudah ku tebak, pasti bersyarat. Nenek memang licik," batin Erisa. Dia sudah tahu neneknya akan melakukan itu padanya.
"Apa syaratnya Nek? Aku ingin tahu siapa ayahku hik hik hik." Erisa berpura-pura sedih. Seolah dia benar-benar ingin tahu siapa ayahnya. Bahkan dia bolak-balik mengambil tisu untuk menyeka air matanya dan ingusnya.
"Menjijikkan sekali, kau belum tahu ayahmu sudah nangis duluan, ingusan lagi," ujar Nenek Menur melihat Erisa terlihat sedih sekali sampai berurai air mata dan ingusan.
"A-ku sedih Nek. Aku ingin bertemu ayahku. Puluhan tahun aku dicampakan. Bang Toyib saja hanya tiga tahun mencampakkan," keluh Erisa. Aktingnya maksimal. Seolah benar-benar sedih.
"Kayanya aku lebih baik jadi artis, berbakat sekali aktingku. Main di film Nenek Sihir Dan Putri Teraniaya sepertinya bagus," batin Erisa tertawa.
"Iya, tapi tisu nenek habis. Kau tahu itu tisu beli branded. Harganya dua juta, perlembar yang kau pakai seratus ribu tahu," ucap Nenek Menur marah.
"Hik hik hik." Erisa makin nangis kejer.
"Kenapa kau malah tambah nangis?" tanya Nenek Menur.
"Sedih Nek, seharusnya aku makan tisu ini. Mahal, sayang kalau cuma buat ngelap air mata," sahut Erisa.
"Astaga tisu ini lebih mahal dari biaya makanku sehari yang cuma sama nasi kucing," batin Erisa meronta. Jiwa miskinnya terpanggil. Udah ngabisin berpuluh lembar ternyata tisu sultan.
"Sudah-sudah kembali ke topik utama, kau ingin tahu siapa ayahmu?" tanya Nenek Menur.
Erisa mengangguk.
"Kau harus mau menikah dengan Yuda, baru aku memberi tahu siapa ayahmu," jawab Nenek Menur. Syarat yang diajukannya sulit untuk Erisa.
"Tuhkan, apalagi. Pasti aku disuruh nikah sama Si gendut itu. Untung aku buaya nenek kadal. Jadi lebih suhu," batin Erisa. Orang licik mau dilicikin, gak mempan.
"Gimana ya Nek? Aku gak penasaran siapa ayahku. Takutnya ayahku penjahat, mafia, koruptor, aku tidak ingin terbawa masalah. Lebih baik aku tidak tahu. Lagi pula kalau ternyata ayahku gembel, hidupku saja sudah susah. Aku tidak mau tambah susah," jawab Erisa. Dia mematahkan ucapan neneknya.
"Loh-loh kamu gak ingin tahu ayahmu?" tanya Nenek Menur panik. Dia tidak bisa menghentikannya.
"Gak usah deh. Takutnya dia banyak utang, tar aku suruh bayar. Udah dulu ya Nek. Aku mau pulang bye," jawab Erisa. Dia bangun kemudian ke luar dari rumah neneknya dengan senyuman yang mengembang. Sedangkan neneknya di dalam berusaha memanggilnya. Tapi Erisa tak menggubris. Dia tetap jalan ke depan tanpa beban.
"Aku akan tahu siapa ayahku. Wajah itu aku pernah melihatnya. Dia orang yang terkenal dan kaya. Pasti mudah mencari identitasnya." Erisa berjalan ke depan. Tidak ada yang bisa memaksanya menikah. Dia ingin hidup bebas. Hanya kakeknya yang bisa membuat Erisa menurut bukan neneknya yang hanya memanfaatkannya.