Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Batasan



Baca bab sebelumnya baru ke bab ini


.


.


"Iya, maaf bukannya sombong apalagi melupakan teman lama," sahut Pak Yuga.


"Kalau gitu mari kita memperkenalkan diri kita kembali," usul Alex.


Pak Yuga mengangguk. Dia setuju dengan usul dari Alex.


"Namaku Yuga Abimayu, senang bisa bertemu denganmu kembali," ucap Pak Yuga.


"Aku Alex Sebastian. Senang juga bisa bertemu dengan rivalku lagi," sahut Alex. Dia senang bisa bertemu rival semasa SMA.


"Alex Sebastian? Di mana ya aku pernah mendengar nama itu? Seperti familiar. Apa karena mungkin ingatan masa laluku?" batin Pak Yuga pernah mendengar nama Alex Sebastian tapi dia lupa di mananya.


"Sekarang kau tinggal di mana?" tanya Alex.


"Jakarta," jawab Pak Yuga.


"Sama dong, aku juga tinggal di Jakarta," jawab Alex. Meski sesama pebisnis mereka tidak begitu mengurusi urusan orang. Lagi pula mereka memiliki bidang usaha yang berbeda.


"Kerja apa sekarang?" tanya Pak Yuga. Ingin tahu pekerjaan rivalnya.


"Properti," jawab Alex.


"Hebat, pasti tidak mudah usaha di bidang properti, butuh kerja keras dan pemasaran yang bagus," ujar Pak Yuga. Ini kali pertamanya memuji Alex, dulu mereka tak sekalipun tegur sapa. Benar-benar bersaing. Tidak ingin salah satu dari keduanya unggul.


"Terimakasih atas pujian langkanya. Kau sendiri kerja apa?" tanya Alex.


"Batu bara di Kalimantan," jawab Pak Yuga. Meski tempat usahanya di Kalimantan tapi perusahaan miliknya ada di Jakarta.


"Wah pengusaha besar. Aku sampai tidak tahu rivalku sekarang sangat hebat," puji Alex. Dulu bersitegang sekarang saling memuji satu sama lain. Masa lalu hanya sebuah motivasi untuk masa depan. Hingga kini mereka jadi pengusaha yang sukses.


Tak lama handphone Alex berdering. Sekerika Alex melihat panggilan di layar handphone miliknya. Sebuah panggilan dari perusahaan.


"Oya Yuga lusa mainlah ke rumahku, aku akan menjamumu sebagai rival terbaikku," ucap Alex.


"Boleh, aku penasaran ingin tahu kehidupanmu sekarang," jawab Pak Yuga. Dia penasaran Alex yang sekarang. Sekalian bersilaturahmi dan menjalin hubungan baik dengan rivalnya.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Ada pekerjaan di kantor yang harus ku selesaikan," kata Alex. Meski hari itu hari libur tapi ada sedikit pekerjaan yang harus dia kerjakan.


"Oke, sampai jumpa lagi," sahut Pak Yuga.


"Assalamu'alaikum," ucap Alex.


"Wa'alaikumsallam," sahut Pak Yuga.


Alex pun meninggalkan tempat itu. Masih ada pekerjaan yang harus dia kerjakan. Terpaksa kembali ke perusahaannya.


***


Siang itu Arfan mengajak Emily pergi ke butik. Dia ingin menemani Emily membeli baju muslim dan hijab yang sesuai untuknya. Arfan dengan sabar menemani gadis manja yang kebingungan memilih baju untuknya.


"Arfan! Aku bingung," ucap Emily.


"Pilihlah yang kau suka dan menutup auratmu!" titah Arfan. Dia tidak memaksa Emily untuk memakai yang dia inginkan. Emily harus nyaman mengenakan pakaian yang akan dipakainya. Arfan yakin bertahap Emily akan berubah sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu.


"Berarti aku ingin rok ya? Gak usah gamis gak papakan?" tanya Emily.


"Asal menutup auratmu dan longgar," jawab Arfan. Dia tahu diawal-awal akan susah beralih dari pakaian seksi ke pakaian tertutup. Itulah sebabnya Arfan tidak memberi syarat yang sulit. Perlahan Emily akan belajar saat iman di hatinya semakin kuat.


"Siap!" jawab Emily. Dia mulai memilih rok panjang yang longgar. Dari rok, atasan sampai dress, dia juga mengambil celana tapi celana kulot lebar. Dengan berbagai warna, warna cerah hingga warna kalem.


Emily memegang pakaian yang dipilihnya sambil memilih-milih baju lainnya. Tak sengaja Emily bertemu teman kuliahnya.


"Emily!" Seorang lelaki menghampiri Emily.


"Ronal," jawab Emily. Dia terlihat senang bisa bertemu Ronal di butik itu.


"Emily sudah lama tak bertemu, kau makin cantik dan seksi," ucap Ronal mengagumi kecantikan dan keseksian Emily yang masih sama bahkan lebih dari yang dulu.


"Ah, kau bisa aja Ronal. Dasar gombal," sahut Emily. Dia tahu temannya itu playboy sudah biasa menggoda dan merayu wanita.


"Hanya padamu aku jujur, yang lain cuma mainan aja," sahut Ronal. Meski playboy, dia tidak suka menggombal pada temannya sendiri.


"Kau ada di sini lagi ngapain?" tanya Emily.


"Biasa nganter cewek baruku belanja baju," jawab Ronal.


"Baru lagi?" tanya Emily. Dia yang sudah tahu seperti apa Ronal yang sering gonta-ganti pacar. Satu bulan bahkan bisa pacaran dengan lima wanita sekaligus.


"Iya dong, habis belum menemukan yang seperti kamu Emily, cantik, seksi dan gigit," jawab Ronal. Ada kenangan kenapa Ronal menyebut Emily gigit. Karena setiap kali kesal Emily selalu mengigit tangan Ronal. Emily manja dia tidak bisa punya masalah dengan siapapun. Pasti dia kesal dan mengigit tangan Ronal untuk melampiaskan kekesalannya.


"Kau masih ingat itu? Maaf Ronal habis hanya kau saja yang dekat denganku saat itu," jawab Emily. Tak banyak teman yang dimilikinya. Hanya ada dua orang Ronal dan Meisa. Semua itu karena sikap manja Emily yang suka membawa suster dan bodyguard ke sekolahnya.


"Gak papa untuk Princess Emily," jawab Ronal. Dia sangat royal kalau itu untuk Emily. Termasuk soal pertemanannya.


"Kalau gitu aku ke sana dulu ya Ronal!" ucap Emily.


"Oke kapan-kapan telpon aku ya?" ujar Ronal.


"Yes," jawab Emily. Dia meninggalkan Ronal. Mencari keberadaan Arfan sambil membawa baju yang sudah dipilihnya.


Emily melihat Arfan sedang cium pipi kanan dan cium pipi kiri seorang wanita cantik. Mereka terlihat akrab dan begitu dekat. Emily merasa cemburu dan tak terima melihat suaminya genit pada wanita lain.


"Arfan kenapa dia seperti itu?" batin Emily. Dia menghampiri Arfan. Menarik tangannya menjauh dari wanita cantik itu. Membawa Arfan masuk ke ruang ganti dan mengunci pintunya.


"Arfan! Kenapa kau mencium pipi wanita cantik itu?" tanya Emily. Wajahnya terlihat kesal dan kecewa.


"Kenapa? Cemburu?" tanya Arfan. Menatap wajah cantik yang cemberut itu.


"Iya, kau mencium wanita cantik itu di depanku," jawab Emily tak terima.


"Lalu tadi kau dicium Ronal aku cemburu tidak? Gimana perasaanku sebagai seorang suami?" tanya Arfan tampak santai.


Emily langsung terdiam. Benar juga kata Arfan. Mungkin yang dirasakan Arfan hampir sama dengan apa yang dirasakan Emily saat ini.


"Maafkan aku Arfan, aku janji gak akan mengulanginya lagi," ucap Emily manja. Memasang wajah imutnya.


Arfan tersenyum. Menyentil hidung istri manjanya.


"Lain kali hanya aku yang boleh mencium pipimu, gak boleh yang lain! Oke?" ujar Arfan.


Emily mengangguk dan tersenyum.


"Manisnya, ayo pulang cantik!" ajak Arfan. Tak sabar ingin mencium istrinya.


"Terus wanita itu siapa?" yanya Emily. Dia ingin tahu wanita yang tadi dicium Arfan. Emily penasaran.


"Aliza adikku, dia baru pulang dari luar negeri, kebetulan dia menyusul ke mari," jawab Arfan.


"Oh adikmu, terus kenapa pakai cium pipi kanan kiri?" tanya Emily. Dia ingin tahu kenapa Arfan mencium pipi adiknya.


"Untuk memberimu pelajaran tanpa aku harus marah-marah," jawab Arfan sambil memegang dagu Emily.


"Arfan! Aku cemburu tahu," keluh Emily manja sambil memegang tangan Arfan.


"Emily wanita dan laki-laki harus memiliki batasan dalam bergaul, aku tidak ingin kau merasa terkekang tapi kau melihat sendiri ketika aku mencium pipi oranglain? Bagaimana perasaanmu?" ujar Arfan.


Emily mengangguk. Dia tahu apa yang dimaksud Arfan. Dia tidak akan mengulanginya lagi.


"Ayo pulang! Nanti ku beri hadiah," bisik Arfan.


"Arfan!" sahut Emily tersenyum malu-malu.


Mereka pun meninggalkan butik itu setelah membayar semua baju yang dipilih Emily.