Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Siapa Kau?



Gavin duduk di kursi yang berada di teras rumah usai buka puasa bersama keluarga Mak Ros. Dia termenung. Memikirkan apa yang didengarnya tadi di klinik. Dia masih bertanya pada dirinya sendiri. Kedatangan Mak Ros ke klinik itu.


"Kalau ku perhatikan Mak Ros baik-baik saja tidak sedang mengalami gangguan jiwa," batin Gavin.


"Tapi kenapa Mak Ros datang ke klinik itu?" tambahnya.


Tiba-tiba Maria duduk di kursi bersama Gavin. Dia duduk di sampingnya berjarak satu meter.


"Gavin lagi ngadem?" tanya Maria.


"Iya, kekenyangan jadi ngadem dulu cinta," jawab Gavin.


"Mau tarawih?" tanya Maria.


"Iya bentar lagi," jawab Gavin.


Maria mengangguk.


"Maria, boleh tanya sesuatu?" tanya Gavin. Mungkin Maria tahu sesuatu.


"Tanya apa?" tanya Maria penasaran.


"Apa Mak Ros punya masalah ganguan kejiwaan?" tanya Gavin.


"Tidak, Mak waras kok," jawab Maria yang lugu.


"Waras? Lalu untuk apa Mak Ros ke sana?" batin Gavin.


"Apa ada kerabat atau teman Mak yang mengalami gangguan kejiwaan?" tanya Gavin.


"Tidak," jawab Maria.


"Untuk apa Mak Ros datang ke tempat itu?" batin Gavin semakin bingung.


Maria meletakkan sarung dan baju koko di dekat Gavin.


"Untuk tarawih," kata Maria.


"Cinta tahu aja Abang gak bawa baju koko sama sarung," sahut Gavin.


"Kan mau jadi istri abang, jadi belajar dari sekarang," jawab Maria.


Udah meleleh hati Gavin. Dapet calon bini semok, cakep, dan aduhai. Gimana gak langsung minta nikah. Kelamaan bisa naik sana sini bingung cara nurunin tangganya.


"Yaudah Abang tarawih dulu, Neng mau ikut?" tanya Gavin.


Maria mengangguk.


"Oya Mak sama Vera tarawih gak?" tanya Gavin.


"Mak dan Vera jarang tarawih," jawab Maria.


"Yaudah, kalau gitu ayo tarawih," ajak Gavin pada pujaan hatinya.


Marian mengangguk. Mengambil mukena di dalam. Kemudian berangkat tarawih bersama Gavin. Di jalan kampung bertemu beberapa tetangga yang juga hendak pergi tarawih. Mereka tampak sinis melihat Maria bersama Gavin.


"Ya ampun ibu-ibu jangan sampai gak lebaran mati duluan."


"Iya, takut ah, tar ketempelan sial."


"Masjid jadi tempat sholat bukan menebar kesialan atau cari mangsa baru."


"Heran, sok alim padahal predator."


Gavin melihat ekspresi Maria terlihat murung. Sang pujaan hatinya terluka hatinya dengan ucapan tetangganya.


"Biasanya bulan puasa gak ada setan, tapi kok banyak yang berkeliaran ya," sindir Gavin.


"Astaga kita disebut setan ibu-ibu." Ibu-ibu bigos tersinggung. Mereka jalan lebih dulu dari Gavin dan Maria.


"Tuhkan setannya kabur, kepanasan kalau dibacain doa," sindir Gavin.


Maria tersenyum kecil menutup mulutnya.


"Abang dah usir setannya, gak usah didengerin cinta," ujar Gavin.


"Makasih ya Vin," ucap Maria.


"Iya dong, aku harus melindungi calon istri dari setan gosip," sahut Gavin.


Mereka berdua masuk ke masjid. Gavin duduk di barisan laki-laki. Baru duduk lima menit, entah kenapa perut Gavin sakit. Dia ke luar dari masjid. Menuju toilet yang ada di masjid. Ternyata antrian panjang.


"Mas dah ambil antrian?" tanya lelaki di samping Gavin yang memegang perutnya..


"Ke toilet mesti mengambil antrian segala?" tanya Gavin.


"Iya, lihat saya nomor sepuluh," jawabnya.


Gavin melihat ke belakang, beberapa orang mengantri. Dari aki-aki sampai bocah piyik.


"Astaga aku ke berapa? Tar keberosotan gimana?" batin Gavin. Gengsi kalau keberosotan. Mana ada Maria, malu dong harga diri calon suami tampan dan keren pelindung calon istri.


"Pulang ah, gak kuat," batin Gavin. Dia berjalan ke luar dari masjid. Terbirit-birit. Berjalan melalui jalan memotong melewati jalan setapak yang lumayan sepi. Sambil memegang perut Gavin berjalan. Tiba-tiba ada yang memukulnya dari belakang.


Dug ...


Pukulan itu mengenai bagian leher belakangnya.


Seketika semuanya gelap. Ingatannya memudar. Gavin pingsan.


Satu jam berlalu, Gavin membuka matanya. Perlahan melihat sekeliling. Sebuah ruangan yang lebih mirip gudang yang kotor dan bau. Banyak barang yang sudah lapuk. Ruangan itu juga seperti bangunan tua.


"Aku di mana?" tanya Gavin pada dirinya sendiri. Dia mulai menggerakkan tangan dan kakinya.


"Tangan dan kakiku diikat," ujar Gavin yang duduk di kursi. Tangan dan kakinya sudah diikat.


"Tadi aku mau BAB, pulang lalu ada yang memukulku dari belakang," batin Gavin.


"Kau sudah bangun?" Seseorang mengenakan jubah hitam dan topeng masuk ke dalam ruangan itu. Dia menghampiri Gavin. Duduk di kursi yang ada di depannya.


"Siapa kau? Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Gavin dengan suara yang keras.


"Aku? Kalau ku bilang aku Maria kau percaya?"


"Tidak, Maria tidak mungkin seperti ini?" sanggah Gavin. Pujaan hatinya tak mungkin melakukan hal seperti ini.


"Kenapa tak mungkin?"


"Aku memang baru mengenal Maria, tapi aku yakin dia tidak mungkin melakukan hal kekanakan seperti ini," jawab Gavin.


"Ha ha ha ... kau begitu polos Gavin, aku tidak seperti yang kau pikirkan, aku kejam dan sadis."


"Aku yakin kau bukan Maria," kekeh Gavin.


Orang bertopeng itu berdiri. Berjalan ke arah Gavin. Dia berjalan memutarinya.


"Aku haus darah, hobi melihat orang kesakitan dan menderita, apalagi lelaki bucin sepertimu."


Gavin terdiam. Mendengarkan orang ditopeng itu.


"Kau ingin tahu siapa saja yang sudah ku bunuh?"


"Semua calon suami Mariakan!" pekik Gavin.


"Oh ..., kau sudah tahu? Bagus, kau juga akan menyusul mereka."


Gavin mulai emosi. Jantungnya berdebar tak karuan. Darahnya mengalir deras. Nafasnya mulai cepat.


"Aku tidak takut!" pekik Gavin.


"Oya, kalau begitu pilihlah kematian yang pantas untukmu?"


"Aku tidak akan mati!" pekik Gavin. Dia tidak takut dengan orang bertopeng itu.


"Oke, kalau begitu biar ku pilihkan caranya."


Orang bertopeng itu mengelilingi Gavin. Terlihat sedang berpikir. Gavin hanya terdiam. Dia tidak bisa berbuat apapun. Tangan dan kakinya diikat.


"Mati tertabrak mobil sudah, kesetrum listrik sudah, keracunan sudah, jatuh ke jurang sudah, gimana kalau dicincang untuk makanan hiu di laut?"


"Kau gila!" pekik Gavin.


"Ha ha ha ..., aku memang gila. Semua calon suamiku ku bunuh dengan tanganku sendiri."


"Tidak, kau bukan Maria, jangan mengaku-ngaku," ujar Gavin.


"Kasihan, udah cinta mati denganku?"


Gavin terdiam. Dia yakin orang ditopeng itu bukan Maria.


"Apa permintaan terakhirmu? Biar ku penuhi."


"Aku ingin kau masuk penjara dan membusuk di sana," sahut Gavin. Nada bicaranya selalu keras. Dia tidak takut hanya merasa cemas.


"Penjara? Itu untuk orang bodoh, sedangkan aku sudah beberapa kali membunuh mana mungkin sebodoh itu."


Gavin terdiam. Orang bertopeng itu sudah beberapa kali membunuh dan tidak ketahuan. Tentunya dia sangat pintar menyusun rencananya.


Orang bertopeng itu mengeluarkan golok dari dalam jubahnya. Dia berdiri di depan Gavin. Memegang golok itu.


"Mau pesan berapa potong? Dua belas potong?"


"Kau gila! Psikopat!" tutur Gavin.


"Ha ha ha ..., aku suka permainan ini semakin seru."


Gavin menggeleng. Orang bertopeng di depannya ini pasti orang yang tidak punya belas kasih. Dia psikopat sejati. Kejam dan sadis.


"Ayo merengek minta ampunlah! Menangis dan ketakutan."


"Cih, aku takkan serendah itu. Aku tidak akan mati di tangan orang gila sepertimu," kata Gavin.


Sreet ...


Golok itu diarahkan ke lengan Gavin sampai tersayat. Darahnya mulai mengalir. Gavin tak terlihat kesakitan. Tetap menatap tajam orang bertopeng di depannya. Rasa sakitnya ditahan, dia tak ingin terlihat lemah di depan orang itu.


"Kau tidak merasa kesakitan?"


Gavin tetap diam. Menatap ke depan dengan tatapan tajam.


"Baiklah aku akan mencingcangmu dengan lebih keras biar kau menikmati setiap potongannya."


Orang bertopeng itu mengangkat goloknya ke atas siap menebas Gavin.


"Berdoalah biar masuk surga."


Gavin tetap menatap orang ditopeng itu. Golok itu di udara siap menuju ke arahnya.


Dug ....


Maria memukul orang bertopeng itu dari belakang dan menendangnya. Sampai dia terpental jatuh ke bawah.


Bruuug ....


"Maria!" teriak Gavin.


"Gavin," jawab Maria yang masih memegang kayu di tangannya.