
Baca episode sebelumnya baru nyambung ke episode ini. Siapkan tisu mungkin mengandung sedikit bawang. Jangan banyak-banyak bawang harganya lagi naik. Masih lebaran belum turun.
Jangan lupa like, komen dan vote!!!!
"Telpon dari siapa Lex?" tanya Pak Ferdi.
"Orang kepercayaanku di Bandung," jawab Alex.
"Ada masalah?" tanya Kakek David. Dia berpikir sepagi itu menelpon Alex pasti ada urusan penting.
"Aku angkat dulu Kek,Yah," kata Alex.
Kakek David dan Pak Ferdi mengangguk.
"Sayang, Dede, Papa angkat telpon dulu," ucap Alex.
Sophia mengangguk.
Bergegas Alex berdiri. Meninggalkan meja makan. Dia membawa handphone-nya ke ruang tengah. Alex mengangkat telpon dari orang kepercayaannya itu.
"Assalamu'alaikum," sapa Alex.
"Wa'alaikumsallam Bos."
"Ada apa pagi-pagi nelpon?" tanya Alex. Dia sedikit kurang suka saat sedang bercengkrama dengan keluarganya terganggu.
"Bos, tanah yang dibangun jadi masalah, banyak orang demo dari kemarin sore Bos."
"Kok bisa? Kita sudah beli dengan resmi," kata Alex.
"Entahlah Bos, yang jelas Bos harus ke sini, kalau tidak mereka mau membakar dan merusak semua bangunan kita."
Deg
Alex terkejut mendengar penjelasan dari orang kepercayaannya. Jantungnya berdebar tak karuan. Belum lama ini Alex baru saja membeli tanah untuk dibangun di luar kota. Tak disangka justru mendapat masalah.
"Oke, aku akan ke sana," sahut Alex.
"Iya Bos."
Alex menutup telponnya. Wajahnya tampak tegang dan serius. Sepagi itu Alex sudah dapat masalah besar.
"Aku harus ke luar kota, tapi Sophia gimana?" Alex bimbang. Sophia sudah mau lahiran. Tapi Alex harus ke luar kota untuk menyelesaikan masalah perusahaannya.
"Astagfirullah," ucap Alex beristigfar.
Alex membuang nafas gusarnya. Berusaha tenang meskipun berat. Alex mengatur nafasnya. Berpikir jernih. Agar tak salah mengambil keputusan.
"Aku lanjutkan sarapannya dulu," kata Alex. Dia kembali ke ruang makan. Duduk bersama seluruh anggota Keluarga Sebastian. Alex berusaha terlihat biasa saja. Makan dengan nikmatnya.
"Lex ada apa?" tanya Kakek David.
"Aku sarapan dulu Kek, nanti kita bicara," jawab Alex.
"Iya, nanti kita bicara," jawab Kakek David.
Mendengar ucapan Alex yang tak langsung mengatakan apa yang tadi dibicarakannya di telpon membuat Sophia merasa suaminya memiliki masalah.
"Mas Alex berusaha menyembunyikan masalahnya," batin Sophia. Dia tahu pasti Alex tidak ingin membuatnya cemas disaat Sophia mau melahirkan.
"Sayang kau mau buah?" tanya Alex menoleh ke arah Sophia.
"Boleh Mas," jawab Sophia sambil tersenyum.
"Mau buah apa?" tanya Alex.
"Buah jeruk deh Mas," jawab Sophia.
Alex langsung mengambil buah jeruk. Dia mengupas buah itu. Menyuapkan ke bibir merah delima Sophia satu bagian demi bagian.
"Manis gak sayang?" tanya Alex.
"Manis Mas," jawab Sophia.
"Sayang suapi aku jeruk juga," pinta Claudya yang ingin juga disuapi jeruk oleh Tuan Matteo.
"Siap sayang," jawab Tuan Matteo. Dia melihat keranjang buah. Sudah tak ada lagi jeruk.
Claudya mengangguk.
Bergegas Tuan Matteo mengambil jeruk di kulkas. Dia langsung mengupasnya di tempat. Kemudian membawanya ke meja. Kembali duduk bersama Claudya dan menyuapinya satu bagian jeruk.
"Gimana sayang?" tanya Tuan Matteo.
"Asem banget," jawab Claudya.
"Astaga mau copy paste kemesraanku dengan Sophia, ujung-ujungnya tak seindah yang diharapkan," ledek Alex.
"Iiih ... Kak Alex, nyebelin deh," sahut Claudya kesal. Cemberut. Mengerucutkan bibir manisnya.
"Ya asem itukan jeruk peras asem yang kemarin Bi Siti beli," ujar Ibu Marisa.
Alex makin tertawa saat tahu itu jeruk peras asem bukan jeruk manis yang diberikannyapada Sophia.
"Udah makan lagi biar langsing," ledek Alex.
"Kak lo ya, demen deh gue menderita," sahut Claudya kesal.
Semua orang tersenyum. Gak aneh kalau Alex dan Claudya selalu berdebat. Mereka jarang akur. Begitupun dengan Gavin yang sekarang tengil.
Setelah sarapan Alex duduk di ruang kerja dengan Kakek David dan Pak Ferdi. Mereka duduk di sofa.
"Lex ada apa? Kok kakek liat sepertinya kau ada masalah," ujar Kakek David.
"Iya, Ayah tahu pasti ada sesuatu yang tadi disampaikan orang yang menelponmu," tambah Pak Ferdi.
Alex terdiam sesaat. Sebenarnya berat untuk mengatakan masalah ini pada keluarganya tapi Alex harus memberitahu kakek dan ayahnya biar masalahnya ada solusi.
"Tanah yang ku beli di Bandung bermasalah," jawab Alex.
"Kok bisa? Kau sudah beli dengan resmikan?" tanya Kakek David.
"Sudah, aku sudah beli dengan resmi dan menyerahkan semua urusannya pada pejabat pembuat akta tanah," jawab Alex.
"Kalau kau sudah beli resmi, seharusnya tak ada masalah," sahut Pak Ferdi.
"Aku tidak tahu, itu sebabnya aku harus ke Bandung," jawab Alex terlihat tak bersemangat. Niat hati ingin bersantai di Jakarta menemani Sophia.
"Sophia mau melahirkan Alex," ujar Kakek David.
"Iya, seharusnya kau ada di sisinya," tambah Pak Ferdi.
Alex menarik nafas panjangnya dan menghembuskannya perlahan.
"Iya tadinya aku mau begitu, tapi masalah ini harus segera diselesaikan sebelum wartawan tahu. Akan berimbas pada perusahaan kita juga," ujar Alex.
Kakek David dan Pak Ferdi terdiam sesaat. Apa yang dikatakan Alex benar. Jika wartawan tahu. Pemberitaan menyebar, saham akan anjlok lagi. Kepercayaan konsumen akan berkurang. Citra negatif akan disematkan pada perusahaannya. Apalagi sebelumnya sudah bermasalah karena bangunan yang roboh itu.
"Aku tidak punya pilihan, aku harus ke Bandung," ujar Alex.
Kakek David dan Pak Ferdi membuang nafas gusarnya. Berat mengizinkan Alex ke Bandung di saat Sophia hamil tua. Tinggal hitungan hari akan melahirkan.
"Baiklah, kakek, ayahmu dan seluruh anggota Keluarga Sebastian akan menjaga Sophia," kata Kakek David.
"Kita akan menelponmu kalau Sophia mau melahirkan, agarkau segera pulang," tambah Pak Ferdi.
"Iya makasih Kek, Yah," ujar Alex.
Kakek David dan Pak Ferdi mengangguk.
Alex terpaksa memutuskan untuk ke Bandung. Tak ada pilihan lagi. Yang tahu masalah itu hanya dirinya.
Alex berjalan ke luar dari ruang kerjanya. Berjalan menuju kamarnya. Wajahnya tampak murung. Langkahnya berat. Dia tak tega menyampaikan semua ini pada Sophia. Alex berhenti sebentar.
"Gimana aku menyampaikannya pada Sophia? Aku tidak ingin membebani pikirannya," ujar Alex kebingungan. Bagaimana dia menyampaikan masalah ini pada Sophia agar dia tidak kepikiran. Sophia harus happy dan mengontrol emosinya agar proses melahirkannya berjalan lancar.
"Astagfirullah, aku sholat dhuha dulu," ungkap Alex yang gundah gulana. Mungkin dengan sholat dia bisa lebih tenang.
Alex berbalik. Berjalan menuju ruangan di dekat balkon atas yang dulu tempat Sophia sholat pertama kali di rumah Keluarga Sebastian. Kini tempat itu jadi mushola di rumah besar itu. Untuk sholat anggota Keluarga Sebastian.
"Sophia," ucap Alex melihat Sophia yang sedang sholat dhuha juga. Mata Alex berkaca-kaca melihat Sophia yang sedang sholat.
"Sophia kau wanita sholeha, semoga Allah senantiasa memberimu kesehatan dan keselamatan, aku ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu," kata Alex. Tak terasa air mata jatuh di pipinya