
"Ini dinamakan cinta terlarang," kata Roma.
"Sok tahu, gue dan Calakan gak ada hubungan darah. Masih bisa bersama tahu," jawab Dodo. Dia tidak memiliki hubungan darah dengan Cala.
"Kalau begitu kejarlah! Siapa tahu jodoh," ujar Turki. Menepuk bahu Dodo menyemangatinya agar memperjuangkan cintanya.
"Lalu nasib Nesya dan Tara gimana? Jadi selir atau kau hibahkan pada kami?" tanya Turki. Berharap Dodo menghibahkan dia gadis cantik itu.
"Iya Do, biar nasib tak berpihak pada kami, setidaknya istri cantik," tambah Nepal. Biar muka pas-pasan, dompet selalu terkena kanker, dan makan ikan asin yang penting istri cantik dan molek.
"Nasib mereka akan menderita kalau ku hibahkan pada kalian, memangnya kalian punya tabungan, mobil, rumah atau paling tidak banyak emas," jawab Dodo. Dia tidak bisa membayangkan jika Nesya dan Tara dihibahkan pada Turki dan Nepal.
"Mas mah banyak. Mas Eko, Mas Joko, Mas Anto, Mas Imam, masing-masing," jawab Turki.
"Kalau aku Mas-Masan banyak, beli di tukang jualan jepetan rambut," tambah Nepal.
"Itu bukan emas kali. Masih belum beruntung," jawab Roma. Dia heran kedua temannya udah kere masih aja maksain mau sama Nesya dan Tara.
"Oh kirain emas juga kan masih satu spesies diawali kata emas," jawab Turki.
"Ini kalau kuliah tidur terus, gak paham yang mana emas dan Mas Eko," sahut Roma.
"Sudah-sudah intinya gue masih mikirin nasib kedua gadis cantik itu. Gue dilema kalau dekat mereka. Bukan seneng malah kena jambak sana sini," kata Dodo.
Nepal dan Turki merangkul Dodo. Mereka menunjuk ke depan.
"Sudahlah Bro, lupakan dua selir itu. Lebih baik sambut yang baru," kata Turki.
"Iya Bro, yang di depan gak perlu bingung pilih mana," tambah Nepal.
Dodo mengangguk. Tak ada salahnya mendengar saran dua sahabatnya itu.
"Kalau begitu kalian jaga pos, awas jangan salah harga!" kata Dodo menekankan mereka berdua.
"Sip!" jawab keduanya.
Dodo pun meninggalkan tiga sekawan itu. Menghampiri Cala yang asyik berselfi di tengah-tengah bazar amal itu.
"Hai Cala," sapa Dodo.
Cala menoleh ke arah Dodo. Dia tersenyum.
"Om Dodo," sahut Cala.
"Apa? Om? Tua amat ya, perasaan gue masih muda masa dipanggil Om?" batin Dodo gundah gulana gara-gara dipanggil Om oleh Cala.
"Cala, panggil Kak Dodo saja," sahut Dodo. Gengsi dong dipanggil Om padahal masih muda.
"Tapi aku dah biasa manggil Om dari kecilkan?" kata Cala. Dia sudah terbiasa manggil Dodo Om karena dulu Dodo gendut.
"Iya sih, terserah Cala deh," jawab Dodo.
Semenjak lulus pesantren Dodo tinggal terpisah dari Gavin. Dia memilih mandiri. Membiayai kuliahnya sendiri. Dari Dodo kerja serabutan sampai sekarang kerja sebagai supervisor di salah satu perusahaan. Dia sudah bisa membiayai hidupnya sendiri dan sekarang tinggal di rumah kecil yang dibelinya sendiri.
"Cala mau beli sesuatu gak? Biar Om Dodo temenin," kata Dodo.
"Gak usah, aku dah janjian sama seseorang," sahut Cala.
"Siapa?" tanya Dodo penasaran. Siapa yang janjian sama Cala. Selama ini Dodo tidak pernah memperhatikan Cala jadi tidak tahu siapa saja yang dekat dengan Cala.
"Itu," sahut Cala menunjuk ke arah depan.
Dodo mengalihkan pandangannya ke depan. Dia melihat sesosok lelaki tampan melambai ke arah Cala.
"Kalah saing kalau gini," batin Dodo ciut saat melihat sosok lelaki tampan di depannya. Dia tidak yakin mampu bersaing dengannya.
"Cala," panggil Ezar dan Raiyan berjalan menghampiri Cala.
Dodo hanya diam. Sudah jelas dia tidak mungkin mengejar Cala kalau saingannya dua lelaki tampan beda generasi itu.
"Assalamu'alaikum," sapa Ezar dan Raiyan.
"Wa'alaikumsallam," sahut Dodo dan Cala.
"Alhamdulillah bisa silaturahmi di sini sama Kak Dodo," ucap Raiyan. Dia senang bisa bertemu Dodo. Biar bagaimanapun mereka masih bersaudara.
"Iya, sudah lama ya gak ketemu," sahut Dodo basa basi.
"Kemarin aku ke rumah Om Gavin tapi gak ketemu Kak Dodo," tambah Ezar. Dia memanggil Gavin dengan sebutan Om meski seharusnya memanggil adik karena Ezar anak Pak Harry.
"Sekarang aku tinggal di rumahku sendiri, kapan-kapan kalian mainlah!" ajak Dodo.
"Oya Om Dodo, Kak Ezar, aku dan Raiyan mau beli buku dulu ya, kalian teruskan mengobrol," ucap Cala. Dia ingin pergi bersama Raiyan.
"Ta-tapi Cala, aku ..." Raiyan ingin menolak hanya saja ragu. Dia tidak bisa menyakiti hati Cala. Dari kecil mereka selalu bersama bahkan lahir di hari yang sama dan rumah sakit yang sama.
"Ayo!" Cala langsung menarik ujung lengan kemeja yang dikenakan Raiyan. Mengajaknya meninggalkan tempat itu. Tinggal Dodo dan Ezar yang masih berdiri di tempat.
"Mereka pacaran ya?" tanya Dodo.
"Tidak, tapi Cala naksir Raiyan," jawan Ezar.
"Oh," jawab Dodo patah hati. Dia pikir masih ada kesempatan tapi ternyata Cala suka pada Raiyan. Dia harus memendam perasaannya.
"Sudahlah Kak Dodo masih ada Kak Nesya dan Kak Tara, tinggal pilih," kata Ezar. Dia memberi nasehat yang lebih realistis dari pada ngejar Cala yang sudah menyukai Raiyan.
"Iya, dua selir itu lagi. Bikin pusing," jawab Dodo. Tak ada pilihan dia harus kembali pada Nesya dan Tara. Pusing kembali menentukan pilihan.
***
Malam itu Emily, Sophia dan Aliza sibuk di dapur menyelesaikan masakan mereka. Emily membantu hal-hal yang ringan dibantu Arfan. Dia hanya menggoreng, memotong sayur dan menyiapkan bumbu. Sisanya Sophia dan Aliza. Emily dan Arfan juga membawa masakan itu ke ruang makan. Mereka berjalan bersama sambil bergurau.
"Nanti kalau Emily sudah pintar masak, setiap hari kita akan makan malam bersama," kata Emily.
"Iya makan malam dengan keluarga kecil kita," jawab Arfan.
"Berarti sama anak-anak kita ya?" tanya Emily.
"Iya, tapi bikin dulu ya," jawab Arfan.
Emily langsung tersenyum malu-malu. Dia jadi ingat sampai sekarang belum malam pertamaan dengan Arfan karena dia masih belum siap.
"Arfan kalau malam ini Emily siap gimana?" tanya Emily.
Arfan langsung meletakkan makanan di atas meja dan menarik tangan Emily ke luar dari ruang makan.
"Arfan kita mau ke mana?" tanya Emily. Dia penasaran Arfan menarik tangannya.
Arfan menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap wajah cantik Emily.
"Mau bikin anak," jawab Arfan.
"Jangan sekarang, kan kita mau nyambut tamu," jawab Emily
"Eh iya, habis udah nahan dari kemarin cantik," sahut Arfan.
Emily tersenyum malu-malu menundukkan kepalanya.
"Nanti habis makan malam ya," ucap Emily.
"Kalau gitu cium dulu," sahut Arfan.
Emily menaikkan pandangannya dan mendekati wajah Arfan. Mereka hampir berciuman namun sayangnya Alex mengejutkan mereka berdua.
"Ehm! Ehm!" Alex berdiri tak jauh dari mereka.
"Emily matamu belekan tuh, pasti ada debu," ucap Arfan beralasan.
"Iya tolong bersihin Arfan," pinta Emily sama-sama seperti Arfan beralasan.
"Papa pernah muda, tahu apa yang ada di otak kalian," sindir Alex berjalan melewati mereka lalu masuk ke ruang makan.
"Alhamdulillah, hampir saja cantik. Untung Papa gak kasih kartu merah," ujar Arfan.
"Iya, tar gak jadi lagi malam pertamanya," sahut Emily.
"Harus jadi, kalau Papa kasih kartu merah. Kita kabur pindah di gubuk sawah aja," kata Arfan.
"Arfan! Masa di gubuk sawah tar roboh lagi," sahut Emily.
Arfan tertawa kecil dan mencolek dagu Emily.
Setelah itu seluruh anggota Keluarga Sebastian berkumpul di ruang tamu. Mereka menunggu tamu yang akan datang.
"Assalamu'alaikum," ucap Pak Yuga dan Ibu Karina masuk ke ruang tamu.
"Wa'alaikumsallam," sahut seluruh anggota Keluarga Sebastian.
Emily terperanjat saat melihat ayah dan ibunya ada di depannya. Begitupun dengan Pak Yuga dan Ibu Karina. Mereka tak menyangka melihat putrinya ada di depannya.