
Kediaman Keluarga Wijaksana tampan sepi. Fatimah sedang menata buah dalam keranjang di meja ruang makan. Dia ingin membesuk Pak Ferdi setelah mendapatkan kabar dari Sophia via chat tadi siang. Tinggal menunggu suaminya yang akan pulang sebentar lagi. Fatimah memilih buah-buah segar yang baru saja dibelinya. Dia memilih menyusun sendiri ke dalam keranjang dari pada membeli yang sudah jadi. Selain bisa memilih buah yang lebih segar, dia bisa memilih buah yang terbaik untuk diberikan pada besannya.
"Bibi mau kemana? Kok nata buah ke dalam keranjang?" tanya Nada yang baru saja masuk ke dalam ruang makan.
"Itu ayahnya Alex kecelakaan, tadi Sophia baru mengabari, paman dan bibi mau menjenguk," jawab Fatimah.
"Kecelakaan? Kecelakaan apa?" tanya Nada.
"Menabrak pembatas jalan, kakinya patah, tadi baru selesai dioperasi," jawab Fatimah sambil memasukkan buah dan menatanya ke dalam keranjang dengan rapi.
"Innalilahi wa innailaihi roj'iun," ucap Nada.
"Kamu mau ikut menjenguk Nada?" tanya Fatimah.
"Gak ah, aku kurang suka sama Alex," jawab Nada.
"Kenapa kurang suka? Dia suami adikmu," ujar Fatimah. Dia tidak tahu kenapa Nada tidak suka pada suami Sophia.
"Bibi kaya gak tahu aja siapa Alex, aku aja sampai heran kenapa Sophia mau menikah dengannya," jawab Nada ketus. Dia tidak menyukai tabiat Alex yang seorang casanova. Bergonta-ganti ranjang. Membuat Nada merasa adiknya terlalu baik untuk Alex.
"Semua orang punya kesalahan baik ringan maupun berat, punya masa lalu baik itu indah ataupun kelam, tapi bagaimana caranya orang itu berusaha lebih baik, mereka berhak memiliki kesempatan untuk itu," ucap Fatimah.
"Tapi aku tetep aja gak suka Alex, seharusnya Sophia mencari suami kaya suamiku, lulusan pesantren, jelas dari sikap dan sifatnya jauh lebih baik," ujar Nada membandingkan suaminya dengan Alex yang seorang casanova. Di matanya Alex hanya lelaki yang tak menghargai wanita dan menjijikkan.
"Kita tak pernah tahu rahasia Allah, dengan pernikahan Sophia dan Alex, mungkin itu jalan terbaik dari Allah untuk mereka," sanggah Fatimah.
"Terserah Bibi, aku gak ikut, lagian aku lagi hamil, salam sama Sophia aja," ucap Nada.
"Ya udah, nanti Bibi salamin sama Sophia," sahut Fatimah.
Nada berjalan ke luar dari ruang makan. Gurat wajahnya terlihat kesal. Dia tak menyukai Alex sejak lama. Alex sudah biasa memburu gadis-gadis cantik yang masih perawan. Begitupun teman-teman selebritis yang satu profesi dengan Nada.
"Dasar casanova, kenapa juga harus nikah dengan adikku," gumam Nada. Dalam ingatannya Nada pernah mengenal Alex saat SMA dulu. Saat itu Nada pembina Pencinta Alam yang mengajar ekskul di SMA tempat Alex sekolah. Sambil kuliah Nada mengikuti ekstrakurikuler Pencinta Alam untuk menyalurkan hobinya. Nada sempat mengagumi ketampanan Alex dan gayanya yang keren, cold dan maskulin. Saat itu Nada berpikir untuk memberikan coklat untuk Alex. Namun apa yang dilihatnya Alex sedang berciuman dengan Deva di kelasnya. Sejak saat itu Nada infeel. Tadinya kagum jadi eneg setiap melihat Alex, ditambah setelah dewasa Alex sang casanova sejati membuat Nada semakin tidak menyukainya.
***
Di rumah sakit Gavin mulai bosan. Di dalam ruang rawat inap sudah ada semua anggota keluarganya yang menunggu ayahnya. Dia memutuskan ke luar dari dalam ruangan. Gavin berjalan menuju lift. Turun ke lantai bawah sambil memegang handphone di tangannya. Dia terlihat cuek dan dingin pada siapapun. Apalagi orang itu belum dikenalnya. Gavin sibuk memainkan game di handphone-nya sampai dia tak sadar disenggol seorang gadis berhijab syar'i yang mengenakan cadar.
"Maaf."
Gavin fokus tak menggubris gadis itu. Dia malas untuk menoleh ke depan. Membiarkan gadis itu berdiri di sampingnya. Lift turun ke bawah. Gadis itu ke luar lebih dulu di lantai dua. Sedangkan Gavin ikut ke luar setelahnya. Dia terlihat terburu-buru berjalan ke depan.
Gavin terus berjalan tak melihat jalan. Sampai kakinya melangkah ke dekat konter pembayaran yang ada di lantai dua. Gavin masuk ke dalam dan duduk di sofa yang dirasa nyaman. Dia tak begitu memperhatikan itu ruangan apa. Yang penting lebih nyaman untuk duduk dari pada duduk di kursi tunggu yang terbuat dari besi.
Gavin memainkan game dengan asyiknya. Dia tidak ingin kalah. Tangannya lincah memainkan game di handphone-nya. Namun fokusnya tiba-tiba buyar saat suara lembut itu terdengar di telinganya.
"Biaya operasinya 35 juta?" gadis bercadar itu terkejut.
"Iya Nona."
"Apa itu sudah semuanya?" tanya gadis bercadar itu.
"Belum, itu hanya biaya operasinya saja. Belum biaya kamar, kunjungan Dokter, obat-obatan dan biaya lainnya."
Gadis bercadar itu terdiam. Dia membuka dompetnya. Hanya tiga lembar uang ratusan ribu di dalamnya. Dari mana dia mampu membayar biaya operasi sebesar itu.
Gavin melihat ke arahnya. Dia melihat gadis bercadar itu dengan tatapan sinis.
"Paling jual diri, seperti wanita-wanita murahan yang beralasan demi kebutuhan," batin Gavin berprasangka buruk tentang gadis bercadar itu.
Gavin tak tertarik dengan percakapan membosankan itu. Dia berdiri. Memasukkan handphone-nya ke dalam sakunya. Menutup kepalanya dengan penutup hoodie miliknya. Kemudian ke luar dari ruangan itu. Gavin berjalan, masuk ke dalam lift. Dia turun ke lantai bawah.
"Lapar lagi," keluh Gavin sambil memegang perutnya yang mulai berbunyi nyaring. Dia berjalan menuju kafe yang ada lantai bawah. Gavin masuk ke dalam kafe, menuju etalase kaca yang terdapat beberapa menu makanan. Gavin memilih beberapa lauk pauk dan tumisan. Kemudian menuju kasir untuk membayar. Dia berdiri di depan kasir untuk membayar makanan yang sudah dipilih olehnya.
"Berapa?" tanya Gavin.
"55 ribu."
Gavin memasukkan tangannya ke dalam saku di celananya untuk mengambil dompetnya. Namun dia tak menemukan dompet miliknya ada di sakunya.
"Sial, ke mana dompet gue?" batin Gavin. Dia berusaha mencari-cari di semua saku di celananya, bajunya, hingga ke hoodie berwarna biru tua miliknya.
"Mana duit, atm ma kartu kredit ada di dompet lagi," ucap Gavin pelan. Panik dengan dompetnya yang hilang.
"Gimana Mas jadi bayar gak?" Kasir bertanya pada Gavin.
Gavin masih sibuk mencari dompetnya.
"Gak ada duit lagi, semuanya di dompet lagi," batin Gavin.
"Mas ... Mas jadi bayar gak?"
Gavin terdiam. Kebingungan. Gengsi sekali jika bilang tak punya uang. Tapi perutnya sudah sangat lapar.
"Mba boleh makan dulu? tar saya bayar," jawab Gavin.
"Gak bisa Mas, harus dibayar dulu."
"Saya gak jadi beli," ucap Gavin.
"Saya gak punya uang, gak denger?" Gavin marah.
Tiba-tiba gadis bercadar itu meletakkan uang seratus ribuan di meja kasir.
"Mba bayar pakai itu saja," ucap gadis bercadar itu.
Kasir langsung mengambil uang seratus ribuan itu. Memprint struk pembayaran. Kemudian memberikannya pada gadis bercadar itu sekalian kembaliannya.
Gavin masih mematung. Melihat gadis bercadar itu membayarkan makanannya. Sedangkan gadis itu berjalan meninggalkan Gavin. Memilih nasi dan tumisan di etalase kaca. Dia kembali ke kasir untuk membayar makanannya.
"Berapa?" tanya gadis bercadar itu.
"15 ribu."
Gadis bercadar itu mengeluarkan uang dua puluh ribuan di dompetnya yang sudah usang. Dia membayar makanannya. Lalu berjalan ke meja makan yang berjejer di depan kasir. Gadis bercadar itu meletakkan makanannya di atas meja. Lalu dia duduk.
Gavin yang masih terdiam mematung. Tak percaya gadis dicadar itu membayarkan makanannya yang harganya jauh lebih mahal dari makanannya bahkan Gavin tahu dia tak punya uang banyak di dompetnya.
"Mas makanannya gak diambil?"
"Iya," sahut Gavin malas. Dia mengambil piringnya. Berjalan mencari meja kosong. Gavin memilih meja yang tak jauh dari meja tempat gadis bercadar tadi. Gavin duduk, menghadap gadis bercadar itu. Dia memakan makanannya sambil memperhatikan gadis bercadar itu.
"Padahal lagi makan, kenapa cadarnya gak dibuka sih? segitunya pelit memperlihatkan wajahnya," batin Gavin. Dia ingin sekali melihat wajah dibalik cadar itu. Rasa penasarannya membuat Gavin terus menerus memperhatikannya. Berharap gadis itu lupa atau tak sengaja membuka cadarnya tapi harapannya pupus. Sampai selesai makan pun gadis itu tetap mempertahankan cadar yang membalut wajahnya.
"Sial, tuh cadar bikin emosi jiwa, kenapa gue penasaran banget kaya nunggu lotre sih," batin Gavin.
Sementara itu, gadis bercadar di seberangnya terlihat tenang. Tak terlihat kesedihan di matanya meskipun dia sedang memiliki masalah. Matanya sempat melirik sesaat ke arah depan. kanannya.Tak sengaja menatap mata Gavin sesaat. Gavin memperhatikan mata gadis itu, ada tai lalat ditepi mata kanannya. Mata keduanya bertautan. Kemudian secepatnya gadis bercadar itu menurunkan pandangannya.
"Pelit banget ngelihat doang aja, sok suci, paling juga tar jual diri, buka-bukaan," gumam Gavin.
Gadis bercadar itu membereskan sendok dan piringnya. Dia berdiri. Berjalan meninggalkan meja itu.
Gavin kesal melihat gadis bercadar itu pergi begitu saja. Seharusnya ada satu dua kata yang dia ucapkan padanya.
"Somse banget sih gadis itu, memangnya aku ini najis," batin Gavin. Alih-alih iseng melihat wajah gadis bercadar itu justru Gavin jadi penasaran.
Gavin berdiri. Meninggalkan mejanya setelah semua makanan dihabiskannya. Dia berjalan kembali menuju lift. Namun seorang sekuriti menghampirinya.
"Mas ... tunggu," panggil sekuriti.
Langkah kaki Gavin terhenti. Berbalik melihat sekuriti yang mendekatinya.
"Ada apa?" tanya Gavin. Dia tidak tahu kenapa sekuriti memanggilnya. Sekuriti itu membawa sebuah dompet.
"Mas namanya siapa?" tanya sekuriti.
"Gavin Sebastian," jawab Gavin.
Sekuriti itu membuka dompet itu. Mencocokkan nama dan foto di kartu identitas yang ada di dalam dompet. Meskipun tadi sudah memeriksanya dan melihat foto pemilik identitas itu, tapi dia harus memastikannya kembali kalau dompet itu milik Gavin. Sekuriti juga memberinya beberapa pertanyaan tentang apa saja isi di dalam dompet dan jumlah nominal uangnya. Gavin menjawab semuanya dan apa yang dijawabnya itu sesuai isi di dalam dompet kulit berwarna hitam.
"Ini dompetnya saya kembalikan," ucap sekuriti memberikan dompet milik Gavin.
"Makasih Pak," ucap Gavin sambil memegang dompetnya.
"Iya sama-sama," sahut sekuriti.
"Kok bisa di tangan bapak?" tanya Gavin.
"Tadi seorang gadis bercadar memberikan dompet ini pada saya," jawab sekuriti.
"Apa bajunya berwarna hitam, tasnya berwarna coklat tua. Di tepi mata kanannya ada tahi lalat?" tanya Gavin memberikan ciri-ciri gadis bercadar yang ditemuinya tadi.
"Iya betul," jawab sekuriti.
"Namanya siapa pak?" tanya Gavin.
"Sukirman Dimejo," jawab sekuriti.
"Kok klasik sekali namanya? Apa dicadar buat nutupin rasa malunya karena namanya nyeleneh," batin Gavin. Dia merasa aneh untuk seorang wanita yang biasanya memiliki nama indah malah nama seorang lelaki.
"Yang bener, nama gadis bercadar itu Sukirman Dimejo?" tanya Gavin.
"Sukirman Dimejo itu nama saya Mas, bukan nama gadis bercadar tadi," sanggah sekuriti.
"Bilang dong Pak dari awal, saya udah mikir yang aneh-aneh, jangan-jangan dibalik cadar berewokan lagi," ujar Gavin.
"Ya Masnya tadi gak bilang siapa nama gadis bercadar itu, kalau gitu saya akan jawab," ujar sekuriti.
"Jadi siapa namanya?" tanya Gavin.
"Gak tahu," jawab sekuriti dengan polosnya.
"Huh ..., yaudah Pak makasih," ujar Gavin kecewa belum tahu nama gadis bercadar tadi.
"Iya Mas sama-sama," sahut sekuriti.
Setelah mendapatkan dompetnya, Gavin kembali ke lantai tiga. Meskipun pikirannya terus terbayang gadis bercadar tadi. Entah kenapa rasa penasarannya sangat tinggi pada gadis itu.