Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Nikah Atau Tidak



Pak Ferdi duduk di pelataran masjid berduaan dengan Ibu Marisa. Mereka sedang mengobrol soal anak mereka.


"Yang, kita udah tua aja ya, anak-anak udah pada gede, sebagian dah nikah," ujar Ibu Marisa.


"Iya sayang, rasanya waktu begitu cepat, untungnya masih sempat bertobat," ujar Pak Ferdi.


"Kau benar, meski terlambat yang penting masih bisa memperbaiki semuanya," tambah Ibu Marisa.


Mereka tersenyum bersama. Senyuman di wajah tua mereka. Senyuman yang menghangatkan jiwa mempererat hubungan keduanya.


"Kamu cantik banget yang," puji Pak Ferdi.


"Masa? Aku dah tua sayang," sahut Ibu Marisa.


"Emang kenapa? Bagiku kamu ibu tua yang paling cantik," kata Pak Ferdi.


Aduh, Ibu Marisa berbunga-bunga digombalin Pak Ferdi. Alamat nanti malam habis tarawih kasih bonus cinta biar gak ngintipin pengantin baru.


"Ayang bisa aja," sahut Ibu Marisa malu-malu kucing.


Tak lama Pak Harry datang dengan arogannya bersama Nenek Carroline doinya Kakek David. Bersama Jon dan Son pengawal nyentrik bos besar.


"Kalian jaga sandalku, jangan sampai diambil orang," ujar Pak Hanry.


"Siap Bos, sandal Bos doangkan yang dijaga?" tanya Son.


"Son memang selain sandal apalagi?" bisik Jon pada rekannya.


"Kali aja kita suruh jagain sandal seluruh orang yang hadir Jon," jawab Son pelan.


"Aduh ratusan, kita bisa gak kebagian makanan, mana tadi gak sahur."


Kedua anak buah Pak Hanry asyik merumpi di belakang Bosnya. Maklum mereka pengawal lambe dower. Bedalah dengan standar pengawal yang sesuai dengan yang diharapkan.


"Kamu memang puasa? Setahuku ngaku doang."


"Puasa, biar dapet THR."


"Emang kalau gak puasa gak dapet THR?"


"Bukannya THR hanya didapat di bulan puasa."


"Berarti aku gak dapet dong, aku puasanya bulan lalu."


"Puasa apaan bulan lalu? Kau sih gak dengerin televisi, puasa suka-suka, lebaran sendirian."


"Siapa yang menyuruh kalian berdebat?" ujar Pak Hanry marah.


"Ampun Bos, kita akan jaga sandal Bos."


"Iya Bos, takkan tergores angin ataupun debu."


"Aduh angin mana keliatan Jon."


"Susah juga kalau angin melintasi sandal Bos."


"Makanya jangan asal ngomong, ultimatum Bos tak bisa ditawar Jon."


Pak Hanry masuk ke pelataran masjid. Melihat Ibu Marisa mojok dengan Pak Ferdi begitu harmonis dan romantis. Kebetulan jarak mereka duduk dan Pak Hanry berdiri tak jauh.


"Hanry, Ibu masuk dulu," ujar Nenek Carroline.


"Iya Bu," jawab Pak Hanry.


Nenek Carroline berjalan masuk ke dalam masjid. Sedangkan Pak Hanry masih berdiri di batas suci. Dia terlihat memperhatikan Pak Fedi dan Ibu Marisa yang berduaan.


"Itu bukannya Hanry, mantanmu yang?" tanya Pak Ferdi melihat ke arah Pak Hanry.


"Iya ya, biarin aja biar dia ngiri sama keromantisan kita," jawab Ibu Marisa.


"Kita sambut, diakan tamu kita," ujar Pak Ferdi.


"Kau tak cemburu nantinya?" tanya Ibu Marisa.


"Gaklah, kitakan udah saling cinta," jawab Pak Ferdi.


Ibu Marisa tersenyum malu-malu.


"Ya udah, yuk," sahut Ibu Marisa.


Mereka berdua menghampiri Pak Hanry yang masih berdiri. Lelaki tua arogan itu tampak malas melihat duo sejoli tua yang baru saja menjalin cinta di usia senja.


"Assalamu'alaikum," sapa Pak Ferdi dan Ibu Marisa.


"Aku ke sini atas permintaan ibuku, jangan berpikir aku ingin menjalin hubungan dengan kalian," ujar Pak Hanry.


"Kita inikan saudara, kau kakakku, jadi wajarkan adik menyapa kakaknya," sahut Pak Ferdi yang sudah tahu Pak Hanry kakaknya meskipun beda ibu.


"Adik? Aku tidak merasa memiliki keluarga selain ibu dan anakku," jawab Pak Hanry.


"Hanry sudahlah, kau sudah tua, masih saja pemarah," kata Ibu Marisa.


"Heh, Marisa bukannya kemarin kau mengejarku?" ucap Pak Hanry.


"Sorry ya, sekarang aku pilih yang pasti-pasti aja, capek nungguin yang gak pasti tar keburu mati," sahut Ibu Marisa sambil menggandeng tangan Pak Ferdi.


"Kak Hanry, mari kita berdamai, lagi pula Papa dan ibumu mau menikah, haruskah kita terus seperti ini?" tutur Pak Ferdi.


"Damai? Kau lupa kekasihku mati saat bersamamu!" ujar Pak Hanry.


"Kekasih?" Pak Ferdi bingung.


"Tiara Lestari, kekasihku. Ingat?" tanya Pak Hanry.


"Tiara? Dia kekasih Hanry, aku yang memisahkan mereka berdua saat itu," batin Ibu Marisa. Gara-gara jebakan ranjang itu Pak Hanry putus hubungan dengan Tiara. Wanita yang dicintai Pak Hanry meninggalkannya itu semua karena ulahnya.


Pak Hanry tersenyum sinis. Melewati keduanya. Dia masuk ke dalam masjid. Sedangkan Pak Ferdi masih terdiam di dekat Ibu Marisa.


"Apa hubunganmu dengan Tiara?" tanya Ibu Marisa lagi.


"Nanti ku ceritakan, sekarang kita urus pernikahan anak kita dulu," jawab Pak Ferdi.


"Bukan selingkuhan atau simpananmukan?" tanya Ibu Marisa.


Pak Ferdi memegang tangan Ibu Marisa yang menggandeng lengannya.


"Kita masuk dulu ya," ajak Pak Ferdi.


Ibu Marisa mengangguk. Meskipun dia penasaran dengan hubungan antara Pak Ferdi dan Tiara mantan kekasih Pak Hanry. Itu membuatnya tak tenang. Sampai segitunya Pak Hanry marah pada Pak Ferdi yang sekarang merupakan adiknya.


Di dalam masjid suasana mulai riuh. Tamu undangan yang hadir menunggu kedatangan pengantin pria. Sudah jam 5.30 akad nikah belum juga dilaksanakan. Padahal mereka sudah menunggu dari habis ashar.


"Gimana nih, nikahannya jadi tidak?"


"Udah mau magrib."


"Pengantin prianya ke mana?"


Di barisan wanita, Claudya mulai resah dan gelisah. Nomor telpon Tuan Matteo tidak aktif. Belum ada kabar. Mata Claudya mulai berkaca-kaca. Di belakang Bibi Fatimah menghampiri Sophia yang duduk tak jauh darinya.


"Sophia apa akadnya diundur?" tanya Bibi Fatimah.


"Tidak seharusnya Bi, tapi jam segini pengantin prianya belum datang," jawab Sophia.


"Sudah, hanya belum ada kabarnya," jawab Sophia.


Nada juga menghampiri Sophia. Duduk di sampingnya. Dia menunjukkan kondisi jalanan macet parah di handphone miliknya.


"Sepertinya ke jebak macet, lihat macetnya parah," ujar Nada.


"Iya, semoga saja begitu tak ada hal lainnya," sahut Sophia.


"Amin, kita bantu berdoa aja," ujar Bibi Fatimah.


Sophia dan Nada mengangguk. Mereka berdoa agar pengantin pria dan rombongannya selamat sampai tujuan.


Di luar Alex dan Gavin yang bertugas menyambut para tetamu dan menunggu kehadiran pengantin pria terlihat gelisah.


"Kak apa kita susul aja?" tanya Gavin.


"Nanti simpangan gak? Tuan Matteo ke sini, kita malah ke sana," jawab Alex.


"Tapi diem aja juga gak jelas," sahut Gavin.


"Coba lihat kondisi lalu lintas?" tanya Alex.


Gavin mengangguk. Mengambil handphone miliknya di saku. Kemudian menyalakan layar handphone-nya. Melihat kondisi lalu lintas di google maps.


"Macet parah Kak," ujar Gavin.


"Apa mereka terjebak macet ya?" tanya Alex.


"Bisa jadi, tapi dari pada kita menduga-duga, biar ku susul naik motor aja gimana?" tanya Gavin.


"Boleh, tapi hati-hati Gavin," jawab Alex.


Gavin mengangguk. Dia berjalan meninggalkan Alex. Menuju parkiran yang ada di halaman masjid. Gavin mengendarai motor gedenya ke luar dari pelataran masjid.


Motor Gavin melaju di jalanan yang padat merayap. Dia sendiri mulai bosan dan capek. Beberapa orang lulu lalang menyeberang dan memadati jalanan untuk jalan-jalan sore, pulang kerja, dan berburu tajil.


"Astagfirullah macet banget, sampai kapan?" keluh Gavin.


Karena jalanan macet, Gavin memarkirkan motornya ke ruko terdekat yang ada parkiran umumnya. Dia memilih jalan kaki. Berjalan menelusuri tepi jalan.


"Mending jalan kaki sehat," ujar Gavin tampak bersemangat jalan kaki.


Sepuluh menit jalan kaki Gavin melihat beberapa mobil tabrakan beruntun. Banyak orang menyaksikan kecelakaan itu. Sepertinya belum lama terjadi. Gavin berjalan mendekati tempat kejadian.


"Itu mobilnya Tuan Matteo dan rombongankan?" Gavin terkejut melihat mobil Tuan Matteo dan rombongan kecelakaan beruntun, mobilnya mengalami kerusakan. Beberapa mobil di depan dan di belakang mobil Tuan Matteo dan rombongan juga mengalami kerusakan yang terjadi karena hantaman keras. Gavin menghampiri kerumunan yang melihat kecelakaan dari dekat. Ternyata Tuan Matteo dan rombongan selamat hanya saja mereka terlihat membantu korban yang terjebak di dalam mobil yang mengalami kerusakan parah.


"Alhamdulillah, Tuan Matteo, Luki dan yang lainnya selamat," ucap Gavin. Dia mendekat menghampiri Tuan Matteo yang membantu seorang ibu hamil.


"Tuan Matteo!" panggil Gavin.


Tuan Matteo menengok ke arah Gavin.


"Gavin," sahut Tuan Matteo.


"Alhamdulillah anda baik-baik saja," ujar Gavin.


Tuan Matteo mengangguk. Dia memberi minum pada ibu hamil itu yang terlihat syok dan lemas.


Akhirnya Gavin ikut membantu Tuan Matteo, Luki dan yang lainnya mengeluarkan korban dan membantu mereka mencari tumpangan untuk ke rumah sakit. Tak lama polisi dan ambulan datang. Tugas Tuan Matteo, Gavin, Luki dan yang lainnya selesai. Adzan magrib pun terdengar berkumandang.


"Alhamdulillah," ucap Gavin, Tuan Matteo, Luki, Humaira dan yang lainnya.


Mereka membatalkan puasa dengan air putih terlebih dahulu.


"Mari kita berangkat ke masjid!" ajak Tuan Matteo.


Semuanya mengangguk.


Tuan Matteo menyewa mobil bus yang kebetulan lewat di jalan. Dia dan rombongan terpaksa naik bus menuju Masjid Al Malik.


Setengah jam kemudian Tuan Matteo dan rombongan sampai di Masjid Al Malik. Pengantin wanita, keluarga, dan tamu undangan baru saja menjalankan sholat magrib. Mereka masih berkumpul di masjid. Melihat Tuan Matteo dan rombongan datang kegelisahan berubah jadi kegembiraan. Khususnya Claudya yang dari tadi bersedih.


Tuan Matteo dan rombongan sholat magrib terlebih dahulu. Barulah mereka menyantap hidangan bersama semua orang. Akad nikah dilaksanakan setelah mereka semua makan dengan waktu yang terbatas sebelum sholat tarawih dimulai. Akad nikah pun dimulai.


"Saya nikahkan dan kawinkan ananda Matteo Renaldi Bin Aldian Renaldi dengan putri saya yang bernama Claudya Nesa binti Ferdi Sebastian dengan mas kawin berupa Blue Diamond Ring dibayar tunai," ucap Pak Ferdi sambil menyalami Tuan Matteo di atas meja akad nikah itu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Claudya Nesa binti Ferdi Sebastian dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," jawab Tuan Matteo.


"Gimana para saksi sah?"


"Sah," sahut para saksi dan semua orang yang hadir di dalam masjid itu.


"Alhamdulillah."


Akhirnya akad nikah itu bisa dilaksanakan dengan waktu sesingkat mungkin. Tuan Matteo langsung mencium kening Claudya dan membacakan doa padanya.


"Mulai malam ini kau sudah resmi jadi istriku Claudya," ucap Tuan Matteo pelan sambil menatap wajah cantik Claudya yang berseri-seri.


Claudya hanya tersenyum. Menatap wajah suaminya. Jodoh yang dibenci berujung naik pelaminan. Cinta bersemi di antara keduanya. Baik Tuan Matteo dan Claudya bahagia dengan pernikahan mereka. Begitupun keluarga dan tamu undangan yang hadir.


Di pelataran Dodo bimbang dengan dua cewek cantik yang duduk di samping kanan dan kirinya.


"Aduh Dodo takut poligami," ujar Dodo.


"Memang kenapa?" tanya Nesa dan Tara barengan.


"Nesa cantik, Tara juga cantik, Dodo galau," jawab Dodo.


"Galau jadi calon suami kita ya?" tanya Nesa.


"Bukan," jawab Dodo.


"Galau karena harus memilih atau bersama kita?" tanya Tara termakan sinetron sekarang yang kebanyakan Istri Tercampakan.


"Dodo galau kalau harus memilih makan atau bertigaan bersama kalian," jawab Dodo.


"Kirain poligami apa? Aku nonton di sinetron istrinya dua," ujar Nesa.


"Iya, gara-gara istrinya dua berantem terus, jadi ditalak satu," tambah Tara.


"Kalian nonton film dewasa ya, kalau Dodo nonton kartun Spongebob, ada tokoh favorit Dodo," jawab Dodo.


"Siapa? Spongebob ya?" tanya Tara.


"Tuan Krab yang pelit ya?" tanya Nesa.


"Patrick meskipun makan terus gak kerja tapi bisa punya rumah dan nonton TV," jawab Dodo.


"Kalau gitu kita End, aku gak suka cowok pengangguran," ujar Nesa.


"Aku juga gak suka cowok pemalas," tambah Tara.


Dodo bingung kedua teman cantiknya pada marah gara-gara Dodo suka Patrcik.


"Ayo kita cari yang lain," ujar Nesa.


"Yang punya masa depan," ucap Tara. Kedua gadis kecil korban sinetron istri yang kebanyakan tayang.


Nesa dan Tara meninggalkan Dodo yang lebih suka makan terus dan gak kerja tapi punya rumah dan bisa nonton TV.