
Siang itu Alex sedang berada di ruangannya. Dia sedang berusaha menyelesaikan pekerjaannya, agar bisa pulang dengan cepat. Alex tahu Sophia cuti. Itu sebabnya dia ingin secepatnya bertemu dan bercengkrama dengannya. Terbayang wajah cantik Sophia dengan mata emerald dan rambut panjangnya, bahkan aroma wangi tubuhnya masih tercium di hidung Alex. Seakan Sophia ada di ruangan itu.
"Bener-bener susah fokus hari ini, bawaannya pengen pulang berduaan sama Sophia," batin Alex.
Bolak balik sambil mengerjakan pekerjaannya Alex melihat jam di dinding. Berharap waktu cepat berputar dan pekerjaannya selesai.
"Sial, begini rasanya jatuh cinta. Seharusnya aku cuti juga tadi, mungkin sekarang lagi ...?" Pikiran Alex jauh melampau ke dalam imajinasi panasnya bersama Sophia. Tak bisa dipungkiri sebagai lelaki normal, apalagi sebelumnya dia sang casanova, hal-hal yang berbau ranjang membuatnya ingin dan ingin lagi. Namun kali ini dia ingin bersama Sophia seharian tak peduli sedang melakukan apapun.
"Perasaan baru tadi bertemu, tapi udah kangen," batin Alex.
"Oh tidak, fokus Alex, biar cepet pulang," ucap Alex yang kembali fokus pada pekerjaannya. Meskipun dia tersenyum-senyum sendirian.
Tak lama pintu ruangannya terbuka. Pak Ferdi masuk ke ruangan Alex. Sekejap Alex langsung menatapnya tajam. Permasalahan tadi pagi masih membuatnya kesal pada ayahnya.
"Untuk apa kau ke sini?" tanya Alex ketus. Tak ada rasa hormat pada lelaki yang setiap hari berjudi, mabuk dan main wanita. Meskipun Alex sendiri juga begitu.
"Aku ingin menengok anak kesayanganku," jawab Pak Ferdi tersenyum pada Alex. Seolah tak terjadi apapun tadi pagi.
"Jangan basa basi, kau mau uangkan?" tebak Alex. Dia tahu persis seperti apa ayahnya. Tak mungkin lelaki itu perhatian padanya. Hanya uang dan uang yang dibutuhkan olehnya. Meskipun harus menjilat ludahnya sendiri.
"Kau tahu sekali mauku, anak pintar," ucap Pak Ferdi.
"Heh, parasit, pantas kakek tak mengizinkanmu memimpin perusahaan," ujar Alex kesal.
"Anak sialan, aku ke sini butuh uang, bukan hinaan," ucap Pak Ferdi kesal. Matanya melotot ke arah Alex.
"Jatahmu bulan ini sudah kau ambil, seharusnya itu cukup," ujar Alex.
Pak Ferdi kesal. Dia menendang meja Alex dengan kakinya. Dan memarahi Alex sesuka hatinya.
"Dasar anak tak tahu diuntung, aku sudah membesarkanmu, dan ini balasanmu?" celetuk Pak Ferdi.
"Kalau bukan karena kakek, aku takkan pernah menganggapmu ayahku, hampir setiap hari tak ada di rumah, itu yang dinamakan ayah?" ucap Alex.
"Alex!" teriak Pak Ferdi.
"Ke luar! Aku sibuk!" perintah Alex.
Pak Ferdi mengepal tangan. Menahan emosinya yang memuncak. Dia benar-benar kesal pada Alex. Teman-temannya sudah menunggu di meja judi sedangkan dia belum mendapatkan uang dari Alex.
Pak Ferdi hendak memukul Alex namun ucapan Alex mengentikan kepalan tangannya.
"Kau ingin kakek tahu, kalau kau datang ke kantor minta uang?" ujar Alex.
Seketika tangannya lemas, kepalannya menurun ke bawah.
"Seharusnya kau berhenti berjudi, uangmu takkan habis," ketus Alex.
"Anak sialan, tak berguna," ujar Pak Ferdi.
"Pintunya di sana, ke luar!" ucap Alex terlihat dingin.
"Oke," sahut Pak Ferdi. Dia ke luar dari ruangan Alex dengan kesal dan marah. Sampai pintu ruangan itu dibanting sekuat tenaga.
Braaak ...
Alex hanya terdiam. Di dalam keluarganya hanya Kakek David yang baik. Ayah, ibu dan kedua adiknya seperti keluarga yang memiliki kehidupan masing-masing. Berkumpul hanya sekedar formalitas.
***
Setelah pulang dari Perusahaan Alison Barnett Sophia menyempatkan sholat di masjid yang berada di tepi jalan. Kemudian makan siang dan pergi ke kantornya. Tadinya Sophia tak ada rencana ke kantornya tapi masalah dengan Luis harus diselesaikan sebelum masjid itu digusur.
Sophia ditemani Aiko masuk ke ruangan kerjanya. Dia meminta Aiko memanggil Sekretaris Wang. Ada hal penting yang ingin dibicarakannya. Aiko pun ke luar dari ruangan Sophia, pergi ke ruangan Sekretaris Wang untuk menemuinya. Aiko menyampaikan permintaan Sophia pada Sekretaris Wang agar ke ruangan Sophia.
"Oke," sahut Sekretaris Wang.
Segera Sekretaris Wang ke luar ruangannya. Dia masuk ke ruangan Sophia. Duduk di depannya. Sambil melihat Sophia yang terlihat serius.
"Paman aku ingin tahu data keuangan perusahaan kita, ada berapa uang yang dimiliki perusahaan kita saat ini?" tanya Sophia.
"Sesuai laporan keuangan bulan ini, keuangan perusahaan sedang defisit. Panen menurun, pembangunan perusahaan cabang baru dikerjakan 50 %, pendapatan perusahaan kita masih berfokus untuk kebutuhan pokok di dalam perusahaan, pembangunan perusahaan cabang, kebutuhan panti asuhan, dan sisanya hanya 5 Triilion," ujar Sekretaris Wang. Beliau bukan hanya sekretaris, tapi pemimpin perusahaan dibalik layar. Pengganti Sophia saat tak ada di kantor.
"5 Trillion? Masih kurang," batin Sophia. Dia terdiam memikirkan keuangan yang tersisa dan selisih yang kurang.
"Memangnya ada apa?" tanya Sekretaris Wang.
Akhirnya Sophia menceritakan semuanya pada Sekretaris Wang sebagai orang kepercayaannya dan penasehatnya. Tak ada yang dirahasiakan Sophia darinya. Sekretaris Wang seperti ayahnya sendiri. Beliau orang yang ditunjuk ayahnya untuk menjaga Sophia.
Sophia terdiam. Apa yang diucapkan Sekretaris Wang ada benarnya. Tapi dia tak bisa berdiam diri saat tempat ibadah yang merupakan rumah Allah digusur.
"Apa kita harus menjual aset perusahaan?" tanya Sophia.
"Pikirkan kebutuhan panti asuhan yang semakin besar Sophia, belum lagi pembangunan perusahaan cabang akan mangkrak" sahut Sekretaris Wang.
Sophia terdiam. Posisinya terjepit. Satu sisi kepentingan pribadi di sisi lain ada tempat ibadah yang harus dibelanya setengah mati sebagai umat Islam.
"Huh." Sophia menarik nafas dan menghembuskan kasar. Berat bebannya kali ini. Terasa sesak di dada.
"Baik paman, aku akan cari solusi lain," kata Sophia.
"Jaga kesehatanmu, jangan sampai menurun," saran Sekretaris Wang.
Sophia mengangguk.
"Aku pamit pulang, terimakasih atas waktunya Paman," ucap Sophia.
"Iya," sahut Sekretaris Wang.
Sophia berdiri. Berjalan ke luar dari ruangan kerjanya. Dipikirannya penuh dengan penekanan dari Luis. Dia tahu betul Luis itu takkan membatalkan penggusuran sampai keinginannya tercapai.
"Astagfirullah, beri hamba kekuatan Ya Allah, hamba hanya makhlukmu yang kecil, Engkaulah Maha Besar dan Kaya, mudahkanlah segala urusan hamba," batin Sophia dalam doanya.
Sophia kembali naik mobilnya. Dia masih berpikir dan mencari solusi. Akhirnya Sophia memutuskan pulang ke rumah keluarganya. Baru sampai Bibi Fatimah sudah menyambutnya.
"Assalamu'alaikum," salam Sophia.
"Wa'alaikumsallam," sahut Bibi Fatimah.
Sophia tersenyum. Berjalan menghampiri Bibi Fatimah dan meraih tangannya, menciumnya. selayaknya bertemu ibunya.
"Bibi sudah tahu Sophia pasti akan datang, Bibi masak soto kesukaanmu, pakai mie dan tomat," ujar Bibi Fatimah.
"Bibi tahu aja Sophia kangen soto buatan Bibi," ucap Sophia.
"Perasaan seorang ibu tak mungkin salah, semalam Bibi rindu, entah kenapa Bibi merasa kamu akan pulang," jawab Bibi Fatimah. Dia sudah menganggap Sophia seperti anaknya sendiri.
"Makasih Bi," sahut Sophia.
Kasih sayang Bibi Fatimah selalu dicurahkan pada Sophia dan Nada. Dari mereka kecil hingga dewasa. Apalagi Paman Harun dan Bibi Fatimah belum juga dikaruniai anak. Mengasuh Sophia dan Nada membuat hari-hari sepi mereka menjadi hangat.
"Ayo makan, mumpung sotonya masih hangat," ujar Bibi Fatimah.
"Iya Bi," sahut Sophia. Kemudian keduanya berjalan menuju dapur sambil berbincang. Sophia senang sekali bisa bertemu Bibi Fatimah dan cerita apa saja padanya seperti biasanya.
"Oya Bi, Kak Nada mana?" tanya Sophia.
"Nada ada di kamarnya lagi mabok katanya," jawab Bibi Fatimah.
"Alhamdulillah, Nesa mau punya adik ya," ujar Sophia.
Nesa Putri Devina anak dari Nada dan Hanan. Kini Nada hamil anak keduanya. Semenjak kehamilan keduanya Nada lebih sering di rumah karena mual dan kurang enak makan.
"Iya, semoga kamu juga cepet nyusul Sophia," ucap Bibi Fatimah.
"Amin Bi," sahut Sophia.
Mereka terus berbincang. Hingga berpindah ke ruang makan. Sophia melupakan sejenak masalahnya dan menikmati soto buatan bibinya. Dia tidak ingin bibinya tahu kalau dirinya sedang ada masalah.
Usai makan Sophia naik ke lantai atas. Dia masuk ke kamar kedua orang tuanya. Di dalam kamar suasana sunyi mulai terasa. Kenangan demi kenangan di masa lalu masih teringat di memori Sophia. Foto-foto kedua orangtuanya dan foto masa kecilnya masih terpajang rapi di dinding. Kamar dengan cat merah tua itu masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah termasuk furniture-nya. Masih seperti dulu. Sophia duduk di ranjang. Mengingat kenangan saat kedua orangtuanya masih hidup. Tak terasa air mata jatuh di pipinya.
"Ayah, Ibu, semoga kita bisa berkumpul di jannahnya Allah SWT, amin," ucap Sophia dalam doanya.
Sophia masih duduk. Terlintas sekejap dalam pikirannya tentang harta karun milik keluarganya. Dia baru ingat ayah dan ibunya memiliki emas kuno yang turun temurun diwariskan dari leluhurnya.
Sophia berdiri menuju lukisan yang terpajang di atas laci. Kemudian mengambil lukisan itu. Ada sebuah tombol, tanpa ragu Sophia menekan tombol itu.
Tiba-tiba dinding di depannya bergeser dan terbuka sebagian. Sophia terkejut saat mendapati sebuah ruangan di dalamnya. Sophia memberanikan diri masuk ke dalam. Di dalam hanya ada ruangan dengan rak buku yang berjejer.
Sophia berjalan mencari sesuatu. Sampai pada sebuah kotak hitam. Sophia penasaran dan membuka kotak hitam itu. Ternyata benar dugaannya. Emas murni itu ada di dalam kotak hitam. Sophia tersenyum bahagia melihat kotak hitam itu, segera Sophia membuka kotak hitam itu. Tiba-tiba suara seseorang memanggil Sophia.
"Sophia," panggil Nada.
Sophia berbalik. Menatap Nada. Terlihat Nada kesal padanya.