Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Audisi



"Kau akan pergi?" tanya Erisa. Suaranya lirih. Berat melepas seseorang yang sudah menorehkan cinta di hatinya meski pertemuan mereka singkat.


"Iya," jawab Dokter Leon.


"Kenapa?" tanya Erisa. Dia ingin tahu alasan Dokter Leon harus pergi meninggalkankan Jakarta dan meninggalkan dirinya.


"Aku ingin mencari Tuhan dan menenangkan diri di sana," jawab Dokter Leon. Tujuan kepergiannya untuk mencari jati dirinya dan menenangkan pikirannya.


"Kenapa tidak di sini?" tanya Erisa.


"Jika di sini aku akan terpengaruh oleh rasa ingin memilikimu dan memaksakan diriku memilih pilihan yang belum tentu dari hatiku," jawab Dokter Leon. Dia tidak ingin memilih sesuatu karena cinta atau manusia. Dia benar-benar ingin mencari ketulusan yang ada di hatinya.


"Bagaimana kalau aku rindu?" tanya Erisa.


"Kau bisa menelponku atau video call, tapi jangan merindu kalau kau takut tak bertemu," jawab Dokter Leon. Dia tidak ingin Erisa merindukan seseorang yang mungkin tidak bisa ditemuinya.


"Kalau begitu aku akan menunggu," ujar Erisa. Dia akan menunggu Dokter Leon sampai kapan pun. Sampai mereka bisa bertemu kembali.


"Jangan menungguku karena aku tidak bisa memberimu kepastian," jawab Dokter Leon. Dia tidak bisa memberi kepastian pada Erisa. Entah kapan mereka akan bertemu kembali.


"Tapi aku mencintaimu Leon," ujar Erisa. Dia mengungkapkan perasaan cintanya untuk Dokter Leon. Cinta yang tumbuh tanpa disadari dan menetap di dalam hatinya.


"Jangan mencintaiku jika itu menyakitimu, kau berhak bahagia. Meski denganku atau tidak," jawab Dokter Leon. Seberapa besar rasa cintanya untuk Erisa dia tidak ingin membuat Erisa tersiksa karena rasa cintanya yang entah ada di mana dan kapan akan bersama.


"Apa ini sebuah akhir?" tanya Erisa.


"Kita tidak pernah tahu kapan dimulai dan berakhir, jika kita memang berjodoh. Pada akhirnya kita akan bertemu dan bersama Erisa," jawab Dokter Leon. Dia tidak bisa memastikan akhir cintanya. Apakah Erisa akan menjadi yang terakhir atau mungkin Erisa akan bersama orang lain.


"Bagaimana kalau aku menikah dengan orang lain?" tanya Erisa.


"Asal kau bahagia dengannya. Aku ikhlas," jawab Dokter Leon. Dia sudah mempersiapkan diri jika Erisa ternyata bukan jodohnya.


"Dan jika di sana nanti kau bertemu seseorang yang bisa membuatmu bahagia, aku juga ikhlas," sahut Erisa. Hal yang paling sulit dilakukan dalam cinta adalah merelakan. Dan itu akan dilakukan Dokter Leon dan Erisa.


"Iya," jawab Dokter Leon.


"Cincinmu," ucap Erisa meletakkan cincin di tengah tempat duduk mereka.


"Simpanlah! Jika aku kembali biar aku yang menyematkannya. Dan jika tidak, biarkan cincin itu jadi kenangan kalau kita pernah bertemu dan mencintai," jawab Dokter Leon.


Erisa terdiam. Matanya berkaca-kaca menahan kesedihan di dalam hatinya.


"Selamat tinggal Erisa. Jika kita berjodoh, kita bertemu di dalam bus seperti saat pertama kita bertemu," ujar Dokter Leon.


Erisa hanya diam. Mematung. Membiarkan Dokter Leon pergi dan masuk ke dalam bus. Lelaki tampan berkaca mata itu melambaikan tangannya ke arah Erisa saat bus mulai melaju meninggalkan tempat itu.


"Selamat tinggal Leon. Jika kita berjodoh mungkin kita akan bertemu kembali, di dalam bus di mana kita bertemu pertama kalinya." Erisa memegang cincin pemberian Dokter Leon. Air matanya mulai menetes menatap bus yang sudah tak tampak di matanya.


***


Kenan berjalan mondar mandir merapikan semua wanita yang sedang mengikuti audisi. Karena permintaan Frank, Kenan mengusulkan untuk diadakan audisi pencarian istri sesuai yang diinginkan lelaki bertopeng itu. Kenan sengaja menyewa gedung untuk tempat audisi. Dia dibantu beberapa orang yang disewanya untuk ikut jadi komentator dan juri.


"Assalamu'alaikum," ucap Alex yang baru sampai di gedung itu.


"Wa'alaikumsallam Bos," jawab Kenan seraya menghampiri Bosnya yang baru datang.


"Kenan kenapa semua wanita bertopeng?" tanya Alex. Melihat semua peserta mengenakan topeng.


"Kan Tuan Frank juga bertopeng Bos. Biar serasi dan seirama, senasib dan sepenanggungan, berat sama dipikul ringan sama dijinjing," jawab Kenan.


"Asas gotong royong ya?" tanya Alex.


"Begitulah Bos. Suami istri harus kompak. Istri ke WC suamipun ke WC. Istri ngorok suami ngorok, istri gak masak suami tinggal beli di warteg, semua harus seiya sekata dalam suka dan duka," jawab Kenan. Panjang dan lebar biar jelas padahal Alex pusing mendengarnya.


"Kau belajar dari mana? Siapa yang menyuruhmu bertele-tele seperti ini?" tanya Alex.


"Bertele-tele?" sahut Kenan


"Kau membuang bajet perusahaan hanya untuk audisi kucing dalam karung," jawab Alex.


"Tenang Bos, mereka semua berkualitas, lihat topengnya saja bagus-bagus, apalagi isinya," sahut Kenan.


"Oke kita lihat nanti," jawab Alex. Kemudian masuk ke dalam tempat audisi itu. Alex duduk di samping Kenan. Satu per satu peserta audisi masuk ke dalam. Tim jurinya Tuan Matteo, Gavin, dan Luki.


"Kenan kenapa mereka ikut jadi juri?" tanya Alex.


"Mereka sedang gabut Bos, cuti di hari sama jadi aku minta mereka jadi tim juri biar bajet gak kebanyakan," sahut Kenan.


Alex mengangguk. Dia dan Kenan hanya diam menunggu tim juri menilai satu per satu peserta audisi.


"Silahkan!" ucap Tuan Matteo.


Peserta maju ke depan. Berdiri di antara tim juri.


"Buka dulu topengmu biar kita liat wajahmu!" titah Luki.


Wanita itu mengangguk. Dia membuka topengnya. Cantik dan manis senyumannya. Bibirnya menor dengan lipstik merah merona.


"Dada asli atau tambalan?" tanya Gavin. Otaknya udah ngeres duluan.


"Tambalan Bang, kalau asli takut datar gak ada beloknya."


"Oh," jawab Gavin memberi penilaian.


"Coba buka mulut!" titah Luki.


Wanita itu membuka mulut dengan lebar.


"Gigimu ke mana? Kok ompong?" tanya Luki.


"Gigiku dijual Bang buat makan, ini lagi pesan gigi sapi buat gantinya."


"Oh." Luki memberi penilaian sedangkan Gavin dan Tuan Matteo bengong melihat wanita itu ompong.


"Itu rambutmu masuk ke ketiak, nanti bau, lurusin aja!" titah Tuan Matteo.


"Ini bulu ketek Bang, sengaja dipanjangin, kemarin baru dibonding," jawabnya.


"Oh." Tuan Matteo memberi penilaian. Kemudian peserta selanjutnya maju. Sama seperti peserta pertama, peserta yang satu ini juga mengenakan topeng.


"Buka dulu topengmu!" pinta Gavin.


Wanita itu membuka topeng yang menutup wajahnya.


"Cantik banget, berapa usiamu?" tanya Gavin.


"Enam puluh tahun," jawabnya.


"E-enam puluh tahun?" Ketiga juri terkejut mendapati wanita cantik berusia enam puluh tahun.


"Iya."


"Ini topeng Bang, pesen dari luar negeri biar awet muda," jawabnya.


"Topeng?" Mereka terperanjat.


Wanita cantik itu membuka topeng kulitnya.


"Nenek-nenek." Mereka terperanjat saat melihat wanita tua di depannya yang sudah keriput.


"Kok ikutan audisi untuk apa?" tanya Luki.


"Pengen nikah. Masih perawan loh saya, mau gak?" tanyanya.


"Gavin aja!" Luki dan Tuan Matteo kompak menunjuk ke arah Gavin.


"Gak-gak," tolak Gavin.


"Boleh deh sama yang itu. Kebetulan nenek pengen cepet," ujarnya.


"Ampun Nek jangan, nanti Gavin cariin kakek yang pas untuk nenek," jawab Gavin.


"Tapi nenek mau daun muda, tar nenek pakai topeng biar cantik terus, mau ya?"


"Gak, ampun Nek!" jawab Gavin. Langsung angkat kaki dari kursi. Dia dikejar nenek-nenek yang minta dikawinin paksa sama Gavin.


Alex dan Kenan hanya melihat Gavin berlari sana sini dikejar nenek-nenek.


"Gavin cocok dengan nenek itu. Sesuai kriterinya dada besar dan bohay meski wajahnya nenek-nenek," ujar Alex.


"Iya Bos, biarin aja paling banter minta cium tuh nenek-nenek," sahut Kenan.


Mereka bukannya membantu Gavin yang dikejar-kejar nenek-nenek justru bersantai dan menikmati hiburan itu.


Setelah tiga jam, audisi itu selesai. Mereka bertiga menilai satu per satu peserta sampai menemukan tiga kandidat pilihan mereka bertiga. Semua sesuai kriteria Gavin, Luki dan Tuan Matteo.


"Nah kakak ipar, ini tiga kandidat pilihan kita. Imas, Maya, dan Kinan," jawab Tuan Matteo.


"Imas pilihanku dong. Sesuai kriteriaku," ujar Gavin. Sengaja memilih wanita cantik dan seksi.


"Maya dong kuat dan tahan banting," ucap Luki.


"Kinan, serasa disayang terus," tambah Tuan Matteo.


Mereka bertiga memiliki calon kandidat masing-masing. Tinggal Alex yang menentukan.


Pertama pilihan Tuan Matteo yang maju ke depan.


"Namamu Kinan Larasati ya?" tanya Alex.


"Iya."


"Umur empat puluh tahun dan sudah janda?" tanya Alex.


"Iya."


"Janda berapa kali?" tanya Kenan. Dia penasaran dengan wanita yang terlihat mirip ibu-ibu itu.


"Sepuluh kali Bang, ini lagi nyari yang ke sebelas," jawabnya.


Alex dan Kenan menelan salivanya. Tak disangka wanita bertubuh gempal itu mencari suami yang kesebelas.


"Bos, dia sih oke gak perlu beli kasur, udah berpengalaman, dan serasa punya ibu, tapi masa iya jadi suami kesebelas?" bisik Kenan.


"Iya ya, ini selera Tuan Matteo keibu-ibuan," sahut Alex.


Akhirnya Alex dan Kenan tidak memiliki Kinan. Kemudian wanita pilihan Gavin maju ke depan. Dia tampak cantik dan seksi.


"Namamu Imas Sekarningkrum ya?" tanya Alex.


"Iya."


"Semua berisi, asli?" tanya Kenan. Matanya dimanjakan pemandangan indah di depan.


"Gak, dada silikon, bokong silikon, hidung silikon, rambut sambungan, sulam alis, bibir oplas, dagu oplas, pipi tanam benang bla ... bla ..." Wanita itu menjelaskan kecantikan instan yang diperolehnya.


Alex dan Kenan saling berbisik untuk menilai wanita pilihan Gavin.


"Bos, cantiknya palsu semua, tar kalau pada kadaluarsa jelek lagi," ucap Kenan.


"Iya ya, cantiknya settingan, dasar Gavin ke makan body semok," jawab Alex.


Akhirnya mereka tidak memilih Imas karena cantiknya palsu. Kemudian pilihan Luki maju ke depan.


"Namamu Maya Kartika?" tanya Alex.


"Iya!" jawab Maya dengan tegas dan kencang.


"Itu otot?" tanya Kenan. Tubuh Maya berotot hampir mirip laki-laki.


"Iya mau nyoba? Aku bisa mematahkan apapun. Termasuk mematahkan hatimu!" jawabnya keras.


Alex dan Kenan kembali berdiskusi. Untuk memberi penilaian pada Maya.


"Bos lebih cocok jadi tukang pukul atau janggal sapi, serem baru tanya nama udah budek telingaku," ujar Kenan.


"Iya ya, bisa patah sana sini padahal baru kenalan. Belum lagi telinga mesti oplas kalau kelamaan sama dia," sahut Alex.


Akhirnya mereka berdua tidak jadi memilih Maya. Semua kriteria yang dipilih tim juri tidak ada yang sesuai dengan kriteria Alex dan Kenan.


Mereka berlima duduk di kursi memikirkan jodoh untuk Tuan Frank.


"Gimana pilihanku?" tanya Tuan Matteo.


"Bagus, lebih bagus jadi ibu dari pada istri, gak nyangka selera Tuan Matteo ibu-ibu," sahut Kenan.


"Terus Imas semok gimana?" tanya Gavin.


"Dari atas sampai bawah kw semua, masa cantiknya boongan kasihan Tuan Frank," jawab Kenan.


"Kalau Maya gimana?" tanya Luki.


"Telingaku masih sakit nih padahal baru ngomong sebentar ma dia. Meja audisi aja pada patah semua," jawab Kenan.


Mereka terdiam. Memikirkan wanita yang cocok dengan Frank.


"Assalamu'alaikum," sapa Sophia dan Aiko masuk ke dalam ruangan itu.