
Sore itu menjadi sore yang begitu indah. Alex dan Sophia memadu cinta dalam gairah yang membara. Suara burung-burung bersiulan dan angin sore yang berhembus perlahan membuat suasana menjadi semakin hangat. Matahari yang mulai pulang ke sarangnya membuat langit berwarna orange kemerahan. Langit-langit mengajak setiap insan untuk kembali pulang berkumpul dengan keluarga tercinta. Alex dan Sophia masih enggan beralih dari kegiatan romantis yang mereka lakukan. Ranjang menjadi arena gulat yang tak terelakkan. Benang-benang bertaburan di lantai ditinggalkan sang pemiliknya yang masih asyik dalam buaian.
Satu jam sudah mereka mengeluarkan kalori yang menetes menjadi sebuah peluh yang mengalir di sekujur tubuh. Membasahi setiap kenikmatan yang mereka rasakan. Suara merdu burung bersiul tak kalah merdu dari dua insan yang masih dalam tugas istimewa itu. Alex tak perlu mengasah kemampuannya, justru semakin tajam saat bersama Sophia yang merupakan bahan untuk dipotongnya sesuka hati.
Setelah lelah mereka berbaring di ranjang. Alex menyelimuti tubuh indah istrinya. Masuk dalam dekapannya.
"Sayang makasih ya, semangatku jadi balik," ucap Alex.
"Memangnya Mas ada masalah apa?" tanya Sophia.
"Kau belum tahu?" tanya Alex.
Sophia menggeleng. Memang dari sejak pulang dari kantor Sophia belum melihat media sosial. Sophia bukan orang yang senang bergulat dengan gawainya. Dia lebih memilih beraktivitas fisik seperti menyiram tanaman, membaca buku, memasak resep baru, menanam tanaman dan lainnya. Hanya sesekali melihat berita yang ada di media sosial. Itu pun lebih bersifat bisnis. Semenjak sakit Sophia lebih mendekatkan diri pada Allah SWT. Dia tahu entah hari ini esok atau lusa mungkin dia akan kembali, Sophia berusaha memperbanyak amalan nya sebelum kembali pada sang pencipta.
Karena Sophia belum tahu, Alex pun menceritakan apa yang sudah terjadi tadi siang. Mungkin dengan berbagi cerita pada istri tercintanya bisa mengurangi beban di hatinya yang penat dan sesak memenuhi dadanya.
"Astagfirullah," ucap Sophia. Dia tak menyangka suaminya sedang mendapatkan musibah yang datang mendadak tanpa permisi. Seperti petir yang menyambar di siang hari.
"Yang sabar ya Mas, semoga Allah memberikan jalan untuk menyelesaikan masalah ini," ujar Sophia sambil memeluk suaminya.
"Iya sayang, tapi sekarang aku tidak takut menghadapi setiap masalah karena aku punya embosnya," sahut Alex.
"Apa embosnya?" tanya Sophia penasaran.
"Embosnya Allah dan kau sayang," ucap Alex lalu mencium kening Sophia.
Tidak ada yang membuat Alex semangat selain Sophia dan khususnya Allah sang Maha Pencipta Penguasa segalanya. Dulu Alex tak memiliki hal berharga dihidupnya tapi sekarang ada Sophia yang paling berharga dalam hidupnya.
"Mas aku akan membantu menyelesaikan masalahmu, kau butuh apa?" tanya Sophia.
Alex mendekap lebih dekat. Bermanja dengan pipi Sophia yang lembut dan harum.
"Aku hanya butuh kau ada di sisiku, itu sudah lebih dari segalanya," sahut Alex.
"Izinkan aku membantu," ucap Sophia.
"Tidak, ini masalah yang rumit dan menyangkut banyak orang, aku ingin kau di rumah saat aku pulang, agar penat dan lelahku selalu terobati," ucap Alex.
"Iya Mas, aku akan selalu ada di rumah saat kau pulang," jawab Sophia. Dia begitu bahagia menjadi orang yang penting untuk Alex dan dibutuhkannya. Menerangi jalannya menuju surga Allah.
"Aku selalu bermimpi kelak kita punya anak dan menua bersama. Menghabiskan sisa hidup kita bersama hingga maut memisah," ucap Alex.
Sophia terdiam. Menundukkan kepalanya. Teringat penyakitnya. Mungkin tak banyak waktu yang tersisa. Namun Sophia akan ada di sisi Alex takkan pernah meninggalkannya. Sampai nafas terakhirnya.
"Laper sayang," ucap Alex.
Sophia menaikan kepalanya. Dia ingat suaminya belum makan. Alex sudah minta bermesraan duluan sebelum perutnya terisi, menghentikan nyanyian-nyanyian yang mengguncang isi perutnya.
"Aku masak sambal kesukaan Mas," ucap Sophia.
"Pakai tempe dan ayam gorengkan?" tanya Alex. Dia mulai menyukai makanan apapun. Tempe goreng jadi menu yang harus ada di meja. Sophia lah yang mengenalkan Alex pada tempe goreng yang tadinya Alex anti tapi justru sekarang jadi makanan favoritnya.
Sophia mengangguk.
"Aku mau juga daun yang kemarin kau makan sayang," ucap Alex.
"Itu bukan daun Mas, kemangi," ucap Sophia.
"Iya itu, walaupun rasanya gak enak tapi baunya harum," sahut Alex.
Alex dan Sophia mandi bersama. Mengenakan pakaian. Sholat magrib, berdzikir dan mengaji. Seperti biasa Sophia mengajari Alex membaca Iqra. Tapi kali ini Alex sudah banyak kemajuan. Setelah itu mereka ke luar dari kamar. Turun ke bawah untuk makan malam bersama. Di ruang makan tidak ada seorang pun duduk di kursi seperti biasanya.
"Ibu dan Claudya ada acara di luar Mas, kalau Gavin belum pulang," ucap Sophia.
"Kakek ...," ucap Alex pelan.
"Apa aku ke atas ya Mas, memanggil kakek?" tanya Sophia.
"Tidak usah, biar aku aja sayang, kau tunggu di sini," jawab Alex.
Sophia mengangguk. Dia tahu mungkin Alex harus menemui kakeknya secara pribadi. Ada hal yang harus dibicarakan mereka berdua.
Alex naik ke lantai atas. Berjalan menuju kamar Kakek David. Perlahan meskipun penuh keraguan di hatinya, Alex harus menemui kakeknya. Masalah ini tak bisa hanya disikapi dengan diam. Alex berdiri di depan pintu. Ingin mengetuk tapi ragu. Mengumpulkan keberaniannya menghadap kakeknya.
"Alex!" panggil Kakek David yang baru datang. Berdiri di belakang Alex.
Seketika Alex berbalik. Melihat Kakek David di depannya. Alex yang merasa malu berusaha menguatkan dirinya untuk menghadap kakek apapun itu.
"Kek," sapa Alex.
"Kita bicara di dalam," sahut Kakek David.
Alex mengangguk.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar. Duduk di sofa berseberangan. Alex masih terdiam. Bingung harus mengawalinya dari mana. Dia merasa kakeknya pasti tahu apa yang sedang terjadi. Hanya saja kakeknya belum bicara apapun. Begitupun dengan Alex.
"Kek aku ingin bicara soal ...," ucap Alex.
"Perusahaan," sahut Kakek David.
Alex terdiam. Sedikit menurunkan kepalanya ke bawah. Sebenarnya dia sangat malu, sudah mengecewakan kepercayaan yang diberikan padanya.
"Aku sudah tahu tentang masalah itu," ucap Kakek David.
"Aku minta maaf Kek, aku sudah mengecewakan kakek," ujar Alex.
Kakek David terdiam. Tatapan matanya dingin. Membuat Alex semakin bersalah. Perusahaan yang sekarang dipimpin Alex adalah hadiah dari neneknya. Dari tabungan neneknya yang digunakan kakeknya untuk memulai bisnisnya. Dan sekarang jadi perusahaan raksasa.
"Aku minta maaf." Alex kembali mengucapkan kata maaf. Dia benar-benar merasa lalai dan gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin.
"Kau tak perlu minta maaf Alex, ini bukan salahmu," ucap Kakek David.
Alex terkejut. Dia berpikir kakeknya akan marah padanya tapi ternyata tidak.
"Tapi bagaimana kalau perusahaan kita bangkrut karena masalah ini?" tanya Alex. Dia mengkhawatirkan masa depan perusahaannya. Dengan kasus itu nama baik perusahaannya akan jatuh. Kepercayaan konsumen akan hilang. Begitupun para penanam saham akan mundur. Perusahaan akan merugi. Lambat laun, gulung tikar tak bersisa.
"Harta yang kita punya hanya titipan, jika memang Allah ingin mengambilnya kembali, ya ikhlaskan saja," ucap Kakek David.
"Masya Allah, kakek hebat, Alex harus banyak belajar lagi untuk bisa seperti kakek," sahut Alex.
"Kau bisa jauh lebih baik dariku Alex, ada istri sholeha yang selalu menemani langkahmu," ucap Kakek David.
"Iya Kek, terimakasih," ucap Alex.
"Iya, Kakek lapar, ayo turun!" ujar Kakek David.
Alex mengangguk. Dia lega. Setidaknya sudah bicara dengan Kakek David. Alex tak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Tinggal fokus menyelesaikan masalahnya.