Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Pengangguran Ingin Bersaing



Pagi itu Gavin mengantar Dodo untuk pergi ke pemakaman ibunya. Sebelum berangkat Gavin mampir di gerobak soto untuk sarapan karena tak sempat sarapan di rumah. Gavin duduk bersama Dodo di kursi yang ada di tepi jalan. Gavin belum juga menyuapkan satu sendok makanan miliknya, tercengang melihat Dodo sudah habis tiga mangkuk.


"Gendut, bukannya kau berduka? kenapa kau masih bisa makan dengan nikmat?" tanya Gavin.


"Yang berduka hati Om, perut tetep lapar, kalau gak diisi pingsan nanti, Om kuat memangnya gendong Dodo?" tanya Dodo balik.


"Gaklah, paling biarin aja di jalanan," jawab Gavin.


"Tar Dodo diculik gimana Om, kasihan penculiknya rugi bandar ngempanin Dodo," ujar Dodo.


Gavin tertawa. Bocah gendut botak itu membuatnya hidupnya berwarna. Setidaknya ada yang membuatnya senang.


"Om gak kerja kok punya duit? Memang jadi pengangguran digaji ya?" tanya Dodo.


"Gendut, kau bilang aku pengangguran?" pekik Gavin melotot ke arah Dodo.


"Om dari kemarin nyantai terus di rumah tapi punya banyak duit, Om jadi babi ngepet ya?" ucap Dodo.


Gavin langsung menutup mulut Dodo. Semua orang melihat ke arah mereka berdua dengan curiga.


"Gendut, jangan ngomong aneh-aneh, semua orang mengira aku beneran ngepet," bisik Gavin ke telinga Dodo.


"Hmmm ... hmmmm ...," ucap Dodo setuju.


Gavin melepas mulut Dodo. Membiarkan dia makan soto kembali. Kemudian tersenyum pada semua orang yang sedang makan soto juga.


"Gendut buruan, kau belum kenyang?" tanya Gavin.


"Baru tiga mangkok Om, biasa lima mangkok sama lima telor rebus," jawab Dodo.


"Kau makan kaya vacum cleaner," sindir Gavin.


"Dodo masih masa pertumbuhan Om, nanti kalau sudah dewasa seganteng Om," ujar Dodo.


"Mana mungkin, aku sekecil kau tampan, tak gendut botak sepertimu," ucap Gavin.


"Nanti Dodo diet Om kalau udah bosan makan," jawab Dodo.


"Kapan kau akan bosan makan gendut?" Gavin gemas melihat Dodo. Semangat pantang menyerahnya pada makanan takkan terkalahkan meski di medan perang sekalipun.


"Om, sotonya gak dimakan? Mubadzir, Allah tidak suka orang yang menyia-nyiakan makanan, di luar sana banyak orang kelaparan Om," ujar Dodo.


Seketika Gavin terdiam. Dia tak menyangka nasehat itu datang dari mulut polos Dodo. Yang Gavin sendiri tak pernah menghargai makanan. Dia merasa punya banyak uang, sering menyia-nyiakan makanan yang mungkin di luar sana banyak orang yang tak seberuntung dirinya.


"Kalau gak mau Dodo masih siap nampung Om," ucap Dodo.


Gavin langsung mengelus ubun-ubun Dodo. Dia bangga padanya. Meskipun masih kecil Dodo tahu banyak hal tentang kehidupan dari pada Gavin.


"Aku makan soto milikku, tapi kau jangan nambah lagi, kalau kau gendut semua cewek kabur," ujar Gavin.


"Memang cewek kabur karena takut Dodo makan ya Om?" tanya Dodo.


Gavin tertawa. Mana Dodo paham soal hubungan orang dewasa. Seharusnya dia menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak-anak.


Dengan nasehat dari Dodo, Gavin ingin memakan soto miliknya.


"Berdoa dulu Om, kata Pak Ustad berdoa sebelum makan berkah, dihindarkan dari bahaya yang tidak diinginkan," ucap Dodo.


"Aku gak tahu doa makan Ndut," kata Gavin.


"Dodo ajarin Om," sahut Dodo.


Gavin mengangguk. Mengikuti Dodo membaca doa makan. Kemudian memakan soto miliknya sampai habis.


"Alhamdulillah," ucap Gavin.


"Yah nih si gendut udah tepar, gimana ngangkatnya coba," ucap Gavin melihat Dodo tertidur di meja.


Akhirnya Gavin menggendong Dodo berjalan menuju mobil Lamborghini merah miliknya.


"Buset dah, berat banget nih bocah, encok gue," batin Gavin.


"Mama Dodo kangen ...," ucap Dodo mengigau.


"Kasihan juga Dodo, aku harus bisa menjaganya dengan baik, sekarang cuma aku yang dia punya," ucap Gavin. Dia terus menggendong Dodo sampai ke dalam mobil miliknya. Memasukkannya meskipun agak sulit karena tubuh gempalnya. Setelah itu Gavin menyetir mobilnya menuju Pemakaman Kamboja Merah.


Selama satu jam perjalanan akhirnya sampai juga di pemakaman itu. Dia membangunkan Dodo. Mengajaknya turun. Berjalan ke masuk ke dalam pemakaman. Tak ada satu pun pelayat yang datang. Hanya seorang gadis bercadar yang sedang duduk berdoa di samping nisan. Gavin tersenyum melihat gadis bercadar itu, paling tidak dia bisa bertemu dan menanyakan apa saja padanya.


"Om, kaki Om nginjek tikus mati, matanya lihat jalan Om, jangan liat Kak Humaira," ujar Dodo.


"Siapa tadi?" Gavin bertanya kembali pada Dodo.


"Tadi apa Om?" tanya Dodo.


"Namanya," jawab Gavin.


"Kak Humaira," sahut Dodo.


Gavin tersenyum memandang dari kejauhan sambil menyebut nama indahnya. Membayangkan begitu cantiknya Humaira saat membuka cadarnya.


"Om suka Kak Humaira? saingan Om berat loh," ucap Dodo.


"Berat kenapa?" tanya Gavin.


"Saksikanlah sebentar lagi," jawab Dodo.


Tiba-tiba dari belakang Gavin, muncul sesosok lelaki mengenakan jas Dokter menghampiri Humaira. Dia membawa bunga. Meletakkannya di dekat nisan. Lelaki itu terlihat tampan, berhidung mancung, kulit sawo matang, mengenakan kaca mata. Tampak sopan dan ramah. Berdiri agak jauh dari Humaira.


"Patah hati ya Om, jangan sampai bunuh diri, tar yang kasih makan Dodo siapa?" ujar Dodo.


"Do, apa begini rasanya belum apa-apa hatiku sudah tertusuk duri," kata Gavin.


"Om maju berat, mundur nyesek, ditengah-tengah halu," ucap Dodo.


"Kau benar Do, kalau saingannya Dokter apalah dayaku yang pengangguran ini," ujar Gavin.


"Tuhkan Dodo tadi bilang apa, Om pengangguran, Kak Humaira mana mau cowok nganggur, mendingan buang ke laut aja," ucap Dodo.


Gavin langsung merangkul Dodo.


"Kau bilang apa Do? Buang ke laut aja? Siapa yang ngempanin kau nantinya? Heh!" tegas Gavin.


"Damai Om, tidak baik menindas anak lucu kaya Dodo," ucap Dodo.


"Yaudah, kita samperin mereka," ucap Gavin.


"Assalamu'alaikum," sapa Gavin.


"Wa'alaikumsallam," sahut keduanya.


"Anda siapa ya?" tanya lelaki mengenakan jas Dokter itu.


"Kenalkan aku Gavin Sebastian," ucap Gavin mengenalkan dirinya.


"Saya Dokter Randi Satria, senang bertemu denganmu."


Mereka berdua sibuk mengorbol, menunjukkan kelebihan masing-masing. Sedangkan Dodo duduk bersama Humaira mendoakan ibunya. Dodo menahan air matanya. Dia terus berdoa.


"Ya Allah jaga Mama, ampuni dosanya. Sekarang Mama gak sakit lagi, Dodo akan jadi anak yang sholeh, dan selalu mendoakan Mama," ucap Dodo dalam doanya.


"Dodo anak sholeh semoga Allah senantiasa mengabulkan doa Dodo," ucap Humaira.


"Amin, terimakasih Kak Humaira," sahut Dodo.


Di waktu yang sama Gavin masih berdebat dengan Dokter tampan itu. Mereka berusaha menyingkirkan satu sama lain dari sisi Humaira. Agar bisa berduaan dengan gadis bercadar itu tanpa penghalang.


"Dok sudah siang sepertinya, bukannya anda akan praktek ya," ucap Gavin.


"Masih ada waktu satu jam lagi, anda sendiri tidak berangkat kerja?" tanya Dokter Randi.


"Aduh, mengapa membahas kerjaan sih, gue pengangguran juga, apa yang bisa gue banggakan nih," batin Gavin kebingungan saat masalah pekerjaan disenggol.


"Om Gavin nganggur Dok, belum ada kepastian masa depan," sahut Dodo.


"Sialan nih si gendut, bukannya belain Omnya malah jatuhin pangsa pasar gini," batin Gavin.


"Oh masih nganggur, di rumah sakit ada lowongan sebagai OB, siapa tahu berkenan," ucap Dokter Randi.


"Terimakasih atas informasinya, saya akan mencari pekerjaan lainnya, paling tidak jadi pengusaha," ujar Gavin.


"Tenang Om, nanti kita usaha jualan umang Om, di depan SD pasti laku," saran Dodo.


"Awas lo gendut, gue pites sampai rumah, gak bisa apa ninggiin gue dikit," batin Gavin.


"Usaha jualan umang? Usaha yang bagus, setidaknya bisa untuk bayar kontrakkan ya," ucap Dokter Randi.


"Iya dong Dok, apapun berawal dari bawah," sahut Gavin.


"Dokter Randi, saya pulang duluan," ucap Humaira. Kemudian berdiri di samping Dodo.


"Humaira biar aku antar ya?" tanya Dokter Randi.


"Tidak usah Dok, terimakasih, assalamu'alaikum," ucap Humaira.


"Wa'alaikumsallam," sahut Dokter Randi dan Gavin.


Humaira berjalan meninggalkan mereka bertiga. Dia berjalan ke luar dari pemakaman. Pupus sudah harapan Gavin untuk mengobrol berdua dengan gadis bercadar itu.


"Sudah siang, seperti saya harus berangkat, assalamu'alaikum," ucap Dokter Randi.


"Wa'alaikumsallam," sahut Gavin dan Dodo.


Akhirnya Dokter Randi juga meninggalkan tanah pemakaman itu. Tinggal Dodo dan Gavin yang masih berdiri di dekat nisan ibunya Dodo.


"Baru mau pede kate ada gangguannya," ucap Gavin.


"Om, jadi usaha jualan umangnya? Dodo siap membantu promosi," ucap Dodo.


Gavin langsung merangkul Dodo.


"Dodo, masih mau makan?" tanya Gavin.


"Masih Om, perut Dodo dah laper lagi," jawab Dodo.


"Kita makan batu ya hari ini, Om pengangguran, gak ada masa depan, dan pengusaha umang, jadi gak sanggup beli makanan," ucap Gavin.


Dodo tertawa. Tak menyangka Gavin kesal gara-gara ucapannya tadi.


"Makanya Om kerja, biar Kak Humaira yakin sama Om," usul Dodo.


"Benar juga Ndut, kerja apa?" ujar Gavin kebingungan. Selama ini dia menganggur. Hanya menengadahkan tangannya untuk mendapatkan uang jatah bulanan dari kakeknya. Tak pernah terpikir olehnya kalau punya pekerjaan itu penting. Tapi sekarang dia punya Dodo dan ingin layak di depan Humaira.


***


Dua hari berlalu. Alex dan Sophia pulang ke rumah bersama Pak Ferdi. Mereka mengantar Pak Ferdi sampai ke kamarnya. Alex membantu Pak Ferdi tidur di ranjang. Di dalam Kakek David, Ibu Marisa dan Claudya ikut menemani Pak Ferdi yang baru datang. Pak Ferdi begitu senang, di saat dia sakit, keluarganya ada untuknya. Membantu dan memberi support padanya. Dia sadar pentingnya keluarga untuknya.


"Alhamdulillah Ferdi kau sudah pulang, tinggal pemulihannya saja," ucap Kakek David.


"Iya Pa, alhamdulillah," sahut Pak Ferdi.


"Ayah mau minum jus? Claudya bikin jus melon kesukaan ayah," ucap Claudya.


"Boleh, jus buatanmu pasti enak," puji Pak Ferdi pada Claudya. Selama ini Pak Ferdi tak pernah sekalipun menyenangkan hati putri bungsunya. Dia ingin memulainya dari hal kecil.


"Iya dong Yah, Claudya bikinnya khusus buat ayah," ujar Claudya.


Baru mau mengambil jus di meja, ternyata Alex meminum jus melon buatan Claudya.


"Kak lo minum jus buat ayah," ucap Claudya menatap Alex dengan kesal.


"Yah abis, seger, enak, pinter kamu bikinnya," ucap Alex ngeles biar Claudya gak marah.


Claudya langsung menghampiri Alex, menepuk lengannya.


"Kakak, makanya jangan asal minum, itu buat ayah," ucap Claudya.


"Iya maaf, tar Sophiaku akan membuat yang baru, iya kan sayang?" tanya Alex mencari pembelaan pada Sophia.


"Mas harus bertanggungjawab, jadi Sophia gak ikut-ikutan," balas Sophia.


"Sayang bisa abis sama Claudya, kalau kau tak membelaku," ujar Alex berusaha menghindar dari tepukan tangan Claudya yang memburu lengannya.


"Kakak nyebelin deh," ujar Claudya.


Alex dan Claudya terus berdebat. Sedangkan Ibu Marisa merasa aneh melihat Pak Fedi jadi agamis dan lebih kalem sikapnya. Terlihat dari obrolannya dengan Kakek David.


"Itu beneran Ferdi? Apa waktu kecelakaan kepalanya terbentur terus hilang ingatan?" batin Ibu Marisa. Dia tercengang melihat Pak Ferdi yang sangat berbeda. Berbanding terbalik dengan Pak Ferdi sebelumnya.