Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Menunjukkan Kelasnya



Sophia terlihat duduk dengan nyaman di antara ibu-ibu sosialita itu. Ternyata Sophia mampu mengimbangi obrolan kelas tinggi mereka.


"Beneran, beli di mana Sophia? saya beli kok palsu loh berliannya."


"Iya saya juga ketipu."


"Tahu gitu tanya Sophia aja, ternyata sering beli berlian toh."


"Saya juga belinya kemahalan, ternyata berlian kelas rendahan."


Alex tersenyum melihat istrinya mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Tanpa harus membalas tapi menunjukkan kelasnya. Semua orang yang tadi menghina, menutup mulutnya. Tanpa harus Sophia berkata kasar.


"Sophia kau memang hebat, aku harus belajar banyak hal darimu," batin Alex yang masih berdiri memperhatikan Sophia yang duduk manis bersama teman-teman ibunya. Sedangkan Ibu Marisa malu sendiri. Mati kutu. Ternyata teman-temannya sangat menyukai Sophia.


Alex tersenyum membiarkan Sophia bercengkrama dengan teman-teman ibunya. Tak ada yang perlu dikhawatirkannya. Sophia pandai membawa diri. Pembawaannya yang ramah dan santun membuat siapapun nyaman. Alex saja yang begajulan berubah total karena Sophia. Dia yakin di mana pun tempatnya Sophia selalu membuat orang-orang bahagia.


Setelah sarapan bersama teman-teman ibunya Alex. Sophia membawa sarapan untuk suaminya. Dia membawa susu dan roti bakar dengan daging, keju, dan mayonase. Alex sedang tak ingin makan nasi. Tak lupa Sophia membawa potongan beberapa buah di mangkuk kecil. Sophia membawa sarapan itu ke lantai atas, dia berjalan menuju kamarnya karena Alex tak ada di ruang kerjanya. Sophia masuk ke kamar membawa sarapan itu.


"Mas, sarapan dulu," ucap Sophia membawa sarapan itu ke meja. Kemudian menghampiri Alex yang bermalas-malasan di ranjang.


"Iya sayang," sahut Alex. Dia bangun. Membuka kedua tangannya saat Sophia mendekat. Alex langsung memeluk Sophia setelah berada dipelukannya.


"Tadi ngapain aja sayang?" tanya Alex.


"Masak sarapan untuk semuanya lalu berbincang sebentar dengan teman-teman Mama," jawab Sophia.


"Kalau begitu, aku mau kasih hadiah untuk sayangku," ujar Alex.


"Hadiah apa?" tanya Sophia.


"Tutup mata dulu," pinta Alex.


Sophia menutup matanya. Dia tidak tahu hadiah apa yang akan diberikan suaminya. Hanya tangan Alex memegang tangannya. Sophia bisa merasakan sentuhan tangan suaminya.


"Buka matanya sayang," pinta Alex yang duduk di depan Sophia.


Perlahan mata emerald itu mulai terbuka. Menurunkan pandangannya ke tangannya. Sebuah cincin berwarna silver dengan mata berlian berukuran kecil tertata rapi memutari gagang cincin itu.


"Ini untukku Mas?" tanya Sophia. Dia melihat di jari manisnya ada cincin tanda cinta.


"Iya dong sayang, cincin kita samaan, cuma punyaku gak ada berliannya," ucap Alex.


"Bagus Mas, aku suka," kata Sophia.


"Biar kalau ke luar, orang-orang tahu kalau si cantik ini milik Alex Sebastian," ujar Alex.


"Mas makasih," ucap Sophia. Matanya berbinar. Senyumannya begitu manis terpancar karena kebahagiaan yang baru diberikan oleh Alex padanya.


"Iya sayang, sekarang hadiahnya buat aku mana?" tanya Alex.


"Hadiah?" Sophia bingung ketika suaminya minta hadiah.


Alex mengedipkan mata. Memberi kode pada Sophia.


"Hadiahnya ini aja ya Mas," sahut Sophia. Dia mendekati wajah Alex. Menciumnya. Mendapat ciuman dari Sophia, Alex langsung membalas ciumannya. Mereka berciuman. Menikmati indahnya cinta yang menyatukan keduanya.


"Mas sarapan ya," ucap Sophia usai berciuman dengan Alex.


"Suapin sayang," ucap Alex manja.


"Iya Mas, tunggu ya Sophia ambil dulu," kata Sophia.


Alex mengangguk.


Segera Sophia mengambil sarapan itu. Menyuapi suaminya. Begitu pun dengan Alex yang gantian menyuapi Sophia sampai sarapan itu habis.


Setelah sarapan Sophia dan Alex mandi. Sholat dhuha bersama. Kemudian berangkat ke Perusahaan Alison Barnett.


Di dalam mobil Alex terus menggenggam tangan Sophia. Seakan memberi pelindungan padanya. Takkan ada yang boleh menyakiti Sophia-nya.


"Mas, apakah Luis akan membatalkan penggusuran masjid itu?" tanya Sophia.


"Harus, kalau tidak dia harus melawanku," jawab Alex.


"Mas, jangan emosi lagi menghadapi Luis," ujar Sophia.


Alex mengangkat tangannya. Mencolek dagu Sophia.


"Iya sayang," ucap Alex.


Sophia tersenyum. Senangnya melihat Alex yang sekarang. Jauh lebih baik dari sebelumnya.


Sampai di Perusahaan Alison Barnett. Alex dan Sophia turun dari mobil. Mereka berjalan bersama. Namun ternyata Alex mendapat telpon dari kantor jadi Sophia masuk duluan ke dalam perusahaan. Sophia naik lift ke lantai atas. Dia menemui sekretarisnya Luis yang bernama Ayu Rosita. Kemudian diantar ke ruangan Luis. Di dalam, Luis terlihat dingin. Di sekujur wajahnya masih terlihat luka yang diperban.


"Assalamu'alaikum," sapa Sophia.


"Ternyata kau datang juga Sophia," sahut Luis.


"Sesuai keinganan anda sebelumnya, saya datang ke sini untuk membayar tanah wakaf itu," ucap Sophia.


"Tadinya aku ingin uang, tapi ternyata aku penasaran, apa yang membuatmu berharga di mata Alex," ujar Luis mendekati Sophia. Memutarinya sambil memperhatikannya dari atas ke bawah.


"Apa ini sikap seorang pemimpin pada tamunya?" tanya Sophia.


"Sophia aku sangat mengenal Alex, dia tidak mungkin setia, kau hanya akan menderita dengannya," ujar Luis memprovokasi Sophia.


"Terimakasih anda sudah peduli, tapi aku sudah tahu seburuk apa suamiku, yang jelas dia jauh lebih baik darimu," ucap Sophia.


"Ha ha ha, Sophia-Sophia, kau bodoh, Alex hanya akan memanfaatkanmu," ujar Luis.


"Jika saya memang dimanfaatkan, seharusnya dia tidak membantuku datang ke sini," ucap Sophia.


Krek ...


Pintu ruangan itu terbuka. Alex terlihat masuk ke dalam. Luis terkejut melihat Alex masuk ke dalam ruangannya. Lukanya terasa ngilu kembali saat melihat Alex menatapnya tajam.


"Bukannya aku sudah memperingatimu, jangan berani menyakiti istriku," ujar Alex berjalan menghampiri Luis yang berada di dekat Sophis.


Luis menelan ludahnya berkali-kali. Berhadapan dengan Alex kembali membuat lukanya akan kembali membengkak dan membiru kembali.


Alex mendekati Sophia. Merangkulnya dan menatap Luis di depannya.


"Alex, ku pikir Sophia datang sendiri," ucap Luis terbata-bata.


"Datang sendiri? Ke kantor buaya sepertimu?" sindir Alex.


Luis bingung mengawali pembicaraannya. Dia pikir Alex semalam hanya terbawa suasana. Ternyata dia benar-benar membela Sophia.


"Kita bicara di sofa, semua ini bisa dibicarakan baik-baik," ucap Luis sok baik saat ada Alex di dekat Sophia. Dia tak berani berhadapan dengan Alex tanpa persiapan. Alex bukan orang yang mudah dilawan. Dia akan menghabisi Luis jika macam-macam pada Sophia.


"Ayo sayang, kita duduk di sana," ucap Alex.


Sophia mengangguk.


Akhirnya mereka bertiga duduk di sofa. Sophia duduk di samping Alex sedangkan Luis duduk di seberang keduanya.


"Luis aku malas berbasa-basi, kedatanganku ke sini untuk membayar tanah masjid itu," ujar Alex.


"Tapi Alex, tanah itu akan dibangun apartemen," sanggah Luis.


"Dari mana uangnya? Kau akan berhutang?" tanya Alex.


Luis terdiam. Belum ada investor yang mau menginvestasikan sebanyak 70%. Selain Alex. Luis hanya memiliki dana 30%. Ada beberapa investor tapi hanya berani berinvestasi 10%. Mereka kurang tertarik dengan pembawaan Luis. Tadinya adanya Alex, membantu Luis mendapatkan dana untuk pembangunan apartemen miliknya. Jika pinjam ke bank bunganya sangat tinggi.


"Lebih baik kau bangun apartemen di daerah lain, dan serahkan tanah masjid, aku akan membayar sesuai maumu," ujar Alex.


"Kenapa kau peduli soal ini?" tanya Luis.


"Karena aku tidak seserah kau Luis, bisnis is bisnis, tapi tempat ibadah, bukan permainan caturmu," jawab Alex.


Luis tercengang dengan ucapan Alex. Dia terdiam. Tak berani membantah Alex.


"Kau ingin 10 Trillion bukan?" tanya Alex.


"Iya, kau pintar Alex," sahut Luis.


Alex meletakkan Cek dan tas koper di atas meja. Luis mengambil Cek itu. Memeriksa keasliannya. Setelah yakin asli. Mereka menandatangani surat jual beli tanah. Sertifikat tanah itu pun kini di tangan Alex.


"Itu uang 10 Trillion, kau bisa memandikan tubuhmu dengan uang," ucap Alex.


Luis tersenyum. Meskipun tak jadi membangun apartemen tapi dia mendapatkan keuntungan yang banyak. Namun Luis penasaran. Dia ingin segera membuka koper itu. Tangan langsung menyentuh koper dan memegangnya.


"Kau membayar sebanyak ini untuk masjid?" tanya Luis.


"Masjid itu rumah Allah, jangankan 10 Trillion, selama aku mampu, aku akan mempertahankannya," ujar Alex.


"Kau berubah Alex, pasti wanita di sisimu yang mempengaruhi mu," ucap Luis.


"Sophia tak pernah mempengaruhiku tapi dia yang menyadarkanku," ucap Alex.


Luis tersenyum. Dia tak menyangka Alex mau berubah.


"Ayo sayang urusan kita sudah selesai," ucap Alex.


Sophia mengangguk. Mereka berjalan meninggalkan Luis yang asyik memegang koper, dia tak memperdulikan Alex dan Sophia pergi meninggalkannya. Luis penasaran dengan koper itu. Segera dia membukanya. Saat sudah terbuka, dia terkejut melihat isinya.


"Sial, Alex ternyata pintar sekali," ucap Luis melihat foto-fotonya bersama seorang wanita di atas ranjang.


Di dalam koper itu juga terdapat flashdisk berisi video mesum miliknya. Alex tahu seperti apa Luis. Dia selalu berselingkuh dan memiliki simpanan sedangkan dia sangat takut pada istri dan ayah mertuanya. Perusahaan yang dipimpinnya milik ayah mertuanya. Bisa gawat kalau mereka tahu kelakuan Luis di luaran.


Di dalam koper itu terdapat sebua memo yang menempel.


"Luis, kalau kau tak ingin foto dan video itu bocor, sobek Cek itu. Aku akan mentransfer 5 Milyar sebagai ganti uangmu yang sudah kau bayarkan untuk tanah itu," ucap Luis membaca memo dari Alex.


Luis marah dan kesal. Ternyata Alex tak sebodoh itu. Dia jauh lebih pintar darinya.


"Seharusnya aku tak termakan ucapan Alex, dia mengelabuhiku, sial," ucap Luis sambil memukul meja di depannya. Dia tak punya pilihan selain merobek Cek 10 Trillion itu. Dari pada jatuh miskin ditendang ayah mertua dan istrinya.