Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Sepakat



Malam itu setelah tarawih beberapa tamu undangan sudah meninggalkan Masjid Al Malik. Sebagian masih bertahan sekedar menjalin silaturahmi dengan saudara, rekan, sahabat ataupun kenalan. Hari itu hanya diadakan akad nikah terlebih dahulu, karena resepsinya akan diadakan sehabis lebaran. Kedua mempelai sudah meninggalkan tempat itu. Pergi ke tempat impian mereka berdua. Luki dan Humaira masih duduk di teras dengan yang lainnya.


"Humaira, nanti mau nikah di masjid atau di gedung?" tanya Luki.


"Di masjid saja Oppa seperti Tuan Matteo dan Claudya," jawab Humaira.


"Kalau gitu kita nikah secepatnya di masjid biar cepet punya baby," ujar Luki.


"Ehm ... ehm ..., yang mau cepet-cepet," sindir Gavin menghampiri Luki dan Humaira.


Mendengar suara Gavin, mereka berdua menoleh ke arahnya. Humaira hanya tersenyum pada saudara sepupunya itu.


"Iya dong, lebih cepat lebih baik, biar gak ketuaan," sahut Luki.


"Aku dan Maria juga mau secepatnya, iyakan cinta," ujar Gavin pada Maria yang ada di sampingnya.


Maria hanya mengangguk.


"Kalau gitu barengan aja akadnya di hari yang sama, biar anak kita seumuran," sahut Luki.


"Memang nikah massal barengan," jawab Gavin.


"Lebih seru kalau bareng, ibu-ibu gak pusing bolak balik beli baju kondangan, jadi irit," sahut Luki yang mulai paham sistem perekonomian. Ibu-ibu negara bisa pusing tujuh keliling mikirin kondangan Keluarga Sebastian yang sebulan mengadakan acara double-double. Kakeknya, anaknya, cucunya, dan buyutnya.


"Pinter juga kau, paket hemat itu namanya, sekalian aja kita resepsi barengan, tapi malam pertama jangan barengan juga," kata Gavin.


"Gak dong kalau yang itu, iyakan Humaira?" tanya Luki.


"Oppa," jawab Humaira menunduk malu.


"Oke sepakat," ujar Gavin mengulurkan tangannya pada Luki.


"Sepakat," sahut Luki yang menyalami tangan Gavin.


Mereka berdua sepakat akad nikah dan resepsi di hari yang sama demi kepentingan ibu-ibu biar gak pusing beli baju kondangan dan ke salon. Itu salah satu faktor kenapa uang belanja membengkak. Jangan sampai sengaja gak makan dari pagi demi balik modal, makan sepuasnya di tempat prasmanan meskipun perut sudah tak mampu menampung, tas juga udah keberatan bawa kue yang nyelip.


"Aku mau jalan-jalan malam sama Maria, ngikut gak? Biar couple-an," ajak Gavin.


"Tar ku tanya Humairaku dulu," sahut Luki. Dia langsung menoleh ke arah Humaira yang duduk satu meter darinya.


"Humaira mau jalan-jalan?" tanya Luki.


Humaira mengangguk.


"Oke, ayo," sahut Luki pada Gavin yang tadi mengajak jalan-jalan.


Kedua pasangan itu berjalan di tepi jalan. Menikmati indahnya malam. Membiarkan bulan dan bintang mengawasi langkahnya. Menjadi saksi indahnya cinta di antara mereka. Kondisi jalanan sedikit padat. Beberapa pedagang berjualan kembali setelah tarawih.


"Vin, masuk Rainbow Lake Garden kayanya seru," ajak Luki melihat kawasan playground yang berada di tepi sebuah setu.


"Iya, banyak seru tuh duduk di tepi setu sambil jajan," jawab Gavin.


Kedua pasangan itu masuk ke Rainbow Lake Garden yang berada di tepi setu. Mereka membeli tiket dengan harga lima belas ribu untuk satu orang. Masuk ke dalam. Duduk di gajebo yang berada di tepi setu.


"Abang mau kopi?" tanya Maria yang mulai menanggil Gavin dengan sebutan Abang.


"Mau cinta, dua ya sekalian buat Luki," jawab Gavin.


"Iya, aku beli dulu," jawab Maria. Dia beranjak dari gajebo berjalan melewati wahana bom-bom car. Menuju tempat jualan makanan dan minuman di seberang gajebo.


"Aku ke toilet dulu Humaira," ucap Luki.


"Iya Oppa," jawab Humaira.


Luki pun berjalan meninggalkan gajebo menuju toilet yang ada di seberang. Tinggal Gavin dan Humaira yang ada di gajebo.


"Humaira," ucap Gavin.


"Iya," sahut Humaira.


"Gimana hubunganmu dengan Luki? Apa kau sudah yakin menikah dengannya?" tanya Gavin. Sebagai sepupunya dan orang yang pernah mencintainya, Gavin ingin memastikan Humaira bahagia bersama Luki.


"Iya, aku yakin," jawab Humaira.


"Apa alasanmu yakin menikah dengannya?" tanya Gavin.


"Oppa orang yang mau belajar apapun, itulah yang membuatku yakin," jawab Humaira.


"Apa kau mencintainya?" tanya Gavin.


Saat pertanyaan itu dilontarkan Luki berada di belakang keduanya. Dia terdiam, ingin tahu jawaban Humaira.


Humaira hanya diam. Menunduk.


Humaira mengangguk.


"Aku akan menikah dengan Maria, dan menutup semua kisah cinta kita, Alhamdulillah aku sudah mulai mencintainya" ujar Gavin.


"Syukurlah, semoga dilancarkan segala sesuatunya," sahut Humaira.


"Amin," sahut Gavin.


Luki di belakang mendengar pembicaraan itu.


"Semoga aku bisa mengukir namaku di hatimu Humaira," batin Luki. Dia takkan menyerah. Meski hati Humaira masih belum sepenuhnya untuknya tapi Luki akan berusaha untuk membuat Humaira jatuh hati padanya sebelum ijab qobul itu dilaksanakan.


Luki kembali duduk di samping Humaira. Tak lama Maria membawa dua kopi untuk Gavin dan Luki. Dia memberikan kopi itu untuk keduanya.


"Makasih cinta," ucap Gavin.


"Makasih Maria," kata Luki.


"Iya sama-sama," sahut Maria.


Kedua pasangan itu menikmati indahnya melihat danau yang gemerlap dan keramaian playground itu yang dipenuhi anak-anak.


"Humaira lihat bintangnya tak banyak sepertinya masih ada yang kurang," ujar Luki.


"Iya, apa yang kurang?" sahut Humaira. Menengadah ke langit malam yang terlihat gelap karena bulan yang bersembunyi malu-malu.


"Kau, kalau kau ada di antara bintang-bintang itu pasti langit akan bersinar terang," jawab Luki.


Humaira menunduk. Luki mulai gombal padahal Oppa itu belum fasih dalam hal menggombal.


"Maria, kenapa malam ini langit lebih gelap dari malam sebelumnya?" tanya Gavin.


"Memang kenapa?" jawab Maria.


"Karena rembulannya masih duduk denganku," jawab Gavin.


Maria tersenyum malu-malu dengan gombalan Gavin padanya.


Malam itu malam yang begitu menyenangkan untuk kedua pasangan yang dimabuk cinta.


Di tempat yang berbeda, Tuan Matteo dan Claudya pergi ke rumah besar milik Tuan Matteo. Semua karyawan di rumah itu berdiri di halaman menyambut kedatangan raja dan ratu pemilik rumah itu. Tuan Matteo ke luar dari dalam mobil membuka pintu untuk Claudya istri tercintanya.


"Aku bopong ya sayang," ucap Tuan Matteo.


"Tapi aku berat sayang," sahut Claudya.


"Gak papa, lebih beratan cintaku padamu sayang," sahut Tuan Matteo.


Claudya langsung berbunga-bunga. Seakan perkataan Tuan Matteo menjadi nutrisi hatinya. Tuan Matteo langsung membopong Claudya berjalan melewati karyawan yang menghormatinya. Tuan Matteo membopong Claudya masuk ke dalam. Bunga demi bunga baik yang ditabur atau masih utuh di beberapa ruangan. Claudya begitu senang dengan apa yang disiapkan Tuan Matteo. Langkah demi langkah mendekati kamar pengantin. Tuan Matteo dan Claudya masuk ke dalam kamar pengantin itu. Begitu indah dekorasi dipenuhi bunga-bunga, balon dan pita-pita terpasang indah.


"Suka?" tanya Tuan Matteo.


Claudya mengangguk.


"Kalau suka gantian aku minta hadiahnya," ujar Tuan Matteo.


"Hadiah apa?" tanya Claudya.


Tuan Matteo langsung mencium bibir merah muda itu. Menikmati kelembutannya. Claudya juga menikmati ciuman di malam pertamanya.


"Aku ingin memilikimu malam ini Claudya," ucap Tuan Matteo usai menciumnya.


Claudya hanya mengangguk.


Tanpa menunggu lama Tuan Matteo membaringkan Claudya di ranjang king size itu.


Baru mau berdiri sejenak meluruskan tulang-tulangnya yang tadi digunakan membopong Claudya, Tuan Matteo langsung memegang pinggangnya.


"Aduh encok juga," ujar Tuan Matteo.


"Kenapa sayang?" tanya Claudya.


"Encok, bawaan umur," jawab Tuan Matteo.


"Ya udah istirahat di sini," sahut Claudya.


Tuan Matteo langsung mendekati Claudya. Menatap matanya dengan tatapan seorang lelaki.


"Gak boleh istirahat sayang, malam ini kita akan beraktifitas sampai pagi," ujar Tuan Matteo. Claudya langsung menelan ludahnya. Jantungnya berdebar tak karuan. Tubuhnya memanas, merinding dengan ucapan Tuan Matteo.