Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Terkejut Mendengar Kebenaran



"Aku yakin Ibu tahu kalau aku bukan anak ayah, iyakan?" tanya Alex menatap Ibu Marisa.


"Kau bicara apa sih Alex, Ibu gak ngerti," sahut Ibu Marisa.


"Jangan pura-pura tidak tahu Bu, aku ini bukan anak ayahkan?" ujar Alex mengulang kembali pertanyaannya dengan penekanan.


"Kau itu ya anak ayahmu, memang anak siapa lagi," ucap Ibu Marisa enteng sambil tertawa seolah pertanyaan Alex seperti pertanyaan lelucon.


"Aku sudah melakukan test DNA, aku bukan anak ayah," terang Alex.


Deg


Ibu Marisa terkejut. Alex sudah sejauh itu mengetahui semuanya. Padahal rahasia itu sudah tersimpan rapat-rapat. Hanya dia dan Pak Ferdi yang mengetahui semua rahasia ini.


Ibu Marisa terdiam. Bagai tersengat listrik aliran tinggi. Semuanya membuatnya kaku. Tak berdaya menjawab pertanyaan anak sulungnya. Apalagi dia sudah memiliki bukti yang akurat. Apalagi yang bisa digunakan olehnya untuk mematahkan bukti itu.


"Kenapa diam Bu? Benarkan aku bukan anak ayah?" ujar Alex.


Bruuug ...


Suara tubuh seseorang terjatuh. Alex dan Ibu Marisa terkejut. Mereka melihat ke arah belakang. Ternyata Kakek David terjatuh di bawah.


"Kakek!" teriak Alex.


"Papa!" teriak Ibu Marisa.


Kedua orang itu langsung berlari ke arah Kakek David yang pingsan. Alex langsung meraih tubuh Kakek David menggendongnya di punggungnya. Membawanya turun dari atap disusul Ibu Marisa yang membuntutinya.


Alex langsung membawa kakeknya ke kamarnya. Dia membaringkan Kakek David di ranjang. Membuka beberapa kancing kemejanya. Memberinya minyak angin di dekat hidung.


Mereka berdua panik. Ibu Marisa berusaha mengusap tangan mertuanya, tangan itu begitu dingin. Membuatnya ikut khawatir.


"Alex gimana ini?" ujar Ibu Marisa.


Tiba-tiba Claudya masuk ke dalam. Dia terkejut melihat Kakek David berbaring dengan lemah. Claudya langsung duduk di samping ibunya. Membantu Alex untuk menyadarkan kakeknya.


"Kek, bangun," ucap Claudya.


Alex terdiam. Dia merasa bersalah. Seharusnya tadi dia lihat situasi terlebih dahulu. Tidak sembarangan bicara. Kakeknya pasti syok mendengar apa yang tadi dikatakan olehnya.


"Kak, Bu, kakek kenapa?" tanya Claudya.


"Kakek-kakek ...," jawab Ibu Marisa ragu. Dia tak mungkin memberi tahu Claudya. Kondisinya akan semakin rumit. Dia tak tahu betapa rumitnya hubungan antara ayah dan ibunya.


"Aku panggil Dokter," ucap Alex. Untuk saat ini hanya itu yang bisa Alex lakukan. Dia juga tak bisa menjawab pertanyaan Claudya. Sangat rumit.


Claudya mengangguk.


Segera Alex berjalan ke balkon kamar kakeknya. Alex mengambil handphone di sakunya, menekan nomor telpon Dokter Januar yang sudah tersimpan di handphone miliknya. Untung Dokter Januar langsung mengangkat telpon Alex.


"Hallo Dok," ucap Alex.


"Hallo Alex," jawab Dokter Januar.


"Kakek pingsan, bisakah Dokter datang ke rumah?" tanya Alex.


"Tentu, saya akan ke sana secepatnya," jawab Dokter Januar.


"Makasih Dok," ucap Alex.


"Sama-sama," jawab Dokter Januar.


Usai menelpon Dokter Januar, Alex kembali masuk ke dalam kamar. Duduk di sofa menanti Dokter Januar. Alex terdiam. Dia benar-benar merasa bersalah. Kakek David adalah orang yang sangat penting dalam hidupnya terlepas dari dia kakeknya ataupun bukan. Selama ini kakeknya lah yang selalu menyayangi Alex setulus hati. Dia selalu mendidik Alex menjadi seorang pemimpin. Semua hal yang dimilikinya selalu diberikan padanya. Alex sangat bersedih melihat kakeknya sekarang.


Bukan hanya Alex, Ibu Marisa juga cemas dengan kondisi Kakek David. Dia takut Kakek David mati dan harta warisannya tidak jadi diwariskan pada Alex dan adik-adiknya. Pak Ferdi tidak ada dalam surat waris karena kelakuannya selama ini. Jika Kakek David meninggal dan belum menulis pewaris maka kemungkinan besar hartanya akan jatuh ke panti asuhan.


Ibu Marisa dan Claudya menangis. Hanya tangisan Claudya murni karena dia mengkhawatirkan kakeknya berbeda dengan Ibu Marisa yang hanya memikirkan uang.


"Bu, kakek akan baik-baik sajakan?" tanya Claudya sambil menangis tersedu-sedu.


"Iya, harusnya kakek baik-baik saja," jawab Ibu Marisa.


"Gila aja kalau Papa mati sebelum menunjuk pewarisnya," batin Ibu Marisa.


"Iya Pa, bangun, kita masih membutuhkan Papa," tambah Ibu Marisa.


Tak lama Dokter Januar datang. Dia lamgsung memeriksa Kakek David ditemani Alex yang berdiri di belakangnya begitupun dengan Ibu Marisa dan Claudya.


Dokter menyuntikan obat. Hanya selang beberapa menit Kakek David tersadar. Dia melihat ke sekeliling. Menantu dan cucunya beserta Dokter pribadinya ada di sampingnya.


"Alhamdulillah Tuan David sudah sadar," ucap Dokter Januar.


Kakek David hanya mengangguk lemah.


"Alhamdulillah," ucap Alex dan Claudya.


Claudya dan Ibu Marisa segera mendekat. Duduk di samping ranjang. Memijat dan menemani Kakek David. Sedangkan Alex ke luar dari kamar kakeknya bersama Dokter Januar. Mereka berjalan menuju tangga sambil berbincang.


"Untung saja hanya pingsan biasa, dengan kondisi Beliau saat ini sangat berbahaya apabila terkena serangan jantung," ucap Dokter Januar.


"Iya Dok," sahut Alex.


"Untuk obat-obatannya tolong diminum dengan teratur. Jaga pola makan, istirahat, olahraga dan stressnya yang paling penting harus di atur dengan baik," ujar Dokter Januar.


"Iya Dok," sahut Alex.


"Jangan sampai stress, itu sangat memicu serangan jantung dadakan," ucap Dokter Januar.


"Baik Dok," sahut Alex. Dia mengantar Dokter Januar sampai halaman depan. Kemudian kembali ke kamar kakeknya. Hanya saja saat dia menuju pintu kamarnya, Ibu Marisa dan Claudya ke luar dari pintu dengan wajah yang murung. Alex segera menghampiri keduanya.


"Bu, Claudya, ada apa?" tanya Alex penasaran.


"Kakek ingin sendirian, kita semua tidak diizinkan masuk ke kamarnya," jawab Claudya.


"Lex gimana ini? Kakek marah," ujar Ibu Marisa.


Alex terdiam. Wajar kakeknya bersikap seperti itu. Apa yang tadi didengarnya pasti membuat sangat kecewa dan bersedih. Bagaimana tidak, selama ini kakek sangat menyayangi Alex. Dia tak pernah berpikir Alex bukan cucunya dan setelah puluhan tahun, baru tahu kalau Alex ternyata bukan cucunya. Pasti tak mudah untuknya menerima semua itu.


"Sebenarnya ada apa sih Kak? Kakek kenapa?" tanya Claudya.


"Sudah Claudya, mungkin kakekmu butuh istirahat, akhir-akhir ini kesehatannya memang kurang baik," jawab Ibu Marisa. Dia tak ingin Claudya curiga ke mana-mana. Ini akan menambah rumit masalah ini.


"Lex, Ibu dan Claudya ke kamar dulu," ucap Ibu Marisa.


Alex mengangguk. Dia hanya menunduk. Membiarkan Ibu Marisa dan Claudya meninggalkannya.


Alex masih terdiam. Matanya berkaca-kaca. Dia berjalan mendekati pintu kamar kakeknya. Berdiri di depan pintu. Mengangkat kepalan tangannya ke udara untuk mengetuk namun terhenti. Alex kembali menurunkan tangannya. Dia berbalik. Berjalan dengan lemas menuju ke kamarnya. Dia begitu merasa bersalah. Apa yang terjadi sekarang karena kesalahannya yang tidak melihat keadaan dengan baik.


Alex membuka pintu kamarnya. Seakan semangatnya runtuh seketika. Dia menunduk memasuki pintu. Menutup pintu kamarnya. Saat kakinya melangkah, Alex mendengar suara lagu India. Dia terkejut. Matanya menyapu sekeliling ruangan. Mencari keberadaan Sophia. Sang pujaan hatinya. Pemilik mata emerald yang menyejukkan hatinya.


Crriiikk ... crriiikkk .... crriikkk ...


Suara langkah kaki mengenakan gelang kaki yang biasa digunakan penari India terdengar merdu.


Tiba-tiba Sophia muncul mengenakan pakaian India, dari atas rambut sampai kakinya mengenakan pakaian dan aksesoris penari India. Tampak seksi dan transparan. Semua bagian terekspose sempurnanya.


Musik itu diputar sedang. Hanya terdengar di dalam ruangan kamar itu karena kamarnya kedap suara.


Sophia menari di tengah ruangan. Dia menari dengan indahnya. Berlenggok dengan gemulai dan begitu menggoda iman.


Alex menelan ludahnya berkali-kali. Dia tercengang melihat Sophia pandai menari. Alex teringat saat pertama menikah dengan Sophia. Dia memintanya menari erotis. Namun yang dilihatnya kali ini lebih indah dan lebih menggoda dari itu.


"Sayang kau membuatku bersemangat," ucap Alex. Dia menghampiri Sophia. Dan menangkapnya, memeluk tubuhnya dalam dekapannya.


"Mas tariannya belum selesai," ucap Sophia.


"Belum selesai juga udah bikin panas dingin sayang," ucap Alex.


"Katanya mau hadiah double," kata Sophia.


"Ini lebih dari double sayang, langsung aja yuk," ucap Alex.


"Mas, ku selesaikan tariannya dulu," ucap Sophia.


Alex tak menggubris. Terus mencium pipi pemilik mata emerald itu sambil memeluknya erat. Takkan membiarkan pemilik mata emerald itu lepas dari tangannya.