
"Aku harap anda tidak terkejut," sahut Luki. Sebelum mengatakan apa yang ingin dia sampaikan, Luki harus memastikan kesiapan Alex untuk mendengarnya.
"Kenapa aku harus terkejut?" tanya Alex penasaran. Dia ingin tahu maksud perkataan Luki.
"Mobil anda disabotase orang," jawab Luki.
"Apa? Kau tidak mengarangkan?" Alex terkejut. Dia tak berpikir mobilnya disabotase.
"Tidak," jawab Luki singkat.
Alex membuang nafas gusarnya. Berusaha tenang.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Alex. Dia ingin tahu siapa yang melakukan rencana licik untuk mencelakai dirinya dan istri tercintanya.
"Haruskah aku menjawab?" tanya Luki.
"Luki jawab aku!" titah Alex.
"Harry Harold," jawab Luki.
Alex terdiam. Terkejut saat nama Harry Harold disebut. Ingatannya jauh ke hari sebelumnya di mana kakeknya ingin menikahi Carolline Harold. Ibu kandung Harry Harold.
"Bos-Bos Alex," panggil Luki.
"Luki sekali lagi ku ucapkan terimakasih, apa yang kau lakukan sudah menyelamatkanku dan istriku," sahut Alex.
"Iya Bos, sama-sama," jawab Luki.
Alex menutup telponnya. Dia terdiam. Nama Harry Harold tidak asing untuknya. Di dunia bisnis dia adalah rivalnya. Sudah beberapa kali bersaing dengannya dalam berbagai hal meskipun Alex selalu menghindar agar tak menimbulkan konflik berkepanjangan.
"Harry Harold kenapa dia begitu licik?" batin Alex.
Tiba-tiba Sophia memeluk Alex dari belakang. Pelukan hangat itu membuat Alex begitu senang. Ada seseorang yang selalu ada untuknya.
"Mas siap-siap yuk, bentar lagi Tuan Matteo datang," ucap Sophia.
Alex berbalik. Memeluk pemilik mata emerald itu dalam dekapannya.
"Iya sayang," sahut Alex.
"Mas menelpon siapa?" tanya Sophia.
Alex terdiam sesaat. Dia tak mungkin menceritakan apa yang didengarnya dari Luki, Sophia sedang hamil, pikirannya harus relax. Alex tak ingin membebani pikirannya karena rasa cemas.
"Luki, aku menanyakan keadaannya," ujar Alex.
"Terus bagaimana keadaan Luki, Mas?" tanya Sophia.
"Alhamdulillah baik," jawab Alex.
"Syukurkah kalau keadaannya baik," sahut Sophia.
"Maafkan aku Sophia, untuk saat ini aku tidak ingin berbagi masalah denganmu," batin Alex. Untuk saat ini Alex tidak ingin menyimpan dan menyelesaikan masalahnya sendiri agar Sophia tidak mengkhawatirkan keselamatannya.
"Ayo kita ganti baju, katanya mau seragaman," ujar Alex.
"Iya Mas," jawab Sophia.
Alex mencium kening pemilik mata emerald itu. Membopongnya, membawa Sophia masuk ke dalam. Mereka berdua ganti baju untuk menyambut kedatangan Tuan Matteo.
"Sayang kau cantik banget," puji Alex.
"Mas menggombal," sahut Sophia.
"Kenyataannya kau cantik, tidak hanya cantik tapi meneduhkan hatiku," ujar Alex.
"Meleleh Mas, apa kita berduaan aja?" canda Sophia.
"Mau banget, sekali aja masih ada waktu sayang," ujar Alex.
Sophia tersenyum malu. Suaminya memang perkasa. Top cer lagi, langsung blendung setelah proses kumbang membantu proses penyerbukan bunga.
"Kita off dulu Mas, Claudya nanti ngoceh kalau kita kelamaan," sahut Sophia.
"Oke sayang, bisa habis acara deh," ucap Alex.
Sophia tersenyum kembali. Suaminya memang rajin kalau soal yang satu itu. Sedikit waktu saja akan dimanfaatkan untuk menyuburkan lahan yang gersang. Dan menyiram tanaman agar tumbuh subur.
Tok!tok!tok!
"Assalamu'alaikum, Om Alex!" panggil Dodo yang berada di luar pintu.
"Mas tuh suara Dodo," ucap Sophia.
"Masa, kalau masih gendut kita biarin aja," jawab Alex.
"Mungkin penting," ujar Sophia.
"Tunggu satu jam dulu, kali aja langsingan kalau teriak mulu," sahut Alex.
"Gimana kalau dia kecapean Mas?" tanya Sophia.
"Paling makan lagi, tar oke lagi," jawab Alex.
Sophia tersenyum. Suaminya paling demen ngeledekin Dodo. Selain masalah makannya yang semangat 45 tapi kepolosannya dalam bicara.
"Om Dodo udah kebelet nih, buka dong," panggil Dodo.
"Ndut kau kenapa? Tumben perutmu langsing?" tanya Gavin mendekat.
"Kaya ibu melahirkan aja, bisa nafas tuh?" tanya Gavin.
"Bisa cuma mengi Om," jawab Dodo.
"Lagian gaya-gayaan pakai korset, kenapa gak stagen?" tanya Gavin.
Dodo bernafas dulu. Udah nahan kentut, BAB, gara-gara pakai korset ukuran S. Sedangkan ukuran badannya XXL.
"Gak ngerti cara pakainya Om," jawab Dodo.
"Om bisa, ayo ku pakaiin," ajak Gavin.
"Siap!" jawab Dodo.
Dodo masuk ke kamar Gavin. Berdiri di depan cermin lemari. Sedangkan Gavin membuka lemarinya untuk mengambil stagen.
"Nah ini stagen punya nenek," ujar Gavin.
"Om stagennya agak bau ya?" tanya Dodo.
"Itu karena belum dicuci, semakin lama semakin legend," jawab Gavin.
"Legend baunya ya Om?" tanya Dodo.
"Tuh tahu, emang bau sih," jawab Gavin. Berjalan mendekati Dodo. Mulai memasang stagen padanya.
"Nah gimana Do?" tanya Gavin.
"Om gak kelihatan, emang pasang stagen sampai muka distagenin juga?" tanya Dodo.
"Eh iya, kau lebih mirip ...?" ujar Gavin.
"Mumi di jaman Fir'aun ya Om?" tanya Dodo.
"Iya, begini aja cocok Do, pasti hasil fotonya bagus semua," sahut Gavin. Padahal dia ketawa sambil nutup mulut. Udah gak tahan liat Dodo kaya lepet.
"Iya, tapi gak bisa ngeliat jalan Om," jawab Dodo.
"Kalau gitu kita ganti," jawab Gavin. Dia kembali melepas dan memasang stagen pada perut Dodo.
"Om kok jadi pocong, Dodo gak bisa gerak nih," ujar Dodo. Gavin memasang stagen ke seluruh tubuh Dodo, kaya kain kafan.
"Pocong lebih sesuai dengan kearifan lokal dari pada mumi," sahut Gavin.
"Terus gimana kalau mo pipis Om atau mau BAB?" tanya Dodo.
"Tak Om pasang toilet di dalamnya," sahut Gavin.
"Emang toilet mau di stagenin juga?" tanya Dodo.
Gavin tertawa senang. Sudah mengerjai Dodo. Paling tidak dia sudah olahraga pikiran agar tidak stress. Dodo membuat kehidupannya jauh lebih menarik.
***
Luki dan Humaira balik ke rumah Keluarga Harold. Luki mandi, membersihkan dirinya. Setelah mandi, dia melihat kran air. Entah kenapa rasanya ingin berwudhu. Lama sekali dia sudah tak pernah sholat. Terjerumus dalam lembah dosa.
"Mau jadi imam Humaira, aku harus sholat," ujar Luki. Dia tahu Humaira gadis yang begitu taat pada Allah SWT. Untuk jadi imamnya dia harus bisa menerangi jalannya terlebih dahulu. Luki niat dalam hatinya. Kemudian berwudhu. Mengingat kembali gerakan wudhu yang sudah lama dilupakannya.
Setelah wudhu Luki mencari baju di dalam lemari yang ada di kamar itu, ternyata kosong. Dia masih berdiri mengenakan handuk kimono.
"Gak ada baju, mana mau pergi ke acara lagi," ucap Luki.
Tiba-tiba suara pintu diketuk. Luki langsung berjalan menuju pintu. Segera membuka pintunya.
"Humaira," ucap Luki melihat pemilik mata kebiruan di depannya sambil memegang beberapa baju dan alat sholat.
"Oppa, ini baju untuk ganti," ujar Humaira.
"Alhamdulillah, tahu aja cinta kalau aku butuh baju," sahut Luki.
Humaira menunduk tak menatap Luki yang mengambil beberapa baju untuknya.
"Makasih bidadariku," ujar Luki memegang baju dan alat sholat di tangannya.
"Sama-sama Oppa," sahut Humaira
"Humaira, aku mau pergi ke sebuah acara, maukah kau menemaniku?" tanya Luki.
"Acara?" sahut Humaira.
"Iya, kalau gak mau juga gak papa, sumpah aku gakkan macem-macem," ujar Luki.
"Ada syaratnya," jawab Humaira.
"Apa syaratnya?" tanya Luki.
"Kita naik angkutan umum ya berangkatnya?" tanya Humaira.
"Emang kenapa?" tanya Luki.
"Biar gak berduaan, belum halal," jawab Humaira.
"Kalau begitu aku akan segera menghalalkanmu," ujar Luki.
Humaira tetap menunduk malu. Meskipun belum ada perasaan pada Luki. Tapi dia mulai nyaman saat bersamanya.
"Gimana mau gak?" tanya Luki. Dia berharap Humaira mau ikut menemaninya ke acara lamaran Bosnya biar gak jadi cicak di dinding yang jomblo gara-gara pasangannya sudah pergi meninggalkannya.