
"Sayang bisa gak kita buka beberapa kado dan amplopnya, dari kecil aku penasaran," pinta Claudya.
"Tapi habis itu gaspol ya," sahut Tuan Matteo.
"Iya sayang," jawab Claudya sambil mengedipkan matanya berkali-kali.
"Janji ya, kasihan dah karatan nih sayang," ujar Tuan Matteo. Secara sudah bertahun-tahun menyendiri sampai lupa kalau punya pisau yang masih terbungkus belum dicoba ketajamannya untuk memotong kecebong. Siapa tahu sudah lapuk atau mesti diasah di Gunung Merapi biar Mak lampir sendiri yang ngasahnya.
Claudya mengangguk.
Akhirnya bernafas lega. Hampir saja dia ketakutan. Maklum belum ada persiapan. Mesti berguru dulu pada mbag google tentang cara melayani suami yang sudah masuk tahapan sugar daddy.
Claudya dan Tuan Matteo duduk di karpet lembut berbulu di bawah ranjang. Penasaran dengan kado dan amplop dari teman-teman mereka. Claudya membuka satu amplop cute berwarna pink dengan gambar hello kitty.
"Sayang cute banget amplopnya," ujar Claudya.
"Coba buka, penasaran sama isinya," sahut Tuan Matteo.
Claudya mengangguk. Dia mulai membuka amplop berwarna pink tersebut.
"Tutorial sebelum malam pertama dan cara bayar hutang ke tetangga." Claudya membaca sepucuk kertas di dalam amplop pink bergambar hello kitty itu.
"Sayang isinya tutorial malam pertama dan cara bayar hutang," kata Claudya.
"Mungkin temanmu sedang bokek, masih untung kasih tutorial," sahut Tuan Matteo.
"Iya sih, coba yang buka kado dari temanmu," kata Claudya.
"Oke," sahut Tuan Matteo. Dia mulai membuka kado berukuran cukup besar dari temannya. Ternyata di dalamnya berisi cangkul, ember, pupuk, biji jagung, kedelai, kacang, dan bawang serta sepucuk surat meresahkan.
"Jadilah petani yang sejahtera, semoga sukses Bro. Kembalilah pada alam dijamin kau takkan kelaparan di masa yang akan datang," ujar Tuan Matteo membaca sepucuk surat meresahkan.
"Wah temanmu cerdas, dia memberimu modal bertani," kata Claudya.
"Iya sih," jawab Tuan Matteo.
Claudya kembali membuka kado dari temannya. Kado itu berisi celengan ayam jago dan sepucuk surat dengan tulisan yang membengongkan.
"Jadilah istri yang pandai menabung uang. Bukan pandai menabung dosa. Kalau udah penuh jangan lupa traktir kita-kita biar dapat pahala," ucap Claudya membaca surat dengan tulisan membengongkan.
"Wah celengan ayam jago temanmu kreatif," ujar Tuan Matteo.
"Iya sih," jawab Claudya.
Tuan Matteo kembali membuka kado yang terlihat tipis berbentuk persegi panjang. Dia membuka kado itu. Ternyata sebuah foto dengan bingkai fotonya. Di belakang bingkai foto itu ada pesan tersurat.
"Foto mantan gebetan terindah saat kau masih belum sesukses sekarang, semoga jadi penyemangat di masa mendatang, ingat jangan poligami! Saya tak jamin anda masih hidup jika poligami diteruskan hingga berkali-kali," ujar Tuan Matteo.
Claudya tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.
"Ada ya yang ngado mantan gebetan, tahu aja dulu puluhan kali aku ditolak," ujar Tuan Matteo.
"Berarti temanmu perhatian padamu, sampai mantan gebetanmu saja hafal," sahut Claudya.
"Itu kadomu kecil, isinya pasti lebih menjanjikan, coba buka," ucap Tuan Matteo pada kado berukuran kecil di samping Claudya.
"Iya ya, yang gede isinya aneh, coba yang kecil mana tahu menjanjikan," sahut Claudya. Dia mengambil kado berukuran kecil dan tipis. Dia membuka kado itu. Ternyata isinya beberapa puluh voucher.
"Voucher makan gratis, voucher ke toilet, voucher nginep di hotel pinggir kali, voucher pemakaman gratis, voucher sembako murah, dan voucher naik komedi putar," ujar Claudya.
"Asyik tuh yang dapet banyak voucher sampai voucher pemakaman segala," kata Tuan Matteo.
"Lumayan sih," jawab Claudya. Dia mengambil memo yang terselip di antara voucher itu dan membacanya.
"Salam dari para pemburu voucher. Semoga hidup anda jauh lebih hemat saat voucher-voucher itu dapat digunakan dengan baik. Saya lampirkan tutorial mendapatkan berbagai voucher gratis lainnya, selamat mencoba!" ujar Claudya.
"Sayang tidur yuk, besok aja di lanjut buka amplop dan kadonya," ujar Claudya.
Tuan Matteo langsung memeluk Claudya dengan erat.
"Kok tidur, inikan malam pertama kita," sahut Tuan Matteo.
"Inget aja sayang," ujar Claudya.
"Inget dong, udah siap dari tadi," jawab Tuan Matteo.
Claudya tersenyum malu-malu.
"Ayo!" ajak Tuan Matteo.
Claudya hanya mengangguk.
Perlahan Tuan Matteo memulai dari pemanasan yang paling mudah, di malam hari yang sedang tidak mendung apalagi turun hujan. Sahut menyahut angin menghembuskan kerinduan. Dua insan yang dimabuk cinta hanyut dalam buaian asmara. Melangkah dari satu tangga ke tangga lainnya. Bungkus demi bungkus terbuka, terhempas bagaikan deburan air pasang yang mendarat di tepi pantai. Tanda demi tanda jadi sebuah jejak yang dilalui para pendaki. Meninggalkan kenangan yang tak terlupakan. Semakin jauh ke dalam semakin besar rasa penasaran. Menjelajahi ruang dan waktu. Mencari keinginan yang terpendam dalam puncak kenikmatan. Suara gemuruh itu melanda bagai suara nyanyian merdu yang sahut menyahut dalam simponi yang indah. Semua melebur dalam wadah yang yang disebut cinta dan kenikmatan.
"Alhamdulillah," ucap Tuan Matteo sudah selesai menyalurkan semua keinginan terpendamnya.
Claudya hanya malu-malu dalam pelukan Tuan Matteo. Mereka berada dalam satu selimut tebal yang membungkus tubuh keduanya.
"Sakit gak sayang?" tanya Tuan Matteo.
"Sedikit, tapi sekarang ...," jawab Claudya malu meneruskan perkataannya.
"Enak ya," jawab Tuan Matteo.
"Malu ah sayang," sahut Claudya yang malu-malu kucing. Padahal minta nambah makan berkali-kali setelah tahu rasa sate ternyata enak ya.
"Besok puasa, kita nambahnya habis sahur, lagi aja yuk," ajak Tuan Matteo.
"Tidur dulu tiga jam aja, capek," keluh Claudya.
"Ya udah, sebelum sahur ya," pinta Tuan Matteo. Maklum singa baru bangun dari tidur panjangnya mesti menerkam mangsa berkali-kali baru kenyang.
Claudya mengangguk terus menutup mukanya dengan selimut.
"Kok malu, tar ketagihan loh," ucap Tuan Matteo melihat istrinya yang malu.
"Malu, nanti aja," sahut Claudya.
Tuan Matteo tersenyum. Memeluk Claudya, gadis kecil yang begitu dicintainya.
***
Malam itu Luki mengantar Humaira pulang ke rumahnya. Mereka naik bus seperti biasa. Karena macet, bus baru sampai di halte pada pukul 11 malam. Luki dan Humaira turun. Mereka berdua berjalan di tepi jalan sambil berbincang.
"Humaira, apa kau senang malam ini jalan denganku?" tanya Luki.
"Alhamdulillah aku senang Oppa," jawab Humaira.
"Aku ingin kita bisa melewati setiap malam yang indah bersama," ujar Luki.
"Insya Allah," jawab Humaira.
Luki tersenyum. Ternyata begitu bahagia saat mencintai seorang wanita yang memang menjadi kodratnya. Humaira begitu cantik dan lembut. Luki merasa menemukan tempat ternyamannya. Tempatnya pulang dan bermanja padanya. Jauh dalam bayangannya, dia ingin memiliki keluarga kecilnya bersama Humaira. Memiliki anak dan rumah yang sederhana untuk ditempati bersama. Menciptakan sebuah surga dunia bersama bidadarinya Humaira.
"Kenapa Keluarga Sebastian dan Tuan Matteo memanggilmu Luki bukan Arfan?" tanya Humaira. Selama bersama Luki, Keluarga Sebastian memanggil Luki dan Tuan Matteo sesekali memanggilnya Luki juga. Itu membuat Humaira merasa ada yang aneh.
Luki terdiam sesaat. Di depan Keluarga Harold dia memperkenalkan dirinya sebagai Arfan bukan Luki. Tapi Humaira akhirnya tahu namanya Luki dari Keluarga Sebastian yang lebih dulu mengenalnya sebagai Luki begitupun Tuan Matteo yang kadang kelepasan memanggil Luki.