
Ibu Marisa terdiam. Dia memikirkan ucapan suaminya. Selama menikah dengan Pak Ferdi mereka tak pernah terlibat masalah meskipun pernikahan mereka hanya simbiosis mutualisme. Ibu Marisa membutuhkan ayah untuk bayi yang dikandungnya sedangkan Pak Ferdi membutuhkan istri untuk memenuhi permintaan ayahnya. Dia tak ingin hidup terikat, itu sebabnya dengan menikahi Ibu Marisa, Pak Ferdi bebas melakukan apapun yang dia inginkan.
"Apa yang membuat Ferdi marah padaku? Pasti ada penyebabnya," ucap Ibu Marisa sambil melihat suaminya yang sudah tidur di ranjang.
"Kalau Papa tahu Alex bukan anak Ferdi bisa brabe, aku harus mencari tahu kenapa Alex dan Ferdi bermasalah," kata Ibu Marisa. Dia berdiri. Mengambil handphone di atas meja riasnya. Berjalan ke balkon kamarnya. Mencari kontak telpon yang diinginkannya.
"Pasti Ferdi pergi ke perusahaan dan bertengar dengan Alex, aku harus hubungi Nita, dia pasti tahu sesuatu," ucap Ibu Marisa. Dia ingin menghubungi General Manajer Akunting di Perusahaan Big Lion Group. Ketika dia menemukan kontak Nita langsung menekan tombol hijau. Tak perlu menunggu lama Nita mengangkat telponnya.
"Hallo Nita," ucap Ibu Marisa.
"Hallo, Bu Bos ya?" tanya Nita.
"Iya Nita ini aku," jawab Ibu Marisa.
"Bu Bos tumben nelpon, pasti penting ya?" tanya Nita. Dia tahu Ibu Marisa tak mungkin menelponnya kalau bukan masalah penting, karena Nita tangan kanan Ibu Marisa di kantor. Apapun yang penting mengenai Alex, pasti Ibu Marisa tanya padanya.
"Ferdi pergi ke kantorkan?" tanya Ibu Marisa.
"Iya Bu Bos, sudah dua kali," jawab Nita.
"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Ibu Marisa..
"Sepertinya masalah uang, beberapa hari lalu Bos Ferdi menanyakan uang perusahaan, ya saya jawab jujur," jawab Nita.
"Uang perusahaan? Jangan-jangan ada sesuatu atau Alex?" batin Ibu Marisa.
"Masalah uang? Apa ada yang salah?" tanya Ibu Marisa.
"Tidak, hanya perusahaan mentranfer 2 Trillion ke rekening Shopia Thalia," ujar Nita.
"Apa? 2 Trillion?" Ibu Marisa terkejut. Dia tak menyangka Alex mentranfer uang sebanyak itu untuk Sophia. Selama ini Ibu Marisa mengira Alex hanya bermain-main dengan Sophia. Pernikahan mereka status di depan umum. Tak ada cinta sedikit pun di hati Alex untuk Sophia. Namun kenyataannya Alex bahkan mengeluarkan uang dengan jumlah fantastis untuknya.
"Iya Bu Bos, mungkin karena itu Bos Ferdi marah pada Bos Alex," jawab Nita.
"Oke, kau harus tetap awasi Alex, kalau ada informasi penting lagi, jangan lupa hubungi aku," ucap Ibu Marisa.
"Siap Bu Bos," sahut Nita.
Ibu Marisa mematikan telponnya. Sekarang dia tahu penyebab pertengkaran suaminya dan anak sulungnya.
"Dari awal aku tidak suka Sophia, dia hanya bisa merugikan keluargaku," ujar Ibu Marisa.
Setelah mengetahui penyebab suaminya marah Ibu Marisa ke luar dari kamarnya. Dia turun ke lantai bawah. Ke luar rumahnya menuju parkiran mobil. Ibu Marisa naik mobil Alphard berwarna hitam miliknya. Mobil itu ke luar dari rumah besar itu. Melaju di jalanan.
"Nyonya mau ke mana?" tanya Pak Didit supir pribadi Ibu Marisa. Seorang lelaki paruh baya berusia 45 tahun. Rambutnya sudah memutih sebagian. Wajahnya mulai keriput dan memiliki kumis tipis.
"Ke Perusahaan Blue Sky Group," sahut Ibu Marisa.
"Itu bukannya perusahaannya Nona Sophia ya Nya?" tanya Pak Didit sambil menyetir. Matanya fokus ke jalanan yang lumayan padat.
"Iya, jangan banyak tanya," ucap Ibu Marisa.
"Baik Nya," sahut Pak Didit. Dia tak berani bertanya apapun lagi. Ibu Marisa bukan majikan yang ramah atau mau berbicara dengan bawahannya. Dia sangat menjaga jarak dan kedekatan dengan orang-orang yang dianggap miskin.
Setengah jam perjalanan, akhirnya sampai juga di Perusahaan Blue Sky Group. Ibu Marisa turun dari mobil. Dia berjalan memasuki lobi. Menemui reseptionis.
"Aku ingin bertemu Sophia, cepat katakan padanya," ucap Ibu Marisa ketus pada reseptionis.
"Maaf, Ibu siapa? Apa sudah ada janji dengan Presdir Sophia?" tanya reseptionis.
"Aku tak perlu membuat janji, sampaikan pada Sophia aku ingin bertemu dengannya," tegas Ibu Marisa.
"Maaf Bu, anda tidak bisa bertemu dengan Presdir kalau belum ada janji sebelumnya," sahut reseptionis. Dia tidak tahu wanita paruh baya itu ibu mertuanya Sophia karena dia karyawan baru di perusahaan.
"Kamu ya, bikin aku kesel, mulai detik ini aku memecatmu!" tegas Ibu Marisa.
"Maaf Bu, saya hanya menjalankan tugas," ucap reseptionis.
"Paling juga cuma lulusan SMA belagu banget, makan aja masih susah," ketus Ibu Marisa.
"Maaf Bu, jika ibu ingin bertemu Presdir, biar saya telpon dulu, Ibu bisa tunggu sebentar," ujar reseptionis.
"Ini nih kalau orang miskin, gak tahu caranya memperlakukan orang kaya terhormat," ujar Ibu Marisa.
Receptionis bingung. Dia dimarahi Ibu Marisa karena dia tidak bisa bertemu dengan Sophia. Sampai memaki reseptionis itu. Keduanya terlibat perdebatan. Ibu Marisa tak mau mengalah apalagi menurunkan egonya. Dia terus berbicara sesuka hatinya.
"Pantas aja Bosnya gak bener, bawahannya aja gak bener, Bos itu cerminan bawahannya," ketus Ibu Marisa.
"Bu maaf, jangan menghina Bos kami, beliau orang yang sangat baik," ucap reseptionis.
"Orang baik, bisanya cuma jadi parasit dan numpang hidup di rumahku," ujar Ibu Marisa.
"Aiko ada apa?" tanya Sophia.
"Presdir gawat, di bawah," jawab Aiko.
"Di bawah apa?" tanya Sophia yang belum tahu arah pembicaraan Aiko. Tapi dari wajahnya Aiko terlihat panik.
"Di bawah Mak lampir ngomel," jawab Aiko.
"Mak lampir?" Sophia bingung.
"Eh, maksudku Ibu mertua anda," jawab Aiko.
Sophia langsung berdiri. Tanpa berkata apapun dia berjalan ke luar dari ruangannya dibuntuti Aiko. Sophia masuk ke lift. Wajahnya terlihat serius. Membuat Aiko cemas. Dia tak berani berbicara pada Sophia yang mematung tanpa kata. Hingga pintu lift terbuka, Sophia dan Aiko ke luar. Mereka berjalan ke lobi depan. Di konter reseptionis Ibu Marisa terlihat marah-marah pada siapapun yang mengusiknya. Untung tak ada satu pun staf berani menonton. Mereka menghormati atasannya. Tak ingin menggosip dan memfitnah atasannya yang terkenal baik itu.
"Assalamu'alaikum," sapa Sophia.
Mendengar ucapan salam yang begitu lembut dari Sophia, Ibu Marisa berbalik. Menatap Sophia di depannya. Tatapan matanya sinis melihat menantunya itu.
"Ibu," sapa Sophia. Dia mendekati Ibu Marisa. Meraih tangannya untuk mencium tangan ibu mertuanya namun ditampik olehnya. Dia sengaja bersikap seperti itu pada Sophia di depan semua stafnya.
"Kalau tahu ibu mau ke sini, Sophia akan langsung menyambut ibu di lobi," ujar Sophia.
"Benarkah? Lihat apa yang dilakukan anak buahmu, kurang ajar padaku, ini caramu menyambut mertuamu?" Ibu Marisa memarahi Sophia. Meluapkan emosinya yang tertahan dari tadi. Dia sengaja mempermalukan Sophia.
"Baik, Sophia minta maaf, kita bicara di ruangan Sophia ya Bu?" pinta Sophia.
"Kau malu, kalau kau memperlakukan mertuamu seperti ini?" ujar Ibu Marisa.
"Tidak Bu, justru Sophia senang ibu mau bertamu ke sini," sahut Sophia yang terlihat santai tak terpengaruh kemarahan mertuanya.
"Oke, kita ke ruanganmu, lagian di bawah sini panas, gak level harus berbicara dengan orang-orang miskin," sahut Ibu Marisa. Dia menyombongkan diri.
"Mari Bu!" ajak Sophia mempersilahkan ibu mertuanya jalan terlebih dahulu.
Ibu Marisa jalan lebih dahulu sambil ngomel sepanjang jalan. Sedangkan Sophia masih di konter reseptionis. Dia meminta Aiko mengantar ibu mertuanya ke ruangannya lebih dulu. Sophia akan menyusul setelah urusannya selesai.
Sophia menghampiri reseptionis baru yang menangis karena takut dimarahi Ibu Marisa. Namanya Maya Lidia. Dia takut dipecat. Hari ini hari pertamanya bekerja, sudah lama mencari kerja sana sini hingga menganggur cukup lama karena hanya lulusan SMA. Untung saja perusahaan milik Sophia memberinya kesempatan, karena dia pandai berbahasa Inggris dan mampu mengoperasikan komputer.
"Maya kau tidak apa-apa?" tanya Sophia. Dia tahu ibu mertuanya pasti sudah membuat mental anak remaja itu down. Apalagi hari ini dia baru saja bekerja, belum tahu banyak tata cara menerima tamu.
"Tidak apa-apa Presdir hik hik hik." Maya masih tersedu-sedu sambil bicara. Ucapan ibu mertua Sophia sangat pedas. Menjatuhkan mentalnya bahkan terkesan menghina dan mencacinya.
"Saya minta maaf atas nama ibu mertua saya ya, jangan diambil hati," ucap Sophia.
"Iya Presdir, saya sudah memaafkan ibu mertua anda," sahut Maya.
Sophia merangkul Maya. Memberinya semangat. Dia tahu sekecil apapun pekerjaan orang lain kita harus menghormati dan menghargainya. Tanpa mereka kita bukan siapa-siapa.
Setelah bicara dengan Maya, Sophia naik ke lantai atas. Dia berjalan memasuki ruangannya. Ibu mertuanya sudah ada di dalam. Dia duduk di sofa menunggu Sophia datang.
Dengan senyuman manisnya Sophia menghampiri Ibu Marisa yang cemberut. Sophia duduk di sofa yang berseberangan dengan ibu mertuanya. Wanita paruh baya itu memasang muka masamnya. Padahal Sophia sudah berusaha ramah dan sopan padanya.
"Ibu mau minum apa? biar Sophia buatkan?" tanya Sophia.
"Gak usah sok baik di depan, tapi di belakang menusuk dengan pisau tajam," jawab Ibu Marisa.
Sophia tersenyum. Dia tahu ibu mertuanya sedang marah padanya.
"Dari awal aku sudah tahu kau itu hanya ingin memanfaatkan Alex untuk kepentingan bisnismu," ujar Ibu Marisa.
"Kepentingan bisnis yang mana Bu, mungkin Sophia lupa?" tanya Sophia santai.
"Alex mentransfer 2 Trillion ke rekeningmukan?" tanya Ibu Marisa.
"Oh uang itu, kebetulan ibu datang," ucap Sophia. Dia berdiri. Berjalan menuju lemari yang ada di sudut ruangan. Sophia mengambil sebuah kotak perhiasan. Kemudian duduk kembali. Meletakkan kotak perhiasan itu di meja.
"Apa maksudmu? Ini apa?" tanya Ibu Marisa. Dia penasaran dengan kotak perhiasan di depannya.
"Itu untuk Ibu, coba dibuka, ibu pasti suka," jawab Sophia.
Ibu Marisa sebenarnya kesal. Tapi dia penasaran dengan kotak perhiasan itu. Matanya tertuju pada kotak berukuran sedang berwarna biru tua berlapis bludru.
"Kok hanya dilihat Bu, apa tidak ingin tahu kenapa Mas Alex mentranfer uang padaku?" tanya Sophia.
Ibu Marisa bingung. Marah atau memenuhi rasa penasarannya. Kotak itu begitu bagus. Pasti di dalamnya bukan barang biasa. Jiwa hedonisnya meronta. Meminta agar kotak itu dibuka.
Sophia hanya tersenyum. Menghadapi ibu mertuanya memang tak mudah. Namun dia harus jauh lebih pintar.